"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 18)


__ADS_3

"Daddy!!"


Kelopak mata kiri Nathan yang sebelumnya tertutup perlahan terbuka setelah mendengar suara cempreng seorang gadis kecil yang masuk dan berkaur di dalam telinganya. Ayah dua anak itu mengulurkan tangannya dan menyambut sang putri ke dalam pelukannya.


Laurent memperhatikan luka-luka Nathan yang sudah tertutup perban dan mendesah berat. "Bagaimana Daddy bisa mengalami kecelakaan sampai se fatal ini?" Laurent menatap sang Ayah dengan sedih.


Nathan menarik Laurent ke dalam pelukannya, dan menyakinkan pada putri tersayangnya ini jika dia baik-baik saja. Bukan hanya Laurent yang datang mengunjunginya, ada Cris dan Zhoumi juga. Sedangkan Rey tidak ikut karena dia masih terlalu kecil.


"Bagaimana keadaanmu, Adik?" Tanya Zhoumi seraya duduk di samping Nathan.


"Seperti yang kau lihat, Ge. Aku sudah jauh lebih baik. Luka-lukanya juga sudah dijahit, lusa mungkin sudah diijinkan untuk pulang."


"Lihat apa yang Gege bawakan untukmu. Ini adalah obat mujarab dan bisa menghilangkan bekas luka, termasuk luka jahit, jadi wajahmu bisa mulus lagi."


"Apa kau mau menjadikanku sebagai kelinci percobaan mu lagi?" Nathan menatap Zhoumi dengan sinis.


"Jangan salah paham dulu. Terlalu kejam jika kau menyebut kelinci percobaan. Bukan kelinci percobaan, lebih tepatnya mencoba barang baru."


"Sama saja, bodoh!!"


Zhoumi Meringis lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang benar sih apa yang Nathan katakan, dia menjadikan dia sebagai kelinci percobaan. Karena salep itu baru dia ciptakan semalam.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" Cris menatap Nathan curiga. Pasalnya Nathan menatapnya dengan seringai yang tersungging di bibir Kiss Able nya.


Nathan mengambil pisau buah yang ada di atas meja. Lalu menggoreskan pada lengan Cris dan membuat pria itu menjerit kesakitan. Sedangkan Laurent sudah menutup mata seolah-olah dia tau apa yang hendak dilakukan oleh ayahnya.


"Yakk!! Rusa kutub, apa yang kau lakukan, eo?!" Amuk Cris sambil menekan lengannya yang terluka dengan beberapa lembar tisu.


"Ge, kau bisa jadikan dia sebagai kelinci percobaan mu. Kan jarang-jarang, Cris Ge, jadi bahan percobaan mu!!" Nathan menyeringai puas. Dan Zhoumi pun ikut menyeringai juga.


Zhoumi menarik lengan Cris lalu menaburkan sebuah serbuk ke atas lukanya yang terbuka. Membuat Cris membelalakkan mata. Dia mengeram dan berteriak karena rasa sakit dan perih yang sangat-sangat luar biasa.


Dan parahnya lagi, rasa sakit dan perihnya lebih parah dari ketika di taburi garam atau diberi air perasan jeruk nipis. "Ge, kau ingin membunuhku ya? Ini sangat perih dan sakit!! Huaa... Mama." Teriak Cris histeris.

__ADS_1


"Ck, ini rumah sakit. Sebaiknya kau tidak berisik. Apa kau tidak malu menangis di depan anak kecil. Lagipula rasa sakitnya juga tidak akan bertahan lama. Jadi tahan sebentar, setelah ini aku akan mengoleskan obat paling ampuh dan mujarab di dunia."


"AKU TIDAK MAU!!"


"Enak saja tidak mau, kau harus mau!!!"


"Huaaa... Mama, anakmu dijadikan kelinci percobaan!!"


Cklekk...


Suara decitan pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Aster datang dengan bingkisan ditangannya. Laurent tersenyum dan langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya.


"Mami, kau dari mana saja? Kami sudah datang sejak setengah jam yang lalu."


"Mami dari pusat perbelanjaan. Daddy mu merasa tidak nyaman dengan pakaian rumah sakit yang dia pakai. Itulah kenapa Mami membelikan pakaian untuknya."


"Aku mengerti."


