"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Amit-Amit Tujuh Turunan


__ADS_3

Setelah satu bulan lebih sepuluh hari di rumah sakit. Hari ini Nathan di ijinkan untuk pulang. Keadaannya sudah semakin membaik, meskipun perban belum mau beranjak dari mata kanannya.


Mata kanan Nathan mengalami cidera, beberapa pecahan kaca yang masuk merobek selaput pada bola mata dan kelopaknya, beruntung luka itu tak berakibat fatal pada penglihatannya. Meskipun membutuhkan waktu untuk bisa sembuh dan normal kembali.


"Paman, kau sudah sial?" Ucap Aster saat melihat Nathan keluar dari kamar mandi. Pria itu baru saja mengganti piama rumah sakit dengan pakaiannya sendiri.


"Dimana, Leon?"


"Dia menunggu diparkiran."


"Ayo." Nathan berjalan mendahului Aster dan meninggalkan wanita itu beberapa langkah dibelakangnya.


Tak ingin ketinggalan jauh dari Nathan. Aster sedikit mempercepat langkahnya sehingga dia bisa menyamai langkah Nathan. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.


Buru-buru Leon memutuskan sambungan telfonnya saat melihat kedatangan Nathan dan Aster. "Oke kucing liar ku, nanti aku telfon lagi. Love you." Kemudian memasukkan beda tipis itu ke dalam saku celananya.


Nathan masuk dan duduk di jok belakang diikuti Aster yang kemudian duduk disampingnya. "Boss, kita langsung pulang atau?"


"Pulang~" Nathan menyela cepat.


Nathan menurunkan jas yang tersampir dipundaknya. Kemudian bersandar pada jok mobilnya. Mata kiri Nathan tertutup rapat. Nathan merasa lelah, dan untuk sejenak saja dia ingin menutup matanya.


"Paman, apa kau tidur?" Tanya Aster hati-hati. Dia takut mengganggu Nathan.


"Tidak, aku hanya menutup mata saja." Jawabnya datar.


"Aku ingin bertanya sesuatu pada, Paman."


"Tentang apa?" Nathan membuka kembali mata kirinya dan menatap Aster yang juga menatap padanya.


"Suketi. Aku tidak melihat ketakutan sedikit pun di mata Paman ketika Paman melihatnya semalam. Apa Paman benar-benar tidak takut padanya?" Tanya Aster penasaran.


"Hantu aneh itu?" Aster mengangguk. "Untuk apa takut, dia tidak ada seram-seramnya sama sekali. Justru aku yang merasa penasaran, bagaimana kau bisa mengenal dan berteman dengan mahluk seperti itu."


Aster menggaruk tengkuknya. "Panjang ceritanya. Intinya dia hantu yang baik, dia tidak pernah menggangu meskipun sering membuat jengkel karena suka muncul tiba-tiba."


Leon yang memang tidak tau apa-apa merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Leon pun bertanya dan Aster menjelaskan semuanya. Buku kuduk Leon berdiri dan dia merasa ngeri.


"Amit-amit tujuh turunan, lebih baik aku bertemu ratusan kucing liar yang sedang bert*lanj*ng di atas ranjang dari pada harus bertemu yang begituan. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur selama 7 hari 7 malam."

__ADS_1


Aster terkekeh geli. Membayangkan wajah Leon yang ketakutan ketika melihat Suketi membuat Aster geli sendiri. Mungkin saja Leon akan jatuh pingsan dan terkencang di celana.


"Kekeke~Padahal rencananya aku akan memperkenalkannya padamu."


"Aku tidak mau!!"


Dan selanjutnya hanya keheningan yang terasa di tengah perjalanan mereka. Tak ada perbincangan antara mereka bertiga, mereka bertiga sama-sama diam dalam kebisuan dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Leon fokus mengemudi, Aster yang memandang keluar, dan Nathan yang menutup matanya.


Sesekali Leon melihat ke belakang dari kaca spion mobilnya. Dan mendapati tuannya tengah menutup mata, meskipun Leon tak yakin jika Nathan benar-benar tidur. Leon tau jika Nathan hanya sekedar menutup mata saja.


-


Satu bulan lebih tidak bertemu dengan Aster. Membuat Jordan diam-diam merindukan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya sejak pertama kali menatap matanya.


Dan karena tidak bisa membendung rasa rindunya. Jordan pun memutuskan untuk mendatangi langsung rumah Nathan agar bisa bertemu denganya.


Beruntung Jordan pernah mengikuti Aster secara diam-diam, sehingga dia bisa tau di mana wanita itu tinggal.


"Maaf, Tuan. Tapi Nona sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang menjemput Tuan dari rumah sakit."


