
Mohon untuk selalu tinggalkan like dan komen setelah membaca ๐๐ Author tidak butuh vote dan hadiah. Cukup like dan komen saja, karena itu sudah lebih dari cukup buat Author ๐๐ Karena dukungan kakak-kakak sekalian adalah penyemangat Author dalam berkarya ๐๐
-
Merasa tidak tahan dengan cara Leon yang mengendarai mobilnya, yang menurut Nathan sangat lambat, akhirnya Nathan mengambil alih kemudi dan mobil itu kini di kendarai sendiri olehnya.
Tubuh Leon menegang ketika Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas 100 km/jam. Leon berpegangan erat pada pegangan yang ada di atas pintu. Kedua kakinya terasa lemas dan perutnya mulai terasa mual.
Mobil itu melaju kencang pada jalanan yang lumayan padat kendaraan, mengingat jika waktu baru menunjuk angka 12.30 siang.
Manik mata-nya fokus kedepan. Berulang kali umpatan "BRENGSEK" keluar dari mulutnya. Bisa dilihat bagaimana kacaunya seorang Nathan Xiao sekarang.
CKIIIIIITโ
Nathan menghentikan laju mobilnya ketika ia hampir saja bertabrakan dengan pengendara mobil yang lain. Sekilas memori yang sama seperti dulu terlintas di kepalanya. Sang pengendara mobil yang lain keluar dari dalam mobilnya, berniat untuk melabrak Nathan.
Namun dengan cepat Nathan kembali menjalankan mobilnya, tidak menghiraukan pengendara yang mulai mengeluarkan sumpah serapahnya. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu. Keselamatan istrinya.
"Boss, bisa pelankan sedikit mobilnya tidak?"
"Diamlah, dan jangan berisik!!"
"Boss, aku tau kau panik. Tapi pikirkan juga keselamatan kita. Kita masih muda, apalagi aku belum menikah apalagi merasakan malam pertama!!"
"Belum pernah merasakannya gundulmu!! Jelas-jelas kau hampir setiap hari merasakannya!!"
"Iya, Boss. Tapi kan beda rasanya, kalau malam pertama kan lebih nikmat katanya!! Tenanglah Boss, dan jangan panik, oke!!"
"Jangan panik kau bilang? JANGAN PANIK KAU BILANG, HAH? MEMANGNYA KAU AKAN BERSIKAP BAGAIMANA JIKA ISTRIMU DICULIK ORANG?"ย Leon terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Nathan berteriak dan membentaknya. Dan kali ini dia tidak berani berkomentar lagi.
Nathan kembali menambahkan kepecapatan pada mobilnya, mobil itu hampir mencapai kecepatan maksimal, bahkan Nathan tidak peduli bila nantinya Ia akan berurusan dengan polisi lalu lintas karena caranya mengemudi yang sangat ugal-ugalan.
karena yang saat ini ada di dalam benaknya adalah bagaimana caranya agar Ia bisa menyelamatkan dan menemukan tempat di mana Aster di sekap.
Kakinya sama sekali tak melepaskan pedal gas. Membuat suara laju mobil itu terdengar lebih keras saat Nathan semakin menambah kecepatannya. Membuat tubuh pria yang berada di sampingnya itu semakin menegang karna ketakutan. Bisa-bisa Leon terkencing di celana jika begini terus.
Manik kirinya terkunci pada jalanan yang sepi, mobil itu mulai memasuki jalur pegunungan,
Saat ini fikirannya terbelah menjadi dua, antara keselamatan Aster dan jalanan di depannya. Meskipun panik, namun Nathan mencoba berusaha untuk tetap tenang.
Sesekali Ia melihat ponsel yang ada di depannya, seringai tajam terkukis di wajah serius Nathan ketika ia berhasil menemukan titik lokasi di mana Aster saat ini.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan lokasinya."
GPS yang terhubung dengan ponsel Tao berhenti tepat di sebuah gedung tua bekas taman hiburan. Perjalanan Seoul-Ulsan seharusnya memerlukan rentang waktu selama 4 jam, namun Nathan menempuhnya hanya dalam 1 jam setengah.
Nathan keluar dari dalam mobil sport hitan tersebut, dari kejauhan dia melihat keberadaan empat orang yang salah satunya adalah Tao.
Nathan bergegas menghampiri mereka, sementara Leon langsung pergi kesemak-semak untuk memuntahkan semua isi di dalam perutnya.
PLAKK!!!
Sebuah tamparan keras berkali-kali mendarat pada pipi Maya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Tiffany. Sementara dua pria yang membawa Aster terkapar dalam keadaan babak belur setelah di hajar habis-habisan oleh Tao, Benno dan Benny.
"Maya~Jadi kau pelakunya? JADI KAU YANG SUDAH MENCULIK ASTER!!" teriak Nathan penuh emosi.
Nathan menarik rambut Maya hingga kepalanya mendongak ke atas. "Katakan, di ruangan mana kau menyekap Aster?"
Maya menyeringai tajam. "Aku tidak akan mengatakannya. Aku katakan pun percuma saja, karena saat ini mungkin saja wanita itu sudah mati kehabisan napas."
"BRENGSEK!!"
