"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Part (Bag 12)


__ADS_3

"Rey, apa yang kau lakukan di atas sana?!"


Aster memekik terkejut saat mendapati putra bungsunya berada di atas dahan pohon maple yang tumbuh di halaman belakang rumahnya.


Bocah laki-laki itu menunjuk sebuah kupu-kupu yang hinggap di daun yang tidak terlalu jauh dari jangkauannya.


Dan teriakan keras Aster menyita perhatian beberapa orang yang ada di mansion mewah itu. Laurent dan kedua paman tampannya langsung berhamburan menghampiri Aster, mereka terkejut mendapati Rey ada di atas pohon.


"Omo!! Bibi, bagaimana Rey bisa sampai di atas sana?!" Pekik Gavin terkejut.


"Bibi juga tidak tau, kalian berdua cepat lakukan sesuatu dan bantu Bibi menurunkan Rey dari atas sana."


"Tenang, Bibi. Kami pasti punya solusinya." Jawab Rio sambil tersenyum lebar. "PAMAN ZHOUMI, KEMARILAH!!"


Aster menutup rapat-rapat telinganya karena tidak ingin gendang telinganya sampai pecah karena ulah Rio yang berteriak mengeluarkan suara mautnya. Aster pikir solusi apa. Ternyata dia memanggil bantuan.


Sosok Zhoumi datang tak lama setelahnya. Dia terkejut bukan main saat mendapati Rey berada di atas pohon. Tanpa berpikir panjang. Zhoumi pun segera memanjat pohon dan membawa Rey turun.


"Bagaimana bocah ini bisa ada di atas sana?" Tanya Zhoumi sambil menyerahkan Rey pada Aster.


"Aku sendiri tidak tau. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk mengambil buah segar. Tapi saat kembali, Rey sudah ada di atas pohon. Sepertinya dia sedang mengejar kupu-kupu." Tuturnya menjelaskan.


"Bagus Nathan sedang tidak ada di rumah. Jika dia ada di sini, bisa rubuh mansion ini jika terjadi sesuatu pada Rey." Ujarnya.


"Untuk itu jangan ada yang memberitahunya!!" Sahut Aster, semua orang yang ada di sana mengangguk.


Bukan hanya Aster saja yang bisa berada dalam masalah jika Nathan sampai tau insiden itu. Tapi semua orang bisa terkena dampaknya. Satu persatu meninggalkan taman dan kembali pada kesibukan masing-masing. Begitu pula dengan Aster.


Dia harus menidurkan Rey, karena ada beberapa desain baju yang harus segera diselesaikan.


Nathan menutup dokumen terakhirnya kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu mematikan AC dalam ruangannya, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.

__ADS_1


Hari ini Nathan di hadapkan dengan berbagai hal yang membuat kepalanya terasa pening. Ayah dua anak itu terkadang merasa frustasi sendiri dengan pekerjaannya yang bisa dibilang tidak ada ujungnya.


Jika dibandingkan dengan jabatannya sebagai CEO, menjadi ketua Mafia lebih menguntungkan baginya. Karena tanpa perlu bekerja keras, dan hanya ongkang-ongkang kaki tapi uang mengalir terus menerus ke dalam rekeningnya.


Tapi sayangnya Nathan telah memutuskan untuk meninggalkan dunia lamanya. Karena dia ingin hidup tenang bersama keluarga kecilnya.


Cklekk..


Decitan suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Nathan. Sosok Cris terlihat memasuki ruangan sambil menenteng sebuah bingkisan di tangannya.


"Aku membawakan mu makan siang. Bagaimana kalau kita memakannya sama-sama."


"Tumben kau baik, biasanya juga pelit!!" Ucapan Nathan langsung menusuk ke dalam ulu hati Cris, singkat, padat tapi menyakitkan. Dan parahnya yang dia katakan adalah fakta.


"Katakan apa yang kau inginkan sebenarnya, Cris?! Aku tau kau berusaha menyogok ku!!"


Cris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Nathan memang paling memahami dirinya."Aku butuh uang, bisa kau meminjamkannya padaku? Tidak banyak, hanya satu milyar won saja." Cris memohon. Dia tau uang segitu tidak ada artinya bagi Nathan.


