
Jung Hilman berkali-kali menyeka peluh yang menetes di pelipisnya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Aster, dan itu membuatnya gugup setengah mati.
Jung Hilman. Ketua organisasi gelap yang biasanya selalu terlihat tegas, menyeramkan dan berwibawa di depan orang lain. Hari ini justru terlihat seperti seekor anak ayam yang baru saja menetas dari cangkang telornya.
Sudah ada 7 gelar kosong di atas meja. Dan sudah hampir 5 kali dia bolak-balik toilet. Hilman memang tidak pernah gugup sampai seperti ini.
"Bahkan untuk menatapku saja kau tidak berani, tapi dengan menyebalkannya kau malah mengirim seseorang untuk menculik ku. Sebenarnya, Kakek macam apa kau ini?"
"Aster, Sayang. Kau jangan salah paham dulu. Kakek sungguh tidak bermaksud begitu. Sebenarnya sudah sejak lama Kakek ingin bertemu denganmu, tapi pria kurang ajar itu malah menghalangi kita untuk bertemu."
Brakk...
"JANGAN SEMBARANGAN MENGATAI PAMAN, NATHAN!"! bentak Aster sambil menggebrak meja dan membuat Hilman terlonjak kaget.
Nyaris saja Hilman terkena serangan jantung dadakan karena ulah cucunya sendiri. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian, namun Aster tak mau ambil pusing dan mengabaikannya.
"Aster, kau membuat jantung Kakek hampir saja meloncat keluar." Hilman mengusap dadanya.
Aster mendecih dan menatap sebal pria tua itu. Bagaimana bisa orang yang sudah berkali-kali menempatkan Nathan dalam bahaya, dan juga orang yang ada di balik kematian Xiao Murten, hari ini malah terlihat seperti seekor cacing yang hendak di santap oleh seekor ayam
"Bukanlah kau mengundangku ke sini untuk makan siang. Lalu di mana makannya? Apa kau ingin mempermainkan ku?"
Hilman menggeleng. "Tentu saja tidak, kau boleh pesan makanan apapun yang ada di restoran ini. Bahkan makanan yang paling mahal sekalipun, Kakek yang akan membayar semuanya."
"Benarkah Kakek akan membayar semuanya?" Hilman mengangguk. Tiba-tiba saja Aster berdiri dari kursinya. "Nyonya-nyonya, Tuan-tuan. Kalian boleh memesan apapun yang ada di sini, hari ini Kakekku ini sedang ulang tahun dan dia ingin mentraktir kalian semua..."
Suara tepuk tangan dan riuh orang-orang yang mengucapkan selamat pada Hilman langsung memenuhi setiap sudut dan penjuru ruangan.
Hilman langsung pucat, itu artinya dia harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar semua makanan mereka, sedangkan Aster mengurai senyum penuh kemenangan
"Aster, Kakek tidak sedang ulang tahun. Dan Kakek juga tidak bermaksud untuk mentraktir mereka semua, kau boleh memesan apapun tapi bukan mereka."
"Oh, sekarang Kakek ingin perhitungan denganku? Baiklah, kalau begitu, sebaiknya aku pergi saja."
"Aster tunggu!!" Seru Jung Hilman menghentikan langkah Aster. "Kita baru saja bertemu setelah sekian tahun, masa iya kau mau pergi begitu saja. Baiklah Kakek yang bayar semuanya. Tapi jangan pergi."
__ADS_1
"Nah begitu dong. Ini baru Kakekku." Aster tersenyum lebar pada Hilman. Hilman terharu melihat senyum lebar cucu satu-satunya itu.
"Kau senang, Kakek juga senang. Kau cucu Kakek yang paling Kakek sayangi."
"Kalau begitu Kakek harus memberikan beberapa barang untukku. Aku ingin baju, sepatu, tas, make up, aksesoris dan ... Mobil baru. Dan Kakek harus membelikan semua itu untukku."
"Bukankah Kakek sangat kaya raya, jika hanya satu, dua milyar won tentu saja tidak ada apa-apanya dong untuk Kakek. Paman Nathan saja yang orang asing tidak pernah perhitungan denganku, masa Kakekku sendiri malah perhitungan pada cucunya."
Hilman tertawa hambar. "Hahaha, tentu saja tidak. Baiklah, kau boleh membeli barang apa pun yang kau inginkan. Kakek mu ini sangat kaya, soal uang tak jadi masalah bagi Kakek." Tuturnya. Dalam hati Hilman menangis darah.
