
Ada kalanya Aster memimpikan sesuatu yang manis bersama lelaki pujaannya. Sekadar berjalan bersama dan bergandengan tangan. Pipi wanita berambut coklat itu selalu merona, disusul senyuman mengembang dari sudut bibir ranumnya.
Hanya saja terkadang dia lupa ..., bahwa itu bukan mimpi. Seperti halnya harapan ingin menjadi istri dari seorang Nathan Xiao. Rasanya harapan itu sudah ia buat sejak lama. Terus diulang seolah itu adalah mantra agar harapannya menjadi nyata.
Kebahagiaan tertinggi ketika lelaki itu mengatakan akan terus bersama dengannya sampai mati, ungkapan perasaan yang dinanti, membuatnya menitikan air mata.
Rasa syukur menggerogoti hati Aster pada saat itu, seolah doa-doa yang ia bisikan, menuntun jalan takdir hingga menjadi jelas di matanya bahwa lelaki pujaannya tengah melamarnya. Memintanya menjadi istrinya. Ibu dari anak-anaknya, kelak. Dia merasa telah menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Dan tanpa terasa. Ia telah memiliki 2 malaikat kecil, hasil buah cintanya dengan Nathan. Ditambah lagi dengan janin yang saat ini ada di dalam rahimnya. Ya, saat ini Aster sedang hamil muda. Dan usia kandungannya baru berusia beberapa Minggu.
"Minum dulu susumu selagi masih hangat." Wanita itu tersenyum lalu mengambil segelas susu hangat itu dari tangan suaminya.
"Terimakasih, Paman." Lalu Aster meneguknya sampai habis.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Nathan menunjuk benang dan jarum yang ada dipangkuan Aster. "Apa kau sedang merajut dan hendak membuat pakaian hangat untuk bayi di dalam perutmu?" Tanya Nathan memastikan.
Aster menganggu. "Ya, rencananya begitu. Aku terlalu bahagia dan bersemangat. Tidak hanya untuk dia, tapi juga untuk Laurent dan Rey." Jawab Ibu dua anak itu.
Nathan menepuk kepala Aster. "Iya, tapi kau tidak boleh sampai kelelahan. Kau harus memikirkan janin yang ada di dalam perutmu," nasehat Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
"Aku mengerti, Paman." Wanita itu mengangguk sambil tersenyum lebar."Lihatlah ini, bagaimana menurutmu? Cantik tidak?" Aster menunjukkan sweater Setengah jadi itu pada Nathan dan dia meminta pendapat dari suaminya.
"Sangat cantik. Kau memang Ibu terbaik di dunia ini, Sayang."
Aster terkekeh mendengar apa yang Nathan katakan. Suaminya ini memang paling suka memuji dirinya, dan jika sudah begitu pasti akan membuat pipi Aster bersemu merah.
Wanita itu bangkit dari duduknya lalu memeluk leher Nathan Sambil mengunci manik kirinya. "Kalau begitu mana penghargaan untukku?" wanita itu menyeringai.
Karena masih tidak ada tanggapan dari Nathan, Aster mengambil inisiatif lebih dulu. Wanita itu memiringkan kepalanya lalu mencium bibir Nathan. Sepertinya memang itu yang Nathan harapkan.
Detik berikutnya, ciuman itu diambil alih oleh Nathan sepenuhnya. Nathan menarik pinggul Aster dan membunuh jarak diantara mereka.
__ADS_1
Nathan terus menginvasi bibir Aster, dan tidak memberikannya kesempatan untuk mengambil alih ciuman tersebut. Des@han dan erangan keluar dari sela-sela bibir aster. Ciumnya semakin dalam.
Dan ciuman itu baru berakhir ketika telinganya menangkap kedatangan seseorang. "Daddy, Mami. Aku mencari kalian kemana-mana, dan ternyata kalian ada disini." seru Laurent dari arah pintu.
Kemudian Nathan menghampiri Laurent. "Ada apa, Nak? Kenapa kau mencari kami?" tanya Nathan pada Putri kecilnya itu.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku masih sangat merindukan kalian berdua."
"Kalau begitu kemarilah, tetaplah disini bersama Mami dan Deddy." ucap Aster menyahuti.
