
Dua orang gadis terlihat berjalan beriringan memasuki salah satu universitas ternama yang berada di kota Seoul. Universitas yang hanya dihuni oleh para perempuan. Sementara Universitas khusus pria ada di sebelahnya.
Kedatangan kedua gadis cantik itu cukup menyita perhatian beberapa mahasiswa dari Universitas sebelah. Para pria itu tak berkedip sama sekali melihat kehadiran mereka berdua.
"Ya Tuhan, siapa mereka? Apakah mereka mahasiswi baru di sana?"
"Mereka berdua sangat cantik sekali."
Sementara itu. Kedua gadis itu hanya bisa menelan salivanya dengan sedikt susah payah melihat tatapan lapar dari para mahasiswa tersebut yang seakan ingin menerkam.
Mereka pun sedikit mempercepat langkahnya memasuki bangunan megah yang berdiri kokoh di depan sana.
"Gila. Sepertinya mereka sudah tidak waras Hyung." Seru gadis bersurai coklat gelap yang tak lain adalah Rio.
"Bukan mereka yang tidak waras Bocah, tapi kita!! Seandainya kita tidak berdanda seperti ini. Mungkin mereka juga tidak akan menggoda kita." Balas Gavin seraya merapikan penampilannya.
Gavin dan Rio rela meninggalkan Universitas lamamya dan masuk ke dalam Universitas khusus wanita agar mereka bisa dekat dengan gadia yang diam-diam mencuri hati mereka berdua.
Dan yeng lebih parahnya lagi, mereka sampai rela merubah total prnampilannya menjadi seorang wanita. Bukan hanya dress saja, mereka juga mengenakan wig panjang dan buah dada palsu untuk menunjang penampilan mereka agar terlihat sempurna.
Bruggg...
Gavin menghentikan langkahnya secara mendadak dan membuat seseorang yang berjalan di belakangnya tanpa sengaja menambrak punggungnya. Sontak Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok gadis yang begitu Ia kagumi berdiri tepat di hadapannya.
"Marissa?!" Gumamnya dengan mata berbinar-binar
"Ya, kau mengenalku?" Tanya Marissa sedikit heran
"Dari gantungan di tasmu." Balas Gavin sambil menunjuk papan nama yang ada di tas milik gadis cantik itu. Gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Oya, apa kalian berdua mahasiwi baru di sini? Kami belum pernah melihat kalian sebelumnya." Tegur para gadis yang ada di samping Marissa.
"Ya, kita berdua adalah mahasiswi baru. Perkenalkan aku Xiao Ria, dan ini adikku Xiao Ghea." Balas Gavin dan segera menjabat tangan gadis cantik di samping kanan Marissa.
"Ahh, aku Eveline dan kau bisa memanggilku Eve. Dan ini sahabatku Marissa."
"Senang berkenalan dengan kalian berdua." Ucap Gavin dan Rio hampir bersamaan
"Senang berkenalan dengan kalian juga." Balas keduanya.
"Kalian dari jurusan apa?" Tanya Marissa sambil menatap Gavin dan Rio secara bergantian.
"Seni." Balas keduanya kompak.
"Berarti kita satu kelas dong." Ucap Eveline di iringi senyum manisnya,
__ADS_1
"Benarkah? Kebetulan sekali kita ternyata ada di kelas yang sama." Ujar mereka pura-pura tak percaya.
"Ya, dan semoga kita bisa bersahabat baik."
Dalam hatinya. Gavin dan Rio berteriak kegirangan karena usahanya untuk mendekati mereka tak sia-sia.
Tidak masalah meskipu harus kehilangan harga dirinya dan berdandan seperti perempuan, tidak menjadi masalah bagi mereka, karena bagi mereka yang terpenting adalah cinta kedua gadis itu yang telah mencuri hati mereka.
"Yes berhasil."
-
Melihat putrinya tertidur di perjalanan. Nathan pun segera menepikan mobilnya, Ia bergegas turun dan berjalan menuju bangunan kecil yang berada di sisi kiri jalan.
Tak lupa Ia memasang alat penyadap suara yang menghubungkan langsung ke ponselnya, agar jika sewaktu-waktu Laurent terbangun Ia bisa mengetahuinya. Aster yang merasa penasaran pun segera menyusul Nathan.
"Paman, kau di mana?" Seru Aster.
Hampa..
Tidak ada jawaban dari Nathan, dengan ragu dan tak yakin. Aster membuka pintu di depannya itu dan...
Greppp...
"Ahhh!!"
Bukannya merasa takut dan terancam karena perlakuan orang tersebut. Aster pun justru tersenyum lembar lalu menggalungkan kedua tangannya pada leher orang itu yang pastinya adalah Nathan.
"Kenapa harus berteriak, Sayang? Ini aku." Gumam orang itu berbisik.
"Karena aku tidak menemukanmu, jadi aku berteriak Paman." Balas Aster manja.
Dibandingkan harus memanggil Nathan dengan sebutan Oppa, Daddy dan sebagainya. Sebenarnya Aster lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan Paman. Karena dia lebih terbiasa dari pada harus memanggil Nathan dengan sebutan lainnya.
