"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Lebih Berharga


__ADS_3

Aster terus menatap ponselnya dengan gamang. Sejak Nathan menghubunginya terakhir kali, itu sekitar dua hari yang lalu. Nathan tidak ada kabar sama sekali sampai detik ini. Ponselnya tidak bisa dihubungi, termasuk ponsel Leon dan Dio.


Membuat rasa takut tiba-tiba menggerogoti batinnya. Aster sungguh takut jika hal buruk sampai menimpa suaminya itu. Dan Aster tidak tau bagaimana dia bisa hidup jika sampai terjadi sesuatu pada Nathan.


Pagi harinya di kediaman Xiao berlangsung sepi. Di meja makan yang biasanya ramai beberapa hari ini tampak sepi, lebih tepatnya sejak kepergian Nathan ke London tiga hari lalu.


Di meja makan hanya ada Gavin dan Rio yang sedang sarapan roti. Sedangkan Aster tidak terlihat batang hidungnya sejak pagi.


"Di mana Aster, kenapa dia tidak ikut sarapan bersama kalian?" Cris yang baru saja tiba langsung menanyakan keberadaan Aster.


Gavin mengangkat wajahnya dan menatap Cris yang juga menatap padanya. "Aster Noona ada di kamarnya. Dia menolak untuk ikut sarapan. Dia bilang tidak lapar." Jawabnya.


"Apa Nathan belum menghubunginya juga?" Tanya Cris lagi.


Rio menggeleng. "Aku rasa belum. Ponsel Paman Nathan tetap tidak bisa di hubungi. Aku juga cemas hal buruk terjadi padanya."


"Kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja. Ya sudah, sebaiknya kalian lanjutkan sarapannya. Paman akan menemuinya." Gavin dan Rio mengangguk. Cris beranjak dari hadapan keduanya dan pergi begitu saja.


Cris menghampiri Aster di kamarnya. Menghiburnya sedikit mungkin tidak ada salahnya.


.


.


.


"Aster~"


Wanita itu menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Dia hanya menatap datar pada Cris yang berjalan menghampirinya.


"Paman kau di sini?"


"Kenapa kau tidak ikut sarapan bersama Gavin dan Rio?"


"Aku tidak lapar. Paman sudah sarapan? Jika belum, sebaiknya ikut sarapan bersama mereka."


"Paman sudah sarapan saat dalam perjalanan kemari. Oya, apakah Nathan sudah menghubungimu?" Tanya Cris.


Aster menggeleng. "Tidak ada kabar dari Paman Nathan. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi."


"Berpikir positif saja. Mungkin saja Nathan sedang sibuk, itulah kenapa dia tidak menghubungimu."

__ADS_1


Aster mendesah berat. "Ya, semoga saja."


"Sebaiknya kau sarapan dulu. Jangan membuat semua orang mencemaskan mu." Pinta Cris yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


Baru saja Aster hendak berjalan keluar. Tiba-tiba ponselnya berdering. Seperti mendapatkan oasis di Padang pasir. Saat melihat nama Nathan tertera dan menghiasi layar ponselnya.


"Paman!!" Seru Aster setelah menerima panggilan itu. "Paman kemana saja?! Kenapa ponsel Paman tidak bisa dihubungi?"


"Maaf, Sayang. Paman sangat sibuk sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk menghubungimu."


"Lalu kapan Paman akan kembali? Aku merindukan, Paman." Aster mulai berkaca-kaca.


"Jangan menangis. Mungkin 3-4 hari lagi. Urusan Paman di sini belum selesai. Maaf, Sayang. Paman harus pergi sekarang. Love you, Miss You." Kemudian Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


Padahal Aster masih sangat merindukan Aster dan ingin berbincang lebih lama lagi dengannya. Tapi Nathan malah memutus sambungan telfonnya begitu saja.


Dan setidaknya perbincangan singkat mereka bisa mengurangi rasa rindu Aster pada Nathan. Dan kini Aster merasa lega setelah mengetahui jika Nathan baik-baik saja.


Tak ingin membuat semua orang menunggunya. Aster pun bergegas turun, tiba-tiba dia merasa lapar juga. Lagipula sekarang sudah tidak ada alasan untuk Aster tidak makan. Nathan sudah menghubunginya dan dia baik-baik saja.


-


Nathan hanya menatap datar tiga orang yang terkapar di lantai dalam keadaan terluka parah, setelah dihajar habis-habisan oleh Leon dan Dio.


Nathan mendekati mereka lalu menjambak kuat rambut salah satu dari mereka bertiga."Aku tidak akan bicara dua kali. Katakan dengan jujur, siapa yang sudah menyuruh kalian dan mengirim kalian kemari?" Tanya Nathan to the poin.


Beruntung mereka adalah orang Asia sama seperti dirinya. Jadi Nathan tidak perlu menggunakan bahasa asing untuk bicara dengan mereka berdua.


"Pria bernama Sam Arnold. Dia yang menyuruh kami. Dia menyuruh kami untuk mengambil chip penting yang ada di tangan Anda. Dia ingin mendapatkan dokumen itu."


