
Jangan lupa mampir ke new Novel Author ya. Masih anget , tinggalkan like komen ya 🙏🙏🙏
-
"Mami, Mami!!"
Aster membuka lebar-lebar kedua tangannya, saat melihat baby Rey yang baru bisa berjalan terlihat menghampirinya dengan langkah tertatih-tatih. Ibu dua anak itu tersenyum lebar, dia begitu antusias menyambut putranya tersebut.
Rey berjalan sambil cekikikan dengan suara bayi yang begitu khas. "Come on, Baby." Seru Aster memberi semangat.
Happ...
Anak kedua Aster dan Nathan saat ini telah berusia 1 tahun. Rey sangat montok dan menggemaskan. Tidak salah jika banyak orang yang merasa gemas saat melihatnya.
Tapi sayangnya Rey bukanlah bayi yang mudah untuk digendong orang lain, dia selalu menangis jika disapa atau digendong orang asing.
"Papa.. Papa..."
Rey berlonjak kegirangan saat melihat kedatangan Nathan. Suaranya begitu imut dab menggemaskan. Rey merentangkan kedua tangannya seolah-olah meminta supaya digendong oleh sang ayah.
"Papa.. Papa..."
"Nanti dulu ya, Nak. Daddy masih capek, setelah mandi kita bermain." Nathan menepuk kepala Rey, dia merasa bersalah ketika melihat tatapan kecewa sang putra. Bibirnya naik turun seolah-olah mau menangis.
Nathan mendesah berat. Pria itu melepas jas dan meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu mengangkat tubuh mungil Rey dan menggendongnya.
"Papa.. Papa.." wajahnya kembali sumringah. Jari-jari mungilnya berusaha meraih benda hitam bertali yang menutup mata kanan sang ayah.
Kenapa Rey memanggil Nathan dengan sebutan 'Papa' sedangkan Aster mengajarinya memanggil sang ayah dengan panggilan 'Daddy'?!
Rey masih kesulitan untuk memanggil Nathan dengan sebutan Daddy, dan dia bisanya memanggil 'Papa' baik Aster maupun Nathan tidak mau ambil pusing bagaimana Rey akan memanggilnya. Daddy maupun Papa bagi mereka sama saja.
"Papa..Papa... Ini.. Ini.."
Nathan menurunkan tangan mungil Rey dari mata kanannya lalu menggenggam jari-jarinya dengan lembut. "Jagoan, sekarang sama Mami dulu ya. Daddy mandi dulunya, setelah ini kita main, oke." Nathan mengecup kening Aster dan Rey bergantian lalu meninggalkan mereka begitu saja.
Nathan benar-benar merasa tidak nyaman karena keringat. Seharian bekerja membuatnya merasa gerah, meskipun ruangannya dilengkapi dengan AC.
__ADS_1
.
"Mi, bantu Laurent mengerjakan PR." Gadis kecil itu menghampiri Aster yang sedang menuruni tangga sambil mengendong Baby Rey.
Rio dan Gavin yang baru saja pulang bekerja menghampiri mereka berdua. "Princess, nanti saja Paman tampan saja ya. Kasian Mami masih harus mengurus adik kecil." Ucap Gavin seolah mengerti tentang kesibukan Aster.
Laurent mengangkat wajahnya dan menatap Ibu serta adiknya bergantian lalu mengangguk. "Oke Paman, setelah ini bantu aku mengerjakan PR ya." Ucap Laurent yang kemudian dibalas anggukan oleh kedua pemuda itu.
"Dengan senang hati princess. Paman mandi dulu ya." Ucap Rio yang kemudian dibalas anggukan oleh Laurent.
Sambil menunggu Rio dan Gavin selesai mandi. Laurent memutuskan untuk bermain dulu saja dengan si kecil Rey. "Adik, lihatlah Noona memiliki sesuatu untukmu." Laurent mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya yang kemudian dia berikan pada Rey.
"Sayang, adik masih terlalu kecil untuk memakan gula-gula." Seru seseorang dari belakang mereka bertiga. Nathan terlihat menuruni tangga.
"Baru juga Mami mau mengatakan itu, tapi Daddy mu malah mendahuluinya." Aster terkekeh. "Karena Daddy kalian sudah di sini, Mami bisa membantumu mengerjakan PR. Adik Rey biar bermain bersama Daddy."
