"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kami Kembali


__ADS_3

PLAKKK...


Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi kanan Aster. Saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Aster menoleh ke samping. Siapa lagi pelakunya jika bukan Marta.


"Kau hanya pembawa sial. Sebaiknya kau pergi jauh dari hidup kak Nathan, jika bukan karena dirimu, kakak Sepupu tidak akan terluka separah ini!!" Amuk Marta melupakan semua emosinya.


PLAKK!!


Marta hendak menampar Aster untuk yang kedua kalinya, namun kali ini ditahan oleh Aster. Wanita itu tidak membiarkan Marta menamparnya untuk yang kedua kalinya.


"Sebaiknya tidak usah saling menyalahkan!! Kau pikir semua musibah ini adalah salahku sepenuhnya? Tidak!! Jika kau ingin menyalahkan, salahkan saja bajingan itu, gali kuburnya dan maki dia."


"Kau?!"


PLAKKK..


Aster menampar Marta dengan sangat keras, tidak hanya satu kali, tapi dua kali. Aster sudah muak mendengar semua ocehannya. Kepalanya sudah pusing, dan sekarang semakin pusing karena ucapan Marta.


"Sebaiknya kau diam dan jangan bicara lagi!! Jangan semakin memperkeruh keadaan." Ucap Aster kemudian duduk di kursi depan ruang tunggu.


Semua orang yang ada di sana hanya mampu diam dan tidak ada yang bisa berbicara. Bahkan hanya untuk sekedar menenangkan Aster. Dan ternyata Aster lebih tegar dari yang mereka kira.


Zhoumi menghampiri Aster kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya, meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja. Gavin dan Rio pun ikut bergabung bersama mereka. Dan ikut memeluk Aster.


Yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan Nathan. Nathan sudah pernah berada di posisi ini, dia bisa melewatinya, dan mereka yakin jika kali ini Nathan juga pasti bisa melewatinya.


Cklekk...


Perhatian mereka teralihkan oleh suara decitan pintu di buka dari dalam. Tampak seorang dokter paruh baya keluar dari ruang operasi dan menghampiri mereka. Aster pun segera berdiri dan menghampiri dokter yang menangani suaminya.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Aster tanpa banyak basa-basi.


"Tuan Xiao dalam keadaan kritis. Beliau kehilangan banyak darah. Dan kebetulan stok darah di rumah sakit ini sangat terbatas, dan kami membutuhkan beberapa kantong darah."


"Apa golongan darahnya, Dok?" Kini giliran Cris yang bersuara.


"AB- ,"


"Silahkan ambil darah saya, Dok. Kebetulan golongan darah saya juga AB-," jawab Zhoumi.


"Kita membutuhkan dua kantong darah lagi. Dan darah itu harus segera, karena keselamatan Tuan Xiao tergantung pada darah-darah itu."


"Aku AB-," Semua mata kini tertuju pada Marta. Wanita itu menatap Aster dengan serius.


Marta menyeringai. Membuat perasaan Aster menjadi tidak enak. "Bisa saja aku memberikan darahku untuk kakak sepupu. Asal kau mau mengikuti sarat dariku."


"Katakan, apa saratnya?!" Tanya Aster dingin.


"Tinggalkan kakak sepupu dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Jika kau bisa melakukannya, maka aku akan memberikan darahku padanya. Bagaimana? Impas bukan. Dan semua keputusan itu sekarang ada di tanganmu!! Tinggalkan kakak sepupu atau membiarkan dia mati!!"


Aster menggepalkan tangannya. Kali ini dia tidak boleh egois karena nyawa Nathan lebih penting dari apapun itu. Lebih baik dia dibenci oleh Nathan dari pada dia harus kehilangan Nathan untuk selama-lamanya.


Wanita itu menutup matanya dan mengambil napas panjang. Sepasang mata hazelnya kembali terbuka dan menatap Marta dengan serius.


"Baiklah, aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupnya!!"


"Noona//Aster!!"


Aster tersenyum menatap keempat pria itu."Semua akan baik-baik saja, suatu saat nanti Nathan Oppa akan mengerti jika yang aku lakukan adalah demi kebaikannya. Hanya ini satu-satunya pilihan yang aku miliki. Karena nyawanya lebih penting dari apapun juga."


"Pilihan yang bijak. Sebaiknya sekarang kau pergi."


Dengan hati hancur. Aster pun berjalan meninggalkan semua orang. Ini adalah yang terbaik. Hanya ini yang bisa Aster lakukan untuk Nathan sekarang. Selama ini selalu Nathan yang berkorban untuknya, dan kali ini biarkan dia yang berkorban untuk Nathan.


"Paman, suatu saat nanti aku pasti akan kembali, bukan hanya aku, tapi kami berdua!!"

