"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Saling Menghangatkan


__ADS_3

Hening.


Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu. Aster dan Nathan seakan-akan hanya termenung memandangi indahnya pemandangan sore hari di atas bukit itu.


Namun beda dengan kenyataan, pikiran mereka tidak setenang apa yang di alami sekarang. Pikiran mereka bercampur aduk.


Sesekali Nathan menggulirkan pandangannya pada sosok jelita disampingnya, dan helaan napas panjang keluar dari sela-sela bibir Kissablenya.


Tanpa berkata apa-apa. Nathan meraih tengkuk Aster dan mel*mat keras bibir tipisnya. Membuat kedua mata Aster membelalak saking kagetnya. Sungguh Aster tidak menduga jika Nathan akan menciumnya seperti ini.


Kedua matanya perlahan tertutup. Aster mengalungkan kedua tangannya dan mulai membalas ciuman Nathan. Posisi mereka tidak lagi duduk bersebelahan, Nathan sudah memindahkan Aster ke atas pangkuannya.


Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut. Lidah Nathan menelusup masuk ke dalam mulut hangat Aster, ujung lidahnya menyapu dinding-dinding rongga mulutnya, lalu mengabsen satu persatu barisan gigi putihnya.


"Eungghh..."


Lengkungan panjang yang keluar dari bibir Aster semakin membakar gairah Nathan untuk melakukan hal yang lebih i*tim dari sekedar berciuman. Namun sayangnya hal itu tidak bisa mereka lakukan karena posisi mereka saat ini.


Bukit terlalu terbuka untuk melakukan hubungan suami-istri. Dan akan sangat bergaya jika sampai ada orang lain yang melihatnya.


Nathan mengakhiri ciumannya satu menit kemudian. Benang Saliva tampak ketika mereka sama-sama menjauhkan bibir masing-masing. Wajah Aster yang sebelumnya miring kini berseri kembali.


"Paman, bagaimana kalau malam ini kita melakukannya? Bukankah sudah lama kita tidak bermain kuda-kudaan?" Ucap Aster begitu antusias.


Nathan tersenyum lebar. "Senang melihatmu kembali, Sayang." Ucapnya dan sekali lagi mencium bibir Aster. Namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman yang sebelumnya.


Nathan bangkit dari duduknya, kemudian pria itu mengulurkan tangan kanannya pada Aster. Aster tersenyum lebar.


Dengan senang hati ia menerima uluran tangan Nathan. Dan keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan bukit berbunga, setelah seharian menghabiskan waktunya di sana dengan saling diam.


-


Hilman mengalami demam tinggi setelah insiden yang terjadi kemarin malam. Hilman ditemukan oleh anak buahnya pagi harinya. Pria tua itu menjadi sering mengigau dan tiba-tiba menjerit ketakutan. Membuat Riyana dan anak buahnya kebingungan akan keadaan pria tersebut.


"Bagaimana kondisinya, Dok?"


"Demamnya masih tinggi, Nyonya. Beliau akan berhenti berhalusinasi ketika demamnya sudah turun."


"Tapi Ayah saya baik-baik saja bukan?"


Dokter itu mengangguk. "Ya, tidak ada yang perlu di cemaskan pada kondisi Tuan Jung. Beliau baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu." Riyana mengangguk.


Dia memberi kode pada pria yang berdiri dibelakangnya untuk mengantarkan dokter itu keluar.


Riyana melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap sinis pada sang ayah yang sedang terbaring lemah. "Melihatmu seperti ini sebenarnya aku sangat kasihan. Tapi saat sehat kau begitu menyebalkan!!" Kemudian Riyana meninggalkan Jung Hilman begitu saja.


Sepertinya pertemuannya dengan Suketi membuat Jung Hilman terkena mental. Buktinya dia sampai sakit dan mengalami demam tinggi serta terus-terusan berhalusinasi.


-


"Eungghh..."


Lengkungan keluar dari sela-sela bibir Aster begitu Nathan mencium bibirnya dengan keras. Nathan langsung menyerangnya setibanya mereka tiba di Villa. Villa yang sepi membuat mereka bebas melakukan apapun juga.

__ADS_1


Tubuh Aster memberikan respon yang luar biasa terhadap segala macam sentuhan-sentuhan mulut Nathan yang sedari tadi bermain disekitar wajah dan daun telinga dan wajahnya.


Reaksi dari tubuhnya mengirimkan getaran menuju pita suara sehingga beberapa kali Aster meloloskan erangan dari mulutnya. Baru saja bibirnya yang memulai, tapi rasanya Aster seperti tidak mengenali erangannya sendiri.


