
Aster baru saja menidurkan si kecil ketika Nathan masuk ke dalam kamarnya. Pria itu kemudian menarik pinggang ramping sang istri dan memberikan kecupan singkat pada bibir ranumnya.
Aster senang karena Nathan memiliki cukup banyak waktu untuknya, dan kedua buah hati mereka.
Sejak kelahiran si bungsu, Rey. Nathan menang lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Alasannya hanya satu, yakni karena dia ingin melihat pertumbuhan putra bungsunya.
Dia telah melewatkan moment paling berharga saat kelahiran Laurent, dan dia tidak ingin melewatkan moment bersama Rey juga.
Nathan tidak menyia-yiakannya. Karena dia menyaksikan anak laki-lakinya tumbuh besar dengan kasih sayang orangtua yang utuh.
Ia banyak belajar dari Aster, tentang bagaimana mengganti popok, meninabobokan bahkan mengasuh Rey saat Aster sedang subuk.
Walaupun cara yang Nathan lakukan agak kaku, tapi Rey sangat senang. Tak jarang dia cekikikan khas bayi ketika sang Ayah yang mengurusinya.
Dengan kekurangan dan kekakuan Nathan yang begitu khas. Rey malah ingin selalu bersama Ayahnya, sampai-sampai Aster dibuat iri karena kedekatan mereka berdua.
"Dia sudah tidur?" Aster mengangguk.
"Dia baru saja tidur. Sempat rewel karena lapar, tapi setelah aku memberinya asi, dia tenang dan langsung pulas tidurnya." Ujar Aster memaparkan.
"Kau memang wanita dan ibu yang sangat hebat, Sayang. Aku bangga padamu."
"Kau terlalu menuji, Oppa. Lalu bagaimana dengan Laurent? Apa gadis kecil kita itu juga sudah tidur?" Tanya Aster yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
"Dia juga sudah tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan, ini sudah malam. Sebaiknya kau juga segera tidur." Pinta Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
Aster dan Nathan menang selalu berbagi tugas saat malam. Aster bertugas menidurkan si bungsu, sedangkan Rey bertugas menidurkan Laurent
Nathan merangkul pundak Aster. Keduanya kemudian meninggalkan boks bayi tempat Rey tidur. Aster memang harus tidur lebih awal. Karana dia harus mengurus Rey jika sewaktu-waktu dia terbangun karena haus, pipis atau bahkan buang air besar.
Meskipun waktu tidurnya berkurang, tapi Aster tidak pernah mengeluh. Dia melakukannya dengan sepenuh hati, Aster justru merasa senang. Sebagai seorang Ibu, melihat putra-putrinya tumbuh adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
-
Sang Dewi malam telah menyingsing, menenggelamkan diri dan kembali ke peraduannya. Mentari pagi yang hangat mulai merangkak naik menuju tahta nya. Bertugas menggantikan bulan untuk menemani bumi melewati hari.
__ADS_1
Di sebuah mansion mewah. Seorang wanita terlihat sibuk mengurus buah hatinya yang menangis karena haus, padahal waktu baru menunjuk angka lima pagi. Tapi dia sudah memulai aktifitasnya disaat orang lain masih berlayar di dalam mimpinya.
Si kecil rewel sejak satu jam yang lalu. Itulah yang membuat Aster harus bangun lebih awal untuk mengurusnya. Sedangkan Nathan, dia masih tertidur pulas. Aster melarangnya untuk ikut bangun dan meminta nya untuk tidur lagi.
"Mi, Laurent ingin tidur disini."
Perhatian Aster teralihkan. Terlihat putri kecilnya yang masih setengah mengantuk datang ke kamarnya dan mengatakan ingin tidur di kamar miliknya dan Nathan. Dan tentu saja Aster mengijinkannya.
"Laurent, tidur dengan Daddy ya. Mami masih harus menidurkan Adik lagi. Dia masih belum pulas." Bujuk Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Laurent.
Gadis kecil itu menyusul Nathan yang sedang tertidur pulas, dan ikut berbaring disampingnya. Dan gerakan yang Laurent timbulkan memaksa Nathan untuk membuka mata kirinya.
"Laurent?"
