"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Lebih Terluka


__ADS_3

Nathan menghampiri Aster yang sedang duduk termenung di balkon kamar mereka. Wanita itu hanya menatap kosong ke depan, bahkan dia tidak merespon sedikit pun meskipun dia menyadari kedatangan suaminya.


Aster mengangkat wajahnya saat merasakan sepasang tangan yang memeluk lehernya dari belakang. "Paman, kau sudah pulang?"


"Apa yang kau lakukan di sini? Masuklah, udara di sini sangat dingin."


Aster menggeleng. "Tidak, Paman. Aku masih belum mengantuk. Paman sudah makan? Perlu aku siapkan makan malam untuk Paman?"


"Paman sudah makan. Ayo masuk, kau bisa sakit jika terlalu lama berada di sini. Udara di sini semakin dingin,"


Aster menepis tangan Nathan dari bahunya dan menggeleng. "Nanti saja Paman, aku masih ingin di sini." Ucapnya datar. Pandangannya tetap lurus pada langit malam yang gelap seperti lubang hitam.


Nathan mendesah berat. "Sampai kapan kau akan bersikap keras kepala, Aster Xiao!! Berhenti menguji kesabaranku!! Kau pikir hanya kau saja yang hancur dan kehilangan?"


"Aku adalah ayahnya, aku juga hancur. Tapi aku tidak sepertimu!! Kehilangan janin bukanlah akhir dari segalanya."


"Kau masih muda, kau bisa hamil lagi. Bangkit Aster, bangkit!! Kau tau? Melihatmu seperti ini membuatku semakin hancur." Air mata Nathan mengalir dari sudut matanya.


Nathan melepaskan cengkeramannya dari bahu Aster. Ia beranjak dan pergi begitu saja. Dan yang selanjutnya terdengar adalah suara bantingan pada pintu.


Air mata yang tak sanggup dibendung itu perlahan jatuh bercucuran. Mengalir mengikuti lekuk wajah tirus Aster.


Isak tangis menjadi melodi yang menamatkan lembaran malam penuh kejutan dan kepedihan itu bersama dengan alunan simfoni serangga malam yang bersahutan.


Aster mencengkram dadanya yang terasa sesak. Hatinya rasanya seperti dicabik-cabik. Dia memang hancur, tapi ada orang lain yang lebih hancur dari pada dirinya. Dan orang itu adalah Nathan.


"Ya, Tuhan!! Apa yang sudah aku lakukan selama ini?" Ujar Aster menggumam.


Aster menyeka air matanya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan bergegas keluar untuk mencari Nathan. Dia harus meminta maaf padanya. Tanpa sadar Aster telah menyakiti perasaan Nathan.


Namun setibanya di luar kamar. Aster tidak menemukan Nathan dimana pun, di ruang kerjanya, di ruang tamu, di ruang baca, sampai taman belakang di mansion mewah itu pun telah ia periksa. Tapi tetap saja dia tidak menemukan keberadaan Nathan. Dan hal itu membuat frustasi.


"Mini bar," seru Aster seolah menyadari sesuatu.

__ADS_1


Aster bergegas menuju mini bar yang terletak di lantai tiga, Aster memilih menggunakan lift untuk bisa tiba di sana.


Entah kenapa Aster memiliki keyakinan jika saat ini Nathan sedang berada di sana. Karena memang tempat itulah yang paling sering Nathan datangi ketika dia sedang memiliki banyak masalah, dan ingin menenangkan pikirannya.


-


Seorang pria duduk di sebuah mini bar yang berada di sebuah rumah bergaya minimalis namun cukup luas. Dia terlihat sangat kacau dan berantakan. Sudah tujuh gelas wine yang dia habiskan guna menjernihkan pikirannya.


Kemeja hitam yang dia pakai tidak Serapi sebelumnya. Rambut blondenya berantakan dan sedikit acak-acakan. Aroma menyengat yang begitu khas menguar dari dalam mulutnya ketika dia menghela nafas.


Cklekk...


Ketenangannya sedikit terusik oleh suara decitan pada pintu. Dia menoleh dan hanya menatap datar pada sosok wanita yang berjalan menghampirinya sambil berlinang air mata.


