"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Suketi Sudah Menjanda


__ADS_3

Nathan menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota Busan. Nathan mengantarkan yang ingin membelikan sebuah kado ulang tahun untuk Sammy.


Aster menceritakan apa yang dia lihat semalam pada Nathan dan Nathan setuju memberikan hadiah kecil untuk Sammy. Nathan dan Aster berjalan beriringan memasuki pusat perbelanjaan.


Keberadaan mereka di sana begitu menarik perhatian. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua dengan berbagai tatapan, mulai dari iri sampai ada yang sangat jelas menunjukkan kekagumannya.


"Oppa,, kau lihat mereka? Sepertinya banyak yang iri padaku. Mereka pasti iri karena aku bisa berjalan dengan pria setampan dirimu." Ujar Aster terkekeh.


"Berarti mereka semua katarak, bagaimana bisa menganggap pria cacat sepertiku sebagai pria tampan?"


"Kau jangan salah, justru eyepacht itu membuatmu semakin tampan dan mempesona." Tuturnya.


"Ngaco." Aster terkekeh. Bagi orang lain, jawaban singkat Nathan itu terkesan sangat menyebalkan, tapi tidak untuk Aster. Karena Aster sudah terbiasa dengan sikap dingin Nathan.


Tidak rela suaminya menjadi pusat perhatian. Aster pun semakin merapatkan dirinya pada pria tampan itu. Dengan posesife Aster memeluk lengan Nathan yang tersembunyi di balik lengan kemeja hitamnya.


"Memangnya kau ingin membeli apa untuk anak laki-laki itu?" Tanya Nathan, mereka berada di depan rak yang menyediakan berbagai makanan anak-anak.


"Em, mungkin mobil-mobilan canggih. Oppa, bisakah kau membantuku memilihnya?"


"Hn, sebentar." Nathan meninggalkan Aster dan mengambil sebuah mobil mainan yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Bagaimana kalau yang ini saja?"


Aster melihat mobil mainan itu dan mengangguk setuju. "Ini sangat bagus. Aku juga ingin membeli beberapa boneka Barbie edisi untuk Laurent. Putri kecilmu itu sangat menyukai boneka Barbie."


"Kalau begitu belikan apapun yang dia suka dan dia butuhkan. Aku akan membayar semuanya."


"Bagaimana kalau kita borong semuanya sekaligus mall-nya?" Usul Aster yang langsung mendapatkan jitakan pada kepalanya.


"Konyol!!" Wanita itu terkekeh sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Nathan.


BRAKK..


Doorr.. Doorr.. Doorr...


"Aaahhhh.."


Suasana siang mall yang semula tenang seketika menjadi gaduh karena kedatangan beberapa pria bersenjata.


Mereka membuat keributan dan langsung melepaskan tembakannya secara membabi buta, membuat sedikitnya 11 nyawa tidak bersalah melayang sia-sia.


Orang-orang yang ketakutan langsung berhamburan menyelamatkan diri. Teriakan ketakutan, mayat-mayat yang bergelimpangan dan darah yang menggenang membaut suasana menjadi semakin mencekam.


Mereka adalah para perampok yang merampok dengan menimbulkan pertumpahan darah. Karena mereka selalu membuat korban berjatuhan ketika beraksi.


"Aster, merunduk." Serunya.


Nathan membawa Aster bersembunyi di bawah sebuah kolong meja kasir guna menghindari tembakan mereka yang terus-menerus dan membabi buta.


"Oppa, bagaimana ini. Jika kita diam saja, maka akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Kita harus melakukan sesuatu."


"Kau tetaplah di sini,aku akan menangani mereka."


"Tidak, kita harus melakukannya bersama-sama. Bahaya jika kau melakukannya sendiri."


"Terlalu berbahaya, kau tetaplah di sini dan jangan membantah!!" Tegas Nathan.


Nathan mengeluarkan senjata yang terselip di pinggangnya. Dengan segera ia keluar dari tempat persembunyiannya dan melepaskan beberapa tembakan pada mereka, membuat dua dari sebelas orang itu tumbang seketika.


"Brengsek!" bentak seorang pria yang tidak terima dengan apa yang Nathan lakukan pada teman-temannya.


