"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Tidak Akan Keras Kepala


__ADS_3

Bagi Nathan, sudah tidak ada hal yang lebih berharga dari keluarga kecilnya, entah sudah berapa kali ya ia mengatakan hal ini? Pria itu merasa bahwa dirinya tidak bisa berhenti merasa bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan atas apa yang sudah diberikan-Nya pada dirinya.


Tidak terasa, Laurent Hanna Xiao kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang aktif dan sangat menggemaskan. Nathan harus mengucapkan syukur lagi karena putrinya itu tidak mewarisi sifatnya yang kaku dan cenderung pendiam, melainkan sifat Aster yang periang.


Tahun ini Laurent genap berusia 9 tahun. Anak perempuan memang lebih cepat belajar berbicara daripada anak laki-laki. Laurent pun begitu. Gadis kecil itu tidak berhenti mengoceh, baru berhenti setelah tertidur.


Seperti saat ini, Laurent datang ke ruang kerja ayahnya dan mengagetkannya. Pria yang sedang menandatangi berkas-berkas harus berhenti sebentar untuk meladeni putri kecilnya ini.


"Ada apa, Nak?" Tanya Nathan setenang mungkin.


"Daddy tahu Princess Jasmine tidak?" Tanya Laurent dengan antusias.


"Princess Jasmine?" Nathan mengulangi kalimat putrinya, Laurent mengangguk.


Nathan memang jenius dan sangat peka dalam segala hal, tapi jika menyangkut hal-hal yang biasanya para gadis seumuran dengan putrinya, maka Nathan langsung menyerah. Karena Aster-lah yang berperan disini. Nathan lebih memilih untuk menyibukkan diri daripada ikut terlibat.


Tidak ingin mengecewakan putri kecilnya, Nathan pun menjawab seadanya. "Oh, pasti yang punya rambut sangat panjang dan berwarna emas itu ya?" biarlah ia tampak bodoh, yang terpenting putrinya ini bahagia.


Berbanding terbalik dari apa yang ada diekspektasi Nathan, gadis itu justru merubah raut wajahnya menjadi cemberut. "Huh, Daddy payah. Tentu saja bukan yang itu!! Princess Jasmine itu yang~"


"Laurent, berhenti mengganggu Daddy-mu yang sedang bekerja. Lagipula Daddy-mu sangat payah dalam hal perdisneyan, kenapa harus bertanya soal Princess padanya?" Seru Aster yang tiba-tiba saja muncul di sana.


Kedatangan Aster tentu saja membawa angin segar bagi Nathan. Dengan begitu dia tidak perlu membuat putri kecilnya itu kecewa dan cemberut lagi karena dirinya yang salah menjawab.


"Tapi, Mami?"


"Atau Laurent ingin dipukul pantatnya sama Mami?" Ucap Aster sedikit memberi ancaman.


Laurent pun menggeleng. "Tidak mau!! Pantat Laurent nanti tidak sexy lagi kalau keseringan di pukul sama Mami. Baiklah, Laurent akan keluar sekarang juga. Tapi setelah Laurent mendapatkan ciuman dari Daddy Nathan." Tuturnya.


Aster mendengus. Memang begitulah Laurent. Dia tidak merasa heran ataupun kaget dengan sikap putrinya yang terlalu mania pada sang ayah, dan Aster bisa memahaminya.


Mengingat jika sejak kecil Laurent tidak mendapatkan kasih sayang dari Nathan karena mereka yang terpisah jarak, karena dia tidak pernah tau jika telah menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Aku sayang, Daddy. Sarangaheyo, Daddy." Ucap Laurent sambil balas mencium kedua pipi Nathan dan juga mata kanannya yang tak lagi sempurna.


"Nado sarangaheyo, Nak."


"Laurent keluar dulu ya. Daddy tau sendiri bukan seperti apa Mami kalau sedang marah? Bisa-bisa Laurent nanti di terkam hidup-hidup olehnya." Ujar Laurent setelah berbisik.


"Yakk!!" Aster memekik setelah mendengar apa yang Laurent katakan. Bukannya merasa bersalah, gadis kecil itu malah terkekeh geli.


Laurent menghampiri sang ibu lalu berhambur ke dalam pelukannya. "Aku hanya bercanda, Mami. Jangan marah, oke."


Aster menarik gemas ujung hidung Laurent."Siapa yang marah Princess? Mami hanya bercanda, lagipula kapan Mami bisa marah padamu?" Ucapnya. Laurent mengangguk.


Gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Nathan saat Aster menuntunnya meninggalkan ruang kerja sang ayah. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah putri kecilnya.


Kemudian Nathan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan Laurent.


-


Angin berhembus cukup kencang. Menerbangkan daun-daun kering dan kelopak bunga yang telah berguguran dari pohonnya.


Ini adalah salah satu rasi bintang terbesar, paling terkenal, dan paling tua di antara rasi bintang bernama lainnya. Aquarius sering kali sulit ditemukan di langit malam. Dan Aster sangat beruntung bisa melihat rasi bintang tercantik itu.


Langit memang cukup cerah malam itu. Gemerlap bintang-bintang memayungi nyaris seluruh langit Seoul malam ini, ibarat mutiara yang berkilauan di kelamnya samudera.


Grepp...


Aster terlonjak kaget saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Dia tau siapa yang memeluknya ini.


"Paman, kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" Tanya Aster sambil menggenggam jari-jari Nathan yang memeluk perutnya.


"Hn,"


Kemudian Aster melepaskan pelukannya. Posisinya dan Nathan saling berhadapan. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher suaminya.

__ADS_1


Nathan mengarahkan wajahnya pada wajah Aster. Bibirnya menuju ranum tipis nan menggoda milik istrinya lalu mengecupnya. Tidak hanya sekedar menempel saja. Tapi juga memberikan lum*tan dan pagutan pada bibir tipis menggoda itu.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Nathan setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Aku masih belum mengantuk." Jawabnya.


"Tapi kau tidak boleh berdiri terlalu lama di sini, udaranya sangat dingin." Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style lalu membaringnya pada tempat tidur. "Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi, oke."


Aster memanyunkan bibirnya. Lagi-lagi dia dipaksa untuk tidur, padahal masih belum mengantuk. "Menyebalkan, kenapa harus dipaksa untuk tidur? Aku masih belum mengantuk." Rengek wanita yang sedang berbadan dua tersebut.


"Lalu kau ingin bagaimana?" Tanya Nathan.


"Temani aku berbincang, oke. Aku benar-benar belum mengantuk, Paman."


Nathan mendengus. "Baiklah, tapi tidak lebih dari 30 menit." Dan Aster mengangguk menyetujui. Mulai malam ini mereka hanya tidur berdua saja, karena Laurent meminta untuk tidur di kamar miliknya sendiri dan mereka mengabulkannya.


"Oppa, saat lahir nanti kau ingin anak laki-laki atau perempuan? Kalau aku ingin seorang jagoan," ucap Aster membuka pembicaraan. Mereka duduk di atas tempat tidur. Nathan bersandar pada sandaran tempat tidur, sedangkan Aster bersandar pada dada bidang suaminya.


Jari-jari Nathan membelai rambut panjang Aster yang selembut sutra. "Bagiku laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting kalian berdua baik-baik saja." Jawabnya. Sesekali dia mengecup kepala coklat Aster.


Aster mengangkat wajahnya, wanita itu pindah ke atas pangkuan Nathan. "Sudah lama sekali kita tidak bercocok tanam. Paman, bagaimana kalau malam ini kita bercocok tanam? Aku sangat merindukan dirimu ada di dalam diriku." Ucapnya setengah merengek.


"Apa kandunganku sudah kuat? Kandungan-mu baru dua bulan dan aku tidak ingin mengambil resiko apapun, sebaiknya kita berhenti dulu sampai kandungan-mu benar-benar kuat."


Aster menatap Nathan dan kemudian mengangguk. Memang benar apa yang Nathan katakan. Memang sangat beresiko jika mereka melakukannya sekarang. Meskipun sangat ingin, dirinya harus menahannya lebih dulu. Dan semua itu demi kebaikan janin di dalam perutnya juga. Ia tidak boleh bersikap egois dan mementingkan kenikmatan sesaat .


"Baiklah, Paman. Kali ini aku tidak akan bandel lagi apalagi sampai bersikap keras kepala." Ucapnya. Nathan menarik bahu Aster lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


Dagu Nathan bersandar pada kepala coklat Aster. Keputusannya adalah yang terbaik untuk janin di dalam perut istrinya. Memang tidak dilarang untuk berhubungan ketika istri sedang hamil muda, tapi memang sangat beresiko.


Dan itulah Nathan tidak ingin mengambil resiko terburuk yang mungkin terjadi. Meskipun saat ingin, tapi dia mencoba untuk menahannya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2