"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Pesan Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Makanlah."


Riyana hanya menatap sinis pada mantan suaminya yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Riyana tak menyentuh sama sekali makanan yang Cris bawakan untuknya.


"Sampai kapan kau akan membiarkan perutmu kosong? Lihatlah tubuhmu yang hanya tinggal kulit dan kerangka."


Riyana kembali menatap sinis pada Cris. "Kau tidak perlu bersikap sok baik padaku. Kau pikir aku tidak tau niat buruk di balik kebaikanmu yang palsu ini?!"


"Terserah bagaimana kau akan menilai ku. Yang jelas aku sudah bersikap baik padamu. Kau mau makan atau tidak. Itu terserah padamu,"


Kemudian Cris beranjak dari hadapan Riyana dan pergi begitu saja. Ini adalah bulan kedua Cris menahan wanita itu di ruang bawah tanah rumahnya. Kedua kakinya di pasung, sehingga wanita itu tidak bisa lari ke mana pun.


"Cris, kau memang kejam, kau iblis, kau tidak berhati. Aku semakin membencimu!!'


Riyana berteriak dan mengamuk di dalam ruangan gelap dan pengap itu. Namun Cris tetap saja bersikap acuh dan tidak mau peduli. Dia ingin Riyana merasakan apa yang dulu dia rasakan.


Bahkan apa yang telah Cris lakukan pada Riyana kali ini, sungguh itu tak sebanding dengan apa yang telah wanita itu lakukan padanya di masa lalu.


Terlalu dalam luka yang Riyana goreskan dihatinya, saking dalamnya luka itu. Hingga mustahil untuk bisa sembuh.


-


Jika terbangun dan mendengar suara air hujan yang beradu dengan atap balkon kamarnya, Aster pasti langsung mengeluh.


Dia benci hujan di pagi hari. Dia benci suara air yang beradu keras dengan atap balkon. Dia benci udara yang menjadi lembab. Dia benci pemandangan di luar yang menjadi samar karena tertutup kabut tipis. Dia benci jalanan yang menjadi becek. Dan dia sangat membenci hujan di pagi hari.


Lebatnya air hujan yang mengguyur di luar memaksanya tetap berada di rumah sampai hujan berakhir. Seharusnya saat ini Aster sudah berada di kampus dan bercanda bersama ketiga sahabatnya.


Dan ada alasan lain kenapa dia sangat membenci hujan di pagi hari. Sebabnya gampang saja, saat hujan turun di pagi hari, kebiasaannya buang air kecil sepanjang waktu pasti menyambanginya dengan setia.


Pagi ini pun seperti itu...


Bukan dering jam yang membuatnya terjaga, juga bukan karena selimutnya ditarik tiba-tiba, pantatnya ditendang atau bagian tubuhnya diraba-raba. Yang menyadarkannya dari tidurnya adalah keinginannya untuk buang air kecil yang tidak mungkin bisa dia tahan.


Bisa ditebak, dia langsung mengeluarkan keluhan panjang. Dan keluhannya itu membuat penghuni lain yang satu ranjang dengannya hanya bisa mendengus panjang.


"Sampai kapan kau akan terus mengeluh seperti bocah, Aster Xiao!!" Geram Nathan yang sedikit terusik karena ulah Aster.


Aster menoleh dan menatap Nathan dengan sebal."Sebaiknya Paman diam saja dan jangan membuat moodku semakin buruk," ucapnya sinis.

__ADS_1


Dan endingnya sebuah jitak kan mendarat mulus pada kening Aster. "AW, Paman sakit!" Jerit Aster sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Nathan.


"Siapa suruh kau kurang ajar padaku?!" Kemudian Nathan bangkit dari berbaringnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Aster mendengus sebal. Dia tidak tau kenapa akhir-akhir ini Nathan menjadi begitu menyebalkan. Dan rasanya dia ingin menyumpah serapahi ayah angkat yang merangkap sebagai suaminya tersebut.


Aster menyibak selimutnya dan berjalan ke arah balkon. Hujan masih belum juga berhenti. Seluruh kota basah, tidak ada satupun yang lolos dari terjangan air hujan.


Hujan di pagi hari memang tidak menyusahkan apa-apa, selain kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi. 


Halaman rumah berwarna putih itu masih dipenuhi tetes-tetes air pada tiap pucuk rumputnya.


Sementara tanah kecokelatan basah di bawah hijau rumput menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan samar kabut putih yang nyaris tak tertangkap netra manusia.


Warna di antara hitam dan putih masih menyelubungi beberapa sudut langit, membiaskan muram hingga ke bumi yang baru saja ditinggalkan hujan.


