"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Aster Bar-Bar


__ADS_3

Hingar-bingar suara musik yang dimainkan seorang DJ di atas stage membahana keseluruh penjuru ruangan, menyambut kedatangan seorang dara jelita yang baru saja menginjakkan kakinya di sana.


Sudut-sudut temaram di ruangan itu dihuni oleh orang-orang yang yang berlimpah uang namun amat sangat bodoh dalam menggunakannya dan hanya bisa menghabiskan uang mereka dengan melakukan berbagai aktivitas tak bermanfaat di club malam itu.


Ya, orang-orang seperti itu mungkin dianggap tidak berguna, tapi tidak bagi para pengusaha club malam lainnya di seluruh dunia—mereka adalah sumber uang yang tak pernah habis.


Dan seperti itulah hal yang ada di pikiran seorang Antonio Wang, tiga puluh lima tahun. Salah satu orang yang sukses dalam bisnis itu di usianya yang masih muda.


Gadis itu menyapukan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang. Tempat ia berada saat ini tidak terlalu ramai karena tempat itu jauh dari dance floor, dan juga stage tempat DJ yang dipekerjakannya beraktivitas.


"ANTONIO WANG!!"


Suara cempreng seorang gadis membahana. Bahkan mengalahkan suara music jazz yang sedang di putar di tempat itu. Membuat semua mata kini mengarah padanya. Termasuk si pemilik nama.


"KELUAR KAU BRENGSEK!!" teriaknya sekali lagi.


Yang dipanggil pun akhirnya berdiri. Pria bernama Antonio itu terlihat bangkit dari duduknya dan menghampiri si gadis yang sedang di selimuti emosi.


"Ada apa, Nona? Kau pikir ini hutan, kenapa harus berteriak seper-"


Buagghh...


Antonio tidak melanjutkan ucapannya setelah sebuah bogem mentah menghantam wajahnya. Membuat sudut bibirnya sobek dan berdarah.


"Wanita sialan, apa yang kau lakukan?" Teriak pria itu marah.


Si gadis yang pastinya adalah Aster melayangkan kakinya pada wajah Antonio dan membuat dia muntah darah.


Bukan hanya menendang wajahnya, tapi Aster juga menekan dadanya ketika pria itu hendak berdiri dengan sepatu heels-nya.


"Kau yang apa-apaan, apa yang sudah kau lakukan pada sahabatku sampai dia nekat makan sambal dan masuk rumah sakit?"


"Sebenarnya apa yang kau bicarakan ini? Memangnya siapa temanmu? Dan asal kau tau saja, aku tidak pernah melakukan apapun pada temanmu!!"


"BOHONG!!" bentak Aster menyela ucapan pria itu. "Di mana ada maling ngaku,.kalau ada maling ngaku, pasti penjara penuh!! Kau menyelingkuhi Tiffany dan memutuskannya begitu saja. Dasar pria tidak bertanggung jawab!! Kau harus menanggung akibatnya!!"


"Aster tunggu!!"


Gerakan tangan Aster terhenti. Kursi ditangannya tidak jadi dia hantamkan pada tubuh pria bernama Antonio tersebut. Sontak saja Aster menoleh dan mendapati dua pemuda berjalan menghampirinya.


"Yakk!! Kenapa kalian harus menghentikan ku?! Biarkan aku memberikan pelajaran pada si brengsek ini!!"


"Tapi masalahnya, bukan Antonio yang ini biang keroknya!!"


"Apa?" Aster cengo seketika. "Jadi aku salah orang?"


"Ya," keduanya menjawab dengan kompak.


Aster menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia mengulurkan tangannya pada pria yang baru saja dihajarnya hingga babak belur tersebut.


"Paman, maaf. Aku salah sasaran, tapi bukan salahku juga. Tapi kau juga salah, jika saja Paman tidak berdiri saat aku memanggil nama Antonio, pasti Paman tidak akan babak belur seperti ini."

__ADS_1


"Dasar gadis kurang ajar!! Sudah membuatku babak belur dan masih menyalahkanku juga? Kau benar-benar perlu di beri pelajaran!!"


"Tunggu dulu!!" Seru Aster menahan gerakan tangan Antonio. Aster mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tasnya.


"Apa ini?"


"Aku yakin Paman tidak buta huruf, sampai-sampai tidak bisa membaca kartu nama ini!!"


"Paman, aku bisa memberikan ganti rugi padamu. Yang kau pegang itu adalah kartu nama ayah angkat ku. Kau bisa meminta ganti rugi padanya. Katakan saja aku sudah membuat kerusuhan di club malam milikmu. Dia pasti memberikan ganti rugi."


"Nathan Xiao?!"


"Ya, itu adalah nama ayah angkat ku."


"Nona kecil. Jadi kau adalah putri angkat dari Big Boss? Maafkan atas kelancangan saya, Nona. Jika saya tau Nona adalah putri angkat dari Big Boss, pasti saya tidak akan memperlakukan Nona dengan buruk." Tuturnya.


Aster memicingkan matanya. "Big Boss? Kenapa kau memanggil ayah angkat ku dengan sebutan Big Boss? Apa kau mengenalnya?" Tanya Aster penasaran.


"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak mengenalnya? Bagi orang dari dunia bawah seperti saya, tentu saja mengenalnya. Dia begitu disegani, bahkan oleh Yakuza sekalipun."