Aster kembali tersentak saat Nathan kembali menarik pinggangnya dan membunuh jarak di antara mereka hingga tubuh ia menempel sempurna pada tubuh suaminya. Terlihat Aster memejamkan matanya saat Nathan mendekatkan wajahnya dan sedikit memiringkan kepalanya sampai akhirnya..
Chu...
Bibir mereka bertemu. Nathan menyatukan bibir mereka dengan sempurna. Aster terlihat begitu menikmati ciuman itu, dan tanpa canggung sedikit pun. Karena ia sudah terlalu terbiasa menikmati ciuman Nathan yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
Aster membalas ciuman itu. Tak cukup sampai di situ, terlihat serigai tajam terlukis di wajah tampan Nathan. Kemudian Nathan mengakat tubuh Aster bridal style tanpa melepakan tautan bibirnya dan merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang bambu yang berada di dalam ruang peristirahatan itu.
Nathan kembali menyambar bibir Aster dan ciuman kali ini jauh lebih panas dari ciuman yang sebelumnya, membuat mereka berdua terlarut dalam dunianya hingga mereka melupakan jika meninggalakn putri kecilnya sendiri di dalam mobil.
"Paman, cepat jangan ditundanya terlalu lama. Waktu kita sangat terbatas bagaimana bila gadis kecil itu terbangun dan mencari kita." Ujar Aster setengah panik.
__ADS_1
"Tenanglah Sayang, kenapa kau ini tidak sabaran sekali hm?"
Nathan membuka resl*ting pada celananya, kemudian Ia menarik ke atas dress yang Aster kenakan. Nathan memasukkan sosis beruratnya ke dalam Miss milik Aster dengan perlahan namun pasti.
"Aaahhh!!" Wanita itu mengeram panjang. Dan des*han pertama terlontar dari bibir Aster yang semakin lama des*han itu semakin nyata.
Tubuh Aster terguncang hebat saat Nathan mengocok sosis beruratnya dengan tempot cepat di dalam Miss miliknya dan sedikit hentakan.
Dan dalam permainan gilanya kali ini. Mereka sengaja tidak melakukan permainan yang lebih panas.
Selain tempatnya kurang memungkinkan, mereka juga tidak bisa meninggalkan Laurent sendiri di dalam mobil terlalu lama. Terlalu beresiko meskipun Nathan sudah memasang keamanan ekstra pada mobil mewahnya tersebut.
"Paman, aaaahhhhh... eeehhhmmmm... Uggghhh. Lebih cepat lagi, jangan setengah-setengah. Aaahhh, ini nikmat!!"
"Uhh, Sayang miliku akan segera keluar." Bisik Nathan yang sudah merasakan geli di ujung juniornya.
Aster menatap Nathan tak percaya. Secepat ini? Baru lima menir." Ucap Aster setengah kecewa. Dia pikir meskipun sebentar tapi tidak sesingkat ini.
Nathan mencium bibir Aster singkat. "Kita sudah meninnggalkan Laurent terlalu lama, Sayang." Ucapnya yang segera dibalas anggukan oleh Aster.
Setelah merapikan penampilannya. Keduanya pun segera kembali ke mobilnya. Dan ternyata Laurent masih tertidur pulas di dalam sana. Nathan dan Aster merasa sedikit lega.
Mereka tidak langsung masuk apalagi melanjutkan perjalanannya. Nathan dan Aster duduk di kap depan mobil. Di tangan Nathan memegang sebuah rokok beraroma mint yang ujungnya telah dia nyalakan.
Nathan menoleh saat merasakan bahu kanannya sedikit memberat. Aster meletakkan kepalanya di sana.
Kebersamaan mereka kali ini hanya di warnai keheningan. Tanpa kata dan tanpa percakapan. Saling dia menikmati moment indah yang tercetak sempurna hari ini.
"Pasti berat hamil tanpa ada aku disisimu." ucap Nathan mengakhiri keheningan.
"Bahkan aku hampir tidak mampu bertahan. Aku mendapatkan banyak hinaan dari orang-orang di sekelilingku karena hamil tanpa suami. Tapi aku menganggap ucapan mereka sebagai angin lalu."
Nathan menatap wanita disampingnya itu dengan sendu. Begitu berat hidup yang Aster lewati selama 6 tahun ini. Dan Nathan sangat menyesali semua yang terjadi.
"Maaf, Sayang. Semua ini karena diriku. Aku bukan suami dan ayah yang baik untuk kalian berdua. Pasti kau sangat kesepian selama ini."
Aster menggeleng. "Bagaimana aku bisa kesepian jika tiga hantu gila itu selalu menemaniku. Bahkan mereka bersahabat baik dengan putri kita. Mereka selalu menjaga dan melindunginya ketika aku pergi bekerja." Tuturnya panjang lebar.
"Jadi hantu-hantu itu mengikutimu sampai ke sana?" Aster mengangguk. "Lalu kenapa aku tidak melihat batang hidung mereka beberapa hari ini sejak kalian kembali."
"Mereka sedang pulang kampung." Ucapnya.
"Sudah semakin siang, ayo kita lanjutkan perjalanan." Aster mengangguk.
"Baiklah."
__ADS_1
-
Bersambung.