"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Karma Untuk Maya


__ADS_3

Aster menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Nathan yang tersembunyi di balik pakaiannya. Sebelah tangannya meraba dada bidang yang tersembunyi di balik singlet putihnya. Menikmati setiap tekstur ototnya yang kuat.


"Tidurlah." Pinta Nathan sambil sesekali mengecup keningnya.


"Tapi, Paman."


"Aku akan menjagamu sampai kau tertidur."


Nathan semakin mendekatkan tubuhnya pada Aster untuk melakukan apa yang tadi ia katakan. Menjaga Aster. Merasakan tubuh Nathan sedekat ini membuat Aster merasakan kehangatan.


Tenang, itulah yang Aster rasakan. Dia selalu merasakan kehangatan setiap kali merasakan dekapan Nathan. Aster mengangkat wajahnya dan matanya bersirobok dengan sepasang mutiara milik Nathan.


"Tidurlah," pinta Nathan lalu menenggelamkan kembali wajah Aster pada dadanya.


Nathan memerhatikan wajah Aster yang matanya sudah terpejam. Kelopak matanya bergerak-gerak. Sebenarnya Aster masih belum mengantuk, namun dia tidak ingin Nathan mengomelinya.


Aster membuka kembali kedua matanya, dan langsung mendapati Nathan yang tengah menatapnya balik. Mereka saling diam dalam keheningan.


Aster mengulurkan tangannya lalu disentuhkan pada pipi tirus Nathan dengan lembut. Nathan memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut Aster pada pipinya. Nathan menggenggam telapak tangan Aster yang memegang pipinya.


"Paman ... aku belum mau tidur," kata Aster setengah merengek.


Ia menarik tangannya. Nathan membuka kedua matanya dan menatap Aster yang juga menatap padanya dengan tatapan bertanya."Kenapa?" Tanya Nathan.


"Aku masih sangat merindukanmu,"


Nathan mengangkat dagu Aster kemudian mengecup singkat bibir wanita itu. "Baiklah, lalu kau ingin bagaimana?"


Aster mendekatkan wajahnya ke arah Nathan sambil menunjuk bibirnya. "Cium aku sekarang. Aku tidak ingin bibirku dianggurkan lagi." Ucapnya.


Nathan menangkup wajah Aster dan menyatukan bibir mereka. Mel*matnya dan memperdalam dengan menekan tengkuk Aster. Kedua tangan Aster mengalung pada leher Nathan ketika pria itu memperdalam ciumannya.


"Aku mencintaimu." Nathan berbisik dan Ia kembali mel*mat bibir Aster dalam.


Dewi batinnya kembali bersalto riang di dalam sana, sedangkan hatinya kini menghangat karena ucapan Nathan barusan. Bunga-bunga, kupu-kupu, matahari dan juga pelangi menghiasi hatinya saat ini. Hatinya benar-benar sedang di lingkupi musim semi!


"Aku juga mencintaimu, Paman. Sangat-sangat mencintaimu." Aster berbisik di depan bibirnya saat ciuman diantara kami telah berakhir.


-


"Aster, Pagi."


Jordan menyapa Aster saat mereka berdua berada di parkiran. Beberapa wanita yang ada di sana menatap kearah Jordan yang pada hari ini berbalut kemeja berwarna abu-abu muda yang pas di badannya dengan tatapan lapar.


"Pagi juga Senior." Aster tersenyum paksa padanya dan ia dapat merasakan atmosfer di sekitarnya mendingin karena tatapan menusuk para mahasiswi padanya. 


Aster mendecih sebal. Mereka pikir dia adalah wanita ganjen yang muda tertarik dan jatuh cinta pada pria tampan.


Melihat tatapan mereka membuat Aster merasa risih, dia sungguh tidak nyaman. Tanpa menghiraukan Jordan, Aster pergi begitu saja. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan pria itu.

__ADS_1


.


.


.


"ASTER!!!"


