
"Nathan Oppa,"
Aster berseru kencang melihat kedatangan suaminya dan beberapa anak buahnya. Dia merasa lega karena akan datang diwaktu yang tepat, ada juga Leon dan beberapa pria yang tidak terkenal sebelumnya.
Nathan menghampiri Aster dan memastikan Apakah istrinya itu baik-baik saja. "Apa mereka melukaimu?" Aster menggeleng, meyakinkan pada Nathan Jika dia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, Oppa. Hanya lenganku saja yang sedikit tergores oleh senjata mereka." jawabnya meyakinkan.
"Tunggu apalagi?! Segera habisi mereka semua dan jangan sisakan satu pun. Sampah masyarakat seperti mereka harus dilenyapkan, agar tidak menciptakan keonaran dan kerusuhan lagi di tempat umum!!" perintah Nathan pada anak buahnya.
"Baik, Bos."
"Lalu dimana, Tiffany?" tanya Nathan karena tidak melihat wanita itu bersama Aster.
"Dia ketakutan dan bersembunyi di bawah meja kasir," jawab Aster.
Kemudian keduanya menghampiri Tiffany, dan keduanya sama-sama mendengus geli saat melihat wanita itu malah ketiduran di sana. Aster mendekati Tiffany lalu membangunkannya.
"Tif, bangun. Semua sudah selesai ayo kita pulang,"
Tiffany membuka matanya, efek ketiduran membuatnya tampak linglung. Dia melihat ke sana kemari."Lalu bagaimana dengan penjahatnya?"
"Nathan, Oppa, dia sudah membereskannya." jawab Aster.
"Ah, begitu ya? Hoam, aku malah ketiduran."
"Tidurnya lanjut nanti lagi Ayo kita pulang," Tiffany mengangguk.
Nathan, Aster, Leon dan Tiffany. Mereka berempat berjalan beriringan meninggalkan pusat perbelanjaan. Sedangkan mayat para perampok itu, diurus oleh anak buah Nathan. Bahkan Leon pun tidak perlu turun tangan, karena mereka cukup bisa diandalkan.
.
Setibanya di rumah, nathan membantu mengobati luka saya di lengan Aster dan luka gores di tulang pipi nya. Lalu menutupnya dengan plester. Untungnya luka-luka itu tidak terlalu parah dan hanya luka gores saja.
"Kenapa kau tadi begitu nekat, Aster? Bagaimana jika lukamu lebih parah dari ini? Harusnya kau tidak mengambil resiko dan membahayakan dirimu sendiri!!"
"Dan hanya diam saja melihat orang lain mati di depan mata kita?! Tidak, Oppa. Bagaimana mungkin aku bisa melihat nyawa manusia melayang begitu saja di depan mataku, bagaimana jika itu terjadi pada keluarga kita Apakah aku juga harus diam saja?!"
__ADS_1
Nathan mendesah berat "Situasinya berbeda, Aster!! Baiklah kali ini kau ku maafkan tapi jangan diulangi lagi, jangan membuatku khawatir lebih dari ini!!"
Aster mengangguk. "Baiklah Oppa, aku berjanji. Maaf sudah membuatmu cemas," kemudian Nathan merengkuh Aster ke dalam pelukannya.
"Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi padamu, dan aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika kau kenapa-napa. Sebagai suami aku akan merasa gagal karena tidak bisa melindungimu," tutur Nathan.
Kali ini Aster tidak memberikan respon apapun, dia memilih diam, dan hanya mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya. Rasa bersalah menyelimuti perasaannya, ia menyesal karena telah membuat Nathan cemas dan khawatir.
"Aku mandi dulu setelah ini kita makan siang sama-sama," Nathan mencium kening Aster dan meninggalkannya begitu saja.
Wanita itu bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Masih ada 30 menit, iya dan Tiffany, bisa menyiapkan dua tiga menu berbeda untuk makan siang ini.
-
Seorang anak laki-laki dan perempuan menghampiri orang yang sedang membaca buku di halaman belakang asrama. Dan kedatangan mereka tentu disambut baik oleh gadis kecil itu.
