"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Semakin M*sum


__ADS_3

Nathan hanya menatap datar beberapa mayat yang bergelimpangan di tanah dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Ada yang lehernya nyaris putus, ada yang kepalanya pecah dan terbelah menjadi dua.


Tidak ada satupun dari mereka yang Nathan biarkan tetap hidup.


Nathan membuang kapak di tangannya ke dalam jurang untuk menghilangkan jejak, lalu menyeka darah yang ada di bawah mata kirinya.


Mereka adalah para pembegal yang mencoba mencari masalah dengannya, dan bukannya harta Nathan yang mereka dapatkan, yang mereka dapatkan justru adalah kematian.


Nathan meninggalkan mayat-mayat itu dan kembali ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat ia membantai orang-orang itu.


"Wait, and stop there!!"


Mau tak mau Nathan menghentikan langkahnya. Dengan enggan ia menoleh dan menatap datar beberapa pria yang kini berjalan menghampirinya dalam keadaan bersenjata lengkap.


Dan Nathan berani bersumpah jika mereka adalah rekan-rekan para pembegal itu. Mereka semua bersenjata dan mereka terlihat sangat mengerikan dengan Tatto yang menghiasi hampir di seluruh tubuh mereka.


"Life, must be paid with life!!"


"Then, go ahead all of you!!" Seru Nathan dengan nada menantang.


Mereka pun maju seperti permintaan Nathan dan menyerangnya secara bersamaan. Perkelahian berjalan dengan sangat tak seimbang. Nathan yang hanya seorang diri dikeroyok sedikitnya 7 orang bersenjata.


Namun ketakutan tak terlihat sedikit pun pada raut wajahnya. Nathan terlihat begitu tenang meskipun yang dia hadapi adalah lawan yang cukup berat.


Nathan mengeluarkan senjata yang terselip di pinggangnya. Sedikitnya empat tembakan dia lepaskan pada dua orang yang bergerak kearahnya.


Nathan membungkuk ketika serangan secara bersamaan dari arah depan dan belakang. Akibatnya senjata di tangan masing-masing malah mengenai rekannya. Salah satu diantara mereka meregang nyawa setelah samurai panjang itu membelah kepalanya.


Tiga telah berhasil di singkirkan dan hanya tersisa dua lagi. Dan dua orang yang tersisa tampak ragu-ragu untuk menyerang Nathan. Mereka saling bertukar pandang dan akhirnya memutuskan untuk mundur, sebelum mereka sama-sama meregang nyawa ditangan Nathan.


"Cih, dasar bandit-bandit tak berotak!!" Sinis Nathan sambil menatap datar mayat-mayat itu.


Nathan melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobilnya. Dalam hitungan detik. Mobil mewah yang Nathan kemudikan melenggang jauh meninggalkan jalan pegunungan.


-


"KYYYAA!! AKU MENANG LAGI!!"


Kehebohan terlihat si salah satu ruangan di sebuah Villa yang berdiri kokoh di tengah sebuah tanah yang memiliki luas hampir 10 hektar.


Villa itu di kelilingi bukit berbunga dan tepat di belakang Villa tersebut terdapat sebuah danau yang sangat cantik dan airnya sangat jernih.

__ADS_1


"Miss K, kau kalah lagi. Dan kau harus menerima hukumannya, oke!!"


"Cantik, semoga hukuman kali ini tidak menyusahkan ku lagi. Aku lelah jika harus bolak-balik Sydney Indo dalam waktu 5 menit."


Aster terkekeh. "Ternyata Hantu bisa lelah juga ya? Aku baru tau. Baiklah, hukumannya adalah, kau harus menari balet sambil berputar 90°,"


Suketi pun segera berdiri dan menjalankan hukumannya itu. Hantu narsis itu menari balet namun berkali-kali terjatuh nyaris terjungkal karena gaun putihnya yang terlalu panjang.


Bukannya merasa takut. Kehadiran si Miss K justru menjadi hiburan tersendiri bagi Aster. Apalagi dia yang hanya sendiri dan tidak berteman seperti ini. Miss K benar-benar banyak membantu, dan inikah uniknya persahabatan dua dunia.


"Aduh, kepala Suketi pusing. Aduh, Suketi mau pingsan dulu."


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Aster. Buru-buru dia membangunkan si Suketi sebelum Nathan masuk dan pingsan karena teman hantunya itu.


"Suketi bangun, pingsannya di tunda dulu, oke. Suamiku pulang, Paman Nathan bisa pingsan kalau melihatmu."


"Tapi kepala Suketi masih pusing, dan Suketi masih belum puas pingsannya."


