"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 13)


__ADS_3

Setelah mengantarkan putrinya pergi ke sekolah, disinilah ia berada sekarang. Di depan sebuah bangunan empat lantai yang cukup besar dengan tulisan 'Aster's Boutique' di atasnya.


Bangunan dengan dinding depan lantai pertama yang terbuat dari kaca transparan, membuat orang-orang bisa melihat beberapa mannequin yang memakai busana karya perancang cantik ini.


Aster melangkah masuk ke dalam butik itu, dengan tangan kanan yang membawa cheese cake yang tadi dibelinya saat mampir ke toko kue dalam perjalanan kesini.


Aster memberikan cake itu pada beberapa karyawan yang bekerja di boutique nya. Dan hanya tersisa satu cake di tangannya, dan itu untuk Amy.


"Maaf, aku datang terlambat. Bagaimana boutique pagi ini? Apa seramai biasanya?" Tanya Aster sambil meletakkan cake itu di meja kerja Amy.


Amy menggeleng. "Seperti yang kau lihat di luar. Memangnya sejak kapan boutique kita ini sepi pelanggan? Tapi tumben kau terlambat hari ini? Biasanya kau yang datang paling pagi." Amy menatap Aster penasaran.


Aster menghela napas. "Aku harus mengantar putriku terlebih dulu. Kedua pamannya tidak bisa mengantarkannya karena ada urusan di luar kota, sedangkan dia dan Daddy-nya beda tujuan. Sopir kami sedang ijin sakit. Jadi aku sendiri yang mengantarnya ke sekolah." Jelas Aster panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan si bungsu? Kenapa kau tidak mengajak, Rey? Padahal aku sangat merindukannya." Tutur Amy.


"Aku menitipkannya di rumah adik iparku. Kau tau sendiri bukan, bagaimana ribetnya aku jika Rey sampai ikut."


Amy mengangguk. "Benar juga. Memang lebih baik jika dia tidak ikut." Ucapnya.


"Nah itu kau tau. Sebaiknya makan dulu cake nya. Aku ke ruanganku dulu." Amy mengangguk. Aster beranjak dari ruangan sahabatnya dan pergi begitu saja.


Ruangan Aster dan Amy memang terpisah. Alasannya karena mereka membutuhkan privasi dan kenyamanan. Karena akan sangat tidak nyaman jika bekerja di dalam satu ruangan, sementara bidang mereka berbeda.


Meskipun mereka sama-sama seorang desainer. Aster adalah desainer pakaian, sedangkan Amy desainer perhiasan.


"Bagaimana hasil penjualan bulan ini?"


Suasana di dalam ruangan itu cukup tenang. Mereka terlihat lebih relaks dan lebih santai dari biasanya. Mungkin karena pembahasan mereka kali ini yang lebih ringan daripada meeting yang sudah-sudah.

__ADS_1


"Bulan ini penjualan mengalami pelonjakan hingga 30% Presdir. Dan kita menerima permintaan dari America, Dubai dan Inggris. Mereka ingin memesan dalam jumlah besar, dengan harga di atas rata-rata."


"Bagus sekali. Dan bulan ini aku akan memberikan bonus lebih pada kalian semua, sebagai penghargaan atas kerja keras kalian selama satu bulan ini. Dan rapat kita akhiri sampai di sini dulu."


Satu persatu peserta meeting meninggalkan ruangan. Menyisakan dua pria yang masih bertahan di sana. "Bos, sepertinya kita akan mendapatkan masalah besar. Dia kembali, Bos. Pria itu sudah kembali!!"


Gerakan tangan Nathan terhenti. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap Leon dengan sebelah alis terangkat naik. "Siapa?" Tanya Nathan penasaran.


"James Kwok!!"


Mendengar nama tak asing itu disebutkan oleh Leon, membuat Nathan terdiam. James Kwok, nama yang tentu saja tidak asing baginya. Nama yang sudah lebih dari 20 tahun tidak pernah dia dengar lagi.


James Kwok sendiri adalah mantan anak buah Nathan yang sempat menghilang. Di duga dia melarikan diri karena tidak ingin mati mengenaskan di tangan mantan bos nya tersebut.


