
"AAHHHH!!!"
Aster mengerang nikmat saat salah satu jari Nathan mulai memasukinya.
Nathan menggerakannya perlahan, memaju mundurkan jarinya di dalam liang kenikmatan Aster, di ikuti oleh pinggulnya yang juga bergerak maju mundur kearah jarinya.
"Kau semakin basah saja, Honey."
Nathan kembali menambahkan satu jarinya ke dalam diri Aster yang lain dan menambahkan tempo di dalam gerakannya. Ia terus melakukannya hingga wanita itu mulai merasakan denyutan nyeri di keseluruhan organ s*ksnya.
Aster menegang sesaat sebelum melemparkan kepalanya kebelakang, melepaskan org*smenya yang ke sekian kalinya. Nathan menarik kedua jarinya dari dalam diri Aster, dan membuatnya sedikit melenguh.
"Kau memang terasa nikmat." Nathan m*njilati lagi jari-jarinya seperti tadi sebelum memposisikan kej*ntanannya di depan pusat milik Aster.
Dan Aster merasakan cl*tnya berdenyut dan semakin membengkak saat Nathan menggesek-gesekan kepala sosis beruratnya di sekitar organ s*ksnya.
"Please." Aster kembali menggerakan pinggulnya."Lakukan sekarang juga, Paman. Jangan di tunda-tunda lagi."
Nathan menyeringai. "Kenapa kau sangat tidak sabaran, hm?" Gumam Nathan dan kembali menyatukan bibir mereka. Sementara di bawah sana, sosis berurat milik Nathan mulai memasuki diri Aster sepenuhnya.
Lagi-lagi Nathan menggiringnya menuju kenikmatan yang tidak bisa dia temukan dimana pun dan pada diri siapa pun. Dan tidak akan ada puasnya bagi Aster untuk mereguk manisnya cinta bersama pria tercintanya.
.
.
.
Satu jam setelah pergulatan mereka. Kini Aster tertidur pulas. Sedangkan Nathan masih tetap terjaga. Pria itu tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya, ada beberapa file dan email yang harus Nathan periksa.
Ponsel milik Nathan tiba-tiba berdering. Sebuah nomor asing masuk dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Nathan mengacuhkannya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Namun selang beberapa saat kemudian, ponsel itu kembali berdering dan masih dari orang yang sama. Nathan berdecak sebal, dengan malas dia menerima panggilan tersebut.
"Boss, kenapa lama sekali mengangkatnya."
Mata Nathan memicing, ia seperti mengenali suara itu. "Leon?" Panggilnya ragu.
"Iya, ini aku. Boss, selamatkan aku. Aku terjebak di QQ Bar dan tidak bisa pergi ke mana pun. Huaaa... Boss, jika kau tidak datang menolongku, bisa-bisa aku digantung hidup-hidup!!"
Nathan berdecak sebal. "Kapan kau akan berhenti merepotkan ku!!" Pria itu mengeram seraya menyambar kunci mobilnya. Dengan menahan emosi, Nathan melenggang pergi.
.
.
.
__ADS_1
Lima belas menit berkendara Nathan tiba di QQ Bar. Setelah menunjukkan identitas dirinya pada dua penjaga yang berjaga di depan pintu masuk. Nathan pun diijinkan untuk masuk.
Pria itu menyapukan pandangannya, mencoba menemukan sosok jangkung bertelinga caplang dengan tampang sedikit menyebalkan. Namun sosok Leon belum juga bisa dia temukan. Nathan berdecak sebal, dia bersumpah akan menggantung Leon hidup-hidup setelah menemukannya.
"Boss!!"
Nathan menoleh pada sumber suara dan dia mendapati Leon tengah melambai padanya. Dengan emosi yang sudah sampai ubun-ubun, Nathan menyeret pria jangkung itu pergi dari sana. Membawanya pergi dari wanita penghibur yang mencoba menerkamnya dengan sangat bringas.
Sebelum pergi, Nathan melemparkan sejumlah uang pada wanita-wanita itu. Karena dengan begitu mereka akan melepaskan Leon dengan suka rela.
"Boss,kau memang baik dan selalu bisa diandalkan ketika aku sedang kesulitan!!"
"Sekali lagi kau merepotkan ku malam-malam begini. Jangan salahkan aku jika aku memanggang mu hidup-hidup."
"Baiklah, ini yang pertama dan terakhir kalinya, Boss."
Kemudian Nathan melemparkan kunci mobilnya pada Leon. "Kemudikan moblnya." Pintanya seraya membuka pintu di jok belakang. Nathan sangat lelah dan dia terlalu malas untuk mengemudi.
-
Malam yang dingin baru saja berlalu, dan mentari pagi yang hangat datang menyapa seluruh mahluk yang bernaung di bumi. Kicau suara burung yang hinggap di pepohonan kian menyemarakkan suasana pagi hari ini.
Di sebuah kamar yang tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja, seorang wanita tengah bersiap-siap untuk kembali ke negara asalnya, yakni Korea.
