
Usai makan malam. Aster tidak kembali tidur. Wanita itu pergi ke balkon Hotel untuk menikmati keindahan langit Paris malam ini. Cuaca malam ini sangat bersahabat dan bintang-bintang bertaburan di atas sana. Bahkan wujud sang Dewi malam pun tampak sempurna.
Sebenarnya melihat bintang adalah salah satu hobi Aster ketika malam tiba. Itulah kenapa dia sering merasa kesal dan jengkel setiap kali awan hitam menyembunyikan keindahan malam.
Tap.. Tap.. Tap...
Derap langkah kaki yang berjalan mendekat menyita perhatiannya. Aster menoleh dan mendapati Nathan berjalan menghampirinya. Dan selanjutnya yang Aster rasakan adalah sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.
Wanita itu tersenyum sumringah. Aster menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nathan yang tersembunyi dibalik kemeja putihnya. "Paman, lihatlah Bintang-bintang itu, bukankah mereka sangat cantik dan indah." Aster menunjuk gugusan bintang di atas sana.
"Ternyata kebiasaan lamamu ini belum hilang juga. Aku pikir kau sudah tidak suka melihat bintang." Ucap Nathan sambil mengeratkan pelukannya.
Aster tersenyum. "Mana mungkin tidak suka. Jelas saja aku suka. Karena melihat bintang adalah salah satu hal yang aku sukai, selain bercocok tanam denganmu, kekeke." Mata kiri Nathan membelalak, bagaimana bisa Aster menjadikan bercocok tanam sebagai salah satu hobinya.
"Dasar kau ini, kenapa semakin hari otakmu semakin mesum saja?!" Aster terkekeh sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Nathan.
Kemudian Aster melepaskan pelukan Nathan lalu berbalik. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya sambil memeluk tubuhnya dengan erat.
"Memangnya kenapa, bukankah Paman juga sangat menyukai kegiatan itu?" Aster mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan dan memandang sang suami dengan senyum penuh kemenangan.
"Tapi bedanya aku tidak separah dirimu, Nyonya Muda Xiao." Jawab Nathan tak mau kalah.
Lagi-lagi Aster terkekeh. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan beralih memeluk leher Nathan. Sepasang Hazel nya mengunci manik kiri milik suaminya. Meskipun kini Nathan hanya memilliki satu mata saja, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Aster selalu berdebar-debar.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ingin bercocok tanam lagi?" Ucap Nathan sedikit menggoda. Aster menggeleng. Wajahnya bersemu merah.
"Tidak, aku hanya memandang mu saja, memangnya tidak boleh. Dia membuang muka dan menatap ke arah lain. Nathan terkekeh, kemudian dia menarik tengkuk Aster dan menyatukan bibir mereka.
Dengan refleks Aster menutup matanya ketika merasakan ciuman Nathan yang semakin dalam dan menuntut, Aster tidak bisa menolak ciuman pria tersebut. Dan ciuman mereka berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.
__ADS_1
Namun ciuman itu harus berakhir oleh dering pada ponsel Aster. Wanita itu meninggalkan Nathan dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Dari siapa?" Tanya Nathan yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Aster.
"Suami Amy,"
"Coba angkat, mungkin saja ada yang penting." Aster mengangguk.
Aster menerima panggilan itu dan suara suami Amy yang panik langsung menyapu indera pendengarannya. "Miko, ada apa?" Tanya Aster to the poin.
"Noona, bisa kemari. Amy, terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Aku takut hal buruk sampai terjadi pada dia dan kandungannya."
"Apa?! Baiklah, aku dan Nathan Oppa ke sana sekarang." Ucap Aster lalu memutuskan sambungan telfonnya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat panik? Memangnya apa yang Miko katakan padamu?" Tanya Nathan penasaran.
"Baiklah, sebaiknya kita cepat ke sana." Aster mengangguk. Ia dan Nathan meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar Amy. Aster berdoa semoga kandungan Amy baik-baik saja.
-
Nathan menghampiri Miko yang sedari tadi terus mondar-mandir di depan ruangan UGD. Dari mimik wajahnya. Nathan tau jika Miko sedang panik. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah yang dia tunjukkan saat ini.
"Tenanglah, istri dan calon anakmu pasti baik-baik saja." Ucapnya Nathan mencoba meyakinkan.
Miko kemudian duduk di samping Aster. Dia mencoba untuk bersikap tenang, dan percaya jika mereka berdua akan baik-baik saja. Lagipula Amy adalah wanita yang kuat, dia tidak mungkin meninggalkannya, apalagi Amy telah berjanji akan selalu berada di sisinya.
Pintu ruang UGD terbuka, dan seorang dokter keluar dari sana. Aster pun lekas bangkit dan bertanya pada dokter tersebut. Sementara Miko menunggu, karena dia tidak pandai berbahasa Inggris seperti Aster dan Nathan.
"Noona, bagaimana kata dokter?" Tanya Miko pada Aster.
__ADS_1
"Kau tenanglah, Amy baik-baik saja. Dia hanya kelelahan, sebaiknya kalian tunda dulu kepulangan ke Korea. Setidaknya satu Minggu sampai kondisinya benar-benar pulih." Ujar Aster memberi nasehat.
Nathan menghampiri mereka berdua lalu menyerahkan sebuah kunci rumah pada Miko. Miko yang tampak kebingungan menatap Nathan dengan pandangan bertanya. "Apa ini, Ge?"
"Ini adalah kunci rumahku, aku memiliki sebuah hunian di sini. Orang ku akan menjemput kalian di sini nanti, aku dan Aster sudah harus kembali besok. Kasian anak-anak jika ditinggalkan terlalu lama, apalagi Rey. Dia masih kecil dan sangat membutuhkan Aster."
Miko mengangguk. "Aku mengerti, Ge. Terimakasih untuk bantuan kalian ini. Maaf karena sudah merepotkan mu." Miko berkata penuh sesal.
Nathan menggeleng. "Bukan hal besar. Aku sudah menganggap mu dan Amy seperti keluargaku sendiri, saling menolong sesama keluarga adalah hal yang wajar. Jadi tidak perlu merasa tidak enak."
"Amy akan dipindahkan ke ruang rawat setelah ini. Dan kita bisa menemuinya di sana." Ucap Aster menengahi. Miko mengangguk.
.
Aster langsung menjatuhkan tubuhnya pada kasur super nyaman di kamar hotel yang dia tempati dan Nathan sejak beberapa hari lalu. Ia dan Nathan baru saja kembali dari rumah sakit, Amy sudah membaik jadi Aster tega untuk meninggalkannya.
Nathan menghampiri Aster sambil membawa segelas susu hangat yang dia minta pada pegawai hotel. Susu itu akan menambah energi Aster. "Minum dulu susu ini selagi masih hangat."
"Paman, dari mana kau mendapatkan susu di jam segini?" Aster menatap Nathan penasaran.
"Aku memintanya pada pelayan hotel, minumlah, ini masih hangat. Dan setelah ini cepat tidur." Aster menerima Susu itu lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa.
Dia tidak membantah ketika Nathan memintanya untuk segera tidur. Lagipula ini sudah larut malam dan Aster juga sudah sangat lelah. Dia mengantuk, dan rasa kantuknya itu tidak bisa ditahan lebih lama lagi.
Dan tidak sampai lima menit, wanita itu telah terlelap di dalam tidurnya. Nathan pun segera mengikuti jejak Aster. Dia ikut berbaring di samping istrinya. Bukan hanya Aster, Nathan pun merasa lelah.
-
Bersambung.
__ADS_1