Dengan cepat Nathan berkelit ke samping, guna menghindarkan pukulan maut lawannya. Kemudian ia segera melepaskan serangan balasan yang cepat dan susul-menyusul. Serangkaian serangan yang dilancarkan Nathan bermaksud untuk mengalihkan perhatian, ternyata membawa hasil yang baik.


Lelaki itu menjadi sibuk menghindarkan serangan-serangan Nathan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Nathan terlalu kuat untuk diremehkan.

__ADS_1


Aster yang tidak bisa membiarkan Nathan berkelahi hanya sendirian dengan begitu banyak lawan. Aster pun segera keluar dari persembunyiannya dan bergabung bersama Nathan.


Dia bisa memikirkan nanti bagaimana harus menghadapi kemarahan Nathan. Yang terpenting sekarang Nathan selamat.


"Aster, apa-apaan kau ini? Bukankah aku memintamu untuk bersembunyi?!"


"Nanti saja marah-marahnya, Oppa. Kita tidak sempat untuk berdebat sekarang."


"Dasar keras kepala!!"


Nathan dengan cepat merendahkan tubuhnya sambil melepaskan dua buah tembakan guna memapaki serangan pria berbadan besar tersebut, sembari membayangi Aster supaya mereka tidak bisa menyentuhnya.


"Yeaaat..!"


Rupanya pria besar berkepala botak itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Dibarengi sebuah teriakan nyaring, tubuhnya kembali melesat menerjang Nathan. Sementara itu, rekan pria botak itu juga tidak tinggal diam, ia segera membantu temannya tersebut.


"Hiyaa,….!"


Pria berambut jabrik itu, membentak diiringi dengan pukulan kerasnya.


Plakk!


Sambil melesat menyambut pukulan pria berambut jabrik, Nathan memiringkan tubuhnya menghindari pukulan pria berkepala botak tersebut. Kerja sama yang sangat epik antara Nathan dan Aster membuat kedua pria itu tumbang.


"Sial!" Pria itu memekik marah.


Nathan segera melompat kebelakang. Sedangkan tiga rekan pria itu kini mengalihkan serangan mereka pada Aster. Ketiga orang itu mengeroyok Aster secara bersamaan.


"Brengsek"


Nathan membentak dan menyerang balik tiga orang yang mengeroyok istrinya, ia menambah kecepatan dari setiap gerakannnya, membuat ketiga pria itu terkejut dengan kecepatan garakan Nathan yang luar biasa.


Setiap pukulan maupun tendangan Nathan selalu membuat ketiga pria besar itu kelabakan. Narhan meneruskan serangan ke pria berambut klimis. Pria berambut klimis yang belum pulih dari keterkejutannya, segera dia membentak nyaring sambil memutar tubuh dengan kuda-kuda rendah.


Dukkk!


"Ahhh...?!"


Bukan main terperanjatnya Pria berambut klimis ketika tangkisannya justru membuat tubuhnya hampir terjengkang ke tanah. Untunglah tubuhnya yang besar masih sempat dikuasai dan sempat juga temannya menahan tubuhnya.


Nathan dan Aster yang mulai merasa jengah dengan perkelahian menyebalkan itu, segera saja mereka menyelesaikannya dengan memberikan serangan terakhir dan membuat mereka tumbang seketika.


Amunisi dan pisau komando yang mereka gunakan berhasil menjatuhkan semua lawan. Mereka berdua baik-baik saja tanpa luka berarti. Hanya luka gores pada lengan dan pipi Nathan, serta leher Aster.


"Kau tidak apa-apa?" Aster menggeleng. "Ya sudah, sebaiknya kita pulang."


"Lalu bagaimana dengan mobil-mobilan dan boneka untuk Sammy dan Laurent? Apa kita tidak jadi membelikan untuk mereka?"


"Tentu saja jadi. Kita bisa membelinya di tempat lain." Aster mengangguk dan menyetujui Nathan.


"Baiklah."


.


.


.


Mereka tiba di Villa pada sore hari. Laurent begitu terkejut saat melihat Mami dan Daddy-nya pulang dalam keadaan sedikit terluka.


"Omo!! Apa yang terjadi pada Mami dan Daddy? Kenapa kalian bisa terluka seperti ini?"


"Terjadi sebuah insiden kecil, Nak. Tapi Daddy dan Mami mu baik-baik saja." Jelas Nathan, meyakinkan pada Laurent jika mereka baik-baik saja.