Aster kembali mengerang ketika lidah Nathan mengajak lidahnya menari, seperti sebuah tarian se*sual nan panas yang di iringi oleh lagu er*tis yang memikat.


Sebelah tangan Nathan yang berada di pinggang Aster, menariknya untuk menempel di dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya.


"Ya Tuhan, aku tidak sanggup lagi berdiri. Kakiku bertransformasi menjadi jelly!" Jerit Aster membatin.


Aster menguatkan kaitan tangannya di leher kekar Nathan mencoba untuk tidak jatuh dari posisinya saat ini.


Dan seperti mengetahui bahwa kekuatan kaki istri kecilnya ini hanya tersisa sekitar beberapa persen lagi, Nathan pun mengangkat tubuh Aster tanpa melepaskan bibirnya dari bibir wanita itu, dan merebahkan tubuhnya dengan lembut di atas tempat tidur dengan tubuhnya yang menindih tubuh Aster.


Sebelah tangannya sibuk menanggalkan seluruh kain yang masih menempel pada tubuh Aster. Membuangnya begitu saja dengan asal, dan kain-kain itu kini tergeletak dan berserakan di lantai.


"Tidak adil jika hanya aku yang tel**Jang," gerutu Aster melihat Nathan masih berpakaian lengkap.


Kemudian Nathan melepas kemeja hitamnya dan menanggalkan kain berharga mahal itu dari tubuhnya, kini Nathan ber**lanjang dada.


Aster menyeringai. Dengan cepat dia menarik tubuh Nathan menggulingkannya di atas tempat tidur. Posisi mereka kini berubah, bukan lagi Nathan yang ada di atas tubuh Aster, tapi malah sebaliknya.


Nathan sedikit terkejut, namun kemudian menggeram sebelum melepaskan lum*tan Aster.


"Hentikan, aku tidak suka di dominasi." Matanya kembali menyala.


Aster bangkit dari posisinya. "Well, silahkan mendominasiku kalau begitu." Wanita itu mengerlingkan matanya nakal.


Nathan menggeram dan kembali mengklaim bibir Aster menggunakan bibirnya. Jarinya kembali meluncur kearah bawah dan tanpa aba-aba dia memasukan kedua jarinya di dalam diri Aster yang lain.


"Kali ini aku ingin melihatmu org*sme bukan karena jari-jariku."


Ucap Nathan kemudian me*jilati jarinya dan memposisikan ujung sosis beruratnya di pintu Miss milik Aster. Ketika ujungnya telah berada dipusat wanita itu, Nathan kembali membawa bibir Aster dalam ciuman panjang dan memabukkan.


Menciumnya dengan penuh gairah sementara di bawah sana sosis beruratnya mencoba mendorong masuk sedikit demi sedikit, dan mengeluarkannya kembali beberapa inci sebelum akhirnya mendorong kembali seluruh batangnya ke dalam diri Aster.


Setelah merasakan sakit di awal. Kini Aster merasakan nikmat pada akhirnya. Dan malam yang terasa dingin ini mereka habiskan untuk saling menghangatkan.


-


Suketi dengan percaya dirinya menari diantara puluhan manusia yang sedang asik menari di dance floor. Bagus tidak ada yang bisa melihat wujudnya, kecuali memang dia sendiri yang ingin memperlihatkan diri pada orang yang dikehendaki.


Karena jika ia sampai terlihat oleh banyak pasang mata manusia. Bisa-bisa mereka lari terbirit-birit setelah melihat bentuknya yang errr, menyeramkan. Wajah pucat dan rambut panjang dengan baju putih yang kedodoran.


Sementara itu.. Gavin dan Rio yang melihat tingkah hantu gaul bin narsis itu hanya bisa mendengus dan menatap Suketi dengan geli. Rasanya mereka ingin sekali memasukan Suketi ke dalam botol dan melemparnya ke Segitiga Bermuda.


Saat ini Gavin, Rio dan Miss K sedang berada di sebuah club malam ternama yang ada di jantung kota. Tujuan Gavin dan Rio adalah untuk mencari hiburan. Tapi siapa yang menduga dia malah menemukan si Miss K tengah asik bergoyang di dance floor.


"Dasar hantu sinting, bagaimana bisa mahluk seperti itu terdampar di tempat seperti ini?!!"


"Sudah biarkan saja, Hyung. Mungkin semasa hidupnya dia kurang bahagia,"


"Ya, mungkin saja."