Tubuh Aster terhuyung karena ulah Tiffany dan sikembar yang langsung menerjang tubuhnya. Tubuh wanita itu terhuyung karena pelukan ketiga sahabatnya tersebut.


"Aster, kami sangat merindukanmu. Dan kami senang karena akhirnya kau kembali."


Aster meringis karena pelukan Tiffany yang sangat erat. "Uhhh, kau membuatku tidak bisa bernapas." Aster berusaha melepaskan pelukan Tiffany yang serasa mencekik itu.


Ini adalah hari pertama Aster menginjakkan kakinya kembali di kampus setelah insiden yang dia alami 1,5 bulan yang lalu. Selama satu bulan lebih Aster menutup dirinya dari semua orang termasuk Nathan. Dia terlalu meratapi kesedihannya atas kepergian janin di dalam perutnya.


Rasanya terlalu menyakitkan untuk bisa dia terima, Aster sungguh tidak siap kehilangan calon bayinya, anak yang begitu dia inginkan dan dia impikan begitu singkat hidup di dalam perutnya.


"Kami senang karena akhirnya kau kembali. Kau tau bagaimana cemas dan khawatirnya kami selama satu setengah bulan ini. Dan kampus ini terasa sepi tanpa adanya dirimu."


"Bahkan aku tidak pernah makan siang lagi karena tidak ada yang mengajakku."


"Bohong!!" Benno menyela ucapan saudara kembarnya. "Jangan percaya. Bahkan si gendut ini bisa menghabiskan 3 porsi ramen ukuran jumbo, dan hebatnya lagi, dia melakukannya sambil menangis sesengukan."


Benny menggeleng. "Itu tidak benar. Kau jangan percaya pada Benno, dan aku memang makan ramen, tapi hanya satu porsi saja. Itu juga karena aku kelaparan."


Mendengar perdebatan sepasang saudara kembar itu membuat Aster terkekeh geli. Dan memang begitulah mereka. Selalu saja ada yang mereka perdebatkan setiap harinya.


"Itu masalah yang sepele. Kau tidak perlu mencemaskan tentang hal itu."


"Kalian memang sahabatku yang terbaik. Sayang kalian banyak-banyak."


"Kami juga."


-


Tubuh Maya meringkuk di dalam sebuah ruangan yang memiliki lebar 3×3dan panjang 3/3. Sekujur tubuhnya penuh luka, baik itu bekas cambukan ataupun sulutan rokok.


Tubuhnya kurus kering dan kepalanya botak. Dia kehilangan 4 gigi depannya dan luka bakar pada sisi wajah kanannya.


Maya mendapatkan siksaan fisik dan mental secara terus menerus setiap harinya dari anak buah Nathan yang bekerja di bawah pengawasan Leon dan Tao. Bukan hanya menyiksa tubuhnya, mereka juga memakainya secara bergiliran.


Nathan tidak bisa mengampuni Maya setelah apa yang dia perbuat pada Aster dan janin di dalam perutnya. Nathan yang gelap mata menyiksa Maya secara brutal, setelah sebelumnya di tenggelamkan di dalam aquarium tempat dia menenggelamkan Aster.


"Uhhhh..." Rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibirnya yang pucat ketika segelas air menghantam wajahnya.


Mata mengangkat wajahnya dan menatap tajam dua pria yang berdiri dihadapannya. Dua pria itu tampak menjilat bibirnya sendiri sambil menyeringai liar.


"Sudah dua hari kau tidak memuaskan kami. Sudah saatnya hari ini kau menjadi boneka Lolita kami lagi."

__ADS_1


Maya menggeleng. Dia ingin sekali berteriak dan mengatakan "Jangan coba-coba mendekat!!" Namun tidak bisa. Lidahnya terlalu keluh dan suaranya tidak mau keluar. Dia terlalu lemah untuk memberontak sekarang.


Salah seorang dari kedua pria itu telah melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Dengan kasar ia merobek pakaian Maya, matanya menatap Maya dengan liar ketika melihat sepasang bukit kembar milik wanita itu telah terpampang di depan matanya.