Semua barang miliknya telah dipak dengan rapi, dan wanita cantik itu juga telah mengganti pakaiannya.
Aster terlihat begitu cantik dalam balutan dress putih berkombinasi hitan di atas lutut dengan sebuah belt kecil pada pinggangnya. Rambut panjangnya di biarkan terurai bebas.
"Halo."
.....
Namun tidak ada jawaban. Orang yang menghubunginya tidak bersuara sama sekali. Merasa dipermainkan. Aster mengakhiri panggilan tersebut.
Ting...
Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya. Dan itu dari nomor yang beberapa saat lalu menghubunginya. Penasaran seperti apa isi pesan tersebut. Aster pun segera membuka dan membacanya.
"Sampai kapan kau akan bersikap bodoh dan mempercayai penjahat yang telah membunuh Ibu asuh mu?! Kau terlalu diperbudak cinta Aster Jung, hingga tidak melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Ketahuilah, jika yang ada di sisimu bukanlah malaikat, melainkan iblis!! Ahn Sorra tidak pergi keluar negeri. Tapi dia mati karena di bunuh. Nathan Xiao, dialah orang yang ada di balik kematian Ahn Sorra!!"
Jlederrr....
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Hati Aster hancur berkeping-keping setelah membaca pesan singkat itu. Bahkan Aster sampai tak sadar jika ponsel itu telah terlepas dari genggamannya.
Di saat itu pula. Tiba-tiba Nathan masuk. Tidak ada yang istimewa pada penampilannya. Sebuah jeans panjang. Kemeja lengan terbuka yang di balut Sleveless hitam yang senada dengan celana jeans-nya.
"Aster, ada apa? Kenapa kau menangis?"
__ADS_1
"Jangan menyentuhku?!" Aster menyentak tangan Nathan dengan wajah penuh air mata.
"Kau ini kenapa?"
"Katakan padaku, Paman. Apa yang sebenarnya kau lakukan pada bibi Ahn? Di mana dia sekarang?"
"Bukankah Paman sudah memberitahumu jika dia ada di luar negeri,"
"BOHONG!!" Aster menyela cepat. "Kau berbohong padaku, Nathan Xiao!! Dia tidak berada di luar negeri kan? Tapi kau sudah membunuhnya!!"
Meskipun hanya sekilas, keterkejutan terlihat jelas pada mimik muka Nathan. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, dari mana Aster mengetahui kebenaran itu. Raut wajah Nathan berubah suram.
"Dari mana kau mengetahui kebenaran itu?"
"Jadi memang benar kau membunuhnya?! Kenapa Paman, kenapa kau membunuh Bibi Ahn?!" Teriak Aster dengan berlinang air mata.
"Aster, tenanglah dan dengarkan Paman dulu!!" Pinta Nathan sambil menenangkan Aster yang terus menangis sambil meronta.
Aster menyentak tangan Nathan dan menampar wajahnya dengan keras. "Kau pembunuh, NATHAN XIAO!! Kau pembunuh!! Memangnya apa salah Bibi Ahn sampai-sampai kau harus membunuhnya?!" Teriak Aster di depan wajah Nathan.
"Tentu saja karena aku memiliki alasan yang sangat kuat."
"Alasan, alasan apa memangnya? Kau memang iblis, kau tidak memiliki hati!!"
"DENGARKAN DULU PENJELASAN KU!!" bentak Nathan dengan nada meninggi. Membuat Aster terkesiap, pasalnya Nathan tidak pernah membentak dirinya.
"Paman, ke-kenapa kau membentak ku?"
"Ya, aku memang membunuhnya. Tapi aku memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Asal kau tau saja, Aster Xiao, dialah orang yang ada dibalik kematian orang tuamu. Dialah otak di balik kecelakaan yang membuatmu menjadi seorang yatim piatu."
"Apa? I-itu tidak mungkin. Kau~pasti berbohong."
"Terserah kau mau percaya atau tidak yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Dan dia juga orang yang mengirim penyusup dan menyerangmu malam itu."
"Aku tidak akan memintamu untuk mempercayaiku. Tapi memang inilah kebenarannya. Dan aku pikir kau sudah mengenalku dengan baik, tapi ternyata aku salah. Kau~tidak mengenalku sama sekali."
"Sebaiknya kau segera bersiap-siap. Pesawat kita satu jam lagi." Kemudian Nathan meninggalkan Aster begitu saja.
BLAM!!
Wanita itu terlonjak kaget karena bantingan pada pintu. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan Nathan. Aster merasa sangat bodoh dan bersalah. Tidak seharusnya dia menuduh Nathan tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dulu.
Aster menatap tangannya yang sedikit gemetar. Dengan tangan itu dia menampar wajah Nathan. Dan untuk pertama kalinya Aster bersikap kurang ajar padanya.
Dan karena kesalah pahaman, kini Nathan bersikap dingin padanya. Aster sangat menyesali perbuatannya.
"Paman, maaf."
__ADS_1
-
Bersambung.