
"Aaaaahhh... Aaahhh... Aaahhh... Kakak sepupu lebih cepat lagi, ahhh.. ini sangat nikmat..."
Aster menghentikan langkahnya ketika tidak sengaja mendengar suara ******* dari dalam kamar tamu yang ditempati oleh Marta Xiao. Wanita itu sangat penasaran dengan apa yang tengah dilakukan olehnya.
Aster membuka pintu kamar Marta dan kedua matanya membelalak. Dia melihat Marta yang sedang bermain solo menggunakan sebuah mentimun berukuran jumbo yang kemudian dikeluar-masukkan Miss-nya sendiri.
"Aaahhh.. Kakak sepupu, ini sangat nikmat. Lebih cepat lagi. Lebih cepat lagi, malam ini kau harus memuaskan ku!!"
Tentu saja Aster tau siapa orang yang berada diimaginasi liarnya Marta. Jelas itu adalah Nathan. Dan memberikan sedikit kejutan bagi Marta tidak ada salahnya.
"Apa sebegitu terobsesinya kau pada suamiku, sampai-sampai kau menjadikan dia sebagai bahan untuk imaginasi liar-mu itu?" Sontak saja kedua mata Marta membelalak mendengar suara yang begitu familiar itu.
Wanita itu menolehkan kepalanya dan mendapati Aster tengah bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya. Wanita itu menyeringai tajam, membuat muka Marta memerah karena marah.
"Kau!! Sedang apa kau di sini? Gadis kecil sialan, keluar kau dari sini!!" Teriak Marta seperti orang kesurupan.
"Santai saja Bibi, kau tidak perlu berteriak. Lihatlah kerutan di wajahmu itu. Semakin terlihat banyak dan jelas."
Marta mencabut mentimun jumbo itu dari Miss-nya lalu melemparkannya pada Aster. Sayang meleset, Aster bisa menghindarinya dengan baik.
Aster menghampiri Marta laku mencengkram rahangnya."Aku sungguh sangat kasihan padamu, Bibi. Jelas sekali jika Nathan Oppa tidak menyukaimu, tapi kenapa kau malah memaksakan diri? Apa kau sudah tidak memiliki rasa malu lagi?!"
"KAU!!"
Ctrakk..
Kedua mata Marta membelalak saat sebuah pistol menempel pada keningnya. Aster menyeringai tajam penuh kemenangan.
"Jaga tangan dan mulutmu mulai sekarang. Kau tidak akan mengerti apa yang bisa aku lakukan jika aku sedang marah. Ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur dan jangan terlalu lama bermain sendiri. Karena itu sangat menjijikkan!!"
"Brengsek!!"
-
"Tuan, ini beberapa laporan yang Anda minta."
Nathan menerima sebuah map yang Dio berikan padanya. Di dalam map tersebut berisi beberapa informasi penting tentang dalang dibalik penyerangan di Villa malam itu. Nathan tidak bisa mendapatkan informasi apapun karena penyusup itu dibunuh sebelum dia bicara.
"Itu adalah nama-nama orang yang terlibat dalam insiden itu beserta data dirinya. Dan dari informasi terbaru yang saya terima, seorang pria bermarga Zhong ada di balik insiden itu."
Nathan bertopang dagu dengan kedua lengannya yang bertumpu pada meja kerjanya. Sorot mata kirinya berubah tajam dan berbahaya. Seringai terlihat menghiasi sudut bibirnya.
"Heh, sepertinya ada yang segera datang untuk membalas dendam." Ucapnya.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Dio dengan pandangan serius. "Perintahkan anak buahmu yang ada di sana untuk terus mengawasi gerak-gerik pria bermarga Zhong itu dan anak buahnya. Laporkan aktifitas apapun yang mereka lakukan padaku."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Nathan mengangguk.
Nathan sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Tapi Nathan tidak menduga jika dia akan datang secepat itu. Untungnya Nathan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi orang itu.
Nathan menyambar jasnya yang tersampir di sandaran kursinya. Kemudian dia beranjak dan melenggang keluar meninggalkan ruangannya. Nathan masih harus bertemu dengan seseorang untuk membahas hal penting.
-
"Aster,"
Aster yang sedang sibuk dengan bunga-bunganya menoleh dan mendapati Kakek Hendry berjalan menghampirinya. Wanita itu terlihat meletakkan guntingnya lalu menghampiri si kakek.
"Ada apa, Kakek Buyut?"
"Bisa kita bicara sebentar. Kita adalah keluarga, dan kita juga baru saja bertemu. Kakek Buyut ingin mengenalmu lebih baik lagi." Ucapnya.
Aster menatap pria tua itu kemudian mengangguk."Memangnya apa yang ingin Kakek Buyut bicarakan denganku? Sepertinya sangat penting."
"Aster. Di dunia ini kan banyak pria yang memiliki istri lebih dari satu. Bahkan ada yang sampai memiliki istri tiga dan empat. Bagaimana kalau kau berbesar hati membiarkan Nathan menikah lagi, Marta Kakek Buyut rasa adalah pilihan yang tepat untuk hal itu."
Aster menyeringai sinis. "Heh, jadi karena hal itu Kakek Buyut mengajakku bicara? Dengar ya Kakek Buyut, suamiku bukanlah barang yang bisa dibagi-bagi dengan orang lain. Bukankah di dunia ini pria masih banyak, kenapa Kakek Buyut harus bersikeras menikahkan Bibi Marta dengan suamiku?"
