"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Bajak Laut Tertampan


__ADS_3

Hari ini Nathan akan melakukan operasi pada mata kanannya yang bermasalah. Bukan di rumah sakit besar dan terkenal. Melainkan di Villa miliknya sendiri, bukan dokter lain juga yang akan mengoperasi mata kanannya, melainkan Zhoumi.


Sudah dua jam Nathan berada di dalam ruangan pribadi Zhoumi. Tapi masih belum ada tanda-tanda jika pria itu akan segera keluar. Sedangkan Aster yang cemas terus saja mendar-mandir tidak jelas di depan ruangan tersebut.


Aster terus saja mendar-mandir sambil menggigit kuku jempolnya. Kebisaan yang selalu Aster lalukan ketika dia sedang panik ataupun gugup.


"Kenapa lama sekali sih? Bukankah hanya satu mata yang dioperasi? Tapi kenapa harus sampai berjam-jam?" Gerutu Aster setengah mengumam. Aster tidak bisa tenang.


Cklekk...


Sontak Aster menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari dalam. Zhoumi keluar dari dalam sana sambil membawa sebuah tabung kecil sepanjang jari telunjuk orang dewasa yang di dalamnya berisi bola mata kanan milik Nathan yang rusak parah.


Zhoumi menyerahkan bola mata itu pada Aster."Inilah alasan kenapa Paman memutuskan supaya Nathan harus melakukan pengangkatan pada bola mata kanannya."


Dengan gemetar, Aster mengambil tabung kecil itu. Terlihat jelas luka tusuk pada bola mata tersebut.


Luka yang Nathan dapatkan dalam insiden tiga bulan yang lalu, insiden yang nyaris merenggut nyawanya dan membuatnya mengalami koma.


"La..la..lu bagaimana dengan Paman Nathan? A..ap..a..kah di..a baik-baik saja?" Aster bertanya dengan sedikit terbata-bata. Matanya berkaca-kaca dan suara terdengar sedikit parau.


"Kau bisa masuk dan melihatnya sendiri. Oya, Aster. Paman harap kau tidak berkecil hati karena harus hidup dengan seorang bajak laut, maksud Paman mata kanan Nathan tidak mungkin bisa kembali normal."


"Jika bajak lautnya setampan Paman Nathan sih aku tidak masalah. Setelah perbannya dibuka dan diganti eyepacht, Paman Nathan justru akan semakin tampan, cool dan misterius." Cerocos Aster dan membuat Zhoumi melongo.


"Dasar aneh."


"Hahaha," dan Aster hanya tertawa menyikapi cibiran Zhoumi. "Sudah ah, aku masuk dulu." Ucapnya dan melenggang dari hadapan Zhoumi.


"Paman..."


Nathan membuka mata kirinya yang sebelumnya tertutup setelah mendengar suara cempreng Aster masuk dan berkaur di dalam telinganya. Nathan mengulurkan sebelah tangannya pada Aster, lalu membawa bibir Aster dalam ciuman panjang yang menuntut.


Aster mempoutkan bibir bawahnya,bkedua matanya tampak berkaca-kaca, bahunya bergerak naik-turun. "Huhuhu, Paman..." Serunya dan berhambur ke dalam pelukan Nathan.


Nathan mengusap punggung Aster dengan gerakan naik turun, meyakinkan pada Aster jika dirinya baik-baik saja. "Sst, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa, sungguh. Paman baik-baik saja, Sayang."


Aster menggeleng. "Aku menangis bukan karena aku mencemaskan Paman. Tapi aku menangis karena Paman tidak bisa menemaniku bercocok tanam, tamuku baru saja pergi. Dan Paman malah menjalani operasi," ujarnya menuturkan.


Nathan mendengus geli. Dia pikir Aster menangis karena melihat kondisinya saat ini. Tapi ternyata dia menangis karena tidak bisa bercocok tanam lagi.


"Bodoh, jelas-jelas yang sedang sakit mata kananku, bukan sosis beruratku. Memangnya kau ingin bermain berapa ronde? Aku bisa menemanimu bermain sampai puas." Tuturnya.

__ADS_1


"Benarkah?" Kedua mata Aster pun berbinar seketika."Kalau begitu malam ini kita bermain, Paman kau harus membuatku puas, oke!!"


Nathan menjitak gemas kepala coklat Aster. Entah kenapa semakin hari Aster semakin mesum saja.


"Sekarang biarkan Paman istirahat, kepala Paman sangat pusing. Efek obat bius belum hilang sepenuhnya."


"Jangan di sini, sebaiknya Paman istirahat di kamar saja. Aku akan membantu memapah Paman,"


Nathan menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri. Lagipula kondisiku tidaklah seburuk itu, Aster Xiao!!"


Aster tersenyum tiga jari. "Baiklah, baiklah, aku hanya berusaha menjadi istri kecil dan cantik yang perhatian dan selalu pengertian."


Nathan mendengus untuk yang kesekian kalian. Kemudian pria itu beranjak dari ranjang beda dan melenggang keluar meninggalkan ruang operasi.


Mata kanannya yang tertutup perban terus saja berdenyut nyeri. Mungkin karena efek obat bius yang hampir saja hilang. Nathan berjalan sedikit sempoyongan sambil terus memegangi mata kanannya.


Nathan sudah menduga jika pecahan kaca itu akan berakibat fatal pada penglihatannya, itulah kenapa dia tidak terkejut ketika Zhoumi mengatakan jika bola mata kanannya harus diangkat.


-


"Dokter tampan?!!"


"Aaahhh, Settaaannn...!!"


