
"Sayang, apa kau sungguh-sungguh dengan keputusanmu itu?! Mami, rasa, asrama bukanlah tempat yang tepat untukmu hidup mandiri!!"
Laurent mengangguk. "Tentu saja, Mi. Jika aku terus bersama dengan kalian, bagaimana aku bisa hidup dengan mandiri. Lagipula aku bukan anak kecil lagi, aku ingin hidup mandiri dan membuat kalian lebih bangga padaku."
"Tapi, Laurent~"
Nathan menepuk bahu Aster dan menggeleng. Kemudian dia yang berbicara dengan putrinya itu. "Daddy, tidak akan melarang ataupun menahan mu. Karena Daddy yakin, jika kau telah memikirkannya baik-baik. Dan apapun keputusanmu, Mami dan Daddy akan mendukungnya. Asalkan kau bisa bertanggung jawab pada keputusanmu itu!!!" Tutur Nathan.
Mendengar ucapan Nathan membuat Aster tidak bisa berkata-kata lagi. Suaminya itu telah mengambil keputusan, yang artinya dia percaya pada putri mereka. Jika Nathan saja percaya pada Laurent, lalu kenapa dirinya tidak?!
Aster menghampiri putri kecilnya itu lalu memeluknya. "Mami pasti akan sangat merindukanmu, Dear. Selama di sana, kau harus bisa jaga diri baik-baik. Mami, akan mencarikan Asrama terbaik untukmu."
"Jadi Mami telah setuju?"
Aster mengangguk. "Daddy mu telah mengambil keputusan. Jika Daddy saja sangat mempercayaimu, kenapa Mami tidak. Mami juga mempercayaimu, Nak. Dan jangan pernah mengecewakan kepercayaan kami."
Laurent berhambur ke dalam pelukan Aster dan memeluk sang ibu dengan erat. "Pasti, Mi."
Sebenarnya Aster sangat berat untuk berpisah dengan putrinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus menghargai keinginan dan keputusan putrinya. Dan sebagai orang tua, tugas Aster adalah mempercayainya.
-
Hari itu pun akhirnya tiba. Hari dimana Aster harus berpisah dengan putrinya. Sangat besar bagi Aster untuk berpisah dengan Laurent, tapi mau bagaimana lagi. Laurent sendiri yang menginginkan hal tersebut.
Ini adalah Asrama elit, yang di dalamnya hanya anak-anak dari keluarga terpandang, dan sudah Aster pastikan tidak ada pembullyan pada anak baru, karena Aster tidak ingin hal tersebut sampai menimpa putrinya.
"Nyonya dan Tuan Xiao, Anda berdua tidak perlu khawatir. Kami pasti akan menjaga putri Anda dengan sangat baik, dan kami memastikan tidak ada tindak kekerasan baik secara fisik maupun mental pada anak-anak baru seperti yang terjadi di Asrama lain."
__ADS_1
"Kami harap Anda bisa memegang kata-kata itu, Nyonya Estella. Karena kami tidak tinggal diam dan akan mengambil tindakan tegas jika terjadi ketidakadilan pada putri kami!!" Ujar Nathan. Mimik wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, datar.
Melihat sorot mata Nathan dan cara dia berbicara, membuat kepala Asrama itu ketakutan sendiri. Meskipun hanya melalui mata kirinya, tapi itu lebih dari cukup untuk membuatnya seperti berada di dimensi lain.
Dia tidak tau siapa pria dihadapannya ini. Tapi satu hal yang pasti, jika dia sangat berbahaya. Dan untuk itu dia harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.
"Anda tenang saja, Tuan Xiao. Saya berani menjamin keselamatan dan keamanan putri Anda di sini."
Di tempat yang sama tapi di lokasi berbeda. Terlihat sepasang ibu dan anak saling berbincang dengan serius. Mereka adalah Aster dan Laurent. Berkali-kali Aster memeluk Laurent. Dia begitu berat untuk berpisah dengan putrinya tersebut.
