"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Mual


__ADS_3

Nathan menarik turun jas yang menyampir pada bahunya lalu membaringkan tubuhnya pada kasur super nyaman miliknya yang sudah dia tinggalkan hampir satu setengah bulan.


Perhatiannya sedikit teralihkan oleh suara decitan pintu yang di buka dari luar. Terlihat sosok Aster yang sedang memasuki kamar.


"Aku pikir kau benar-benar pergi dengan temanmu itu." Ucap Nathan tanpa menatap lawan bicaranya. Matanya tertutup rapat.


Aster menyeringai jahil. Wanita itu menghampiri Nathan kemudian berbaring di atas tubuhnya dalam posisi tengkurap. Membuat mata kiri Nathan yang tertutup akhirnya terbuka lagi.


"Harusnya sih iya, jika saja tidak ada seseorang yang sedang kebakaran jenggot saat ini." Tututnya menyeringai. "Paman cemburu ya?" Goda Aster dengan seringai yang sama.


"Apa yang kau bicarakan?"


"Aku melihat Paman sangat sebal pada seniorku itu. Dan apa Paman tau, senior baru saja mengungkapkan perasaannya padaku. Dia mencintaiku dan ingin supaya aku menjadi kekasihnya." Ungkap Aster sambil mengunci manik kiri Nathan.


"Lalu apa kau menerimanya?"


Aster tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja aku terima, lagipula apa enaknya memiliki suami seperti kutub Utara. Lebih enak jika memiliki kekasih yang hangat dan selalu memperhatikanku, bukankah hidup juga membutuhkan selingan cinta?" Aster mengerling kan sebelah matanya pada Nathan.


Bruggg...


Nathan membanting tubuh Aster dan merubah posisi mereka. Kini posisi Nathan berada di atas tubuh Aster. "Sepertinya kau memang sengaja memancingku, Nona muda. Dan untuk itu kau harus mendapatkan hukumannya!!"


"Euunggghh..."


Lengkungan panjang keluar dari bibir Aster ketika Nathan membekap bibirnya dan meum*tnnya dengan keras. Sebelah tangan Nathan menelusup masuk ke dalam pakaian Aster lalu meremas pay*dara nya.


"Aaahhh, Paman..." Desah Aster setelah Nathan melepas ciuman tersebut.


Nathan kembali membawa bibir Aster dalam sebuah ciuman panjang yang begitu mengairahkan. Bukan hanya bibirnya yang sibuk memanjakan Aster, namun juga tangannya.


Tangan kiri Nathan bergerak di dalam pakaian Aster dan terus meremas sekaligus memilin pay*daranya. Membuat ******* Aster semakin menggila dan semakin keras.


Teriknya cuaca yang menyengat di luar sana bahkan tak mampu menandingi panasnya permainan mereka.


Nathan menyeringai melihat wajah memerah Aster yang begitu menikmati permainannya. Wanita itu terus saja mendesah sambil sesekali memanggil namanya.


"Aaahhh~Paman Nathan. Uhhhh..."


"Kau menikmatinya?


Nathan menegakkan tubuhnya, salah satu kakinya di tempatkan diantara paha Aster, menjaganya untuk tetap terpisah, dan itu membuat Aster semakin basah.


Kepala Aster mendongak ke atas ketika Nathan memasukkan dua jarinya ke dalam Miss-nya yang sempit. Dengan gerakan cepat, Nathan memaju-mundurkan jarinya, membuat Aster mengeluarkan cairan yang semakin banyak dari sebelumnya.


Melihat Aster yang semakin panas membuat Nathan semakin terbakar gairah. Merasa sudah tidak tahan lagi, segera saja Nathan memasukkan juniornya pada Miss Aster yang sudah basah sejak pertama kali ia mencumbunya.


"Aaaahhhhh..."


Jerit tertahan keluar dari sela-sela bibir Aster ketika Nathan memasukkan seluruh batang sosis beruratnya ke dalam liang kenikmatannya.

__ADS_1


Kedua kaki Aster di buka lebar-lebar, dan Nathan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan tempo cepat.


Tubuh Aster tersentak-sentak ketika Nathan menambah tempo kecepatannya. Bibir mereka kembali bergulat panas seperti sebelumnya. Kedua tangan Aster mengalung ada leher Nathan.


Aster mengerang hebat saat Nathan kembali menghujamkan sosis berutatnya dengan tempo lebih cepat, bahkan kali ini tidak ada lagi gerakan lembut seperti awal pertama kali mereka melakukannya.


Tiba-tiba Nathan merasakan ujung sosis beruratnya mulai terasa geli. Seperti ada sesuatu yang mendesak dan ingin di lepaskan. Dan kurang dari satu menit, Nathan menumpahkan seluruh cairannya di dalam rah*m Aster.


Tubuhnya ambruk dan menindih tubuh wanita di bawahnya itu. Mereka sama-sama tersenyum. Mata kiri Nathan menatap Aster dengan penuh kelembutan. Sekali lagi Nathan mengecup bibir Aster, namun kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya.


"Kau lelah?" Aster mengangguk. "Kalau begitu istirahatlah. Paman, mandi dulu." Sekali lagi Aster mengangguk. Nathan mengecup kening wanitanya dan pergi begitu saja.


.


.


.