__ADS_1


"KYYYAAA!!! LEE TEUK!!" Tiba-tiba si Miss K berteriak histeris saat melihat kedatangan salah satu anggota boyband Super Junior di klub malam tersebut.


Si Miss K langsung meninggalkan keramaian dan menghampiri Leader group legendaris itu. Tapi sial, dia malah jatuh tersungkur setelah terserimpet bajunya sendiri. Untung saja hantu, jadi tidak di lihat orang banyak.


Si hantu eksis mengeluarkan ponselnya lalu mengambil foto bersama Lee Teuk, jepret sana jepret sini, nemplok sana nemplok sini, dan tingkahnya yang absrud membuat Gavin dan Rio geli sendiri.


Miss K mengirimkan hasil jepretannya ke medsos miliknya. Dan Mr.Pocing langsung mengomentari dengan emot marah, cemburu lebih tepatnya. Secara Mr.Pocing adalah kekasihnya. Benar-benar menggelikan. Itulah yang Gavin dan Rio pikirkan.


-


Nathan menyibak selimutnya dan pergi ke balkon kamar. Pria itu tetap terjaga dan sulit untuk menutup matanya. Padahal ini sudah lewat tengah malam.


Nathan mendongakkan wajahnya dan menatap langit malam bertabur bintang. Bintang-bintang tampak berhamburan menghiasi langit, mendampingi sang Dewi malam menjalankan tugasnya.


Wajah Aster yang berlinang air mata kembali terbayang-bayang di matanya. Dia memahami betul kesedihan yang wanita itu rasakan. Karena kesedihan seperti itu juga yang selama ini selalu Nathan rasakan ketika merindukan orang tuanya.


Diam bukan berarti tidak tau dengan apa yang Aster rasakan selama ini. Dia menyimpan kesedihan dibalik senyumnya. Dan tidak hanya sekali dua kali dia melihatnya menangis.


Ponsel dalam saku celana Nathan tiba-tiba berdering. Dan nama Leon tertera menghiasi layarnya yang menyala terang. Alih-alih menerimanya, Nathan malah menolak panggilan tersebut. Dia terlalu malas mendengar keluhan pria bertubuh jangkung tersebut.


"Paman, apa yang kau lakukan di sana dan kenapa kau tidak tidur?" Nathan menoleh dan mendapati Aster berjalan menghampirinya.


"Kenapa malah bangun?" Alih-alih menjawab, Nathan malah balik bertanya.


"Aku bangun karena kebelet pipis." Jawabnya.


"Ya sudah, ayo masuk dan tidur lagi." Aster mengangguk.


Meskipun sebenarnya masih belum mengantuk. Namun Nathan memilih mengalah supaya Aster mau tidur lagi. Karena jika dia tetap terjaga, maka Aster akan ikut terjaga juga.


Bukannya tidur, Aster malah tetap terjaga. Kedua matanya tetap terbuka dan memandang wajah tampan Nathan tanpa berkedip sedikit pun.


Aster mengangkat tangannya dan mengarahkan pada bibir Nathan, dan apa yang Aster lakukan memaksa Nathan membuka kembali matanya.


"Kenapa tidak tidur?"


Aster menggeleng. "Aku tidak bisa tidur lagi setelah bangun. Paman, kau juga belum ngantuk kan?"


"Belum,"


"Kalau begitu tidak usah tidur dulu. Paman, berapa lama kita akan berada di sini? Bisakah pulangnya kita tunda dulu, aku masih ingin lebih lama di sini. Kau setuju kan?"


"Kenapa?"


"Karena aku ingin memiliki banyak waktu denganmu. Karena setelah pulang, kau pasti akan lebih sibuk dan lebih banyak waktumu yang kau habiskan di kantor. Sedangkan di sini seluruh waktumu hanya kau habiskan untukku. Kau setuju kan?"


Nathan mengecup kening Aster kemudian memeluknya dengan erat. "Tentu saja, apapun yang kau inginkan Sayang." Ucapnya.


Aster tersenyum lebar. Ia tau jika Nathan pasti kan mengabulkan permintaannya. Toh bukan sebuah permintaan yang muluk-muluk juga."Kau menang yang terbaik, Paman. Aku semakin mencintaimu." Aster merapatkan tubuhnya pada Nathan.


Sekali lagi Nathan mencium kening Aster. Dan ciuman kali ini lebih panjang dan lebih lama dari ciuman yang sebelumnya. Nathan tersenyum lebar, betapa dia sangat beruntung memiliki Aster disisinya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2