"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kelinci Percobaan


__ADS_3

"Tuan, ada kabar dari London. Mansion mewah milik Boss di sana hancur dan seluruh penghuninya di temukan meninggal."


Seorang penjaga melaporkan berita yang baru saja dia terima dari London pada Cris. "APA?!" Dan membuat Cris memekik sekencang-kencangnya saking kagetnya.


Cris di percaya oleh Nathan untuk menjaga Aster dan kedua keponakannya selama dia berada di London. Itulah kenapa sampai sekarang dia masih berada di mansion mewah milik Nathan.


"Lalu bagaiman dengan Nathan, Leon dan Dio?"


Pria itu menggeleng. "Kemungkinan besar mereka bertiga juga ikut menjadi korban dalam ledakan itu. Lima diantaranya sudah tidak bisa dikenali lagi karena tubuhnya hangus terbakar."


Cris jatuh lemas setelah mendengar penjelasan pria didepannya. Bagaimana jika itu benar, bagaimana jika mereka bertiga benar-benar menjadi korban dalam ledakan itu? Lalu bagaimana dia harus memberitahu Aster dan nenek Xiao jika Nathan benar-benar telah tiada?


Cris mengangkat wajahnya dan menatap pria didepannya. "Pastikan sekali lagi, mayat itu benar-benar Nathan, Leon dan Dio atau bukan!!"


BRAKK!!!


Cris dan pria itu terkejut bukan main saat mendapati sosok jelita berdiri di depan pintu dengan kedua mata membelalak berkaca-kaca. Kopi untuk Kris terlepas dari genggamannya.


"A-Aster," gumam Cris sedikit terbata.


Aster menghampiri Cris dengan wajah yang sudah penuh air mata. Aster mencengkram lengan Cris dan menatapnya dengan tatapan menuntut.


"Katakan padaku, Paman. Apa yang terjadi pada Paman Nathan? Kenapa kalian membahas tentang mayat dan ledakan? Katakan padaku Paman, katakan jika Paman Nathan baik-baik saja."


"Tenang dulu, Aster. Dengarkan Paman dulu. Masih belum ada kepastian. Itu Nathan atau bukan. Bisa saja Nathan, Leon dan Dio sedang pergi saat insiden peledakan itu terjadi."


Aster menggeleng. "Paman, bawa aku ke sana. Aku harus memastikannya, aku harus melihat sendiri jika suamiku masih hidup. Ayo Paman, kita pergi ke London. Aku ingin memastikan jika Paman Nathan masih hidup." Tangis Aster semakin pecah. Dia benar-benar takut jika hal buruk sampai menimpa Nathan.


Cris mengambil napas panjang dan menghelanya."Baiklah, ayo kita pergi."


-


Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Mereka pun tiba di London. Kedua kaki Aster dan Cris langsung kemas saat melihat mansion mewah milik Nathan telah hancur dan rata menjadi tanah.


Dengan langkah tertatih dan air mata yang tidak bisa dibendung lagi. Aster berjalan menuju reruntuhan itu.


Melihat bagaimana kondisi mansion itu sekarang, membuat Aster semakin yakin jika Nathan benar-benar telah tiada dan turut menjadi korban dalam ledakan tersebut. Apalagi ia mendengar jika ada 5 orang dari semua korban telah hangus terbakar.


"PAMAN NATHAN!!"


Aster tiba-tiba menjerit histeris memanggil nama Nathan, sebelum akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri karena terlalu syok.


"Aster!!"


Cris yang terkejut segera berlari menghampiri Aster, dan menahan tubuhnya sebelum terjatuh dan menghantam tanah.


.

__ADS_1


.


.


Kelopak mata Aster yang sebelumnya tertutup perlahan terbuka, sangat pelan. Cris yang paling menunggu momen ini pun terus berharap-harap cemas dengan kelanjutan kondisi wanita itu.


Aster terdengar melenguh saat berusaha menggerakkan kepalanya. Rasanya berat dan pusing, pandangannya pun masih jauh dari kata jelas. Apa yang dilihatnya kabur dan seperti menjadi dua.


"Aster, kau bisa mendengarku…?" ia mendengar suara Cris berkaur di telinganya.


Aster sedikit meringis ketika merasa suara itu justru membuat kepalanya semakin sakit. Cris melihat reaksi Aster yang seperti itu tentu saja menjadi semakin cemas.


"Aster, kau bisa mendengarkan ku bukan?"


"Paman Cris, apakah ini dirimu? Lalu ini di mana?"


Cris mengangguk. "Ya, Aster. Ini aku, lihat ini berapa?" Cris menggoyangkan satu jarinya di depan mata Aster, berusaha menguji tingkat kesadaran wanita itu.


Aster menggeleng. "Satu..mungkin dua atau tiga!! Tidak jelas…" Cris menggeleng lemah.


Cris pun segera menarik kesimpulan bahwa Aster sudah melewati masa kritisnya, hanya saja kondisinya belum cukup stabil untuk sadar. Dan sedikit beristirahat, mungkin keadaan Aster akan segera membaik.


"Kembalilah berisirahat. Aku akan keluar sebentar untuk mencari informasi lagi mengenai ledakan itu." ucapnya seraya meninggalkan Aster, namun langkahnya terhenti ketika wanita itu sempat menyebut namanya lirih.


"Ada apa lagi, Aster?"


"….."


