
Gavin dan Rio menghentikan langkahnya, ketika mereka melihat sosok berbaju putih dan berambut panjang yang dia sampaikan di atas bahunya, tengah duduk sendiri di bangku taman kota yang tak jauh dari kediaman keluarga Xiao.
Sosok itu duduk menunggungi sehingga mereka tidak melihat seperti apa rupanya. Penasaran karena ada gadis di taman tengah malam. Keduanya pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Nona, sedang apa kau di sini malam-malam begini, dan di tempat gelap pula? Bagaimana jika tiba-tiba ada ular?" Seru Gavin mencoba berbicara pada sosok itu.
Mata wanita itu membelalak. Suara Gavin yang sexy membuatnya langsung terpesona. Sontak saja sosok wanita itu menoleh dan...
"SETAN!!!" keduanya berteriak histeris.
Wanita itu menekuk wajahnya. "Jahat, Suketi secantik ini dibilang jahat. Padahal Suketi paling cantik diantara hantu-hantu yang lain, hihihi." Ujar wanita itu yang ternyata adalah si Miss K.
Gavin dan Rio langsung terkencing di celana. Bagaimana tidak, mereka bertemu dengan sosok yang begitu mengerikan. Berbaju putih, berambut panjang, muka pucat, gigi hitam ompong tengah dan kuku-kuku panjang.
"Kalian sangat tampan, bagaimana kalau kita selfie dulu. Nanti ketika pulang ke Indo mau Suketi pamerin ke semua teman Suketi, biar mereka iri karena Suketi foto dengan banyak pria tampan, hihihi."
Doeng... Gavin dan Rio pun langsung cengo seketika setelah mendengar ucapan Suketi. Mereka yang awalnya takut malah jadi geli sendiri. Dan baru kali ini mereka melihat hantu modelan seperti Suketi. Bukannya menyeramkan malah menggelikan.
Seumur-umur, mereka baru tau jika ada hantu yang memiliki ponsel sampai sosmed. Benar-benar hantu kekinian, pikir keduanya.
"Kau benar-benar hantu sungguhan? Memangnya dari mana kau berasal?" tanya Gavin penasaran.
"Tentu saja Suketi hantu asli. Ayo kita berjabat tangan kalau kalian tidak percaya." Tapi keduanya menolak dengan tegas.
"Hihihi, takut Suketi elus-elus ya? Hihihi, kalian sangat menggemaskan. Di Indonesia susah menemukan pemuda seperti kalian, Hihihi. Kalian mirip Xiaojun WayV dan Renjun NCT Dream, hihihi."
"Bahkan kau tau tentang Boyband?" Rio menatap Suketi tak percaya.
"Tentu saja, mereka ganteng dan imut. Jauh-jauh Suketi piknik ke-negeri ini karena ingin bertemu banyak Oppa-Oppa ganteng, Hihihi!!"
Gavin memijit kepalanya. Dia mulai sakit kepala karena kelakuan hantu satu ini. "Astaga, kenapa ada Hantu modelan kayak gini? Menggelikan!!"
Suketi menarik Gavin dan Rio untuk mendekat. Membuat kedua pemuda itu terlonjak kaget karena kulit dingin si hantu Narsis. "Tampan, lihat ke kamera dan katakan cheese." Suketi berpose dan mengajak keduanya berfoto bersama.
Gavin dan Rio tersenyum kaku. Tubuh mereka mengeluarkan keringat dingin. Sedangkan Miss Kunti tampak begitu gembira bisa berfoto bersama mereka.
"Sangat perfect, hihihi. Nanti akan aku pamerkan pada si Sukoyo, Pocing gatel itu. Sampai bertemu lagi ya tampan, hihihi." Suketi melambaikan tangannya pada Rio dan Gavin, dan pergi begitu saja.
Rio dan Gavin langsung jatuh terduduk di tanah. Kaki mereka terasa lemas dan jantung mereka berdebar hebat. Antara geli, tidak percaya dan takut, semua bercampur aduk menjadi satu.
Tidak pernah terpikir oleh mereka jika mereka akan bertemu dengan hantu. Meskipin sikapnya sangat konyol. Tapi bagaimana pun Suketi tetaplah mahluk dari alam lain.
-
"PAMAN?!"
Aster terbangun di tengah malam dan terkejut ketika tak mendapati Nathan berbaring disampingnya. Wanita itu menyapukan pandangannya dan sosok Nathan tak ia temui dimana pun.
__ADS_1
Aster bangkit dari berbaringnya dan berjalan keluar kamar untuk mencari Nathan. Tapi sayangnya dia tidak menemukan pria itu dimana pun, bahkan mobilnya juga tidak ada ditempatnya.
"Paman Kim, apa kau melihat Paman Nathan?"
"Tuan pergi untuk bertemu seseorang. Dan Tuan berpesan jika Anda tiba-tiba terbangun dan mencarinya, Anda tidak perlu menunggu Tuan kembali apalagi mencemaskannya. Dia akan kembali sebelum dini hari."
"Apa Paman Kim tau kemana, Paman Nathan pergi?"
"Saya tidak tau, Nona. Karena Tuan tidak mengatakan kemana beliau akan pergi. Sebaiknya Nona kembali tidur, ini masih larut malam."
Aster tak menjawab. Tanpa sepatah kata pun wanita itu beranjak dari hadapan Paman Kim dan kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua.
-
Nathan menghentikan mobilnya di salah satu club malam ternama di kota Seoul. Tanpa melewati pemeriksaan seperti pengunjung yang lain, Nathan bisa dengan bebas masuk ke dalam.