Aster benar-benar merasa puas karena sudah membuat Hilman tidak berkutik sama sekali. Dan rasanya belum puas memberikan pelajaran pada pria tua ini. Dan dengan caranya, Aster akan membalas semua perbuatan Hilman pada Nathan.
"Kakek, tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat sekarang." Seru Aster penuh semangat.
Tak lupa Aster menghubungi Tiffany, Benno dan Benny, Aster berencana untuk mengajar ketiga sahabatnya itu untuk bersenang-senang hari ini.
-
"Bagaimana pertemuan Aster dan bajingan tua itu? Apakah Jung Hilman melakukan hal buruk padanya?" Nathan bertanya tanpa menatap lawan bicaranya, fokusnya tertuju pada dokumen yang ada di depannya.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Leon penuh tanya. "Maksudmu?" Kemudian Leon menunjukan sebuah video pada Nathan.
Pria itu tersenyum sinis melihat bagaimana tidak berkutiknya Hilman ketika berhadapan langsung dengan Aster. Dan semua sungguh diluar dugaan Nathan.
Rasanya Nathan masih tidak percaya melihat bagaimana reaksi dan ekspresi Hilman ketika berhadapan dengan Aster. Yang sifat bar-barnya langsung keluar ketika berhadapan dengan Jung Hilman.
"Jadi bajingan tua itu sudah bertemu dengan pawangnya? Bagus sekali, kita lihat saja, apakah dia masih bisa bersikap arogan lagi atau tidak."
"Lalu apa rencana Anda, Boss?"
Nathan menatap Leon dan menyeringai tajam. Membuat bulu kuduk Leon berdiri seketika. Melihat seringai tajam di bibir Nathan membuat Leon seperti sedang uji nyali. Dan mengenai apa rencana Nathan sebenarnya, hanya dia yang tau jawabannya.
-
Jung Hilman menatap nanar buku rekening di tangannya. Uang dalam rekeningnya baru saja terkuras hingga 3 milyar won, rasanya Hilman ingin menangis saat ini juga, tapi itu terlalu memalukan bagi Boss mafia seperti dirinya.
__ADS_1
Aster memeluk lengan Hilman sambil tersenyum lebar. "Kakek, aku tau jika Kakek itu sebenarnya sangat baik, tidak pelit dan rajin menabung. Buktinya Kakek mau membelikan banyak barang untuk kami berempat."
"Aster Sayang, sebaiknya lain kali kalau mau berbelanja jangan ajak orang lain lagi ya? Bukannya Kakek ingin perhitungan, tapi uang dalam tabungan Kakek baru saja berkurang dalam nominal yang sangat besar." Hilman berbicara dengan hati-hati karena takut jika ucapannya akan menyinggung perasaan Aster.
Wanita itu mengangguk. "Kakek tenang saja, dan anggap saja yang Kakek lakukan hari ini sebagai amal. Kakek sudah tua dan nyaris bau tanah, jadi perbanyak beramal dari pada membuat keributan dan masalah dengan orang lain."
Hilman meringis ngilu. Dia seorang Boss besar kelompok Mafia malah di buat tidak berkutik oleh seorang perempuan muda seperti Aster.
"Baiklah, Kakek akan ingat semua nasehatmu ini. Sudah malam, ayo sebaiknya kita pulang. Kakek akan mengantarkan mu." Aster pun mengangguk. Keempat sahabat itu pun berpisah karena rumah mereka yang berlawanan arah.
.
.
.
Mobil yang Hilman kendarai tiba-tiba saja berhenti di sebuah jalanan sepi yang sangat minim penerangan. Angin malam yang berhembus begitu tidak enak dan membuatt bulu kuduk berdiri.
Hilman memutuskan untuk turun dan memeriksa apakah ada yang salah dengan kendaraannya atau tidak. Tapi sayangnya dia tidak menemukan sebuah keanehan sedikit pun. Mobilnya dalam keadaan normal.
"Kakek, apa yang terjadi?" Tanya Aster penasaran.
Hilman menggeleng. "Kakek juga tidak tau. Semua baik-baik saja dan tidak ada yang bermasalah." Jawabnya.
Aster memutuskan untuk turun dan menghampiri Hilman yang sekali lagi mengecek mesin mobilnya. Lagi-lagi hasilnya sama, mobilnya dalan keadaan baik-baik saja.
"Hihihi!!! Cantik, kita bertemu lagi."
Tiba-tiba saja muncul sosok astral di atas kap mobil Hilman. Kedua mata Aster membelalak saking kagetnya. Dengan keras dia memekik dan menyeruhkan nama sosok itu.
"SUKETI!!"
-
Bersambung.
__ADS_1