"Aaaahhhh!!" Dan Maya menjerit histeris saat sebuah sosis berurat berukuran jumbo menghujam dan menembus Miss-nya.


Dia merasakan sakit namun juga nikmat secara bersamaan. Antara menikmati dan mengutuk apa yang tengah pria itu lakukan padanya. Maya ingin berteriak dan memaki pria itu, namun yang keluar dari bibirnya malah sebuah *******.


Tak ingin kalah dari temannya. Sedangkan pria satu lagi memilih bagian atas tubuh Maya. Dia mel*mat bibirnya sambil meremas pay*dar*nya. Maya kini di kuasai dua orang sekaligus.


Setitik kristal bening mengalir dari sudut matanya. Yang kemudian membasahi wajahnya. Dalam hati lirih dia memanggil Ella.


"Ibu, di mana kau. Selamatkan aku." Mungkin sangat keterlaluan, tapi itulah karma, dan harga mahal yang harus dia bayar atas semua perbuatannya pada Aster.


-


Sebuah Bugatti La Voiture Noire berhenti di parkiran YS University. Seorang pria yang memakai kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai siku, Vest abu-abu dan celana bahan yang senada dengan warna Vest-nya, keluar dari dalam mobil tersebut.


Kedatangannya di sana mengundang perhatian banyak mata. Beberapa mahasiswi sampai menghentikan langkahnya hanya untuk melihat sang Adonis.


Pria itu menyapukan pandangannya. Setelah menutup kembali pintu mobilnya. Ia berjalan meninggalkan parkiran, meninggalkan beberapa mahasiswi yang langsung memegangi dadanya dengan eskpresi seolah sebuah panah asmara baru saja menghujam jantungnya.


"Tuan Xiao?!" Langkah kakinya terhenti ketika seorang dosen menyapanya.


Pria itu yang pastinya adalah Nathan membuka kaca mata hitamnya. "Apakah Anda masih mengingat saya? Saya adalah mantan karyawan Anda. Saya mengundurkan diri karena ingin mewujudkan cita-cita mendiang Ibu saya."


Nathan mengangguk. "Ya, aku mengingatmu. Jadi di sini kau bekerja sekarang?"


"Benar, Tuan. Saya senang sekali bisa bertemu kembali dengan Anda."


"Tidak enak mengobrol di sini. Bagaimana kalau kita ke kantin saja. Aku rasa di saja suasananya lebih mendukung."


"Saya rasa itu bukan ide yang buruk, Tuan." Pria itu menerima usulan Nathan. Dan pria berbeda usia itu terlihat berjalan beriringan menuju kantin.


-


Aster dan Tiffany memicingkan matanya melihat kantin yang tampak begitu ramai oleh para mahasiswi, baik itu para senior maupun junior mereka. Dan pemandangan semacam ini tentu sangatlah langkah.


Penasaran apa yang yang menjadi alasan sampai-sampai mereka berbondong-bondong berkumpul di sana. Aster dan Tiffany memutuskan untuk mendekat dan melihatnya dari dekat


Kedua mata Aster sontak membelalak melihat sosok tampan yang sangat dia kenal tengah berbincang dengan salah satu dosennya. Dan sekarang dia mengerti kenapa mereka sampai berkerumun seperti itu.


Aster memiliki ide, dia akan memberikan sebuah kejutan pada mereka semua yang pasti akan membuat mereka pingsan dan terkejut seketika. Aster merapikan penampilannya yang sedikit berantakan dan berseru keras.


"Yakk!!! Kalian semua berhenti mengerubungi ayah angkatku, berhentilah bersikap murahan dan menjijikkan!! Kalian semua menyebalkan, kampungan, seperti tidak pernah pernah melihat orang tampan saja!!"


Sontak saja semua orang yang ada di kantin itu menoleh pada sumber suara. Dengan kompak mereka memekik kencang...


"Aster Xiao!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2