"Aster, Kakek buyut tau hal ini sangat tidak masuk akal. Kau dan Marta sama-sama perempuan dan kalian memiliki perasaan yang sama-sama rapuh. Jadi tolong pikirkan perasaan Marta."
"Lalu siapa yang akan memikirkan perasaanku!" Aster menyela cepat. "Dan sampai kapan pun aku tidak akan membagi suamiku dengan orang lain. Kakek aku permisi!!"
Aster merebahkan tubuhnya pada kasur super nyaman di kamarnya dan Nathan. Aster benar-benar merasa kesal. Bagaimana bisa Kakek Hendry mengusulkan supaya Nathan menikah lagi. Dan sebagai seorang wanita, tentu saja Aster tidak Sudi untuk di madu.
Perhatian Aster teralihkan oleh dering pada ponselnya. Wanita itu bangkit dari posisinya lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
"Ada apa, Oppa? Tumben kau menghubungiku siang begini? Kangen ya?"
"Ya, itu salah satunya. Sayang, malam ini kau tidak perlu menungguku untuk makan malam. Mungkin aku akan pulang sedikit terlambat. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Hm, baiklah aku mengerti."
Aster memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak. Disaat seperti ini hanya Nathan yang bisa menghibur dirinya.
Tapi sayangnya Nathan sedang tidak ada di rumah dan mungkin akan pulang terlambat. Jelas itu sangat berpengaruh besar pada moodnya. Aster benar-benar butuh Nathan.
-
Doorr.. Doorr.. Doorr ..
Tubuh ketiga pria itu terkapar setelah sebuah timah panas menembus kepala dan jantung mereka. Mereka meregang nyawa sebelum berhasil menyentuh Nathan. Hanya tersisa satu orang lagi yang Nathan biarkan tetap hidup.
__ADS_1
"Tutup semua akses dan jangan biarkan siapapun menyelinap masuk. Apalagi membunuh orang ini sebelum dia membuat suara."
"Baik, Tuan!!"
Nathan mencengkram rahang pria itu dan menatapnya tajam penuh intimidasi, membuat si pria gemetar ketakutan. "Aku tidak akan membunuhmu jika kau mau bekerja sama denganku. Siapa yang telah menyuruhmu untuk mengambil data-data perusahaan-mu."
"Tu..Tuan Hilman. Beliau yang mengirim saya untuk bekerja di perusahaan ini, Tuan. Beliau menjanjikan akan menaikkan jabatan saya jika saya berhasil mengambil data-data penting perusahaan Anda."
"Jadi Tua Bangka itu yang menyuruhmu?!" Pria itu mengangguk.
Dia segera berdiri dan memeluk kedua kaki Nathan."Tuan Xiao, saya sudah mengatakan yang sebenarnya. Jadi tolong jangan bunuh saya, bi..biarkan saya pergi. Saya masih memiliki seorang Istri dan dua anak yang harus saya hidupi."
Nathan mendesah berat. Dia pun segera memberi kode pada pria itu agar segera pergi. Sepertinya Hilman masih belum puas dengan pelajaran yang telah dia berikan hari itu.
Dan kali ini Nathan akan memberikan pelajaran yang lebih baik pada pria tua itu agar dia tidak mencari masalah lagi dengannya dikemudian hari.
-
Matahari mulai kembali keperaduannya, meninggalkan singgasananya. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, langit sudah berubah oranye dengan dihiasi puluhan burung yang berlalu lalang menembus awan.
Namun Aster masih tetap diam membatu di pinggir danau, ia hanya memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana dan menghela napas panjang; ia lelah.
Kedua bola mata hanya terpaku pada matahari di sebelah barat yang secara perlahan turun, menghilang dari permukaan bumi. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita cantik itu.
"Are you oke, Nona?"
Perhatian Aster sedikit terusik oleh kemunculan pria asing yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya. Sontak dia menoleh dan mendapati pria itu tengah tersenyum padanya.
Aster memicingkan matanya. Kepalanya memiring ke kanan memperhatikan wajah tampan itu dengan seksama. Ia tidak pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Aster memastikan.
Pria itu mengangkat bahunya. "Mungkin saja sudah, tapi mungkin juga belum. Tapi aku rasa kita sudah pernah bertemu sebelumnya, di masa lalu. Oya, aku Sebastian Zhong. Dan kau bisa memanggilku Bastian."
Bastian meraih tangan Aster lalu mencium punggung tangannya dan membuat wanita itu terkejut. Buru-buru Aster menarik tangannya yang masih di genggam oleh Bastian.
"Apa-apaan kau ini? Kau sungguh tidak sopan, Tuan!! Saya telah bersuami, jadi jangan sembarangan menyentuhku!!"
Bastian tersenyum. "Ya, aku tau. Cincin dijari manis-mu adalah buktinya. Tapi tidak masalah bukan jika aku mencintaimu?!" ucapnya.
"Tentu saja masalah. Dan maaf, aku harus pergi!!"
Bastian menoleh. Menatap punggung Aster yang semakin menjauh dengan seringai tajam meremehkan. "Aster Xiao, kau adalah kelemahan dari musuh bebuyutanku. Dan melalui dirimu aku akan menghancurkannya!! Karena kau adalah pion terbaikku!!"
-
Bersambung.
__ADS_1