
Gyuttt....
Nathan menggepal-kan tangannya saat melihat Aster tersenyum lebar pada pria lain. Ia tidak tau apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh gadis itu dengan mengundang teman pria-nya datang ke rumah.
Jika alasan Aster ingin membuatnya cemburu, maka dia berhasil. Ya, Nathan memang cemburu melihat putri angkatnya itu dekat dan tersenyum pada pria lain.
Terlihat jelas jika Nathan tidak suka melihat Aster dekat dan tersenyum pada pria selain dirinya.
Pria itu menyeringai tajam, sebuah ide gila muncul dibenaknya ketika melihat Paman Kim berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Nathan berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, dengan satu kali tarikan, benda hitam bertali yang melekat pada mata kanannya terlepas.
Nathan menekan bagian dalam mata kanannya hingga berdarah. Dan hal itu dia gunakan untuk menahan supaya Aster tidak pergi. Karena jika dia melarangnya secara langsung, Pasti gadis itu melayangkan protes padanya.
"TUAN!!"
Dan Paman Kim datang diwaktu yang tepat. Paman Kim langsung berteriak. Dia sangat panik melihat Nathan yang berlumur darah.
Tak lama berselang, Gavin dan Rio juga tiba di kamar Nathan karena teriakan Paman Kim. Gavin pun segera mengambil tindakan, dia berlari keluar untuk memberi tahu kondisi Nathan pada Aster.
"NUNNA, GAWAT. MATA KANAN PAMAN NATHAN TIBA-TIBA BERDARAH DAN DIA SANGAT KESAKITAN!!"
Flashback End:
Nathan membuka kembali mata kirinya. Begitulah kejadian yang sebenarnya kenapa mata kanannya bisa sampai berdarah.
Nathan memang sengaja melakukannya, dan hal itu dia lakukan untuk menghentikan Aster agar tidak jadi pergi. Dan berhasil, Aster tidak jadi pergi, bahkan dia menolak untuk pergi meskipun Nathan memintanya.
"Paman,"
Nathan mengangkat wajahnya dan melihat Aster menghampirinya. Nathan mengulurkan tangannya lalu menempatkan Aster di pangkuannya.
Kedua tangan Aster mengalung pada leher Nathan. Raut wajahnya berubah sedih saat melihat perban yang menutup mata kanan Nathan. Darah segar tampak pada permukaan perbannya.
"Paman, kenapa kau suka sekali membuatku cemas, hm?"
"Paman, baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu mencemaskan keadaan, Paman." Jawabnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak mencemaskan keadaan, Paman. Mata kanan Paman mengalami pendarahan lagi, padahal sudah hampir sembuh."
Nathan menarik ujung hidung Aster. "Mata ini akan kembali membaik dalam beberapa Minggu, jadi jangan terlalu khawatir."
__ADS_1
Aster menghela nafas berat. "Ya,"
Nathan lalu meraih dagu Aster dengan ibu jari dan telunjuk kirinya. Nathan mencium bibir Aster dengan sangat lembut. Tak ada penolakkan, Aster justru menerima ciuman itu dengan senang hati.
Nathan mencium bibir Aster dengan cukup lama, lalu memiringkan kepalanya untuk mencium sisi lain bibir Aster yang lain. Tidak hanya mencium, namun juga melum**.
Setelahnya, Nathan menurunkan ciumannya pada leher Aster, lalu mengecup dahi gadis itu, dan kembali mencium bibir merah muda-nya.
Dan Nathan mengakhiri ciumannya satu menit kemudian. Mata berbeda warna mereka saling menatap lawannya masing-masing. Dan saling bungkam selama beberapa saat.
Dan kontak mata mereka berakhir karena dering pada ponsel milik Aster yang ada di atas meja. Gadis itu turun dari pangkuan Nathan.
"Dari siapa?" Tanya Nathan penasaran.
"Nomor asing," Aster menunjukkan nomor itu pada Nathan.
"Angkat saja, dan gunakan pengeras suara." Pinta Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.
Aster menerima panggilan tersebut seperti yang Nathan perintahkan. Suara familiar seorang wanita langsung berkaur di dalam telinganya.