__ADS_1


-


Kelopak mata kirinya terbuka perlahan. Aroma rumah sakit yang begitu khas langsung menyerbu masuk ke dalam indera penciumannya. Sebelah tangannya memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah. Lalu pandangannya menyapu, serba putih dengan alat-alat medis yang lengkap.


"Aku masih hidup." Ia bergumam lirih.


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Beberapa orang terlihat berhamburan menghampirinya. Semua ada di sana, tapi di mana dia? Di mana sosok jelita yang selama ini selalu menemaninya? Ia mulai takut dan cemas.


"Kakak sepupu, kau sudah sadar? Akhirnya kau sadar, apa kau tau bagaimana cemas dan takutnya kami!!" Suara seorang wanita berkaur di dalam telinganya. Tapi bukan suara wanita itu yang ingin dengar.


"Kami lega melihatmu baik-baik saja."


"Dimana Aster?" Sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.


Semua orang seketika diam dan tidak ada yang bersuara. Mereka bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Nathan. Haruskah mereka mengatakan yang sebenarnya pada Nathan atau tidak.


"Aster, dia~"


"Sudah pergi!!" Marta menyela cepat, kini pandangan Nathan tertuju pada Marta. Seolah meminta penjelasan darinya. "Iya, dia sudah pergi, dia meninggalkanmu saat kau bertaruh nyawa. Dia egois, dia pergi karena dia tidak siapa menjadi janda jika kau sampai tidak selamat."


"Kau berbohong!!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Paman!! Bahkan dia pergi bersama seorang pria yang menjemputnya. Dia..wanita itu menghianatimu!!"


"BOHONG!!" teriak Rio dengan nada meninggi. Rio menghampiri Marta lalu mendorongnya hingga wanita itu terhuyung kebelakang. "Kau! Kau yang sudah membuat Aster Noona pergi. Kau yang membuat dia meninggalkan Paman Nathan. Kau yang sudah membuat mereka berpisah!!" Teriak Rio penuh emosi.


Rio menghapus kasar air matanya. "Paman, Aster Noona pergi karena terlalu mencintaimu. Dia pergi karena tidak ingin kau kenapa-napa. Kau kritis dan kekurangan darah. Hanya darah Paman Zhoumi dan Iblis ini yang cocok dengan darahmu." Rio mengambil napas dan jeda dalam kalimatnya.


"Dia mau mendonorkan darahnya asalkan Aster Noona pergi. Karena ingin kau tetap hidup, akhirnya Aster Noona menyetujui syarat dari dia. Dia yang membuat Aster Noona pergi."


Marta menggeleng. Dia mencoba memberikan penjelasan pada Nathan. Tapi rasanya tidak mungkin. Nathan tidak mungkin mau mendengarkan penjelasan darinya.


"Kakak sepupu aku~"


Nathan menyambar senjata api yang terselip di balik pakaian Leon. Dengan emosi Nathan melepaskan tembakannya pada Marta, dan peluru itu bersarang pada perutnya. Semua orang terkejut, termasuk Marta. Marta tidak menduga jika Nathan akan menembaknya.


"Karena aku ingin kau mati!!" Marta kehilangan kesadarannya. Wanita itu akhirnya ambruk tak sadarkan diri.


Tak ingin timbul masalah besar. Zhoumi pun segera mengangkat tubuh Marta. Dia harus mendapatkan pengobatan, dan Marta harus selamat.


"Keluar kalian semua, dan tinggalkan aku sendiri!!"


Tak ada jawaban. Semua orang berjalan keluar meninggalkan ruang inap Nathan. Menyisahkan Nathan sendiri di ruangan itu.


"ARRRKKHHHH!!!"


Nathan berteriak. Meluapkan semua kemarahan, kekecewaan dan emosinya. Nathan menutup mata kirinya dan setitik kristal bening mengalir dari pelupuk matanya.


Begitu besar pengorbanan yang telah Aster lakukan untuknya. Hanya karena ingin dia selamat, Aster rela membawa beban dan luka. Lalu apa yang bisa Nathan lakukan sekarang? Mencarinya? Kemana dia harus mencarinya? Negara mana yang Aster tuju Nathan tidak tau.


Yang bisa Nathan lakukan sekarang hanyalah menunggu, menunggu wanita itu kembali dengan sendirinya ke dalam pelukannya.


-6 Tahun Kemudian-


Lelaki itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Buku-buku tangannya memutih karena kepalan tangannya yang terlalu kuat menekan. Lalu, tak lama bunyi benturan terdengar cukup keras. Benturan antara sebuah dinding yang dingin dengan kepalan tangan yang keras tadi.


Darah mulai mengalir perlahan namun pasti dari sela-sela jari yang terbuka. Dia tidak peduli. Nathan hanya menatap dingin pada jari-jari tak berdosanya .