"Laurent, Lihatlah aku membawa banyak cemilan untuk kita bertiga." ucap anak perempuan itu lalu duduk di samping Laurent.
"Apa yang sedang kau baca?" seorang anak laki-laki bertanya padanya.
"Laurent, ini cemilan dan minuman untukmu. Bukan aku yang membelinya, tapi Gio." ucap anak perempuan itu dan membuat anak laki-laki tersipu.
Laurent tersenyum tipis. "Terima kasih, Gio,"
Lelaki bernama Gio itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Sama-sama Laurent, semoga kau menyukainya. Aku tidak tahu minuman dan makanan ringan kesukaan, jadi aku cuma asal mengambil saja di kantin tadi."
Lauren menggeleng. "Tidak apa-apa kok, lagi pula aku bukan tipe gadis yang pemilih makanan," jawab Laurent masih dengan senyum yang sama.
"Begitu ya, baguslah jika kau suka."
Sedangkan anak perempuan yang datang dengan anak laki-laki itu hanya bisa terkekeh geli melihat wajah memerah temannya itu. Terlihat jelas jika Gio menaruh hati pada Laurent.
Masih di tempat yang sama tapi di lokasi berbeda... Seorang anak perempuan terlihat menghentakkan kakinya dan mengepalkan tangannya kesal, bagaimana dia tidak kesal melihat pemuda incarannya malah mendekati musuhnya.
Dengan emosi berapi-api, anak perempuan itu kemudian berbalik dan pergi dari tempatnya berada saat ini. Dia tidak ingin melihat pemandangan itu terlalu lama.
"Laurent Xiao, kau sangat menyebalkan!!!"
__ADS_1
"Yakk, Yunna Ci, tunggu Aku!!"
-
Pria bertubuh tinggi itu terus menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik yang di putar oleh DJ, para wanita di sekelilingnya—yang menghimpit tubuhnya, terus memandangi pria itu dengan pandangan seduktif.
Sang DJ mengangkat tangannya ke atas, lagu request si pria tadi sudah hampir mencapai akhir. Beberapa detik kemudian, irama yang memabukkan itu sudah terganti dengan irama lain yang tak kalah enerjik.
Para wanita mencoba menarik perhatian si pria itu, mencoba keberuntungan mereka. Siapa tahu saja pria ini bisa menjadi teman one night stand mereka, bukankah itu akan sangat luar biasa?
Si pria tersenyum angkuh. “Not for tonight, girls...”
Mengedipkan sebelah matanya ke arah kerumunan wanita tadi, pria itu yang sebenarnya adalah Leon meninggalkan lantai dansa, sembari menyeringai ketika para wanita tadi kembali menyibukkan diri mereka sendiri di lantai dansa, tak peduli pria yang baru saja menolak mereka.
Bukan menolaknya, tapi malam ini bukan malam keberuntungan Leon, dia tidak memiliki uang sama sekali. Uangnya habis untuk menyewa 2 kucing liar favoritnya. Ditambah lagi dia yang masih belum gajian, ingin meminjam lagi pada Nathan tentu saja malu. Dia tidak ingin membuat nama baiknya semakin buruk dimata Bosnya itu.
Leon pergi ke konter bar dan menghampiri si Bartender tengah sibuk meracik minuman untuk para pelanggannya. Leon memesan minuman kesukaannya, jika hanya untuk membeli minuman saja uangnya lebih dari cukup bahkan cukup untuk membuatnya mabuk berat.
Sayangnya malam ini Leon yang tidak ingin mabuk dan membuat dirinya tidur lagi di kamar mandi seperti beberapa hari yang lalu. Dia pulang dalam keadaan mabuk parah dan atau memintanya untuk tidur di kamar mandi. Leon masih trauma.
"Tampan Lihatlah kesini, huaa kita bertemu lagi di sini. Sepertinya kau dan Suketi di benar-benar ditakdirkan untuk berjodoh ya?!"
Sontak kedua mata Leon membelalak saking kagetnya. "KYYYA!!!" Setan alas!!!"
-
Bersambung.
__ADS_1