
BRAKKK...
Ponsel dalam genggaman Aster terlepas begitu saja setelah mendapatkan kabar dari Leon jika Nathan masuk rumah sakit dan kondisinya saat ini sedang kritis. Tubuhnya lemas dan rasanya Aster tak kuat lagi menahan berat tubuhnya sendiri.
Inilah yang dia takutkan...
Inilah yang dia cemaskan...
Dan ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan. Hal buruk benar-benar menimpa Nathan. Nathan dalam keadaan kritis, hidup suaminya benar-benar sedang dipertaruhkan saat ini. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?! Aster terlalu takut, dia takut dengan kenyataan pahit yang mungkin akan menampar dirinya.
Aster menggeleng. Wanita itu menyeka air matanya lalu berlari keluar meninggalkan kamarnya. Dia harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan sendiri bagaimana keadaan Nathan saat ini.
Aster pergi sendiri, dia tidak membawa Rey untuk ikut bersamanya. Bayi berusia 2 tahun itu tinggal bersama baby sister nya. Karena tak mungkin juga Aster membawa Rey untuk ikut ke rumah sakit.
Leon hanya bisa menatap sendu pada Tuannya yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Cidera yang Nathan alami lumayan parah dan membutuhkan perawatan intensif, mata kanannya yang sudah cacat kembali mengalami pendarahan akibat terhantam puing-puing bangunan yang hancur karena ledakan tersebut di sekitar wajahnya.
Perban tampak di sana sini, banyaknya perban menandakan seberapa parah luka yang dia alami. Perban membebat kening, pipi dan mata kanannya. Perban lain membebat di bagian dada dan perut, juga lengannya.
Beruntung kedua kaki Nathan tidak mengalami masalah sedikit pun. Hanya kakinya yang lolos dari luka.
Brakk...
Dobrakan pada pintu membuat Leon terlonjak kaget. Terlihat Aster yang penuh air mata memasuki ruangan tersebut. Hati Aster serasa hancur berkeping-keping saat melihat bagaimana kondisi Nathan saat ini.
Dengan langkah sedikit tertatih-tatih, Aster mendekati ranjang inap Nathan, mendekati pria itu yang masih belum sadarkan diri. Dan seketika tangis Aster pecah melihat bagaimana buruknya keadaan suaminya saat ini.
__ADS_1
"Ini akibatnya jika kau tidak mendengarkan ku, Nathan Xiao. Jika saja kau tidak memaksakan diri untuk pergi, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi. Kenapa...Hiks, kenapa kau suka sekali membuatku cemas dan ketakutan, Paman?! Kenapa?" Aster menjatuhkan kepalanya di samping Nathan yang sedang berbaring.
Isakan pilu yang keluar dari bibirnya sampai ke telinga pria yang baru saja membuka matanya. Dengan perlahan dia mengangkat tangan kirinya, yang kemudian ia arahkan pada kepala coklat Aster.
"Jangan menangis, suamimu masih hidup," ucap Nathan lirih.
Sontak saja Aster mengangkat wajahnya dan..."Huaaa..." Tangisnya kembali pecah setelah setelah melihat Nathan membuka matanya. "Hiks, dasar Nathan Xiao menyebalkan, kau... Kau... Kenapa kau suka sekali membuatku cemas dan ketakutan, hah?!"
Nathan menatap sendu Aster yang sedang menangis tersedu-sedu. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan memberi kode pada istrinya itu untuk mendekat. Kemudian Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya.
"Maaf," hanya satu kata yang mampu Nathan katakan untuk mewakili segalanya. Penyesalannya, kebodohannya dan kecerobohannya.
Ia seharusnya memang mendengarkan Aster, tapi bagaimana pun juga ia memang harus pergi, karena jika dibiarkan orang-orang itu pasti tetap berkeliaran bebas. Dan Nathan tak bisa membiarkan para penghianat tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak. Tapi siapa yang menduga jika sial akan menghampirinya.
"Bos, sebaiknya saya tetap di sini atau keluar?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Leon menginterupsi keduanya untuk melepaskan pelukannya.