Pria itu tak peduli dan menghiraukannya. Dia menuang kembali cairan putih itu ke dalam gelasnya yang telah kosong. Baru saja hendak meneguk cairan bening itu. Sebuah tangan lebih dulu menghentikannya.


"Paman, cukup. Jangan minum lagi!!" Pintanya memohon.


Pria itu 'Nathan' menyentak tangan Aster dan menatapnya tajam. "Memangnya apa pedulimu?! Lepaskan dan jangan menghalangiku untuk minum!!" Pintanya dingin.


Hatinya sesak melihat cairan bening itu membasahi wajah cantik istrinya. Nathan beranjak dari duduknya kemudian membantu Aster untuk berdiri.


"Jangan menangis." Pinta Nathan sambil menyeka air mata di pipi Aster.


Aster menurunkan tangan Nathan dari wajahnya kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya. Dalam pelukan Nathan tangis Aster semakin pecah, wanita itu menangis sejadi-jadinya.


Nathan mengangkat wajahnya guna menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuknya. Dia tidak sanggup melihat air mata Aster, hatinya terlalu sesak melihat air mata wanita itu. Sesungguhnya, air mata Aster adalah kelemahannya.


Nathan melonggarkan pelukannya dan menatap Aster dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Kedua tangannya membingkai wajah cantik wanita itu.


"Sebaiknya kita lupakan semua yang telah terjadi. Anggap musibah itu sebagai mimpi buruk. Dia pasti akan kembali kepada kita, jika Tuhan memang mengijinkannya."


Aster menatap Nathan dengan penuh kesedihan."Paman, maaf karena aku tidak bisa menjaga buah cinta kita. Aku benar-benar tidak becus sebagai seorang ibu. Aku sungguh-sungguh menyesal karena tidak bisa menjaganya dengan baik."

__ADS_1


Nathan menggeleng. Meyakinkan pada Aster jika itu bukanlah kesalahannya. "Tidak, Sayang. Itu bukan salahmu, tapi sudah menjadi takdir Tuhan. Kita hanya pion, dan Tuhan yang menentukan segalanya."


"Paman, tidak marah kan?"


"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku bisa marah padamu."


"Paman kau bau, sebaiknya Paman mandi dulu, dan setelah ini temani aku makan. Aku sangat lapar. Sejak pagi aku belum makan sama sekali."


Nathan mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Aster. "Dasar bandel." Aster terkekeh sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Nathan. "Ayo kembali ke kamar." Aster mengangguk. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan mini bar.


.


.


.


"Paman, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu." Seru Aster ketika melihat Nathan keluar dari kamar mandi.


Aster menunjuk kemeja dan celana yang ada di atas tempat tidur. Sebuah kemeja lengan terbuka dan celana jeans hitam. Nathan mendengus berat.


Tanpa berkata apa-apa, Nathan mengambil kemeja itu lalu memakainya sebagai lua`0@ ran kaos singletnya. "Wow, lihatlah Paman. Betapa sangat tampannya dirimu, apalagi semenjak kau merubah model dan warna rambutmu. Aku sangat menyukainya."


Nathan menyentil kening Aster. Sebelah tangannya menarik tengkuk Aster dan sebuah ciuman mendarah mulus pada bibir ranum tipisnya.


Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, kedua matanya perlahan terpejam ketika ia merasakan pagutan-pagutan lembut pada bibirnya. Sadar Aster membalas ciumannya, Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan Aster di atas pangkuannya.


Kedua tangan Nathan memeluk pinggang ramping Aster. Des*han keluar dari bibir wanita itu ketika Nathan semakin memperdalam ciumannya. Ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Aster mend*sah untuk yang kesekian kalinya. Sebelah tangan Nathan menekan tengkuk Aster, agar ciuman mereka tidak mudah terlepas. Namun sayangnya ciuman itu tidak berlanjut ke tahap yang lebih dalam. Nathan memutuskan mengakhiri ciuman mereka.


"Kau bilang lapar. Ayo kita keluar, aku akan menemanimu makan di luar."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2