"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Part (Bag 23)


__ADS_3

"Ahhh, lelahnya."


Aster menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasus super hotel yang super empuk dan nyaman. Dia benar-benar sangat lelah, bukan hanya tubuhnya tapi juga otaknya.


Setelah menutup dan mengunci pintu. Nathan menghampiri Aster kemudian duduk di samping wanita itu berbaring. Nathan memperhatikan wajah Aster yang terlihat lelah dan menghela napas berat.


Demi kompetisi mode itu, Aster memang menjadi kurang istirahat, hampir semua waktunya dia gunakan untuk mempersiapkan diri dalam mengikuti lomba tingkat dunia tersebut.


"Paman, apa yang kau lakukan?" Kaget Aster saat Nathan meraih kakinya dan melepas sepatu yang masih dia pakai. "Tidak perlu, biar aku lakukan sendiri saja."


"Tidurlah, kau terlihat lelah. Kita kembali lusa saja, satu hari besok kita istirahat saja. Lagipula Rey juga tidak rewel meskipun kita tidak ada."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau sudah meninggalkannya terlalu lama."


Nathan menggeleng. "Itu bukan masalah, ada Leon yang bisa menghandle selama aku tidak ada. Jadi kau tidak perlu khawatir." Nathan mengusap kepala coklat Aster sambil tersenyum tipis.


Wanita itu beranjak dari posisinya kemudian berhambur ke dalam pelukan Nathan dan memeluk pria itu dengan erat. Nathan tersenyum, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster.


"Paman, terimakasih karena selalu ada untukku. Menemaniku disaat suka maupun duka, kau tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun. Jujur saja aku sangat beruntung memilikimu di sisiku." Ujar Aster sambil menutup matanya.


"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu, terimakasih karena telah menemaniku selama ini. Jika kau tidak ada, aku tidak tau bagaimana harus melewati hidup ini."


Aster melepaskan pelukannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Wanita itu lantas memejamkan matanya ketika melihat Nathan yang semakin mendekatkan bibirnya. Dan selanjutnya bibirnya sudah berada di dalam pagutan bibir Nathan.


Gerakan lembut bibir Nathan perlahan tapi pasti berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Sebelah tangan pria itu menekan tengkuk Aster agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.


Bibir Nathan terus menginvasi bibir Aster, memagutnya juga mel*matnya. Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Nathan merasakan pukulan ringan pada dadanya, Aster sudah mulai kehabisan nafasnya.


"Sekarang tidurlah." Pinta Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster. Nathan menemani wanita itu disisinya hingga Aster terlelap.


Dan setelah mematikan Aster benar-benar sudah tidur, lantas Nathan beranjak dan meninggalkan wanita itu sendirian dikamar Hotel. Nathan harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu orang-orang lamanya.

__ADS_1


-


Sebuah taksi yang membawa Nathan berhenti di sebuah bangunan yang terlihat usang dan tidak terawat. Setelah memberikan sejumlah uang pada sopir taksi tersebut. Nathan melenggang memasuki bangunan yang tampak menyeramkan itu.


Dan kedatangan Nathan tentu saja mengejutkan beberapa orang yang ada di dalam sana. Mereka yang awalnya sedang bermain kartu dan berpesta minuman keras langsung bangkit dari posisinya.


"Bos Nathan!!!"


"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian semua?" Tanya Nathan pada mantan anak buahnya tersebut.


"Seperti yang Bos lihat, kami baik-baik saja. Dan ada angin segar apa sampai-sampai Bos datang kemari dan mengunjungi kami?"


"Tidak ada, hanya kebetulan aku ada di kota ini. Itulah kenapa aku putuskan untuk mengunjungi kalian sebentar." Jawab Nathan.


Mereka adalah orang-orang terbaik yang Nathan miliki dimasa lalu, saat dia masih menggeluti dunia hitam Mafia. Dan mereka adalah orang-orang yang sangat setia dan selalu siap mati untuknya.


Jaringan organisasi yang Nathan bentuk memang sangat luas. Jadi tidak mengherankan jika orang-orangnya tersebar dimana-mana dan bukan hanya di Korea dan China saja.


Nathan menggeleng. "Tidak ada, kalian bisa memakai uang itu untuk apapun. Anggap saja kado kecil dariku. Kalian lanjutkan lagi, aku harus pergi sekarang." Nathan meninggalkan mantan anak buahnya dan kembali ke Hotel. Aster bisa kelabakan mencarinya.


-


Elisa meringkuk ketakutan di sudut kamar hotelnya. Wanita itu baru saja mengalami hal yang sangat mengerikan dalam hidupnya. Bagaimana tidak mengerikan, dia di datangi tiga mahluk astral yang entah dari mana asalnya.


Tak jarang Elisa berteriak histeris dan menangis karena rasa trauma yang dia alami. Membuat Asisten serta dokter yang dia panggil untuk memeriksa keadaan Elisa menjadi bingung sendiri.


Karena Elisa dalam keadaan baik-baik saja, bahkan mentalnya juga tidak terganggu. Tapi dia sungguh mengalami sebuah keanehan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.


"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada Nona? Kenapa dia bisa sampai seperti ini? Apa mungkin ini adalah gangguan mahluk astral?" Tanya pria itu memastikan.


Dokter tersebut memperhatikan Elisa dan mengangguk. "Jika diperhatikan dari sikapnya, sepertinya begitu. Dia seperti diganggu oleh mahluk halus. Aku memang orang modern, tapi aku percaya hal seperti itu benar-benar ada. Mereka orang yang hidup berbeda alam dengan kita.

__ADS_1


"Lalu menurut dokter apa yang harus saya lakukan? Apa saya perlu mencari paranormal? Tapi di negara ini apa ada paranormal seperti di negara kita?"


"Saran ku, sebaiknya bawah pulang saja dan Carikan para normal di sana. Karena jika seperti ini terus, Nona Elisa bisa menjadi gila."


"Apa, Dok?! Gila?!" Dokter itu mengangguk.


"Benar, karena mentalnya bisa terganggu. Kalau begitu saya pergi permisi dulu."


"Baik, Dokter."


-


"Paman?!"


Aster berseru mencari Nathan. Dia membuka matanya dan tidak mendapati Nathan berbaring disampingnya. Kamar itu juga sangat lengang seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan lain, selain dirinya.


Lalu pandangan Aster bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu telah menunjuk angka 10 malam. Dan Aster tidak tau Nathan pergi kemana selarut ini. Dan pergi kenapa tidak memberitahunya.


"Kau sudah bangun?" Tegur seseorang yang muncul dari Balkon. Dan siapa lagi orang itu jika bukan Nathan. "Tidak perlu panik, aku tidak pergi kemana pun. Hanya mencari angin saja di balkon."


Aster memeluk Nathan. "Aku pikir, Paman, sedang pergi ke luar. Karena saat aku panggil kau tidak ada." Ucap Aster sambil mengerutkan pelukannya.


Nathan menggeleng. "Aku tidak pergi kemana pun, hanya mencari angin segar saja. Lalu kenapa kau bangun? Inikan masih larut malam."


"Aku lapar, apa kau lupa jika aku belum makan malam. Paman, bisakah kau memesankan makanan untukku? Aku malas jika harus pergi keluar. Aku ingin makan di sini saja."


Nathan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu akan ku pesankan makanan untukmu. Tunggu sebentar, setelah ini kita makan malam sama-sama. Karena aku juga belum makan malam."


"Baiklah." Aster tersenyum. Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2