Nathan melepaskan cengkraman-nya pada pakaian pria itu dengan sedikit menyentaknya, dan membuat kepala pria itu terbentur lantai yang penuh dengan noda darah yang berasal dari tubuh mereka.


"Berapa banyak bajingan itu membayar kalian?"


"100 juga dolar. Dan dia akan memberikan bonus lagi jika kami berhasil membawa dokumen itu padanya."


Nathan mengambil sebuah chip yang tersimpan di sebuah kotak kecil lalu melemparkan pada mereka bertiga. "Ini kan yang dia mau dariku? Pergilah dan berikan chip ini padanya. Dan katakan pada pria itu, sebaiknya jangan menggunakan cara pengecut untuk mencapai sebuah kesuksesan!!"


Sedangkan Dio dan Leon tampak terkejut melihat Leon memberikan chip itu pada mereka bertiga. Baru saja mereka hendak melayangkan protesnya. Namun kode dari. Nathan membuat mereka tidak jadi bicara.


Lagipula Nathan bukanlah orang bodoh. Dan dokumen itu adalah dokumen palsu. Tidak mungkin juga dia memberikan chip asli pada pihak musuh.

__ADS_1


"Boss, kenapa Anda memberikan chip itu pada mereka?"


Nathan mendecih. "Kalian bodoh ya. Jelas-jelas itu adalah chip palsu. Lagipula tidak mungkin juga aku memberikan chip yang asli pada mereka."


"Aku benar-benar tidak mengerti dirimu, Boss. Kau memang selalu sulit untuk di tebak dan dipahami."


"Kalian berdua tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskannya. Chip itu bukanlah barang yang tidak berharga. Bahkan mereka sampai berani mengibarkan bendera perang dengan kita secara terang-terangan hanya karena Chip itu. Membuat keributan hanya untuk memancing kita datang kemari."


"Karena Chip itu bukan sekedar barang kecil yang tidak berharga, bahkan Chip itu lebih berharga dari nyawa kalian berdua!!"


"Kau jahat, Boss. Bagaimana bisa dengan entengnya kau mengatakan jika Chip itu lebih penting dari nyawa kami? Jelas-jelas itu hanyalah sebuah chip!!"


Dan yang kali ini dihadapi oleh Nathan bukanlah Mafia kelas teri. Yardiez adalah organisasi yang tergabung dalam sindikat ******* internasional. Mereka berbisnis senjata skala besar dalam dunia mafia.


Mereka selalu terlibat berbagai kasus kriminalitas di Inggris, mulai dari penculikan, perdagangan gelap senjata api, narkoba, dan obat-obatan terlarang lainnya. Dan masih banyak lagi.


"Boss, jujur saja kami sangat penasaran. Memangnya apa yang ada di dalam chip itu? Kenapa mereka mengincarnya sampai membuat keributan sebesar itu?" Leon menatap Nathan penasaran.


Nathan mengambil napas panjang dan menghelanya. "Chip itu sangat berharga, karena di dalamnya terdapat kode aktivasi senjata yang sedang kembangkan. Saat ini semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya."


"Dan jika sampai jatuh ke tangan yang salah. Bukan hanya satu dua nyawa saja yang berada dalam bahaya. Karena senjata itu bisa menghancurkan satu negara dalam hitungan detik saja."


"Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk menghancurkannya? Dan malah menyembunyikannya di London?"


"Itulah yang menjadi masalahnya. Tanpa kode aktivasi Incubus, aku tidak bisa menghancurkannya. Sedangkan chip yang menyimpan kode itu menghilang."


"Lalu apakah tidak ada cara lain untuk menghancurkannya?"


Nathan menggeleng. "Aku tidak tau, karena hanya Papa yang mengetahui rahasia mengenai kode Incubus itu dan bagaimana cara menghancurkannya."


"Mungkin di tenggelamkan atau dimasukkan ke dalam tubuh?"


Nathan menggeleng. "Kemungkinan mereka masih bisa melacak dan menemukannya sangat besar. Dan kita tidak bisa sembarangan jika tidak ingin terjadi hal yang fatal." Tegas Nathan.


Nathan mengeluarkan sebuah chip dari dalam saku celananya. Benda kecil yang menggemparkan seluruh dunia. Benda kecil yang bisa menghancurkan sebuah negara hanya dalam hitungan detik saja.


Dia tidak tau apa alasan Xiao Murten merancang senjata berbahaya itu. Dan kenapa juga dia harus menyimpan kode aktifasi Incubus itu di dalam benda kecil itu.


Dan kenapa juga Murten tidak pernah mengatakan apapun padanya sebelumnya. Dan sekarang masalahnya sampai sebesar ini.


Nathan mengepakkan tangannya, dia tidak mungkin diam saja. Dia harus melakukan sesuatu sebelum masalah yang semakin rumit dan besar terjadi. Tidak peduli jika nyawanya yang harus menjadi taruhannya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2