"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Wanita Yang Hebat


__ADS_3

Aleta menatap marah dua pemuda dan seorang gadis kecil yang berdiri di depannya. Mereka bertiga terus saja tertawa, membuat wanita itu semakin kesal dan marah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, ibaratnya.


Bagaimana tidak, seember air menguyur tubuhnya, yang disusul puluhan telur dan tomat busuk, dan terakhir adalah tepung terigu. Membuat sekujur tubuhnya berbau tidak sedap dan putih semua. Jika diperhatikan, Aleta terlihat seperti tempura raksasa.


"Hahaha!! Lihatlah Bibi sangat cantik." Ucap Laurent memberikan pujian.


"Dasar kurang ajar, beraninya kalian membuatku menjadi seperti ini?! Apa kalian semua tidak tau siapa aku?!" Bentak Aleta sambil menatap marah mereka bertiga.


"Tau, tentu saja kami tau. Bibi adalah wanita jahat yang ingin membuat Mami dan Daddy-ku berpisah, tapi sayangnya Bibi datang dan membuat masalah dengan orang yang salah." Jawab Laurent menuturkan.


"Dasar anak kecil bermulut tajam, apa ibumu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu?!"


"Tentu saja pernah, bahkan setiap hari Mami mengajarkannya padaku, tapi sopan santun tentu saja tidak berlaku untuk orang seperti Bibi!! Karena orang seperti Bibi tidak perlu di beri sopan santun!!"


"Kau!!!"


"Segera usir dan lempar wanita tak tau malu itu keluar dari rumah ini!!" Perintah seseorang dari arah belakang. Terlihat Aster menghampiri mereka bertiga. "Karena aku tidak ingin benalu ini ada di rumah ini lagi!!"


"Soal itu serahkan saja pada kami, Noona." Jawab Rio dan kemudian mendapatkan anggukan dari Gavin.


Gavin mengambil sebuah pengeruk sampah yang sangat besar lalu memasukkan Aleta ke dalam tong sampah. Karena dia pernah mendengar jika buang pelakor ke dalam tong sampah. Dan hari ini dia mempraktekkannya.


Aleta terus saja berteriak ketika tong itu di dorong ke luar dengan cara di gulingkan. Membuat wanita itu pusing tak karuan. Bukannya merasa kasihan. Aster dan Laurent malah menikmati pertunjukkan yang dibuat oleh Gavin dan Rio


"Masalah kecil sudah teratasi. Princess, Daddy sebentar lagi pulang. Sebaiknya sekarang bantu Mami menyiapkan makan malam, oke."


"Siap Mami," jawab Laurent dengan semangat. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan teras rumah dan kembali ke dalam.


Aster tidak peduli dengan apa yang orang katakan tentang Nathan. Dulu adalah dulu, dan itu sudah menjadi bagian terkelam dalam masa lalu suaminya. Dan sekarang adalah sekarang, dan Aster tidak mau tau apapun lagi dengan masa lalu Nathan. Karena hal itu terjadi sebelum mereka bersama.


-

__ADS_1


"Daddy!!"


Kepulangan Nathan langsung di sambut oleh putri kecilnya. Laurent berlari menghampiri sang ayah kemudian berhambur ke dalam pelukannya.


"Daddy, aku dan Mami memasak banyak makanan kesukaan Daddy. Setelah Daddy mandi, kita makan malam sama-sama ya."


"Baiklah, Nak. Kalau begitu Daddy mandi dulu." Nathan mencium pipi Laurent lalu menurunkan gadis kecil itu dari gendongannya.


"Oya, tadi ada wanita yang datang kemari dan membuat keributan. Tapi kami berhasil mengatasinya. Aku dan Paman Gavin serta Paman Rio membuat wanita itu meninggalkan rumah ini dengan tidak hormat." Tuturnya.


Nathan memicingkan mata kirinya. "Wanita? Laurent mengangguk. "Apa dia berambut pendek dan berbibir merah?" Lagi-lagi Laurent mengangguk. "Lalu di mana Mami-mu?"