__ADS_1


Disaat Nathan dan Laurent tengah berbincang. Aster pergi mencari Sammy dan memberikan hadiah kecil itu padanya. Dan seperti yang sudah Aster duga. Sammy sampai menangis sampai terbarunya.


"Nyonya, Anda tidak perlu melakukan hal ini. Kami jadi merasa tidak enak."


"Santai saja, Bibi. Kebetulan saja aku tidak sengaja melihatnya. Dan aku pikir Sammy akan menyukainya. Lagipula sudah menemani Laurent sepanjang hari, jadi hadiah kecil itu bukan apa-apa." Tutur Aster panjang lebar.


Melihat wajah bahagia Sammy membuat Aster tersenyum tipis. Wanita itu kemudian meninggalkan Ibu dan anak itu berdua di ruang tengah.


Aster kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Kepalanya pusing dan tubuhnya sakit semua. Mungkin karena efek perkelahian itu.


-


Gavin dan Rio mengusap tengkuknya karena hawa dingin malam ini yang sangat tidak biasa. Entah itu benar atau hanya perasaan mereka saja. Tapi Gavin dan Rio seperti mendengar suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk mereka berdiri seketika.


Susana horor begitu terasa, membuat bulu kuduk mereka berdua semakin berdiri. Gavin dan Rio merutuki kesialan mereka, kenapa mobilnya harus mogok di tempat menyeramkan seperti ini ,tengah malam pula.


"Rio, bagaimana ini? Bagaimana kalau ada hantu yang tiba-tiba muncul?"


"Diamlah, Hyung!! Jangan memepetku terus, kau pikir kau saja yang takut? Aku juga, lihatlah celanaku, aku hampir saja mengompol."


Sontak Gavin mendorong Rio. "Dasar kau ini, kapan kebiasaan buruk mu itu akan hilang?!" Omel Gavin sambil memukul gemas kepala Rio.


Rio meringis sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Gavin. "Hehehe, habisnya terlalu panik dan takut, Hyung. Kebiasaan yang tidak bisa aku hilangkan." Ujarnya.


"Sebaiknya bantu aku cari cara bagaimana kita bisa pergi dari tempat ini. Di sini sangat menyeramkan, huhuhu." Gavin mulai menangis, sesekali dia menengok kebelakang takut hal-hal yang tidak ia harapkan tiba-tiba saja muncul.


Rio yang geram segera mendorong Gavin menjauh. Dia menang penakut, tapi tidak separah Gavin. Meskipun terkadang dia bisa terkencang di celana juga.


"Hihihi!!"


Deg..


Mata Gavin dan Rio sontak membelalak mendengar suara tawa wanita yang begitu khas tersebut. Gavin dan Rio saling bertukar pandang, lalu mereka sama-sama menoleh kebelakang. Tidak ada siapa-siapa.


"Hyung, kau dengar itu? Kenapa suara tawanya mirip sama sikuntil Suketi itu?" Ucap Rio mulai ketakutan.


"Kau benar, tapi untuk apa hantu itu muncul lagi setelah 6 tahun?"


Rio menggeleng. "Aku juga tidak tau." Jawab Rio.


"Hihihi!!"


"Tuh kan, suaranya ada lagi."


"Huhuhu, Hyung aku ngompol." Ucap Rio sambil menunjuk celananya yang basah.


"Yakk!! Hantu jelek sebaiknya tunjukkan wujudmu jangan cuma ketawa-ketiwi tidak jelas."


"Tampan, I'm comeback." Suketi tiba-tiba muncul. Bukan lagi dengan kostum putih melainkan kostum warna lain dengan hiasan bunga di kedua telinganya.


"Huaaa. Makanya setan!!" Rio mengambil botol mineral lalu melemparkan pada kepala Suketi. Membuat kepala hantu gaul itu sampai mendongak kebelakang.


"Aduh, Suketi kena timpuk." Ucap Suketi sambil mengusap kepalanya yang baru saja ditimpuk oleh Rio. Suketi tersenyum. "HUWA, TANPAN, SUKETI RINDU KALIAN!!"


"Kami enggak!!" Jawab keduanya dengan kompak.


"Kalian jahat!! Suketi jangan ditinggal. Suketi rindu kalian. Tampanku, tunggu Suketi!! Suketi sudah menjanda sekarang!!"


"Kami tidak peduli!!" teriaknya.


"Tampan, tunggu!!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2