Tidak tahu harus menjawab apa, Cris hanya diam sambil menatap wanita itu dengan sendu. Kemudian dia kembali menghampiri ranjang Aster. Tangannya mengusap kepala coklat itu, merasakan lembutnya helaian rambut coklat terang yang biasa dibelai oleh Nathan.


"Kita hanya bisa berdoa dan berharap pada keajaiban Tuhan. Tidak hanya kau yang sedang menunggunya. Kita semua juga." Ujar Cris dengan bijak.


Ditepuknya bahu Aster kemudian dia beranjak dan melenggang meninggalkan ruangan wanita muda itu.


Menit demi menit dilalui Aster dengan penuh kecemasan dan kegelisahan. Tubuhnya terasa lemas dan ia berusaha untuk menggerakkan tangan beserta jari-jarinya.


Sudut bibirnya terangkat bahagia ketika melihat kini sebuah cincin melingkari jari manisnya yang lentik. Dari penampilannya, ia sudah bisa menebak berapa harga si cincin itu. Dan pelakunya sudah pasti Nathan, mengingat lelaki satu itu memang sering buta harga jika memberikan sesuatu untuknya.


Tapi kenapa… perasaan tidak enak justru menyeruak dalam hatinya kala memperhatikan cincin itu lebih dalam. Semakin sesak dan aneh, Aster mulai merasa gelisah dengan ketidakhadiran Nathan di sisinya.


"Paman," Aster membekap mulutnya dan mulai terisak lagi.


Dia benar-benar takut Nathan meninggalkannya. Aster belum siap. Bukan, tapi memang tidak akan pernah siap. Dia tidak siap kehilangan Nathan untuk selama-lamanya.


"Paman, dimana kau sebenarnya?"


-

__ADS_1


Sinar matahari senja mulai masuk menerawang jendela kamar rawat VVIP salah satu rumah sakit elit di London. Dalam ruangan itu terdapat dua orang pria yang saling diam entah memikirkan apa.


Pria berkacamata itu menatap serius adik sepupunya yang menjadi pasiennya sendiri, ia baru saja melewati masa kritisnya dan langsung memasang wajah stoic khasnya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya pria itu mengawali pembicaraan.


"Aku bosan di sini." jawab pria itu ketus membuat Zhoumi memutar bola matanya bosan.


"Bukan itu, Bocah. Luka-lukamu masih sakit apa sudah mendingan? Terutama cidera pada mata kananmu?"


"Lukanya lumayan parah, tapi beruntung kau tidak sampai mengalami kebutaan. Dan berterima kasihlah padaku karena aku ahli dalam menciptakan obat yang mujarab." Ujarnya membanggakan diri.


Nathan mendecih. Mata kirinya yang tidak tertutup perban menatap jengah pria didepannya. "Berhentilah membanggakan diri sendiri, Zhoumi Qin. Obat apalagi ini?" Nathan mulai curiga dengan obat yang diberikan oleh Zhoumi padanya.


Zhoumi terkekeh. "Hehehe, seperti biasa. Ini temuan baruku, kau selalu beruntung jadi orang pertama yang mencobanya."


"Kau tahu khasiatnya? Ini bisa menetralisir racun dan membuat lukamu menutup sempurna tanpa bekas! Dijamin tubuhmu kembali seperti semula!"


"Tapi khusus untuk luka pada mata kananmu masih membutuhkan waktu dan proses untuk bisa sembuh. Apalagi setelah bekas jahitan lama kembali terbuka. Tapi aku tenang saja, obatku pasti akan menyembuhkanmu!!' promo Zhoumi layaknya tukang obat.


"Berhenti menjadikanku kelinci percobaanmu, bagaimana kalau nanti aku mati, hah?" Ujarnya tak sabaran.


Dan Zhoumi pun hanya menanggapi adik sepupunya itu dengan senyum jahilnya, "Ya kalau mati paling kau bertemu Paman dan Bibi di akhirat, aku bisa titip salam kan?"


Nathan menggeram kesal. Ya, baginya sosok Zhoumi adalah sosok paling mengesalkan di dunia ini. Sekaligus sosok kakak sepupu yang satu-satunya paling memahami dirinya.


Walaupun sering dijadikan kelinci percobaan obat hasil penemuannya, tapi nyatanya dia rela-rela saja. Tapi itu dulu sekali, dan ini pertama kalinya Nathan bertemu kembali dengan Zhoumi setelah beberapa tahun berlalu.


"Di mana Leon dan Dio? Apa mereka baik-baik saja?"


"Kau tidak perlu cemas. Mereka baik-baik saja. Tanpa luka yang berarti, hanya sedikit lecet saja. Dan mereka yang membawamu kemari."


"Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?!"


"Tidak lama, hanya Enam Minggu saja!!"


"Apa?! Enam Minggu?" Zhoumi mengangguk."Bodoh, 2 Minggu jelas bukan waktu yang singkat. Aku harus kembali sekarang, Aster pasti sangat mencemaskan ku!!"


Namun Nathan ditahan oleh Zhoumi. "Kau baru saja bangun dan sekarang malah mau kabur? Apa kau sudah tidak waras? Kembali berbaring atau aku akan menyuntik mati dirimu!!" Ancam Zhoumi bersungguh-sungguh


Nathan mendecih dan menatap Zhoumi dengan sebal. Nathan memilih mengalah, lagipula jika dia sampai mati, lalu siapa yang akan menjaga dan melindungi Aster?


Nathan benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Aster. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Karena tidak mungkin apa yang terjadi di sini tidak sampai ke telinga semua orang yang berada di Korea.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2