
Lelah terlihat pada pasangan suami-istri itu. Nathan dan Aster baru saja menidurkan kedua buah hati mereka. Saat ini keduanya sedang berada di kamar mereka, Aster meletakkan kepalanya pada pundak lebar suaminya.
"Paman," panggilnya memecah keheningan.
"Hm."
"Bagaimana kalau setelah Rey dewasa kita menambah anak lagi, pasti rumah ini akan terasa lebih hidup jika kita memiliki banyak anak." Usul Aster yang sontak membuat Nathan menatap padanya.
Pria ber eyepacth itu memicingkan mata kirinya dan menatap Aster penuh tanya. "Heh, apa kau berubah pikiran? Bukankah kau sendiri yang menolak untuk memiliki anak lagi?!"
Aster mendecih dan menatap suaminya itu sedikit kesal. "Ck, kenapa malah mengungkit apa yang pernah aku katakan waktu itu?! Saat itu aku masih belum kepikiran, dan aku rasa memiliki banyak anak itu tidak ada salahnya." Ujarnya.
"Dasar kau ini, masalah anak kita bisa pikirkan nanti. Yang penting sekarang kita bercocok tanam." Baru saja Aster hendak melayangkan protesnya. Tapi bibirnya lebih dulu di bekap oleh Nathan.
Pria itu membekap bibir Aster dan mel*mat kasar bibirnya. Posisi mereka tidak lagi duduk. Nathan menindih Aster dan terus menginvasi bibir ranum tipisnya.
Meskipun awalnya Aster hendak menolak. Tapi akhirnya dia menerima ciuman Nathan dengan sangat baik. Kedua lengan wanita itu mengalung pada leher Nathan dan membiarkan suami tampannya ini melakukan apapun yang dia inginkan.
"Aaahh." Aster menjerit tertahan saat Nathan mengigit ujung put*ngnya. "Paman, Aahhh..."
"Kenapa, Sayang? Apa kau menikmatinya?" Nathan menyeringai nakal.
"Uuhhh, Paman. Aahhh..."
"Ayo, Sayang. Jangan ditahan lagi, keluarkan semua." Nathan terus memprovokasi Aster, seringai tak luntur sedikit pun dari wajah tampannya.
Mereka memang jarang bercocok tanam semenjak kelahiran Baby Rey. Nathan tidak ingin jika air susu Aster sampai tercampur dengan cairan miliknya. Itulah kenapa dia sering bermain solo di kamar mandi dengan imaginasi liarnya.
Terkadang Aster yang membantu Nathan melakukan pelepasan. Meskipun tak sepuas ketika memasuki wanitanya itu, tapi setidaknya Nathan tidak tersiksa.
"Paman, bagaimana kalau kau memasuki ku, tapi cairan milikmu kau keluarkan di luar?" Usul Aster sambil mengunci langsung manik kiri Nathan.
"Hm, kedengarannya tidak buruk.
__ADS_1
Nathan kembali membekap bibir Aster dan mencumbunya seperti tadi. Ciuman mereka berubah menjadi semakin panas dan kian menuntut. Semua benang yang melekat pada tubuh mereka telah tertanggal kan, dan berserakan di lantai.
Des*han dan erangan yang keluar dari bibir Aster semakin membakar gairah dalam tubuh Nathan. Membuatnya semakin tidak tahan untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi dari permainan mereka ini.
Mata kirinya memancarkan gairah seperti api yang berkobar di tengah kegelapan malam. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Nathan naik ke atas tubuh Aster dan menungg*nginya.
Tubuh Aster tersentak-sentak karena tusukan Nathan yang semakin dalam. Setelah berbulan-bulan, akhirnya junior Nathan menyapa langsung ke dalam dirinya. Sudah sejak lama Aster merindukan Nathan berada di dalam dirinya.
"Aaahhh... Aaahhh... Ahhh..."
Des*han dan erangan berkali-kali keluar dari bibir Aster. Nathan benar-benar memanjakannya kali ini. Dan
Permainan mereka harus berakhir ketika Nathan menumpahkan seluruh cairannya di lantai. Lantas pria itu bangkit dari atas tubuh Aster.