James berkhianat pada Nathan dengan menjual data-data penting tentang bisnis terlarangnya. Akibatnya, Nathan mengalami kerugian hingga milyaran won. James melarikan diri, sementara keluarganya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Bagaimana jika dia kembali untuk balas dendam padamu, Bos? Dia pasti tidak terima karena kau membunuh keluarganya!!"


"Bukan aku yang salah. Tapi dia sendiri, jika saja dia tidak kabur dan melarikan diri, pasti keluarganya tidak akan menjadi korban."


"Iya juga sih. Tapi, Bos. Tetap saja kau harus lebih waspada. Bagaimana jika dia membalas mu melalui anak-anak dan Nyonya, jika dia tau mereka adalah kelemahan mu, maka akan berbahaya untuk mereka bertiga."


Tatapan Nathan dan sorot matanya berubah tajam."Jika dia sampai berani menyentuh Aster dan anak-anakku. Maka dia akan merasakan akibatnya!!" Melihat sorot mata dan tatapan Nathan yang terlewat tajam membuat Leon merinding sendiri.


Meskipun Nathan telah kehilangan satu matanya. Tapi satu mata saja lebih dari cukup untuk membuat orang lain kalang kabut dan ketakutan. Leon salah satunya, dia sampai berkeringat dingin melihat tatapan dan seringai tajam Nathan.


"Hehehe. Tapi Bos, bisa tidak, kau tidak usah menyeringai seperti itu. Itu membuatku merinding."


Nathan mendengus berat. "Jangan banyak bicara, sebaiknya kembali bekerja. Atau kau ingin gaji bulan ini aku potong lagi?!"

__ADS_1


Leon menggeleng. "Jangan Bos, baiklah aku akan bekerja dengan sangat giat mulai hari ini, janji." Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Bahkan dia mengabaikan teriakan keras Leon.


"### Bos, tunggu!!"


Perhatian Aster sedikit teralihkan oleh suara dering pada ponselnya. Wanita itu meletakkan pensilnya kemudian meraih benda tipis di samping laptopnya. Dia tidak mau membuat Nathan menunggu terlalu lama.


"Ada apa, Paman? Tumben kau menghubungiku jam segini?" Beginilah Aster, jika tidak ada orang pasti dia akan memanggil Nathan dengan sebutan paman.


"Kita makan siang bersama. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju boutique mu."


Lalu pandangan Aster bergulir pada jam yang menggantung di dinding. Karena terlalu sibuk bekerja, sampai-sampai dia tidak sadar jika sekarang sudah pukul 12 kurang 20 menit. Pantas saja perutnya sudah keroncongan.


"Baiklah, aku tunggu, Paman." Aster memutuskan sambungan telfonnya lalu meletakkan benda tipis itu di atas meja.


Dia harus bersiap-siap sebelum Nathan datang. Suaminya itu adalah tipe orang yang paling benci namanya menunggu, itulah kenapa Aster tidak ingin membuat dia sampai menunggu.


"Aku ada janji makan di luar dengan suamiku. Sebaiknya kau tidak lupa untuk makan siang, jika malas keluar, pesan langsung saja biar diantarkan kemari." Sebelum pergi, Aster berpamitan dulu pada Amy. Dia pasti akan mencarinya jika Aster pergi tiba-tiba.


"Aku tau, kau tidak perlu mengingatkanku lagi. Ya sudah, cepat pergi sana. Pasti suamimu sudah menunggu."


Aster mengangguk. "Aku pergi dulu."


Aster tiba di luar tepat waktu. Baru saja dia menginjakkan kakinya di teras boutique, Nathan sudah tiba. Setelah membuka kan pintu untuk Aster, mobil itu langsung melesat pergi. Mereka menuju restoran milik Dio.


Aster akui jika masakan Dio memang sangat lezat. Dia rela meninggalkan Nathan demi mewujudkan cita-citanya untuk menjadi chef dunia.


Bukannya melarang, Nathan justru mendukung keputusan mantan asisten terbaiknya. Bahkan Nathan menanam modal di restoran milik Dio.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2