"Aaahhh." Maya berteriak sambil memegangi kepalanya. Nathan menyeret Maya dan membawanya masuk ke dalam gedung dengan cara menarik rambutnya. "Paman, sakit!!" Bahkan Nathan tidak menghiraukan teriakan kesakitan Maya.
Tao langsung ikut ke dalam, sedangkan ketiga sahabat Aster tetap di luar. Tao melarang mereka untuk ikut, dan meminta mereka untuk menunggu. Dan mereka menyetujuinya.
Nathan terus berjalan menyusuri bangunan tersebut sambil menarik Maya. Teriakan kesakitan dan tangisannya menggema disetiap penjuru. Nathan tak peduli. Dan mungkin saja dia akan membunuh Maya setelah ini.
"Oke, aku beritahu, tapi tolong lepaskan aku!! Dia ada di dalam ruangan itu. Di sana aku menyekapnya!! Paman, aku sudah memberitahumu, jadi sekarang lepaskan aku!!"
"Aku tidak akan mengampunimu jika hal buruk sampai menimpa Aster dan bayinya, kau mengerti?!"
Mata Maya membelalak. "Bayi?"
Nathan kemudian mendorong Maya pada Tao."Pegang dia, dan jangan biarkan dia untuk kabur." Tao mengangguk.
BRAKKK ... !!! ...
Suara dobrakan keras pada pintu menggema di ruangan itu. Nathan membuka pintu dengan kasar tanpa bersusah payah menggunakan kunci. Pintu itu di dobrak dari luar dan membuat pintu itu rusak parah.
Ruangan itu terbuka sepenuhnya dan betapa terkejutnya Nathan saat mendapati tubuh Aster tenggelam di dalam akuarium raksasa yang penuh dengan air.
"ASTER!!"
__ADS_1
Nathan pun segera berlari ke arah akuarium itu berada, berusaha mencari cara agar Ia bisa masuk dan menceburkan diri ke dalam sana untuk bisa menyelamatkan nyawa Aster yang kini berada dalam bahaya.
Fikirannya benar-benar kacau hingga Ia tidak bisa berfikir dengan jernih, satu-satunya yang ada di dalam fikirannya adalah menyelamatkan wanita yang kini tengah mengandung buah cinta mereka itu.
Kemudian Nathan naik ke atas melalui sebuah tangga. Tanpa rasa ragu sedikit pun, Nathan menceburkan diri ke dalam akuarium tersebut.
Ia tertegun, tepat di bawahnya wanita itu tenggelam. Rambut coklat kelamnya yang panjang berayun di dalam air, kedua tangannya tertarik ke atas masih terikat dengan papan yang ada di atas akuarium, seakan-akan menunggu seseorang untuk segera menyelamatkannya. Kedua matanya terpejam.
Dengan segera Nathan melepaskan ikatan tali pada lengan dan kakinya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, dan dengan segera Ia membawa Aster naik ke atas permukaan.
Di atas sana sudah ada Tao yang telah bersiap untuk membantunya, Aster di tarik keluar oleh Tao.
Nathan melirik wanita yang berada dalam pelukannya. Memandang wajah pucat yang sangat familiar untuknya, gadis itu terbatuk.
Menekan semua udara yang mungkin masih tersisa di dalam kerongkongannya. Aster terdiam, meringkuk lemah dalam pelukan Nathan.
Mata kiri Nathan terbelak, dengan segera dia menepuk ringan pipi tirusnya dan sedikit mengguncang bahunya. "Aster, bangun." Namun Aster tetap tidak memberikan respon apa-apa.
Wanita itu tetap diam dengan kedua matanya yang tertutup rapat, tubuhnya bergerak lemah mengikuti guncangan tangan Nathan pada bahunya.
Keadaannya begitu lemah, dan hal itu membuat Nathan menjadi sangat cemas setengah mati. Tanpa banyak berfikir, Nathan segera menempelkan bibirnya pada bibir Aster untuk memberinya sebuah napas buatan.
Meniupkan semua pasokan udara yang Ia punya, dan berhasil, ada pergerakan dari wanita itu.
Aster mulai terbatuk dan menggeluarkan semua air yang tertelan selama dia berada di dalam air. perlahan-lahan matanya terbuka dan kini Nathan bisa bernafas lega karena Aster baik-baik saja.
"Paman," panggil Aster dengan suara lemahnya.
Nathan meraih tangan Aster yang terasa dingin dan menggenggamnya. "Paman ada di sini, Sayang. Maafkan Paman, Aster. Maaf karena Paman datang terlambat." Bisik Nathan penuh sesal.
Aster menggeleng. Tiba-tiba dia merasakan semuanya menjadi buram. Dan Aster tak sadarkan diri lagi dalam pelukan Nathan. Melihat hal itu membuat Nathan menjadi sangat panik, apa lagi ketika melihat cairan merah pada dress-nya.
"Aster, tetap buka matamu." Pinta Nathan sambil menepuk pipi Aster. Tapi tidak ada respon.
Nathan segera mengangkat tubuh Aster dan melarikannya ke rumah sakit. Dia tidak ingin hal buruk sampai menimpa istri dan calon anaknya. Tak lupa Nathan juga memerintahkan Tao supaya menenggelamkan Maya di dalam aquarium tersebut.
"Aster, Paman mohon bertahanlah."
-
Bersambung.
__ADS_1