"Jam besuk sudah hampir habis. Sebaiknya kita pergi saja. Nathan juga butuh istirahat." Ucap Zhoumi yang kemudian dibalas anggukan setuju oleh Laurent.


"Jangan seperti bocah, kita bisa mengobatinya dalam perjalanan pulang. Aster, kami pulang dulu. Gege, titip Nathan padamu." Aster menganggu.


"Mi, Dad, Laurent pulang dulu ya. Daddy, cepat sembuh biar bisa cepat pulang dan berkumpul lagi. Aku sayang, Daddy." Ucap Laurent sambil memeluk ayahnya.


"Daddy, juga menyayangimu, Nak." Ucap Nathan sambil membalas pelukan putrinya.


Dan selepas mereka bertiga. Di ruangan itu hanya menyisakan Nathan dan Aster. Wanita itu tersenyum tipis. Kemudian dia membantu Nathan mengganti pakaiannya.


Piyama rumah sakit yang berlengan panjang membuat Nathan merasa gerah. Itulah kenapa dia meminta Aster membelikan pakaian untuknya. Dia adalah Pasien VIP, jadi siapa yang berani melarang dan mengaturnya.


"Paman, sudah waktunya minum obat. Sebaiknya kau minum dulu dan setelah ini istirahat saja. Supaya kondisimu segera pulih." Ucap Aster memberi nasehat.


Nathan menggeleng. "Aku lelah jika harus tidur terus menerus, lagipula kondisiku tidaklah seburuk itu. Sebaiknya temani aku pergi ke taman. Terlalu lama di dalam ruangan ini membuatku bosan." Aster menatap suaminya dan kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah."


-


Nathan membuka mata kirinya dan mendapati Aster tengah berkutat dengan sebuah kertas dan pensil. Tanpa bertanya pun, tentu saja Nathan tau apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu.


Mimik wajahnya begitu serius saat menggoreskan pensil itu ke atas kertas putih ditangannya. Gerakan tangannya lembut dan tidak kaku. Hasil rancangan Aster memang tidak bisa diremehkan apalagi dipandang dengan sebelah mata, dan Nathan mengakui keindahan karya istrinya.


Bahkan Nathan menanam investasi yang sangat besar di boutique istrinya. Karena Nathan yakin jika suatu hari nanti boutique itu akan berkembang pesat menjadi besar dan dikenal dunia.


"Aster," panggil Nathan dan sedikit mengalihkan perhatian wanita itu. Aster mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan tengah menatap padanya.


"Paman, kau sudah bangun? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Aster meletakkan sketsanya lalu menghampiri Nathan.


Nathan menggeleng. "Aku tidak butuh apa-apa, hanya saja kepalaku terasa agak pusing." Ucap Nathan sambil memegangi kepalanya.


Aster membantu sang suami untuk duduk, kemudian dia meraih air putih yang ada di atas meja kecil samping ranjang inap suaminya, juga beberapa butir obat penghilang rasa sakit.


"Minum dulu, obat ini bisa mengurangi rasa sakit mu." Ucap Aster. Nathan menerima obat itu lalu meminumnya. "Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk gerak dulu. Lukanya bisa terbuka lagi."


Nathan menggeleng. "Kau tidak perlu cemas. Lukaku sudah tidak apa-apa. Kau sudah makan?"


Aster mengangguk. "Aku baru saja makan siang. Apa kau ingin makan siang juga? Atau perlu ku belikan sesuatu di luar saja?"


"Tidak perlu, aku cuma butuh ini." Nathan meraih dagu Aster kemudian mengecup singkat bibirnya. "Dan ini." Ciuman itu berubah menjadi lum*tan dan pagutan yang menuntut.


Aster pun tak mau kalah. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan mulai mengimbangi ciuman suaminya. Ciuman yang awalnya begitu lembut, berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.


Sebelah lengan Nathan memeluk pinggang Aster, sedangkan tangan satu lagi menekan tengkuknya. Kedua tangan Aster memeluk leher Nathan saat pria itu semakin memperdalam ciumannya.


Mereka tidak menghiraukan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan seorang perawat yang sedang mimisan di depan pintu pun tak mereka sadari kedatangannya. Seolah-olah. Di dalam dunia ini hanya ada mereka berdua.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2