"Dia ada di kamar." Jawab Laurent


"Laurent main dulu sama Paman Gavin dan Paman Rio ya. Daddy harus bicara dengan Mamiimu."


"Oke, Daddy."


"Oppa, kau sudah pulang?" Seru Aster kemudian bangkit dari duduknya.


"Aster, apa seorang wanita datang kemari? Apa yang wanita itu katakan padamu? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk atau menyakitimu?" Tanya Nathan memastikan.


Aster menggeleng. "Tidak, Oppa. Aku baik-baik saja. Bahkan dia tidak menyentuhku sama sekali. Apa kau lupa jika istrimu ini adalah wanita yang hebat. Dan dia tidak mengatakan apa-apa kok." Jawabnya.


"Kau yakin?" Sekali lagi Nathan memastikan. Aster mengangguk.


"Memangnya siapa dia dan kenapa kau begitu panik? Apa dia berbahaya?" Kini giliran Aster yang bertanya.


Nathan mengangguk. "Dia adalah seorang psycho, dan aku cemas dia melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Wanita itu memiliki dendam masa lalu padaku, dan aku takut jika dia akan berbuat yang tidak-tidak padamu dan Laurent."


"Apa yang Oppa cemaskan? Buktinya aku dan Laurent baik-baik saja kan." Wanita itu tersenyum lebar.

__ADS_1


Nathan menarik bahu Aster dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Hari ini dia memang bisa lolos dari Aleta, tapi bagaimana dengan besok dan seterusnya? Mungkin Aleta akan datang lagi dan membuat masalah. Dan Nathan harus melakukan sesuatu sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.


"Uh, Oppa kau membuatku tidak bisa bernapas." Ucap Aster dan sontak Nathan melepaskan pelukannya.


"Ah, Maaf." Sesal Nathan sambil melepaskan pelukannya.


Aster beranjak dari hadapan Nathan. Kemudian dia kembali dengan sebuah long Vest hitam ditangannya. "Oppa, coba ini." Aster menyerahkan rompi itu pada Nathan dan meminta suaminya untuk mencobanya.


"Kau sendiri yang membuatnya?" Aster mengangguk.


"Semoga ukurannya Pas."


Nathan melepaskan jasnya lalu menggantinya dengan Long Vest buatan Aster. Vest itu sepanjang paha dan memiliki dua kantong besar di bagian depan serta dua kancing sebagai pemanisnya. Tak lupa Aster juga menyertakan brand miliknya sendiri.


"Sangat pas, dan sangat nyaman di pakai. Aku menyukainya. Terimakasih, Sayang." Nathan menangkup wajah Aster dan kemurian mencium bibir ranumnya.


Bibir Nathan terus mel*mat bibir ranum Aster dengan lembut. Tak ingin kalah dari Nathan, Aster membalas ciuman panas suaminya, kedua lengannya mengalung pada leher pria itu.


Sebelah tangan Nathan berada di kepala belakang Aster. Menekannya untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Tangan Nathan yang lain memeluk pinggang ramping wanitanya, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.


Dan Nathan baru mengakhiri ciumannya setelah dia merasakan pukulan pada dada bidangnya. Aster sudah kehabisan napasnya.


"Kenapa sekarang aku jadi sepayah ini, Sayang." Cibir Nathan sambil menghapus sisa liur di bibir Aster.


"Jangan mencibirku lagi, Oppa. Aku tidak payah, cuma saja aku belum terlalu siapa saat kau menciuku tadi." Jawabnya membela diri.


Nathan terkekeh geli, Aster selalu menggemaskan di matanya. "Baiklah-baiklah, karena kau belum siap. Aku mandi dulu. Setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Wanita itu tersenyum tipis. Kedua tangannya dia letakkan di dada. Jantungnya selalu berdegup kencing setiap kali Nathan menatap matanya atau ketika mencium bibirnya. Persis seperti saat pertama kali dia jatuh cinta pada ayah angkatnya tersebut.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2