
Aster hanya bisa menatap lemas puluhan buket bunga yang memenuhi hampir seluruh ruang tamu dan ruang keluarga kediamannya. Bukan hanya buket bunga yang datang, tapi buket berisi coklat juga.
Dia memang ingin agar Nathan bersikap romantis padanya dengan memberikan bunga dan coklat, tapi tidak berlebihan seperti ini juga.
Jika begini, Aster menjadi bingung sendiri. Bunga-bunga itu harus diapakan, kan sayang kalau sampai layu semua, apalagi mawar-mawar itu sudah dipetik dari pohonnya. Jika coklat bisa Dia simpan dan diberikan pada orang lain.
"Ya Tuhan, Bibi. Darimana kau mendapatkan banyak sekali bunga dan coklat ini?" Kaget Rio dan Gavin yang baru saja pulang bekerja.
Mereka melihat puluhan buket bunga mawar dengan berbagai jenis dan warna memenuhi hampir keseluruhan ruang tamu dan juga keluarga. Belum lagi buket coklat yang juga tergeletak di lantai.
"Siapa lagi jika bukan Paman kalian yang gila itu. Semalam aku menyindirnya karena dia tidak pernah memberikan bunga dan coklat, tapi sekalinya datang malah tidak terhitung jumlahnya!!"
"Hahaha, mungkin saja Paman mengartikan setiap buket bunga dan coklat sebagai hari, Minggu atau bulan kalian bersama. Tapi bagus juga dong, itu artinya pria dingin seperti Paman ternyata bisa romantis juga." Tuturnya.
"Tapi sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus, dasar bocah!!" Aster menggerutu.
Aster berpikir untuk membuat perhitungan dengan Nathan nanti. Tapi jika dia protes, bisa-bisa akan terjadi perang dingin season 2, tapi jika tidak di tegur bisa-bisa hal semacam ini akan kembali terulang.
Ting...
Aster terlonjak kaget karena suara dentingan pada ponselnya, yang menandakan ada satu pesan masuk. Dan ternyata itu dari Nathan, dalam pesan itu Nathan bertanya apakah kirimannya sudah sampai apa belum.
Aster pun segera mengetik pesan balasan untuk Nathan dan mengatainya gila. Bukannya tersinggung, Nathan malah mengirim sebuah emoticon tertawa, dan hal itu membuat Aster semakin kesal setengah mati.
"Dasar Rusa China menyebalkan, bisa-bisanya pria dingin itu bertingkah gila?!"
Aster membawa beberapa buket mawar ke kamarnya lalu meletakkannya di sana, dia mencoba memanfaatkan mawar-mawar itu supaya tidak terbuang sia-sia. Dia meminta bantuan beberapa pelayan untuk memindahkannya.
Dan Aster pasti akan membuat perhitungan dengan suami tampannya itu setelah dia pulang nanti. Nathan benar-benar membuatnya kerepotan hari ini.
__ADS_1
-
"Bos, Nyonya sedang uring-uringan karena bunga yang kau kirimkan padanya." Ucap Leon setelah mendapatkan kabar dari salah satu orangnya.
Nathan hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Leon, dia sudah tau, karena Aster telah melayangkan protesnya. Tapi Nathan tak mau terlalu ambil pusing dan memikirkannya. Lagipula bukankah Aster sendiri yang meminta bunga dan coklat padanya?! Dan Nathan sudah mengabulkannya.
"Biarkan saja, nanti paling-paling saat aku pulang dia akan memarahiku habis-habisan." Ucap Nathan seolah sudah tau apa yang akan
"Tapi, Bos. Apa kau tidak kesal ataupun marah jika Nyonya memarahi mu nanti?"
Nathan memicingkan mata kirinya. "Untuk apa marah, biarkan saja dia mengomel. Jika sudah capek pasti berhenti sendiri. Lagipula aku hanya mengabulkan apa yang dia inginkan." Jawabnya.
"Jujur saja, Bos. Kalian berdua itu adalah pasangan paling aneh dan unik di seluruh dunia. Memangnya ada ya istri yang memanggil suaminya dengan sebutan, Paman?! Dan aku baru menemukan satu, yakni Nyonya. Terkadang tingkah dan sikapnya di luar dugaan, dan hebatnya kau bisa tetap mencintai dan menerima dia apa adanya."