"Dasar lintah darah!! Sama saudara sendiri saja perhitungan. Ayolah, kau adalah pria paling baik di dunia ini. Nathan kau tidak mungkin membiarkan saudaramu yang tampan dan baik hati ini berakhir di penjara bukan?!"


Nathan menatap Cris dengan tatapan menusuk penuh intimidasi. "Katakan, Cris. Masalah apa lagi yang kau ciptakan kali ini dan untuk apa uang sebanyak itu?!"


"Aku tertipu Investasi bodong. Padahal uang itu untuk membayar gaji para karyawan ku. Dan mereka mengancam akan menjebloskan ku ke penjara jika tidak bisa membayar gaji mereka tepat waktu!!"


Nathan mendesah berat. Dia tidak tau kapan Cris akan pintar dan tidak mudah tergiur oleh hal-hal yang belum pasti. Karena tidak tega, akhirnya Nathan memberikan pinjaman pada Cris, tanpa bunga pastinya.


"Ini terakhir kali aku membantumu. Jika kau masih melakukan kebodohan lagi, aku tidak Sudi membantumu lagi!!"


"Hua.. Aku tau kau tidak mungkin bisa mengabaikan ku, Nathan kau memang yang terbaik. Oke, aku pergi dulu." Cris beranjak dari hadapan Nathan dan pergi begitu saja.


Nathan mendengus berat. Dia menggelengkan kepala melihat sikap Cris yang terkadang sangat kekanakan itu. Dan Nathan tidak tau kapan Cris bisa berubah dan menjadi lebih pintar sedikit. Dia selalu saja tertipu oleh orang lain.

__ADS_1


Waktu sudah menunjuk angka 11 malam. Tapi Aster belum juga tidur. Wanita itu masih sibuk dengan pensil dan lembaran kertas putih yang berserakan di atas meja kerjanya.


Sepetinya malam ini dia harus lembur dan menyelesaikan beberapa desainnya, waktu yang dia miliki hanya tinggal satu Minggu lagi. Dan semua pesanan harus selesai tepat waktu.


"Kenapa belum tidur?" Sontak Aster mengangkat kepalanya dan mendapati Nathan memasuki kamar sambil menenteng tas kerjanya. Lelah terlihat pada wajah tampan itu yang tampak sayu.


Kemudian Aster bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan. "Aku masih harus menyelesaikan beberapa desain ini." Jawabnya.


"Apa tidak bisa besok lagi?! Ini sudah malam, sebaiknya segera tidur, tubuh juga butuh istirahat."


"Aku hanya memiliki waktu 1 Minggu lagi untuk menyelesaikan desain-desain ini. Mungkin malam ini aku harus lembur." Ujarnya.


Nathan mendesah berat. Pria itu tidak tau sejak kapan Aster menjadi workaholic seperti ini. Dia ingin sekali melarangnya, tapi bisa-bisa dia malah ngambek dan mengancam mogok makan sampai berhari-hari.


"Ini terakhir kalinya. Jika besok aku masih melihatmu bekerja tidak ingat waktu. Jangan salahkan aku jika sampai membakar semua desain-desain ini, kau mengerti?!" Aster mengangguk. Sepertinya Nathan tidak main-main dengan ancamannya.


"Baiklah. Aku mengerti, ini terakhir kalinya aku bekerja tidak ingat waktu."


"Hn." Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.


.


Aster meletakkan pensilnya. Dia baru saja menyelesaikan desain terakhirnya. Lalu pandangannya bergulir pada jam dingin. Dan waktu menunjuk angka 03.00 dini hari.


"Hoam," Sambil menguap, Aster berjalan menuju tempat tidurnya kemudian berbaring di samping Nathan.


Aster tidur memunggungi suaminya dengan jarak sangat intim. Baru saja Aster hendak menutup mata. Tapi sebuah kehangatan yang melingkari perutnya, dan bidangnya dada Nathan yang menyentuh punggungnya membuat mata itu kembali terbuka.


Sudut bibir Aster tertarik ke atas. Wanita itu menutup kembali matanya. Dan dalam hitungan detik saja dia sudah pergi ke alam mimpinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2