Setelah menitipkan Rey pada Nathan. Kemudian Aster pergi ke kamar Laurent dan membantu putrinya itu membuat PR.
"Papa, Papa." Panggil Rey sambil berusaha membuka benda hitam bertali yang menutup mata kanan Nathan.
Tak ingin jika putranya sampai melihat keadaan matanya, Nathan menurunkan tangan Rey dan melarang bayi kecil itu untuk membukanya.
.
"Bagaimana Princess, kau sudah mengerti bukan?"
Aster baru saja memberikan penjelasan pada Laurent soal PR nya tersebut, dan gadis kecil itu langsung memahaminya. Laurent memang sangat jenius, persis seperti ayahnya. Aster cukup sekali memberikan penjelasan dan dia langsung memahaminya.
"Ya, Mi. Aku sudah mengerti."
"Kalau begitu coba Laurent kerjakan."
"Oke."
Aster memperhatikan Laurent yang sedang mengerjakan tugas PR nya. Sudut bibir Aster tertarik ke atas melihat putrinya langsung memahami apa yang sudah dia jelaskan tadi. Tidak mengherankan, karena Gen Nathan mengalir dalam tubuhnya.
"Mami, aku sudah selesai." Seru Laurent lalu menunjukkan hasil yang dia kerjakan pada Aster.
Aster mengambil buku PR dari tangan Laurent dan tersenyum lebar. "Good, Princess. Kau memang sangat luar biasa. Sekarang bereskan semua buku dan alat tulis mu. Bantu Mami menyiapkan makan malam."
__ADS_1
"### Oke, Mi."
"Tuan, ada tamu untuk Anda."
Seorang maid menghampiri Nathan dan menyampaikan jika ada tamu untuknya. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya. "Kau tetap di sini dan temani Rey bermain."
"Baik, Tuan."
Nathan tidak bisa membawa putranya. Dia tidak tau siapa orang yang datang. Apakah dia baik atau jahat, Nathan tidak ingin mengambil resiko dan menempatkan putranya dalam bahaya.
Dari jarak 3 meter. Nathan melihat keberadaan seorang pria yang wajahnya sangatlah tidak asing. Dia tidak sendiri, ada seorang pria yang menemaninya. Dan orang itu berdiri disamping pria tersebut duduk.
"Tuan Xiao, maaf sudah menganggu waktu Anda. Saya datang karena ada hal penting yang harus di bahas dengan Anda. Dan ini mengenai keputusan Anda men~"
"Aku memiliki alasan untuk melakukannya!!" Nathan menyela cepat.
"Tuan Xiao, selama ini perusahaan kita menjadi mitra kerja, dan kita bekerja sama dengan sangat baik. Tapi kenapa tiba-tiba saja Anda mencabut semua saham yang telah ditanam di perusahaan kami. Dan Anda juga membatalkan kerja sama yang telah terjalin baik selama ini!!"
"Bukan aku yang memulainya terlebih dulu, tapi kau!! Kau telah menggelapkan sebagian dana untuk pembangunan proyek di China, kau juga melakukan konspirasi besar dengan menyalahgunakan kepercayaan Xiao Empire,"
"Dari mana Anda mendapatkan semua informasi itu? Itu semua tidak benar, aku adalah orang yang setia dan~"
Nathan mengambil dokumen yang dia letakkan di bawah meja lalu melemparkan pada pria di depannya. Nathan menang sudah mempersiapkan semua bukti yang dia miliki atas penghianatan rekan kerjasamanya ini.
"Bagaimana? Apa kau masih ingin mengelak lagi?!" Nathan menyeringai dingin.
Pria itu terpojok dan kehilangan kata-katanya. Dia bingung harus menjawab apa. Semua bukti-bukti yang Nathan tunjukkan menang benar adanya.
"Tu-Tuan Xiao, sa..saya minta maaf, tolong ampuni saya. Sa..saya tau, saya salah. To..tolong jangan batalkan kerja sama kita."
"Terlambat!! Karena aku sudah muak berurusan dengan orang sepertimu!! Pergilah sebelum aku hilang kesabaran dan menyeret mu keluar."
Gyut...
Pria itu mengepalkan tangannya. Matanya berkilat tajam. Dia pasti akan membalas perbuatan Nathan padanya.
-
Bersambung.
__ADS_1