Jendela yang terbangun di sisi pintu utama ternoda embun yang menghalangi pemandangan. Gorden tipis berwarna broken white menyempurnakan halangan sepasang biner di balik jendela untuk meraih apa yang hujan sisakan di halaman.


"Paman, kau sudah selesai?" Aster sedikit terkejut ketika merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Terasa dingin karena kulit lengannya yang baru kering dari air.


"Apa yang kau lihat? Apakah ada yang istimewa?"


Kemudian Nathan melepaskan pelukan Aster, wanita itu berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Segeralah mandi." Pintanya yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Aster mengangguk. "Baiklah."


Wanita itu beranjak dari hadapan Nathan dan berjalan ke arah kamar mandi. Tak lupa dia membawa pakaian gantinya juga. Pagi ini terasa lebih dingin. Dia tidak ingin sampai masuk angin jika keluar kamar mandi hanya berbalut handuk saja.


Ting...


Perhatian Nathan sedikit teralihkan. Pria dalam balutan celana hitam dan kemeja abu-abu lengan terbuka itu meraih ponselnya yang ada di atas meja. Matanya memicing melihat nomor asing tertera di layar ponselnya.


Penasaran siapa yang mengiriminya pesan. Nathan segera membuka pesan itu dan mata kirinya membelalak melihat apa yang ada di foto tersebut.


#Kau masih mengingat wajah pria ini? Dia masih hidup dan ada di tanganku, aku akan mengembalikan dia padamu dalam keadaan utuh asal kau mengembalikan Aster pada Jung Hilman. Dan aku akan memberimu waktu selama 24 jam untuk berpikir. Mengembalikan Aster pada keluarganya, atau Xiao Murten mati!!!


Gyuttt...


Tangan Nathan terkepal kuat dan mata kirinya berkilat tajam penuh amarah. Dia tidak mungkin melupakan wajah pria itu, yang yang 15 tahun lalu telah menyelamatkan hidupnya. Pria yang telah mengajarkan apa itu arti hidup padanya.

__ADS_1


"AAARRKKHHH~BRENGSEK!!!"


Aster yang baru saja keluar dari kamar mandi terlonjak kaget melihat kemarahan Nathan. Aster tidak tau apa yang terjadi hingga pria itu bisa sampai semarah ini.


Lalu pandangannya bergulir pada lantai. Ponsel milik Nathan terbelah menjadi dua. Melihat kemarahan Nathan yang begitu mengerikan, rasanya membuat Aster seperti di lemparkan ke alam lain. Di tambah lagi dengan melihat sorot mata Nathan yang dingin dan berbahaya.


Aster menghampiri Nathan, dengan hati-hati doa bertanya. "Paman, ada apa?" Aster menyentuh bahu Nathan yang naik turun tak beraturan.


Pria itu lantas menoleh dan menatap datar wanita dihadapannya. "Tidak ada apa-apa, sudah waktunya sarapan. Ayo kita turun." Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja.


Aster tak langsung beranjak. Dia menatap kepergian Nathan dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Kenapa sikapnya jadi sedingin itu, padahal berapa saat yang lalu masih baik-baik saja.


Aster memungut ponsel Nathan yang hancur. Dia sangat penasaran siapa yang telah menghubunginya dan membuatnya sampai semarah itu. Tapi bagaimana dia harus mencari taunya. Karena ponsel itu sudah tidak bisa terpakai lagi.


.


.


.


Kebimbangan menyelimuti hati Nathan. Dia tengah dihadapkan pada dua masalah yang sulit. Orang yang selama ini dia kira telah meninggal ternyata masih hidup, dan saat ini ada di tangan musuhnya.


Orang itu memberikan dua pilihan yang sulit padanya. Antara Aster atau Xiao Murten. Dan Nathan tidak mungkin bisa memilih salah satu diantara mereka berdua.


Kini otaknya tengah bekerja keras. Tentang bagaimana dia bisa mendapatkan kembali Xiao Murten tanpa menyerahkan Aster pada mereka. Nathan tidak mungkin menyerahkan Aster sebagai alat pertukaran untuk menyelamatkan hidup sang ayah.


"Paman," Nathan mengangkat wajahnya dan menatap datar wanita dihadapannya.


"Aster, kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa sikap Paman sedikit berbeda, dan apa yang membuat Paman sampai semarah itu?" Tanya Aster hati-hati.


Nathan mendesah berat. Pria itu menghisap kembali nikotin di tangannya. "Bukan apa-apa, bukan masalah yang penting. Kau sudah di sini, sebaiknya kita sarapan sekarang." Nathan membuang puntung rokoknya lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendahului Aster.


Lagi-lagi Aster memandang kepergian Nathan dengan tatapan yang sama. Dia tau jika Nathan tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mencari tahunya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2