Nathan keluar dari kamar mandi dan mendapati Aster sudah tertidur pulas. Mungkin saja dia sangat lelah, pikirnya.


Dan Nathan harus menunda makan siangnya sampai Aster bangun. Karena tidak mungkin dia makan siang sendiri tanpa istri bar-barnya itu. Lagipula Nathan juga belum terlalu lapar.


Setelah berpakaian lengkap. Nathan berjalan keluar meninggalkan kamarnya. Dari ujung tangga, Nathan melihat kedatangan seorang pria setengah baya yang wajahnya tidak asing baginya.


Pria itu sedang berbincang dengan nenek Xiao. Dan ia segera bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan Nathan. "Nathan, lama tidak bertemu." Ucap pria itu yang hanya disikapi datar oleh Nathan.


"Sepertinya aku pernah melihatmu,"


"Oh, jadi kau pria itu? Pantas saja jika wajahmu tidak asing!!"


"Nathan, jadi kau masih mengingat Paman David?" Nenek Xiao menatap Nathan yang kini juga menatap padanya.


"Tentu saja, Nek. Dia adalah pria yang sama yang pada saat itu hendak mencelakai papa di sebuah acara. Dia memberikan minuman beracun pada papa, untungnya tidak sampai diminum olehnya."


David meringis sambil menggelengkan kepala, meyakinkan pada nenek Xiao jika yang Nathan katakan tidaklah benar. "Bukan begitu, Bibi. Nathan hanya salah paham saja."


"Lagipula apa untungnya bagiku menyingkirkan Murten, bukankah Bibi tau sendiri jika kami berdua berteman baik sejak SMA." Tutur David.


"Masuk akal!! Lagi pula pada saat itu Nathan juga masih sangat muda," ucap Nenek Xiao.


David mengangguk. Lalu pandangannya kembali pada Nathan. Lebih tepatnya pada mata kanan Nathan yang terlilit perban. David menatap Nathan dan tatapan sendu


"Nathan, Paman sudah mendengar semuanya dari nenekmu. Dan Paman turut merasa perihtin dengan apa yang terjadi padamu? Tapi Paman juga lega saat mengetahui jika matamu baik-baik saja."


Nathan tidak memberikan tanggapan apapun dan malah menyeringai sinis. Ia tau jika pria didepannya itu hanya berusaha mencari muka. Dia tau betul tabiat yang dimiliki oleh pria seperti David.


"Lanjutkan saja mengobrolnya. Aku masih memiliki banyak urusan." Nathan beranjak dan pergi begitu saja.


-

__ADS_1


"Uhhhh..."


Aster buru-buru bangkit dari berbaringnya dan berlari ke kamar mandi, saat tiba-tiba dia merasakan mual yang luar biasa. Di dalam sana, dia menumpahkan apapun yang ada didalam perutnya.


"Ueeekkk... Ueeekkk...Ueeekkk..."


Tapi sayangnya tak ada makanan apapun yang keluar dari perutnya. Maklum saja, saat ini perutnya dalam keadaan kosong karena dia belum makan siang.


"Menyebalkan, kenapa harus mual segala? Mengganggu orang lagi tidur saja." Gerutu Aster sambil menyeka air dari bibirnya.


Setelah merasa lebih baik. Aster berjalan keluar dan kembali berbaring. Dia hendak melanjutkan kembali tidurnya yang sempat tertunda.


-


"Aku ingin data-data itu ada di meja kerjaku besok pagi."


Kemudian Nathan memutuskan sambungan telfonnya. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya dan barjalan menuju dinding kaca yang berada di belakang meja kerjanya.


Hamparan mawar merah, pink, kuning dan putih langsung menyejukkan matanya. Itu adalah mawar milik Aster. Bukan lagi rahasia jika Aster memang sangat menyukai bunga, khususnya mawar.


Hampir setiap hari wanita itu selalu menyempatkan dirinya untuk merawat dan memeriksa bunga-bunganya. Memastikan tidak ada ulat yang bisa merusak keindahan bunganya.


Membicarakan Aster, membuat Nathan teringat pada wanitanya itu. Ini sudah hampir dua jam. Seharusnya wanita itu sudah bangun. Nathan meninggalkan ruang kerjanya dan kembali ke kamarnya.


.


.


.


"Huft,"


Nathan mendengus geli ketika melihat wanitanya masih tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya. Nathan menutup pintu kamarnya dan kemudian menghampiri Aster.


"Sayang, bangun. Ayo kita makan siang dulu. Kau sudah melewatkan makan siang mu sampai dua jam."


"Eeungg...!! Nanti saja Paman, aku tidak lapar dan aku sangat mengantuk. Tubuhku rasanya lemas semua, aku lelah dan ingin tidur lagi."


"Tidak ada penolak kan!! Cepat bangun dan ayo kita makan sekarang?!"


Aster mendesah berat. Lagi-lagi tidurnya harus terganggu. Dengan terpaksa dan mata masih sedikit mengantuk. Aster beranjak dari berbaringnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Dasar menyebalkan!! Mengganggu orang tidur saja!!" Gerutu Aster di tengah langkahnya.


Dan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istri kecilnya itu. Tingkahnya yang ajaib terkadang membuat Aster malah terlihat seperti bocah, dan anehnya Nathan malah menyukainya.


"Dasar bocah."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2