"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Penyelamatan Aster


__ADS_3

Dua buah mobil melaju kencang pada jalanan pegunungan yang legang. Mobil silver itu mencoba menyalip van hitam yang melaju beberapa ratus meter didepannya, tapi mobil lain tiba-tiba datang dan menghalangi mobil tersebut.


Van hitam itu melaju semakin jauh meninggalkan mobil silver yang sedari tadi mencoba mengejarnya. Dan Van itu adalah Van yang membawa Aster.


Mobil Silver itu adalah mobil yang dikemudikan oleh Cris dan rekannya. Dan mereka dalam upaya penyelamatan Aster yang diculik oleh orang tak dikenal.


Diluar dugaan, sebuah mobil sport hitam tiba-tiba muncul dan menghadang Van tersebut, membuat Van itu harus melakukan rem dadakan.


Orang yang duduk dibalik kemudi melepaskan beberapa tembakan pada ban Van tersebut, hingga Van itu tidak bisa kabur kemana-mana.


Seorang pria yang diliputi amarah terlihat turun dari mobil itu dan menembaki dua orang yang menculik Aster dengan brutal. Tubuh kedua pria itu pun langsung tumbang setelah 10 peluru menerjang tubuh mereka.


"Itu adalah harga mahal yang harus kalian bayar karena telah berani menculik gadis kecilku!!"


Nathan menginjak kepala salah seorang dari kedua pria itu dengan kaki kanannya. Darah tampak keluar dari sisi wajahnya karena injakan Nathan.


Pria itu sangat marah karena mereka berani menculik Aster dan menempatkan gadis itu dalam bahaya.


Nathan menyimpan kembali senjatanya lalu menghampiri Aster yang sedang tak sadarkan diri di dalam mobil. Kedua tangannya terikat dan mulutnya tertutup lakban hitam.


"Aster, buka matamu." Pinta Nathan sambil menepuk pipi gadis itu.


Kelopak mata Aster terbuka dengan perlahan. Gadis itu menyapukan pandangannya dan menyernyit heran.


"Paman, kita ada dimana? Dan ini mobil siapa? Kepalaku pusing sekali." Ujar Aster sambil mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah.


"Nanti saja Paman jelaskan. Sebaiknya sekarang kita pergi dulu dari sini." Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya menjauh dari mobil tersebut.


Nathan mendudukkan Aster di samping kursi kemudi. Gadis itu masih tampak linglung karena pengaruh obat bius yang belum sepenuhnya hilang.


"Boss, lalu bagaimana dengan mereka?" Ucap Cris menunjuk dua pria yang sedang terkapar tak sadarkan diri.


"Buang saja mereka semua ke dalam jurang, termasuk kedua mobil itu. Aku tidak ingin ada jejak apapun di tempat ini."


"Baik, Boss." Keduanya mengangguk.


Nathan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa berkata apa-apa, Nathan membawa Aster kedalam pelukannya.


Sungguh ia sangat menyesalkan apa yang terjadi pada gadis dalam pelukannya ini. Jika saja ia lebih berhati-hati. Hal semacam ini pasti tidak akan terjadi dan menimpa Aster.


"Maaf, karena keteledoran-ku, kau berada dalam bahaya. Seharusnya aku bisa lebih menjagamu lagi." Ucap Nathan penuh sesal.


Aster menggeleng. "Tidak, tidak seharusnya Paman meminta maaf. Ini bukan salah Paman, dan aku tidak ingin Paman menyalahkan diri Paman lagi."


Nathan melepaskan pelukannya kemudian mengecup singkat kening Aster. "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?" Tanya Nathan memastikan.

__ADS_1


Aster menggeleng. "Tidak ada, aku baik-baik saja. Paman, bisakah kita jalan sekarang? Kepalaku sangat pusing dan aku ingin segera pulang." Ucap Aster sambil memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah.


"Baiklah,"


Nathan memakaikan sabuk pengaman pada Aster. Dan dalam hitungan detik mobil itu melesat jauh meninggalkan daerah perbukitan.


-


"Tuan, kami kehilangan kontak dengan mereka berdua. Dan dua orang yang kami kirim untuk membantu Jake dan Max juga menghilang tanpa kabar."


"Kami sudah menyisir sekitar bukit dan tidak menemukan apapun, apalagi sesuatu yang ganjil." Lapor seorang pria pada pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Pria tua itu memutar kursinya, posisinya dengan pria itu saling berhadapan. "Lalu bagaimana dengan cucuku?"


"Masih belum ada kepastian lagi, Tuan. Terakhir, Max memberi tau jika dia dan Jack telah berhasil membawa Nona kecil, itupun dua jam yang lalu."


Pria itu menggepal-kan tangannya. "Bocah tengik itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Dia lebih cerdik dari yang aku pikirkan. Segera cari dan temukan mereka dalam keadaan hidup ataupun mati."


"Baik, Tuan."


Sosok Riyana terlihat memasuki ruangan setelah dua pria itu keluar dari dalam sana. Riyana menghampiri sang ayah yang terlihat menyimpan amarah.


"Sebaiknya Ayah jangan remehkan, Nathan Xiao. Dia tidaklah selemah yang Ayah pikirkan!!" Ucap Riyana.