"Saya juga tidak tau. Mungkin saja sore, mungkin juga sebentar lagi. Dan sebaiknya Anda pulang saja."


"Tidak apa-apa, aku akan menunggunya saja."


Jordan menolak ketika salah seorang pelayan yang bekerja di mansion mewah itu memintanya untuk pulang. Dia memutuskan untuk menunggu.


Deru suara mobil yang memasuki halaman luas mansion mewah tersebut langsung menyita perhatiannya. Jordan segera berdiri ketika melihat sosok yang dia tunggu keluar dari mobil tersebut.


"Jordan, sedang apa kau di sini? Dan dari mana kau bisa tau alamat rumah ini?" Tanya Aster to the poin.


"Aku menunggumu, dan tidak penting dari mana aku mengetahui alamat rumah ini. Yang terpenting sekarang aku bisa bertemu denganmu. Aster, aku merindukanmu." Jordan hendak memeluk Aster, namun segera dihalangi oleh Leon.


Leon tersenyum lebar. "Sebaiknya jangan sembarang memeluknya ya, jika kau tidak ingin membangunkan Raja singa yang sedang tidur."


Jordan memicingkan matanya. "Maksud Paman apa."


"Anak kecil sepertimu tidak akan Paman. Dan jangan memanggilku, Paman. Karena aku tidak pernah menikah dengan bibi mu. Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum Raja singa-nya mengamuk dan menerkamu hidup-hidup."

__ADS_1


Jordan menggeleng. "Aku tidak takut, bahkan aku ingin menantang Raja singa itu. Dan aku tidak akan pergi sebelum bisa berbincang dengan Aster berdua saja."


"Baiklah jika itu adalah keputusanmu. Setidaknya aku sudah mengingatkanmu." Ucap Leon dan pergi begitu saja.


Jordan menggulirkan pandangannya pada Nathan yang berdiri di samping Aster. Melihat tatapan dan sorot mata Nathan yang tajam dan mengintimidasi membuat Jordan sedikit merinding.


Dan sebisa mungkin Jordan bersikap biasa saja, meskipun saat ini dia sedang gugup setengah mati.


Memperhatikan Nathan dengan seksama. Sungguh Jordan nyaris tidak percaya jika Nathan adalah seorang pria berusia 30 tahun. Wajahnya yang baby face membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.


"Halo, Paman. Perkenalkan, saha Jordan. Saya adalah senior Aster di kampus." Jordan mengangkat tangannya dan mengulurkan pada Nathan.


"Lalu?!" Nathan hanya menatap datar uluran tangan Jordan.


"Saya hanya ingin mengobrol dengannya. Bisakah saya mengajaknya keluar untuk makan siang?" Jordan menatap Nathan penuh harap. Berharap Nathan mengijinkannya membawa Aster pergi.


Alih-alih menjawab. Nathan malah melewatinya begitu saja. "Aster, terserah kau mau pergi dengan pemuda ini atau tidak." Ucap Nathan di tengah langkahnya.


Aster meringis ngilu mendengar nada bicara Nathan yang terlewat dingin. "Sebaiknya aku tidak pergi ke mana pun. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Senior, maaf ya. Mungkin lain kali saja."


"Sejak Paman Nathan sakit, aku tidak memiliki banyak waktu beristirahat karena harus menjaganya di rumah sakit. Jadi lain kali saja ya. Sebaiknya Paman pulang saja."


"Tapi, Aster. Hanya makan siang saja. Masa tidak bisa?"


"Senior, kenapa kau keras kepala sekali sih? Aku bilang tidak bisa, aku lelah dan ingin segera istirahat. Kenapa kau tidak mengerti juga?! Apa kau tidak paham bahasa manusia? Pulanglah!!"


Jordan menahan lengan Aster. "Sepertinya kau takut pada ayah angkat mu, apa dia selalu mengintimidasi mu? Katakan padaku, apa yang dia lakukan padamu?"


Aster mendesah berat. Dengan kasar dia menyentak tangan Jordan dari lengannya."Jika kau tidak tau apa-apa tentang Paman Nathan, sebaiknya jangan asal bicara!! Dialah tidak seburuk yang kau pikirkan!!"


"Pergilah, aku malas berbicara dengan orang sepertimu!!" kemudian Aster beranjak dari hadapan Jordan dan pergi begitu saja.


Aster memang tidak suka jika ada orang yang menghina dan menjelek-jelekan Nathan tanpa tau apapun tentangnya. Dan Aster tak akan segan-segan memarahi orang itu karena hal tersebut.


Karena di mata Aster, tidak ada orang lain sebaik Nathan. Dia adalah yang terbaik diantara yang terbaik.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2