"Aster, ini Bibi Riyana. Bibi ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Bisakah kau meluangkan waktumu untuk menemui, Bibi?"
Aster menoleh pada Nathan. Meminta pendapat dari ayah angkatnya tersebut. Nathan terlihat menganggukkan kepala, menyetujui supaya Aster menerima ajakan bertemu bibinya.
"Baiklah, Bibi tutup dulu telfonnya."
Aster meletakkan kembali ponselnya lalu menghampiri Nathan dan kemudian duduk disamping pria itu. "Paman, aku memiliki firasat buruk. Pasti wanita licik itu tengah merencanakan sesuatu."
"Itu juga yang Paman pikirkan. Kita harus tetap waspada untuk segala kemungkinan buruk yang terjadi. Dan Paman tidak akan membiarkanmu pergi menemuinya sendiri, Paman akan mengawasi kalian dari kejauhan."
Aster mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."
Tatapan Nathan menajam dan tangannya terkepal kuat. Meskipun tanpa penjelasan sekali pun, tentu saja Nathan tau apa maksud dan tujuan Riyana mengajak Aster bertemu. Dan Nathan tidak akan membiarkan rencana Riyana berjalan lancar.
Tanpa berkata apa-apa. Nathan beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Aster sendiri dikamar miliknya.
.
.
.
__ADS_1
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Tuan, Anda memanggil saya." Ucap Dio setibanya dia ruang kerja Nathan.
Nathan mengangkat kepalanya dan menatap datar pria itu. "Aku membutuhkan surat nikah. Segera buatkan surat nikah untukku dan Aster." Pinta Nathan tanpa banyak basa-basi.
Dio mengangguk. "Baik, Tuan."
Bukan tanpa alasan Nathan mengambil tindakan itu. Dia sudah memikirkannya jauh-jauh hari, lebih tepatnya setelah kembalinya Riyana Jung. Karena hanya dengan cara itu dia bisa menahan Aster untuk tetap disisinya secara hukum.
Nathan tidak akan membiarkan siapapun mengambil Aster darinya. Bahkan itu Riyana sekalipun.
.
.
.
"Eh, Paman ... Untuk apa cincin ini?" Aster menatap bingung Cincin yang diberikan oleh Nathan padanya.
Nathan meminta Aster untuk memakai cincin tersebut, dan Nathan juga memakai cincin yang sama dengannya namun dengan ukuran yang lebih besar.
"Kita harus membuat skenario yang bisa meyakinkan semua orang jika kita telah menikah. Aku juga meminta Dio membuatkan surat nikah untuk kita."
"Aster, aku tau apa tujuan Bibi mu mengajakmu bertemu. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa menahan mu tetap di sisiku."
"Huaaa ... Paman!!"
Aster yang tidak bisa menahan kebahagiaannya langsung berhambur ke dalam pelukan Nathan. Hampir saja mereka terjungkal jika Nathan tidak menjaga keseimbangannya.
"Aku bahagia, sangat-sangat bahagia. Meskipun pernikahan ini palsu. Tapi setidaknya aku memiliki kesempatan untuk menjadi istrimu." Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Nathan menyentil kening Aster lumayan keras. Membuat gadis itu memekik kesakitan."Dasar bodoh!! Ini bukan pernikahan palsu. Karena pernikahan ini terdaftar dan sah di mata hukum!!"
"Huaa ... Benarkah? Memangnya bisa ya kita mendapatkan surat nikah tanpa mendaftar dan menikah di gereja?" Aster begitu berapi-api
Nathan menarik ujung hidung Aster dengan gemas. "Tentu saja bisa, memangnya apa yang tidak bisa jika uang sudah berbicara." Aster tersenyum dan mengangguk, menyetujui apa yang Nathan katakan.
Kebahagiaan terlihat jelas dari pancaran mata Aster. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, setelah sekian lama akhirnya impiannya untuk memiliki Nathan seutuhnya menjadi kenyataan dan bukan hanya angan-angan lagi.
Tidak peduli meskipun tanpa pesta yang mewah, gaun pengantin yang indah dan ribuan tamu undangan. Yang terpenting bagi Aster adalah ia dan Nathan kini resmi menjadi suami-istri.
__ADS_1
-
Bersambung.