Riyana mendecih kesal. Tanpa sepatah kata pun, Riyana beranjak dari hadapan sang ayah dan pergi begitu saja. Pria tua itu memang sangat menyebalkan, dia tidak pernah menghargai dirinya.


Tak menghiraukan kekesalan putrinya. Jung Hilman segera mengumpulkan orang-orangnya, ia harus mengadakan rapat dengan beberapa orang kepercayaannya.


-


"Nathan, apa yang terjadi pada Aster?" Tanya Nenek Xiao melihat Aster berada dalam dekapan Nathan.


Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, Nenek. Dia hanya kelelahan saja, dia tertidur saat dalam perjalanan pulang." Jawabnya.


"Ya, sudah. Bawa ke kamar dan biarkan dia istirahat." Nathan mengangguk.


Nathan membawa Aster ke dalam kamar, kemudian membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan dan hati-hati. Seakan-akan tubuh Aster adalah benda ringkih yang mudah hancur ketika tidak diperlakukan dengan lembut.


Sebuah kecupan Nathan daratkan pada kening Aster, dan menempelkan bibirnya pada kening gadis itu lumayan lama.


Ada luka memar pada pergelangan tangan dan kakinya. Nathan mengambil kotak obat dan mengeluarkan sebuah salep luka, yang kemudian dia oleskan pada luka memar di pergelangan kaki dan tangan Aster.


Melihat luka itu membuat amarah Nathan kembali memuncak. Dia tidak terima mereka memperlakukan Aster seperti ini.


Nathan tidak akan tinggal dia, dia pasti akan membalas perbuatan mereka 10X lipat lebih kejam dari apa yang telah mereka lakukan pada Aster.

__ADS_1


"Paman," seru Aster menahan lengan Nathan ketika pria itu hendak beranjak dari sampingnya."Paman, mau kemana? Jangan kemana-mana, tetap di sini dan temani aku."


Nathan menurunkan tangan Aster dari lengannya. Lalu jari-jari Nathan menggenggam jari-jari lentik milik Aster. "Tenanglah, Paman tidak akan pergi kemanapun. Paman akan disini bersamamu."


"Paman," rengek Aster. Gadis itu mengangkat wajahnya dan mengunci langsung ke dalam mata Nathan. "Tribal."


Nathan mendengus. Dengan terpaksa dia melepas kemejanya dan meletakkan asal. Menyisah-kan singlet hitam yang melekat pas di tubuh kekarnya. Melihat hal itu membuat Aster langsung histeris kegirangan.


Aster memeluk lengan terbuka Nathan yang dihiasi Tribal Tatto dengan erat. "Nah, sekarang ayo kita tidur. Aku ingin tidur sambil memeluk lengan Paman sepanjang malam." Tuturnya.


"Hn, terserah kau saja."


-


"Kita masih belum tau seberapa besar kekuatan mereka, namun kita tetap tidak boleh lengah. Karena yang kita hadapi kali ini bukanlah seekor cacing kecil, melainkan seekor ular berbisa."


Pria botak itu melempar tatapan kearah Jung Hilman, "Anda benar sekali, Tuan. Awalnya saya pikir seluruh anggota Red Dragon telah binasa, tapi ternyata masih ada satu orang tersisa dan dia adalah putra angkat dari Xiao Murten, Nathan Xiao!!"


"Kenapa kita harus mencemaskan tentang dia? Bukankah dia hanyalah seorang bocah kemarin sore yang tidak berguna sama sekali?!"


"Jangan meremehkan dia!!" Riyana tiba-tiba datang dan menyela perkataan pria yang duduk disamping kanan ayahnya.


"Nona Jung?"


"Ya, awalnya dia hanyalah sebuah batu krikil yang sangat tidak berguna. Tapi sekarang batu kecil itu berubah menjadi batu besar penghalang semua rencana kita."


"Selama masih ada penerus Red Dragon utama, maka akan semakin sulit untuk keberhasilan rencana kita bukan?Jadi kesalahan siapa anak Red Dragon itu masih hidup?" Tambah Riyana seraya menatap Jung Hilman meremehkan.


Hilma terdiam. Wanita itu benar-benar membuatnya naik darah. Tapi dia mencoba untuk menahan amarahnya.


"Riyana Jung, hentikan memotong perkataan orang-orang ayah." Titah Hilman, mengisyaratkan mereka kembali ke materi.


"Aku hanya bisa memberikan saran kecil untuk kalian. Kita hanya perlu menggunakan kelemahan Nathan Xiao dan mematahkan perlawanan mereka selama-lamanya." Ujar Riyana.


"Dan kelemahanya, ada pada cucu kandungku sendiri. Bagus, itu akan lebih memudahkan kita untuk menghancurkannya. Dan aku ingin perhatian ekstra gerakan sekecil apapun dari Nathan Xiao, karena kini ia bisa menjadi ancaman serius."


Semua yang berada diruang rapat mengangguk setuju. Tatapan buas terlihat jelas di wajah Riyana.


ini akan semakin menarik jika aku bisa mendapatkan Aster. Maka seluruh kekayaan keluarga Jung akan jatuh ke tanganku, dan dengan begitu aku bisa menyingkirkan tua Bangka ini!!"


Tanpa mengatakan apa-apa. Riyana berjalan meninggalkan ruang rapat. Dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2