Kemudian, tubuhnya jatuh terduduk. Sorot matanya berubah kosong dalam sekejap. Ia tidak memedulikan bagaimana sakit di tangannya karena kini yang ia pedulikan bagaimana caranya menghilangkan sakit di hatinya.


Sakit di hatinya.


Bahkan para psikiater ternama, dokter ternama tidak bisa menyembuhkan lukanya. Luka yang awalnya terobek kecil kini membesar. Ditambah dengan beberapa debu yang diibaratkan sebagai penambah rasa sakit ke dalam lukanya.


Enam tahun telah berlalu. Namun Nathan masih belum bisa menemukan keberadaan Aster. Di mana wanita itu saat ini pun bahkan Nathan tidak tau. Selama 6 tahun Nathan tidak mendapatkan kabar darinya sama sekali.

__ADS_1


Lalu sampai kapan dia harus menunggu? Menunggu cintanya kembali kedalam pelukannya.


-



Disiang hari yang terik. Seorang wanita cantik berambut panjang, terlihat di sebuah bandara berskala international. Setelah enam tahun, akhirnya dia kembali ke negeri dimana dia dibesarkan, Korea. Tidak hanya sendiri, seorang gadis kecil berjalan disampingnya.


"Mami, apakah kau akan membawaku bertemu dengan Daddy?" Tanya gadis kecil itu dengan begitu antusias.


Wanita yang dipanggil 'Mami' itu lantas mengangguk sambil mengurai senyum lebar.


"Ya, dan kita akan memberikan kejutan besar pada Daddy, ini adalah ulang tahunnya, dan Mami ingin kau menjadi kado istimewa untuknya."


"Memangnya orang seperti apa Daddy, Laurent?"


Wanita itu menghentikan langkahnya. Jari telunjuknya dia letakkan di bibirnya.


"Tampan, mapan, dingin, arogan tapi sangat hangat dan penyayang. Daddy-mu memakai sebuah benda hitam di mata kanannya. Sebuah insiden membuat Daddy-mu kehilangan salah satu penglihatannya."


"Wow, itu artinya Daddy mirip seperti karakter dalam komik yang sering Laurent baca?"


"Hm," ibu muda itu mengangguk.


"Laurent jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengannya."


"Kita akan segera bertemu dengannya, Sayang."


-


Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca di samping meja kerjanya. Sebelah tangannya bertumpu pada dinding itu, sedangkan sebelah tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.


Enam tahun telah berlalu. Namun tidak ada yang berubah pada penampilan Nathan.


Dia tetap setampan dulu, Nathan masih terlihat seperti pemuda 25 tahunan, meskipun usianya sekarang sudah 38 tahun. Dan Nathan harus berterimakasih pada baby face-nya yang membuatnya terlihat seperti pemuda dibawah 30 tahunan.


Tiba-tiba pandangannya tersita oleh keberadaan seorang gadis kecil yang berjalan mondar-mandir di bawah sana. Merasa penasaran apa yang di lakukan oleh gadis kecil itu, Nathan pun segera keluar dan menghampirinya.


"Hei, Nak." Nathan menyapa gadis kecil itu yang sontak mengangkat wajahnya. Seorang pria tampan dalam balutan kemeja putih, celana abu-abu dan Vest yang senada dengan celananya berdiri dihadapannya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau hanya sendiri? Di mana orang tuamu?" Tanya Nathan. Pria itu berlutut dan mensejajarkan tingginya dengan bocah perempuan berusia 5 tahun itu.


Melihat gadis kecil dihadapannya ini membuat hati Nathan bergetar. Apalagi saat melihat sorot mata dan wajah cantiknya. Mata hazel dan bibirnya mengingatkan Nathan pada seseorang.


"Apa Paman ini yang bernama Nathan Xiao?" Tanya gadis kecil itu yang pastinya adalah Laurent.


Nathan memicingkan matanya dan kemudian mengangguk. "Ya, itu nama Paman. Tapi bagaimana bisa kau mengetahui nama Paman?" Tanya Nathan penasaran.


Alih-alih menjawab pertanyaan Nathan. Laurent malah berhambur ke dalam pelukannya. Membuat Nathan terkejut, dan dengan refleks dia membalas pelukan gadis kecil itu.


Hangat...


Itulah kesan pertama yang Laurent rasakan ketika Nathan membalas pelukannya. Dan Nathan merasakan sebuah getaran tak biasa ketika gadis kecil itu memeluknya dengan sangat erat.


Sepasang Kiki jenjang tiba-tiba berhenti di depan Nathan. Sontak Nathan mengangkat kepalanya dan mata kirinya membelalak melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


"Dia sangat bahagia karena akhirnya bertemu dengan Daddy-nya." Ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Aster?!"


"Oppa, kami kembali~"


-


Bersambung.

__ADS_1



Visual Laurent ..


__ADS_2