"Kau sangat luar biasa, Sayang." Nathan mengecup singkat bibir Aster dan pergi begitu saja.
Aster mengambil beberapa lembar tisu yang kemudian dia pakai untuk membersikan cairan Nathan. Setelah berpakaian lengkap, wanita itu menghampiri box baby Rey. Bayi mungil itu tiba-tiba menangis, mungkin karena haus.
"Uh, Sayang. Jagoan Mami, haus ya." Ucap Aster sambil menimang-nimang tubuh Rey supaya tidak menangis lagi.
"Biasa, Rey haus." Jawabnya.
"Bukankah dia baru minum ASI mu sebelum kita melakukannya? Dia bisa kekenyangan jika kau beri ASI terus. Kemari kan, biar aku menggendongnya." Aster mengangguk. Dia bangkit dari duduknya lalu memberikan Rey pada Nathan.
Nathan menimang putra bungsunya tersebut dengan sebelah lengannya, sambil sesekali mengusap kepalanya. Sudut bibir Aster tertarik ke atas. Melihat interaksi antara mereka membuat hatinya menghangat. Nathan yang sedingin Es bisa begitu hangat.
"Tidurlah dulu, Rey biar aku yang menidurkannya." Ucap Nathan dan di balas anggukan oleh Aster.
Kebetulan Aster memang sudah sangat mengantuk. Mengabaikan Nathan dan Rey, kemudian Aster berbaring dan mulai masuk ke dalam mimpinya.
.
.
__ADS_1
.
Cicit burung gereja yang bertengger di atas pohon turut menyambut datangnya hari baru. Membangunkan para manusia kelelahan supaya tidak melewatkan moment indah yang tercetak di pagi hari ini.
Di sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Kehidupan sudah terlihat di sana, padahal waktu baru saja menunjuk pukul 05.00 pagi.
Seorang gadis kecil terlihat meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar orang tuanya yang letaknya bersebelahan dengan kamar miliknya. Gadis kecil itu masih tampak mengantuk. Hal tersebut terlihat dari mimik mukanya.
"Mami, Daddy." Panggil gadis kecil itu sambil mengucek matanya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Aster menghampiri putri kecilnya. "Ada apa? Kenapa kau terlihat sedih, hm?"
"Aku mimpi buruk."
"Memangnya Laurent mimpi apa, Nak?"
"Aku mimpi di tolak laki-laki yang ku sukai. Dan itu membuatku sangat sedih." Laurent menekuk mukanya. Sedangkan Aster malah terkekeh geli, dia pikir putrinya ini mimpi apa, ternyata mimpi di tolak laki-laki.
"Dasar kau ini, masih kecil sudah memikirkan laki-laki. Sebaiknya Laurent tidur lagi sama Daddy ya, Mami keluar dulu untuk menyiapkan sarapan." Aster mengangkat tubuh mungil putrinya yang agak terasa berat lalu menurunkan disamping Nathan, sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Aster menuruni tangga dan mendapati para pelayan dan semua orang yang bekerja di mansion mewah ini sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ibu dua anak itu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Bukan maksud Aster meragukan cara kerja para pekerja di kediamannya. Hanya saja dia ingin menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk keluarga kecilnya.
Jika hanya menyiapkan sarapan tentu bukan hal yang berat baginya. "Nyonya, sebaiknya Anda kembali tidur saja. Urusan dapur serahkan saja pada kami."
"Tidak apa-apa, Bibi. Lagipula memasak sudah menjadi pekerjaanku, kita kerjakan sama-sama saja ya." Wanita itu tersenyum manis.
"Baik Nyonya."
Jangankan memasak. Menginjakkan kakinya di dapur saja dia tidak pernah. Tapi semenjak mengandung Laurent dan hidup jauh dari Nathan. Aster mulai belajar mandiri, seperti memasak dan melakukan pekerjaan rumah layaknya wanita pada umumnya.
Aster sangat bahagia dengan kehidupan yang dia jalani saat itu. Meskipun jauh dari Nathan, namun dia menemukan kebahagiaan dengan hadirnya Laurent.
__ADS_1
-
Bersambung.