"Aku ingin tidur di sini, Daddy. Peluk Laurent, ya." Rengek Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
Lalu pandangan Nathan bergulir pada Aster yang sedang meletakkan Rey di dalam box bayinya. Melihat istrinya itu yang selalu begadang hampir setiap hari membuatnya merasa tidak tega.
"Sebaiknya tidurlah lagi, ini masih terlalu awal untuk bangun." Ucap Nathan dan mengalihkan perhatian Aster.
Nathan mendesah berat. Pria itu bangkit dari berbaring nya lalu menghampiri Aster. "Ah, Oppa!! Apa yang kau lakukan?!" Kaget Aster karena Nathan tiba-tiba mengangkatnya bridal style dan membawanya ke tempat tidur.
"Aku tidak ingin mendengar kata 'Tidak' lagi. Tidur sekarang atau kau akan menanggung akibatnya?!"
Aster mempoutkan bibirnya. Wanita itu menatap suaminya dengan kesal. Dan dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti Nathan. "Menyebalkan, dasar Tuan Pemaksa!!" Nathan kembali berbaring, dia memeluk Aster dan Laurent secara bersamaan. Sebuah kecepan Nathan darat kan pada kening wanita itu.
"Mengertilah, jika yang aku lakukan ini demi kebaikanmu sendiri." Ucapnya memberi pengertian.
"Baiklah, aku akan tidur sekarang!!" Ucap Aster menyerah.
Sebenarnya Aster tidak mengantuk, tapi dia tidak memilliki pilihan dari pada harus membuat Nathan sampai marah. Karena itu sudah pasti mengerikan!! Dan jika marah, suaminya itu bisa lebih mengerikan dari Iblis neraka.
-
"Berhenti mengolok-olok dan memanggilku, BU-DI!!"
__ADS_1
Kekesalan Cris dan Zhoumi memuncak karena ulah Gavin dan Rio. Mereka berdua terus saja meledek mereka dan menyebut jika kedua pria tampan itu adalah 'Bujang Abadi' hanya karena masih belum menemukan pasangan hingga detik ini.
Bukan rahasia lagi jika Zhoumi dan Cris selalu menjadi korban dari kenakalan dan kejahilan mereka. Semakin bertambah tua bukannya semakin dewasa, Gavin dan Rio malah kayak bocah. Terkadang tingkah mereka yang ajaib membuat orang lain frustasi.
"Tidak pernah berkencan, dan masih menjomblo sampai sekarang padahal umur sudah tua, kalau bukan Budi apa namanya?!"
"Setidaknya jangan menyebut kami bujang abadi atau jomblo ngenes!! Belum dapat jodoh bukan berarti tidak bisa, tapi memang belum ada yang tepat saja!!"
"Cih, dasar tukang ngeles. Kalau gak laku ya gak laku saja!!"
"Yakkk!!"
"Paman, menerima keadaan dengan hati lapang itu jauh lebih baik daripada memaksakan sesuatu di luar batas kemampuan kita. Memaksakan untuk menyebut diri kita bukan sebagai Bujang Abadi contohnya. Seharusnya kalian berdua itu bangga karena mendapatkan penghargaan tertinggi dari kami!!"
"### Sialan kalian berdua!!"
-
Helaan napas panjang berkali-kali lolos dari bibir ranum itu. Berkali-kali Aster mencoba untuk menutup matanya. Tapi hasilnya tetap saja nihil.
Matanya tidak mau tertutup meskipun sebenarnya rasa kantuk begitu mendera dan sulit baginya untuk mengendalikannya.
Jika bukan karena Nathan yang memaksanya, pasti saat ini dia sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan. Tapi yang menyebalkan nya, dia malah terjebak di dalam kamar seperti ini.
"Oppa, biarkan aku keluar ya." Rengek Aster memohon. Jari-jarinya mengguncang lengan terbuka Nathan.
Mata kiri itu terbuka. "Kau tidak bisa tidur?" Aster mengangguk sambil memasang muka memelas nya. Berharap Nathan mau mengijinkannya keluar.
Nathan mendesah berat. "Baiklah, terserah kau saja. Aku tidak akan memaksamu untuk tidur lagi." Aster tersenyum lebar mendengar ucapan Nathan. Mengecup singkat bibir suaminya, wanita itu pergi begitu saja.
"Kau memang yang terbaik suamiku!!"
-
Bersambung.
__ADS_1