"Dasar hantu gila, cepat bangun dan lanjut nanti lagi pingsannya, oke!!" Aster mendorong tubuh Suketi sebelum akhirnya hantu narsis itu pun menghilang.


Aster merapikan semua monopoli dan kartu-kartu yang berserakan di lantai. Ia segera melompat keatas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal sampai sebatas lehernya.


Wanita itu buru-buru menutup matanya ketika mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Dan tanpa melihat pun dia tau jika itu adalah Nathan.


"Maaf, aku jadi memabangunkan mu."


Aster menggeleng. "Eo, Paman, apa yang terjadi? Kenapa ada luka memanjang di bawah mata kiri mu? Bajumu juga kotor, apakah ini darah?" Tanya Aster memastikan.


Nathan menggenggam tangan Aster. Dengan lembut dia menolak ketika Aster hendak memeriksa pakaiannya. "Paman mandi dulu." Kemudian Nathan bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan Aster.


Aster mendesah berat. Kali ini dia tidak tau apa yang terjadi pada suaminya itu, dan Kenapa Nathan bisa sampai terluka kemudian pakaiannya penuh dengan noda darah. Mungkinkah pria itu terlibat perkelahaian lagi?Aster tak yakin.


Cklekk...


Aster menoleh, sosok Nathan keluar dari dalam sana dengan balutan handuk piama. Nathan tak mengatakan apapun, dia mengeluarkan celana panjang dan kaos putih polos tanpa lengan.


Setelah berpakaian lengkap, Nathan menghampiri Aster kemudian berbaring di sampingnya.


Aster mengambil plaster yang sudah dia persiapkan di atas meja kemudian menempelkan pada bawah mata kiri Nathan yang terluka.


"Tidurlah lagi, ini masih malam. Paman juga sangat lelah dan ingin segera tidur."

__ADS_1


"Paman tidur dulu saja, aku masih belum ngantuk." Kemudian Aster turun dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon.


.


.


.


Malam ini langit begitu cerah. Bulan tersenyum pada bumi dengan lebarnya. Manik-manik langit berhamburan memainkan sinarnya. Semilir angin malam yang berhembus damai menggoyangkan helaian panjangnya yang terurai.


Aster menutup kedua matanya sambil tersenyum tipis. Sejuknya semilir angin menyentuh kulit terbukanya.


Ini adalah malam kedua dia ada di Sidney. Dan Aster sangat menikmati perjalanannya. Terlebih lagi banyak waktu berharga yang ia habiskan bersama Nathan.


Pukkk!!


Aster sedikit terlonjak ketika merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas pundaknya. Wanita itu tersenyum lebar, sepasang tangan memeluknya dengan erat.


"Bukankah Paman lelah, kenapa malah menyusulku kemari?"


"Bagaimana mungkin Paman bisa tidur sedangkan kau saja masih berdiri di sini." Jawab Nathan sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku belum mengantuk, Paman. Dan aku tidak bisa melewatkan malam seindah ini. Lihatlah bintang-bintang itu, sangat cantik bukan?" Nathan mengangguk.


Aster mengangkat wajahnya dan mencium singkat bibir Nathan. "Bagaimana kalau malam ini kita habiskan untuk saling menghangatkan?"


"Bukankah kemarin kita baru melakukannya? Lagipula kau masih dalam keadaan yang kurang sehat, lain kali saja."


Aster memanyunkan bibirnya. "Aku sudah sehat Paman!! Dan aku tidak sakit lagi, lihatlah,bahkan demamku sudah turun."


Nathan menjitkak kepala Aster dengan gemas."Kenapa semakin hari otakmu semakin mesum saja, hm?" Alih-alih marah, Aster malah terkekeh. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya dan kemudian mencium bibir Nathan.


Hanya pria tidak normal yang tidak tergugah dengan apa yang Aster lakukan. Nathan menerima ciuman Aster dengan baik. Bibirnya bergerak untuk mencium dan mel*mat bibir ranum milik Aster.


Des*han dan erangan yang berkali-kali lolos dari bibir Aster semakin membakar gairah dalam diri Nathan untuk mendapatkan lebih dari sekedar berciuman.


Aster menarik dirinya dan menatap Nathan dengan seringai penuh kemenangan. "Paman terangsang eh?" Ucapnya setengah menggoda.


Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan menbawanya kembali ke kamar. "Kau sendiri yang memintanya, Nona kecil. Jadi jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa berhenti."


Lagi-lagi seringai penuh kemenangan tercetak di bibir Aster. "Memang itu yang aku harapan." Ucapnya lalu kembali mel*mat bibir Nathan.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2