Nathan adalah seorang pelanggan VIP, jadi tidak salah bila dia mendapatkan perlakuan khusus.
Dari kejauhan Nathan melihat Riyana tengah duduk sendiri di meja VIP sambil menikmati minumannya.
Wanita itu memakai mini dress berwarna yang mengikuti lekuk tubuhnya dan tuxedo hitam yang disampirkan dipundaknya.
Riyana mengangkat kepalanya saat menyadari kedatangan seseorang. Wanita itu menyeringai melihat sosok tampan yang saat ini berdiri dihadapannya. Mata berbeda warna milik mereka saling menatap selama beberapa saat.
"Akhirnya kau datang juga, duduklah. Akan ku pesankan minuman untukmu."
"Jangan begitu, tidak baik menolak niat baik seseorang. Hanya satu gelas saja bagaimana?"
Nathan menatap wanita itu penuh curiga. Ia tau jika Riyana tengah merencanakan sesuatu yang tidak baik. Dan Nathan akan mengikuti alur permainannya.
"Hn, terserah kau saja." Riyana tersenyum lebar. Dia bangkit dari kursinya dan pergi memesan di konter bar.
Diam-diam Nathan terus memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Sesekali Riyana menoleh dan tersenyum padanya, dan Nathan menyikapinya dengan acuh.
Nathan melihat Riyana memberikan sesuatu pada bar tender itu secara sembunyi-sembunyi.
Wanita itu juga memberikan uang tips padanya. Dan hal itu lebih dari cukup sebagai bukti jika Riyana memang memiliki maksud yang tidak baik padanya.
Riyana tersenyum, kemudian membawa minuman itu pada Nathan lalu memberikan padanya. "Tuan Xiao, ini minuman Anda. Bagaimana jika kita bersulang sekarang?"
Baru saja Riyana akan meneguk minumannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Riyana meletakkan gelasnya di atas meja dan berdiri untuk mengangkat panggilan tersebut. Dan situasi itu Nathan manfaatkan untuk menukar minuman mereka.
Riyana tersenyum lalu kembali menghampiri Nathan. "Maaf, Tuan Xiao sudah membuat Anda menunggu lama. Bagaimana jika kita bersulang lagi?"
"Bukan masalah," Nathan mengangkat gelasnya kemudian meneguk minumannya.
Diam-diam Riyana tersenyum lebar. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu obat itu bereaksi. Dan dia akan memanfaatkan kesempatan yang dia miliki sebaik-baiknya.
__ADS_1
Riyana meneguk minumannya tanpa curiga sedikit pun. Wanita itu lagi-lagi tersenyum pada Nathan.
Tiba-tiba Riyana merasakan keanehan pada dirinya. Matanya terasa berkunang-kunang dan kepalanya sedikit pusing. Sekujur tubuhnya terasa begitu panas, dia merasa sangat tersiksa.
Tanpa sadar Riyana melepaskan seluruh pakaiannya kemudian melemparkan diri pada beberapa hidung belang yang sedang berkumpul di meja samping mejanya. Sedangkan Nathan memilih untuk pergi.
Dia sudah terlalu banyak membuang waktunya untuk sesuatu yang tidak berguna. Memang tidak seharusnya Nathan pergi menemui wanita murahan itu.
.
.
.
Nathan tiba dirumahnya pada pukul 02.00 dini hari. Dia terkejut saat mendapati Aster tengah berdiri di balkon kamar di waktu se-larut ini. Pria itu menghampiri Aster yang sepertinya masih belum menyadari kepulangannya, lalu memeluknya dari belakang.
Aster yang sedang larut dalam dunianya terlonjak kaget, ketika merasakan sepasang tangan memeluknya dengan erat. "Paman, kau dari mana saja?" Aster melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik dan menatap pria itu penasaran.
"Mengurus sesuatu, kenapa tidak tidur dan malah berdiri disini?"
Wanita itu menekuk wajahnya. "Aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi." Jawabnya.
Nathan menarik bahu Aster kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Dan mendekap tubuhnya dengan erat. "Maaf, karena pergi tanpa memberitahumu. Kau sudah tertidur dan aku tidak tega untuk memberitahumu." Ucapnya penuh sesal. Nathan meletakkan dagunya dipertopangan lehet Aster.
Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan. "Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan Paman begitu saja. Pergi diam-diam, membuat tidak bisa tidur lagi setelah terbangun. Paman harus bertanggung jawab penuh!!"
Nathan melonggarkan pelukannya. Sepasang mata coklatnya mengunci hazel Aster. "Kau ingin aku bertanggung jawab seperti apa?" Tanya Nathan.
"Ayo Bercocok tanam," rengeknya memohon.
"Lagi?!" Nathan menatap Aster tak percaya. Pasalnya baru semalam mereka melakukannya. Wanita itu mengangguk.
"Rasanya bikin nagih dan sekarang aku ingin kita melakukannya lagi." Ucapnya.
Nathan menjitak gemas kepala Aster. "Kenapa kau jadi semesum ini?" Ucap Nathan dengan gemas.
"Jangan salahkan aku, tapi salahkan rasanya yang begitu nikmat dan bikin nagih." Lagi-lagi Nathan mendengus geli.
Tanpa sepatah kata pun Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Aster pun langsung tersenyum lebar karena Nathan mau mengabulkan permintaannya. Nathan memang tidak bisa melihatnya kecewa.
Aster tidak peduli meskipun nantinya dia akan hamil diusia muda, toh dia sudah menikah dan memiliki suami. Jadi apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Tidak ada, selama itu adalah Nathan. Kenapa tidak!!
-
Bersambung.
__ADS_1