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat tatapan mematikan Nathan. Memang tidak seharusnya dia tetap di ruangan bosnya itu setelah Aster tiba. "A..Aku akan keluar saja," ucapnya dan langsung ngacir pergi.
"Jangan menangis lagi, aku sudah baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.
Aster kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nathan yang tak tertutup pakaian, hanya perban yang membebat luka-lukanya. "Aku sungguh takut hal buruk sampai menimpamu, Paman. Apa kau tau betapa takutnya aku tadi. Membayangkan mu meninggalkanku membuatku gila." Ujar Aster parau.
Nathan menyandarkan kepalanya pada kepala coklat Aster. Jari-jari besarnya mengusap kepala wanita itu dengan penuh kelembutan. Nathan tak mengatakan apapun, dia hanya diam sambil menutup mata kirinya.
Kemudian Aster mengangkat kepalanya dan menatap Nathan yang juga menatap dirinya."Sebaiknya Paman istirahat saja, aku akan menemanimu di sini."
"Kau tampak pucat, Sayang. Kemari lah dan berbaringlah di sampingku. Tempat tidur ini terlalu besar untuk ku gunakan sendiri. Aku tidak ingin jika kau yang akan jatuh sakit." Ucapnya.
__ADS_1
Aster tak memberikan jawaban. Sebagai balasannya, dia hanya menganggukkan kepala lalu naik ke atas ranjang inap Nathan. Aster berbaring di samping suaminya dan membiarkan Nathan memeluknya. Dia memang sangat lelah, dan kepalanya juga agak pusing.
Sang penguasa malam telah meninggalkan peraduannya. Sang fajar telah kembali untuk menemani para manusia kelelahan. Pria itu membuka mata kirinya perlahan-lahan, hal pertama yang ia lihat adalah suarai coklat milik seorang dara yang saat ini terlelap dalam pelukannya.
Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia semakin mengeratkan dekapannya, sambil sesekali mengecup kepala coklat itu.
Cklekkk...
Decitan suara pintu di buka dari luar sedikit menyita perhatiannya. Lantas ia menoleh dan mendapati seorang pria berjalan menghampirinya. Dan dia pun langsung memberi kode agar pria itu tidak berisik. Dia tidak ingin jika tidur nyenyak wanita dalam pelukannya ini sampai terusik.
"Ada apa, Leon? Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah menemui ku?" Tanya pria itu yang pastinya adalah Nathan.
"Bos, ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu dan ini mengenai ledakan itu. Sebenarnya pria yang meledakkan bangunan itu masih hidup, dia berhasil menyelamatkan diri disaat-saat terakhirnya. Tapi saat ini dia dalam keadaan terluka parah." Tutur Leon memaparkan.
"Temukan dia secepatnya. Cari di semua rumah sakit yang ada di penjuru kota, baik itu di pinggiran ataupun kota utama. Aku ingin bajingan itu segera ditemukan dalam keadaan hidup-hidup. Kerahkan semua anak buah mu kalau pergi, hubungin Max dan Jakson, minta bantuan mereka menemukannya!!"
"Baik Bos!!"
Kelopak mata Aster terbuka perlahan-lahan, hal pertama yang dia lihat adalah Nathan yang sedang tersenyum lembut padanya. Pria itu menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuan kepalanya, posisinya menyamping.
Ditatap sedalam itu oleh Nathan membuat Aster gugup sendiri. Wanita itu memerah karena jarang ditatap seperti ini oleh suaminya. "Kenapa menatapku seperti itu? Kau membuatku malu saja, Paman." Ia tersipu.
"Kenapa? Aku hanya ingin menikmati kecantikan istriku, apakah salah? Kenapa sudah bangun? Tidurlah lagi, ini masih terlalu pagi."
"Bagaimana aku bisa tidur lagi, jika kau terus menatapku seperti ini." Jawabnya dengan ekspresi yang sama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memelukmu seperti tadi. Sekarang tidurlah, aku akan tetap memelukmu seperti ini sampai kau bangun nanti."
__ADS_1
Sudut bibir Aster tertarik ke atas, sungguh betapa beruntung dia memiliki suami seperti Nathan. Meskipun terkadang dia bersikap dingin padanya, tapi dia juga selalu memberikan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman.
Bersambung.