"Mi, sejak kapan Mami jadi cengeng begini?! Tenanglah, Mi. Aku akan baik-baik saja di sini. Memangnya siapa yang berani menindas putri dari Bos Mafia, Hem? Lagipula aku bukanlah gadis lemah yang mudah untuk di tindas,"
"Bukan itu yang Mami cemaskan, Laurent Xiao. Tapi Mami cemas mencemaskan diri Mami sendiri!! Bagaimana jika Mami merindukanmu, apalagi ini pertama kalinya kau terpisah jauh dari Mami."
"Kekeke, Mami tidak berubah sama sekali. Kenapa Mami masih saja penuh drama. Tenang saja, Mi. Jika Mami rindu padaku, Mami bisa datang kemari bukan. Aku di sini dan akan selalu di sini, oke."
Laurent mengangguk. "Mami bisa lakukan itu." Sekali lagi Aster memeluk Laurent. Dan pelukan kali ini lebih erat dari sebelumnya.
Meskipun berat rasanya berpisah dengan putrinya, tapi Aster akan mencoba untuk merelakannya. Dia mempercayai putrinya, dan Laurent pasti juga sudah mempertimbangkan mengenai keputusannya ini.
"Jaga dirimu baik-baik, Mami akan selalu merindukanmu."
"Aku juga."
-
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aster. Wanita itu terus saja diam sepanjang perjalanan pulang. Nathan tau apa sebabnya. Tapi Nathan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah keputusan Laurent sendiri, dan sebagai orang tua dia hanya bisa mendukung keputusan putrinya.
__ADS_1
Nathan menepikan mobilnya. Sepasang tangan besarnya menangkup wajah murung Aster. "Jangan bersikap seperti ini, Laurent di sana untuk belajar. Dan dia akan tetap kembali ke dalam pelukan kita."
"Tapi kenapa harus Asrama, Paman?! Kenapa dia tidak tinggal di rumah dan bersekolah di tempat biasanya saja. Kenapa dia harus mengambil keputusan yang membuat hatiku hancur?!"
Sejak kecil dia selalu bersamaku, dan tiba-tiba dia memutuskan untuk tinggal terpisah dariku. Apa kau tau berapa hancurnya hatiku saat ini?!" Aster menurunkan tangan Nathan dari mukanya. Kedua tangannya menutup wajahnya dan mulai terisak.
Nathan mendesah berat. Diraihnya bahu Aster lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Bukan hanya kau saja yang sedih berpisah dengannya. Tapi aku juga!! Apalagi baru beberapa tahun aku berkumpul dengannya."
"Tapi mau bagaimana lagi. Sebagai seorang, Ayah. Aku hanya bisa mendukung keputusannya. Dia adalah putriku, dia pasti sudah memikirkannya dengan sangat baik. Mari kita percaya dan yakin pada dia, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk mendukungnya!!"
Aster tidak memberikan respon apa-apa. Wanita itu hanya semakin mengeratkan pelukannya pada Nathan. Seperti Nathan, dia harus bisa menerima keputusan putrinya.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita singgah sebentar di kedai favoritmu untuk makan siang?" Tawar Nathan sambil melepaskan pelukannya.
"Kedengarannya tidak buruk, baiklah. Kita makan di sana saja."
Nathan tersenyum lebar. Jari-jarinya lantas menghapus jejak air mata di pipi Aster. Dia tidak bisa marah apalagi menyalahkan sikap Aster yang bisa dibilang sangat berlebihan ini.
Tapi Aster adalah seorang Ibu, dan Ibu mana yang tidak akan sedih ketika harus berpisah dengan buah hatinya. Dan itu pula lah, yang dirasakan oleh Aster saat ini.
"Ayo," Nathan membukakan pintu untuk Aster.
Wanita itu tersenyum lebar. Aster menerima uluran tangan Nathan dan keduanya berjalan beriringan memasuki kedai tersebut. Bukan hanya Nathan yang merasa lapar, tapi dirinya juga. Terlalu lama menangis ternyata menguras banyak sekali energinya.
-
Bersambung.
__ADS_1