Laurent mengangguk lalu menghampiri sang ibu. "Wah, ini sangat cantik apa ini untuk adik bayiku? Tapi kenapa Mami membuatnya dua warna, dengan model yang sama?" Laurent menatap Aster penasaran.
"Karena kita masih belum tahu, adikmu laki-laki atau perempuan." jawab Nathan yang entah sejak Kapan sudah berdiri di samping Laurent.
Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum lebar."Benar juga."
"Lalu di mana Dedek Rey? Bukankah dia tadi bermain bersamamu?" menatap Laurent penasaran.
"Hm, naiklah Mami mengerti."
🌹
🌹
Nathan meninggalkan rumahnya dengan terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari Leon. Telah terjadi kecelakaan di tempat kerja yang mengakibatkan 1 orang tewas dan beberapa luka-luka.
20 menit waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana. Nathan segera turun dan menghampiri Leon yang tengah terlibat perdebatan sengit dengan seorang pria yang merupakan penanggung jawab dari proyek tersebut.
"Ini bukan salah, Tuan Leon. Tapi salah mereka yang tidak hati-hati." Pria itu bersikeras Jika dia tidak bersalah.
"Jelas-jelas itu adalah salahmu. Bos Nathan sudah memberikan kepercayaan penuh padamu tapi kok malah menyia-nyiakannya. Kau menggunakan bahan dengan kualitas paling untuk proyek ini. Dan semua bukti-buktinya sudah ada di sini, kau telah mengkorupsi sebagian dana untuk kepentingan mu sendiri!!"
__ADS_1
"Itu tidak benar!! Memangnya atas dasar apa Anda menuduh saya melakukan korupsi, Tuan Leon?!" Pria itu berdiri di depan Leon.
"Aku memiliki semua bukti-buktinya." sahut seseorang dari arah belakang.
Sontak keduanya menoleh, kedua mata pria itu membelalak saat melihat Siapa yang datang, sedangkan Leon mengurai senyum penuh kemenangan.
"Tuan Nathan?!" Pria itu memekik kencang.
Nathan melemparkan berkas-berkas yang ia bawa pada pria itu. "Itu adalah bukti-bukti hasil korupsimu yang aku temukan selama 2 bulan terakhir. Masih ingin mengelak?"
"Pria itu menggeleng. Tidak Tuan Nathan, ini tidak benar. Pasti ada kesalahan, saya tidak pernah melakukan korupsi. Atau jangan-jangan Tuan Leon yang telah melakukannya, dan melimpahkan semua kesalahan pada saya."
"Sembarangan. Aku sudah bekerja pada bos Nathan selama bertahun-tahun, dan sekalipun tidak pernah melakukan korupsi atau penghianatan padanya. Bisa-bisanya kau malah melemparkan kesalahanmu padaku!!"
"Aku benci penghianatan, seharusnya kau tahu konsekuensi seperti apa yang harus kau terima jika berani menghianatiku!!" Nathan menatap pria itu tajam dan penuh intimidasi.
Pria itu pun langsung berlutut dan memeluk kaki Nathan."Ampuni saya, Tuan Nathan. Saya tahu saya bersalah. Saya telah melakukan kesalahan besar, tapi tolong jangan bunuh saya. Saya akan bertanggung jawab." pria itu memohon pada Nathan.
Nathan menyeringai dingin. "Tanggung jawab kau bilang, bagaimana kau akan bertanggung jawab jika seluruh uangnya sudah habis kau gunakan untuk berfoya-foya dengan wanita-wanitamu di bar."
"Sa..Saya akan melakukan apa saja untuk Anda tapi tolong jangan bunuh saya." pria itu terus memohon supaya Nathan mengampuni.
"Sayangnya hatiku tidaklah selembut itu. Leon, urus dia." perintah Nathan yang segera dibalas anggukan oleh Leon.
"Dengan senang hati, Bos. Hohoho, kau milikku sekarang."
Pria itu terus berteriak, memohon supaya Nathan mengampuninya. Tapi sayangnya teriakan itu dihiraukan oleh Nathan. Nathan tak peduli dan tak mau ambil pusing. Itulah harga mahal yang harus dia bayar.
-
Bersambung.
__ADS_1