"Yakuza?" Aster memekik.


"Ya, Nona."Pria bernama Antonio itu lantas mengangguk.


"Tunggu dulu, bukankah Yakuza adalah kelompok mafia yang sangat berbahaya, yang berasal dari Jepang? Bagaimana mungkin mereka segan pada Paman Nathan yang hanya seorang CEO sebuah perusahaan?"


"Lebih dari itu, Nona. Big Boss bukan hanya CEO saja, tapi dia juga seorang Boss Mafia yang sangat disegani dan ditakuti. Black Phoenix, Nona kecil pasti pernah mendengar kelompok itu."


"Ya, itu karena Big Boss menyembunyikan jati dirinya dengan sangat baik. Hanya pada orang-orang tertentu saja beliau mau menunjukkan dirinya."


Aster benar-benar Shock setelah mendengar sebuah fakta mengejutkan yang baru saja diungkapkan secara gamblang oleh pria dihadapannya.


Rasanya dia masih tidak percaya jika ternyata Nathan adalah seorang Boss besar dari sebuah organisasi Mafia yang begitu disegani dan ditakuti.


Dan Aster bingung, harus merasa senang atau justru sedih, di satu sisi dia sangat kagum dengan ayah angkatnya tersebut, namun disisi lain dia merasa kecewa karena Nathan malah menyembunyikan hal sebesar itu darinya.


Aster menggeleng. Dia bisa memikirkan hal ini nanti, karena tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk bertemu dengan pria brengsek yang telah menghancurkan hati sahabatnya, sampai dia masuk rumah sakit karena diare parah.


"Paman, terimakasih informasinya. Tapi maaf, aku masih ada urusan yang sangat penting. Aku harus menemukan orang yang sudah membuat sahabatku masuk rumah sakit. Sampai jumpa lagi." Aster melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.


Antonio mendengus geli. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Aster. Dia memang sangat penasaran dengan putri angkat Big Boss-nya. Seperti yang telah dia dengar, ternyata dia memang gadis yang sangat bar-bar.


.


.


.


BRAKKK...


"ANTONIO!!"

__ADS_1


Suara bantingan pada pintu di susul suara menggelegar seorang perempuan memenuhi seluruh penjuru ruangan. Empat orang yang sedang asik bergulat panas di atas ranjang terkejut bukan main.


Mata Aster membelalak melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, pria itu dalam keadaan bulat tanpa busana.


"Yakk!! Bodoh, pakai bajumu dulu." Teriak Aster dengan posisi memunggungi. "Dan kalian berdua. Keluarlah, aku memiliki urusan dengan bajingan itu."


Aster memberikan kode pada dua pemuda yang datang bersamanya supaya menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Siapa kau, dan apa maumu!"


"Apa yang sudah kau lakukan pada sahabat kami, brengsek?!"


"Apa maksudmu? Dan siapa sahabatmu?"


"Tiffany!!"


"Oh, si bodoh itu?! Jadi kau datang kemari karena ingin membuat perhitungan denganku? Dari pada kau marah-marah, sebaiknya kemari dan temani aku bermain." Pria itu memasang posisi menggoda untuk menarik perhatian Aster.


"Dasar pria tidak tau malu."


Aster naik ke atas tempat tidur dan menendang sosis pria itu dengan keras. Tidak cukup sampai di situ, Aster juga mencekoki pria itu dengan dua mangkuk sambal yang tingkat kepedasannya ada di level 10.


Aster tidak peduli meskipun pria itu sampai terbatuk-batuk dan berkeringat. Aster terus memasukkan sambal itu ke dalam mulutnya dan memaksa pria itu untuk menelannya.


Dan setelah pria itu pingsan. Aster meninggalkannya begitu saja. Dia membiarkan pria itu terkapar di dalam kamar sewaannya.


-


Nathan menatap datar beberapa pria yang tersungkur di bawah kakinya. Mereka adalah orang-orang yang telah menggunakan markasnya yang berada di Busan secara ilegal.


Leon menangkap mereka dalam keadaan hidup-hidup dan menghadapkan pada Nathan.


Nathan menghampiri salah satu dari mereka. Dengan kuat dia mencengkram rahang pria itu, kedua matanya menyipit karena terlalu kuat cengkraman Nathan pada rahangnya.


"Katakan, siapa yang memberi ijin pada kalian untuk menggunakan bangunan milikku tanpa ijin!"


Pria itu menggeleng. "Ti-Tidak ada. Ka-kami pikir tempat itu kosong dan tidak berpenghuni. Makanya kami menempatinya."


"Apa kalian tau apa konsekuensinya?" Ketiga pria itu menggeleng. "Kematian, kalian harus membayarnya sewanya dengan nyawa kalian!!"


Ketiganya menggeleng. Mereka memohon supaya Nathan tidak membunuh mereka. Tapi sayangnya Nathan bukanlah tipe orang yang mudah merubah keputusannya. Karena keputusannya sudah final.


"Habisi mereka semua!!" Nathan memberi kode pada anak buahnya.


Lagi-lagi Nathan tidak menghiraukan teriakan dan permohonan mereka supaya dia tidak membunuh mereka berti--ga. Kemudian dia meninggalkan ruangan diikuti Leon yang mengekor dibelakangnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2