
Aster menatap Nathan yang berjalan melewatinya dan mendesah berat. Sekarang giliran Nathan yang mendiaminya, dan hal itu sudah berlangsung selama lebih dari dua hari. Dia tidak tau kapan perang dingin diantara mereka akan berakhir.
Bisa saja Aster mengalah dan meminta maaf pada Nathan. Tapi dia tidak mau melakukannya, dia tidak mau membuang harga dirinya yang terlampau tinggi. Dia yang memulainya, masa dia juga yang harus mengakhirinya.
Aster akan menunggu Nathan yang minta maaf padanya lebih dulu. Jika Nathan tidak kunjung minta maaf. Maka dia akan akan menggunakan jurus pamungkasnya, yakini pergi meninggalkan rumah.
Nathan hanya melirik Aster melalui ekor mata kirinya ketika mendengar derap langkah seseorang yang datang. Wanita itu mengeluarkan sebuah selimut dan bantal dari dalam lemari lalu membawanya keluar kamar.
Pria itu tidak berusaha untuk menahan ataupun menghentikannya. Nathan membiarkan Aster melakukan apapun yang dia inginkan.
"Dad, Mami kenapa tidak tidur di sini denganmu? Apa Mami masih marah karena kejadian malam itu?" Laurent menghampiri sang ayah dan bertanya padanya.
Nathan mengangguk. "Mami mu ingin tidur dikamar terpisah dan Daddy tidak bisa mencegahnya, sebaiknya biarkan Mami mu melakukan apapun yang dia inginkan, pergilah ke kamarmu dan segera tidur, ini sudah malam." Perintah Nathan sambil mengusap kepala coklat Laurent yang tergerai.
Gadis kecil itu mengangguk. "Tapi, Dad. Tidak baik loh pasangan suami istri marahan terlalu lama, aku sarankan Daddy dan Mami segera berdamai. Aku pergi tidur dulu, good night Daddy."
Selepas kepergian Laurent, di kamar itu hanya menyisakan Nathan sendiri. Pria itu memikirkan apa yang putrinya katakan dan mendesah berat.
Mungkin memang benar apa yang Laurent katakan, tidak baik jika dia dan Aster terlalu lama perang dingin. Jika tidak ada yang mengalah salah satu, maka perang dingin diantara mereka tidak akan berakhir. Dan hal itu tentu tidak baik untuk anak-anak.
Nathan meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar yang ditempati oleh Aster. Wanita itu masih terjaga dan tengah sibuk dengan desain terbarunya.
"Kita perlu bicara," ucap Nathan dan menghentikan gerakan tangan Aster pada kertas putih itu.
Ibu dua anak itu lantas mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Aster meletakkan pensilnya lalu menghampiri sang suami.
"Apa Paman kemari untuk minta maaf padaku?" Aster menatap Nathan sambil menyipitkan matanya.
"Jika aku masih terus mengikuti tingkah kekanakan mu, maka perang dingin ini tidak akan berakhir. Baiklah aku mengaku salah dan aku minta maaf,"
Aster meringis ngilu. Dasar suami tidak romantis, bahkan meminta maaf saja dengan cara yang begitu menyebalkan. Padahal Aster ingin saat meminta maaf Nathan membawakannya bunga tau coklat, tapi ternyata harapan tak sesuai kenyataan.
__ADS_1
Lagipula memangnya kapan Nathan bisa bersikap romantis padanya, jangankan untuk memberinya bunga dan coklat, mengatakan 'Sayang, kau sangat cantik' atau 'Aku sangat mencintaimu' saja jarang.
Aster mendesah berat. Dia bermimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari pria dingin seperti Nathan.
"Astaga, bagaimana bisa dulu aku menikahi pria dingin dan menyebalkan sepertinya. Padahal saat kuliah dulu banyak sekali pemuda yang mengejar ku dan selalu memperlakukanku dengan istimewa. Selalu memberiku bunga dan coklat, tau begitu aku menikahi mereka saja."
Aster menggerutu sambil berjalan meninggalkan Nathan sendiri di kamar tersebut. Dan parahnya lagi, apa yang Aster katakan sampai ke telinga Nathan.