Zhoumi terjengkang kebelakang karena terkejut. Suketi muncul secara tiba-tiba dan membuatnya hampir saja jantungan karena kemunculannya. Suketi menghampiri Zhoumi sambil tersenyum malu-malu.


"Ayang dokter, Suketi suka sama Ayang dokter. Bagaimana kalau kita berkencan?" Suketi mengedipkan matanya.


"Tidak Sudi!!" Zhoumi berlari meninggalkan kamarnya dengan celana bagian depannya basah. Zhoumi sampai terkencing di celana saking kagetnya.


"Ayang Dokter. Jangan tinggalkan Suketi, Ayang Dokter, tunggu Suketi!!"


Suketi mengejar Zhoumi yang berlari meninggalkan kamarnya. Bukannya melayang seperti kebanyakan hantu pada umumnya. Akibatnya Suketi terjungkal karena kaki kanannya terjegal kaki kirinya.


"Aduh, gigi sexy-ku malah lepas. Ayang Dokter, kamu jahat!!"


-


Sudah tiga jam Nathan tidur pasca operasi pengangkatan bola mata kanannya, dan dia belum juga bangun sampai sekarang. Dan hal itu membuat Aster dongkol setengah mati.


Bagaimana tidak, Nathan tadi sudah berjanji akan menemaninya bercocok tanam, tapi sampai sekarang belum bangun juga.

__ADS_1


Aster mendekati ranjang tempat Nathan berbaring dan terus memperhatikan wajah tampannya. Wanita itu memanyunkan bibir bawahnya.


Nathan memalingkan wajahnya ketika anak rambutnya tidak sengaja menggelitik pipinya. Aster mendesah berat. Kesal, ia pun beranjak dari sisi Nathan, sampai cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.


Tubuh Aster tertarik ke depan dan jatuh diatas tubuh Nathan. Mata kiri Nathan yang sebelumnya tertutup kini terbuka sepenuhnya."Menanti eh?" Pria itu menyeringai.


Kedua mata Aster tertutup perlahan ketika merasa sapuan, lum*tan dan pagutan bibir Nathan pada bibirnya. Sebelah tangan Nathan menekan tengkuk Aster dan memperdalam ciumannya.


"Ingin melakukannya?" Aster menarik wajahnya sedikit menjauh dari Nathan. Bola mata berbeda warna milik mereka saling menatap dan mengunci.


Aster memperhatikan Nathan. Melihat keadaan Nathan saat ini lama-lama membuat Aster tidak tega. Dia tidak ingin menjadi egois dan memaksa Nathan tanpa peduli bagaimana keadaan suaminya saat ini.


"Besok saja, sebaiknya malam ini Paman istirahat saja. Aku tau Paman tidak baik-baik saja."


"Kau yakin?" Aster mengangguk. "Tapi kalau ini kau tidak menolaknya bukan?!" Kembali Nathan menyergap bibir Aster dan mel*mat bibir ranumnya.


Menyesapnya dengan begitu lembut namun terasa kuat hingga membuat Aster semakin memejamkan mata dan mulai meremas kemeja hitam yang Nathan kenakan.


Ciuman Nathan terasa begitu lembut namun menuntut, tangannya masih berada di pinggang Aster. Menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat kearahnya, sementara tangan yang lain bergerak dengan cara yang lembut kebelakang telinga wanita itu dan mulai menekan tengkuk Aster agar memperdalam ciuman mereka.


 "Emmmhhh.."


Des*han itu yang tertangkap ditelinga Nathan saat ia mulai menggigit bibir bawah Aster untuk mendapatkan akses lebih, dan mulai melesatkan lidahnya ke dalam mulut Aster .


Kedua tangan Aster yang mengalung pada leher Nathan sesekali meremas rambut belakang pria itu saat dirasa ciuman Nathan semakin dalam dan menuntut. Aster tak ragu membalas ciuman Nathan, mengimbangi setiap lum*tan yang diberikan suami tampannya ini bahkan lidah mereka saling berperang hingga suara decapan dari bibir mereka terdengar memenuhi ruangan kamar tersebut.


Aster mulai merasa jika dadaya menyempit, namun dia tidak berniat untuk menyudahi ciuman mereka, terlebih lagi Nathannyang selalu menekan tengkuknya dan mulai menggerakan kepalanya untuk mencari posisi yang pas.


Bibir mereka terus saling mel*mat dan kepala mereka saling berputar seirama. Aster terus membalas dan mengimbangi ciuman Nathan yang semakin menuntut.


Namun tetap saja, kebutuhan oksigen memang sangat penting hingga akhirnya dengan terpaksa merema melepaskan ciumannya, meskipun sama-sama tidak rela.


Pria itu memberi kecupan singkat dibibir Asrer sebelum akhirnya bergerak menyatukan kening mereka dengan nafas yang masih sama-sama terengah.


"Paman kau tau? Aku merasa beruntung karena memilikimu disisiku. Kau adalah anugerah yang Tuhan berikan padaku. Disaat aku terpuruk karena kehilangan Ibu dan ayah."


"Tiba-tiba kau datang mengulurkan tangan padaku. Kau adalah malaikat penyelamat dalam hidupku, dan aku bisa mati jika kau pergi."


Nathan menekan tengkuk Aster masih dalam posisi kening mereka yang menyatu. "Aku mencintaimu, Sayang. Sangat-sangat mencintaimu." Bisiknya lirih. Sekali lagi Nathan menyatukan bibir mereka. Namun kali ini sangat singkat.


Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Dagunya bersandar pada bahu kanannya. Mata kirinya terpejam, dalam-dalam Nathan menghirup aroma tubuh Aster yang selalu menjadi candu untuknya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2