
Jam dinding sudah menunjuk angka 02.00. Namun Aster masih tetap terjaga dan enggan untuk menutup matanya. Berkali-kali dia mencoba untuk tidur namun hasilnya tetap nihil.
Aster mengangkat wajahnya dan menatap wajah damai seseorang yang tengah tertidur pulas disampingnya. Aster ingin sekali membangunkannya, tapi rasanya dia tidak tega terlebih lagi saat melihat wajah lelah Nathan. Dan akhirnya Aster pun memilih untuk membiarkannya.
Sudah hampir dua puluh menit Aster terus memandang wajah Nathan yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat begitu polos seperti anak kecil.
Aster memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama, mulai dari mata, hidung sampai bibirnya. Aster tidak bisa memungkirinya jika Nathan benar-benar tampan.
Satu mata itu perlahan terbuka setelah terusik oleh gerakkan jari-jari lentik Aster disekitar wajahnya.
"Ups, maaf. Oppa, aku jadi membangunkanmu," gumam Aster penuh sesal.
"Kenapa tidak tidur, hn?" tanya Nathan seraya mengecup singkat bibir Aster.
"Aku tidak bisa tidur,"
"Lalu, kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Kau terlihat sangat lelah, jadi aku tidak tega," jawabnya.
Kemudian Nathan beranjak dari posisi berbaringnya begitu pula dengan Aster. Keduanya berjalan ke arah balkon. Sementara Laurent tetap terlelap tidur.
Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aster maupun Nathan. Sama-sama melihat ke arah langit yang gelap tak berbintang.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Nathan melihat kebungkaman Aster. Lantas wanita itu menoleh dan menatap pria disampingnya.
"Aku sedang memikirkan bagaimana kehidupan kita selanjutnya. Apakah akan lebih baik atau malah sebaliknya."
"Aku memikirkan Laurent, bisakah kita selalu menjaganya di tengah berbagai kemelut yang terjadi dalam keluarga ini. Apalagi masih ada saja orang yang berusaha mencari masalah denganmu. Aku takut jika mereka akan menggunakan putri kita sebagai alat untuk menekanmu!!"
Setelah cukup lama diam. Akhirnya Aster bisa mengeluarkan berbagai uneg-uneg yang selama ini hanya dia pendam di dalam hatinya.
Banyak sekali hal yang wanita itu cemaskan dan ia takutkan, dan semua berhubungan dengan putri kecil mereka, Laurent.
Bukan hanya Aster. Sebenarnya Nathan juga memiliki ketakutan yang sama. Hanya saja dia memilih diam dan tidak terlalu menunjukkannya.
"Sebaiknya tenangkan pikiranmu, kau jangan terlalu berat berpikir, karena itu tidak baik untuk kandunganmu!!." ujar Nathan memberi nasehat.
Saat ini Aster sedang hamil 1 bulan. Wanita di nyatakan hamil oleh dokter tak lama setelah kepulangan mereka dari Busan. Dan dikehamilan Aster yang Kedua ini, Nathan ingin menebus semua yang dia lewatkan ketika Aster hamil Lautent dulu.
"Ayo kembali ke kamar. Udara di sini sangat dingin. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit." ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
-
__ADS_1
Pria itu hanya bisa tertunduk takut ketika Leon dan Tao memergokinya hendak masuk ke dalam ruang kerja Nathan.
Penjagaan yang sangat ketat tidak memberikan celah sedikit pun pada mereka yang memiliki niat tidak baik. Pria itu contohnya.
Baru satu minggu bekerja sebagai pelayan di kediaman Nathan membuatnya tidak paham dengan seluk belum tempat itu.
Pria itu berencana mengambil beberapa berkas penting di ruang kerja pria bermarga Xiao tersebut, tapi sayangnya aksinya malah dipergiki oleh Tao dan Leon.
"Sebaiknya kau bicara terus terang daripada hidupmu berakhir mengenaskan!!" ucap Leon yang sepertinya sudah mulai kehilangan kesabaran.
"Tu..Tuan Delon yang menyuruh saya. Beliau memerintahkan saya supaya mengambil berkas penting yang berada di ruang kerja Tuan Nathan."
"Lalu kenapa kau mau menuruti perintahnya? Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi?" kini giliran Tao yang bicara.
"Bu..Bukan begitu, Tuan. Jika saya menolak. Maka Tuan Delon akan memotong saya punya burung. Itulah kenapa saya menurutinya."
Leon dan Tao mendesah berat. Selalu saja ancaman yang sama. Apakah mereka tidak memiliki kalimat lain untuk mengancam seseorang selain menggunakan burung ataupun pisang.