"Begitupun sebaliknya, meskipun sekarang kau tidak lagi sempurna, tapi Nyonya begitu mencintai dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Dia tidak malu meskipun memiliki suami yang cacat." Ujar Leon panjang lebar.
"Bahkan ketika aku diambang Kematian, hanya dia satu-satunya yang aku ingat dan kupikirkan. Aku tidak tau bagaimana dia akan menjalani hidupnya jika aku sampai tidak selamat pada saat itu. Karena hanya padaku dia bisa bergantung."
"Bos, sebaiknya tidak usah membicarakan masa lalu yang menyakitkan. Lagipula sekarang kalian sudah kembali bersama, setelah berbagai cobaan yang menguji kekuatan cinta kalian. Bahkan sekarang kalian dianugerahi dia anak yang luar biasa, bukankah rencana Tuhan sangat indah?!"
Nathan menatap Leon dengan pandangan tak percaya. Memangnya sejak kapan pria seperti Leon bisa bersikap bijaksana seperti ini? Terdengar aneh tapi sangat bagus.
"Kau dari tadi mengoceh terus. Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
Leon menepuk jidatnya dengan keras. Bagaimana dia bisa melupakan semua pekerjaannya? Kemudian dia memohon diri untuk pamit. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Nathan mendengus geli. Ada saja tingkah Leon yang membuatnya geleng-geleng kepala.
Nathan pun melanjutkan pekerjaannya. Masih ada beberapa dokumen yang perlu dia periksa dan tanda tangani. Hari ini rencananya dia akan pulang lebih awal, karena memang tidak ada pekerjaan yang perlu untuk di lembur kan.
-
__ADS_1
"Sialan!!! Nathan Xiao, aku pasti akan membunuhmu nanti!!"
Aster mengumpat kesal. Dia benar-benar kesal setengah mati, Nathan memberinya pekerjaan melelahkan hari ini. Masih ada 40 lebih bunga yang perlu dia urus, total semua ada 99 buket bunga dan 99 buket coklat.
"Bibi, bagaimana dengan ketiga pulu buket bunga yang tersisa? Hampir setiap ruangan sudah di penuhi dengan tangkai-tangkai mawar. Kita tidak memiliki tempat lagi."
"Halaman depan dan belakang, balkon, gudang, dapur, kamar mandi, toilet, mobil, masih banyak tempat yang bisa kita pakai untuk tempat penyimpanan. Jadi letakkan saja di tempat yang masih kosong."
Rio dan Gavin mengangguk. Mereka pun membawa buket-buket bunga yang tersisa ke tempat-tempat yang baru saja Aster sebutkan. Karena memang hanya tempat-tempat itu yang belum tersentuh bunga sama sekali.
Dan untuk coklatnya masih bisa dimanfaatkan. Aster menjualnya sebagian, dan sebagian lagi dia simpan. Mungkin akan berguna nanti. Dia tidak mau rugi, itulah kenapa Aster memutuskan untuk menjualnya saja.
"Mi, boleh tidak jika sebagian coklatnya aku bawa ke sekolah besok dan dibagikan ke teman-teman? Kasian, banyak anak yang tidak mampu belum pernah merasakan makanan yang enak. Boleh ya, Mi?"
Aster mengangguk. "Tentu saja boleh, Laurent bisa membawa sebanyak yang Laurent inginkan. Mami tidak akan melarangnya."
"Sungguh?" Aster mengangguk. Gadis kecil itu pun langsung berhambur ke dalam pelukan Ibunya.
"Huaa, makasih Mi. Kau memang yang terbaik."
Deru suara mobil yang memasuki halaman menyita perhatian semua orang yang tengah sibuk dengan bunga-bunga itu. Aster pun langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju teras.
Bukan untuk menyambut kedatangan sang suaminya dan memberinya pelukan hangat serta ucapan terimakasih karena telah memberikan banyak bunga dan coklat untuknya. Tapi Aster akan membuat perhitungan dengan Nathan.
"Nathan Xiao, berhenti di sana dan jangan coba-coba untuk masuk tanpa ijin dariku. Aku... Ingin membuat perhitungan denganmu!!!"
-
Bersambung.
__ADS_1