"YAKK!!" Nathan memekik keras. Kemudian pria itu mendengus berat, bukan hanya Gavin dan Rio yang sering kali membuatnya terkena mental, tapi Aster juga, bahkan tingkahnya jauh lebih parah.
Meskipun telah memiliki dua anak, tapi tingkah kekanakannya tidak hilang juga. Dan saat merajuk bisa lebih mengerikan dari anak berusia 5 tahun. Dan bukan Nathan namanya jika tidak memiliki cara mengatasi Istri cantiknya tersebut.
"AAHHH!! OPPA, APA YANG KAU LAKUKAN?!" pekik Aster saat tiba-tiba Nathan mengangkat tubuhnya bridal style.
"Kau harus mendapatkan hukuman dariku, Nyonya Muda. Siapa suruh kau berani membandingkan aku dengan para pengagum mu saat kuliah dulu!!"
Brugg ..
Ciumannya berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut. Bibir Nathan terus saja menginvasi bibir Aster, mel*matnya dan memagutnya seperti tadi. Tidak ada perlawanan, Aster pasrah di bawah kungkungan tubuh suaminya.
"Apa malam ini kita akan melakukannya?" Aster menatap Nathan yang baru saja melepaskan bibirnya.
"Menurutmu?!" Pria itu menyeringai.
Nathan membuka pakaiannya dan juga Aster lalu menanggalkan dari tubuh masing-masing. Selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu, tapi juga tubuhnya.
Meskipun Aster masih sangat kesal pada Nathan. Tapi dia tidak bisa menolak untuk yang satu ini. Karena rasanya terlalu nikmat untuk ditolak.
Bercocok tanam dengan Nathan akan memberikan banyak keuntungan baginya. Selain membuat wajahnya semakin cantik dan berseri-seri. Dia jadi memiliki alasan untuk tidak bangun terlalu awal esok pagi.
-
__ADS_1
"Uhhh..."
Aster meringis sambil memegangi paha dalamnya yang terasa nyeri. Pergulatannya dengan Nathan semalam benar-benar menguras hampir semua tenaganya. Rasanya dia ingin sekali mengutuk Nathan karena sudah membuatnya tidak bisa bangun pagi ini.
Wanita itu menyibak selimutnya kemudian melenggang menuju kamar mandi. Aster harus segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua. Pergulatannya dengan Nathan semalam membuatnya mandi keringat.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Aster pergi ke keluar untuk sarapan. Dia sangat kelaparan, dan setibanya di luar kamar. Keadaan rumah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa pelayan saja.
Wajar saja. Semua orang telah sibuk dengan urusan masing-masing. Laurent pergi sekolah, Nathan pergi bekerja, begitu pula dengan yang lainnya.
"Mami," seru seorang bocah laki-laki sambil berlari menghampiri Aster. Wanita itu tersenyum lebar.
Kemudian Aster membuka kedua tangannya dan membawa Rey ke dalam pelukannya."Mami, Rey mau main sama Mami."
"Baiklah, jagoan. Memangnya kau ingin bermain apa dengan Mami?" Tanya Aster pada putra bungsunya itu.
"Um, apa ya. Temani Rey bermain bola saja." Jawab bocah laki-laki itu dengan aksen cadelnya yang khas. Aster mengangguk.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Seorang kurir menghampirinya sambil membawa sebuah buket bunga yang katanya adalah kiriman dari Nathan.
"Nyonya, Tuan Nathan mengirimkan bunga ini untuk Anda." Ucap kurir itu sambil menyerahkan buket bunga tersebut pada Aster.
Wajahnya langsung sumringah. Sepertinya kalimatnya semalam telah membuka mata hati Nathan. Buktinya pagi ini dia mengirimkan bunga untuknya. Tak lama kemudian seorang kurir lainnya juga datang menghampirinya. Kali ini dia datang bukan membawa buket bunga, melainkan coklat.
"Nyonya, ada kiriman coklat untuk Anda." Ucap kurir tersebut sambil menyerahkan coklat itu pada Aster.
Kedua mata Aster lantas membelalak melihat puluhan kurir berjajar menunggu giliran untuk mengantarkan bunga dan coklat padanya. Aster sampai kwalahan menerimanya, karena kiriman yang dia terima terlalu banyak.
"OPPA, APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN?!"
-
__ADS_1
Bersambung.