"Bagus kami yang menemukanmu. Jika saja Boss, entah bagaimana nasib kalian berdua. Mungkin kalian akan berakhir mengenaskan di dalam peti mati. Kali ini kau kami lepaskan, sebaiknya kembali pada Boss-mu dan beritahu dia jika kau gagal."
"Tapi, Tuan. Lalu bagaimana nasib burung saya?"
"Burung lagi!! Urusan burung pikir belakangan saja.
"Berhentilah memikirkan burungmu, bagus jika cuma burungmu yang dipotong. Bukan nyawamu, kalau Boss Nathan sampai tau apa yang kau lakukan, bukan cuma burungmu yang hilang. Tapi bisa-bisa kepalamu yang jadi korban!!"
"Hihihi!! Suketi suka burung. Siapa yang mau memberikan burungnya untuk Suketi?!"
Mata ketiga pria itu sontak membelalak karena kemuculan Suketi yang begitu tiba-tiba.
"KYYYAA!! NENEKNYA SETAN!!" jerit Tao histeris.
Saking kagetnya, Tao menyambar gelas di sampingnya lalu melemparkan pada kepala Suketi, si pelayan baru itu langsung pingsan, sedangkan Leon berkali-kali menelan ludah sambil menunjuk Suketi dengan mata melotot sempurna.
"Su..Su..Su...Sutikem...!!" jerit Leon dan segera berlari keluar. Meninggalkan Tao yang sudah terkencing dicelananya.
"Kkyyyaa!! HYUNG!! JANGAN KABUR, TUNGGU AKU!!"
"Huaa... Kalian semua kejam. Janda secantik Suketi malah ditinggal pergi, dan seenaknya kalian malah mengganti nama cantik Suketi jadi Sutikem. Tampan, Suketi jangan di tinggal!!"
-
"Mami!!"
__ADS_1
Perhatian Aster yang sedang menyiapkan sarapan di dapur teralihkan oleh teriakan kencang putri kecilnya. Terlihat Laurent berlari menghampirinya.
Aster merendahkan tubuhnya dan menyamakan posisinya dengan Laurent. "Ada apa, Princess?" tanya Aster setelah berhadapan dengan Lautent.
"Lautent ngompol lagi. Dan ompol Lautent mengenai pakaian Daddy, bagaimana kalau Daddy sampai marah sama Laurent?" gadis kecil itu terisak pelan. Dia takut jika Nathan akan memarahinya.
Aster menggeleng. "Mana mungkin Daddy Nathan bisa marah pada putri kecilnya, Laurent tau sendiri bukan jika kamu adalah putri kesayangannya."
"Tapi tetap saja, Lautent takut. Apalagi Laurent pernah melihat bagaimana mengerikannya Daddy Nathan dia sedang marah."
"Sayang," Aster membawa putri kecilnya itu ke dalam pelukannya. Dia benar-benar bisa merasakan ketakutan Laurent akan kemarahan Nathan.
"Ada baiknya jika Laurent menemui Daddy, dan minta maaf padanya karena tidak sengaja ngompol dan mengenai pakaiannya." Ucap Aster memberi nasehat.
Gadis kecil itu kemudian mengangguk. Bersama sang Ibu, Laurent kembali ke kamar untuk meminta maaf pada sang ayah.
.
.
.
Laurent terus menundukan wajahnya saat melihat sang ayah yang tengah menatap padanya. Gadis kecil itu merasa gugup dan takut, Lurent takut jika Nathan akan memarahinya.
"Mami," rengek Laurent sambil menatap sang Ibu.
"Tidak apa-apa, Daddy tidak akan marah. Percaya sama Mami," gadis kecil itu mengangguk mengerti.
Laurent kembali menatap Nathan yang juga tengah mematap padanya. Tatapannya begitu lembut dan teduh. Sambil menarik sudut bibirnya, Nathan melambaikan tangannya pada Laurent.
"Kemarilah, Nak." pinta Nathan. Lautent menghampiri sang ayah dengan langkah ragu.
"Daddy, Laurent mau minta maaf karena sudah ngompol di baju Daddy. Daddy jangan marah ya." pinta gadis kecil itu memohon.
Nathan menggeleng. "Tentu saja tidak, Nak. Bagaimana mungkin Daddy bisa marah padamu. Sebaiknya sekarang Laurent mandi sama Daddy ya?! Biarkan Mami-mu menyelesaikan pekerjaannya." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan antusias oleh putri kecilnya.
"Oke, Daddy!!"
Aster mendengus geli melihat tingkah gadis kecilnya itu. Kemudian dia beranjak dari sana dan kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
-
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya riders, untuk sementara Author cuma bisa up satu bab saja. Listrik di tempat Author di perkirakan baru bisa nyala sekitar 5 hari lagi, tiang listrik kebawa banjir dan jembatannya putus, jadi masih sulit buat di perbaiki 🙏🙏🙏