
Dorr!
Klang!
Desiran peluru yang mengarah pada Nathan kembali dihalangi olehnya. Lagi-lagi pria bermarga Xiao tersebut menggunakan keahliannya untuk membelokan peluru sehingga peluru yang seharusnya datang dari depan Nathan, berhasil dia belokkan.
Tring!
Belati kecil milik Nathan berhasil menghentikan peluru itu. Salah satu dari empat perampok itu berusaha menyerang Nathan dengan menayunkan kakinya menuju dadanya.
Nathan mulai terdesak sehingga ia tidak mempunyai peluang lagi untuk balas menyerang. Tapi bukan Nathan namanya jika tidak bisa mengembalikan keadaan.
Pria itu menyeringai tajam. Setelah berkali-kali membiarkan lawan menyerang dan berusaha menghindari semua serangan yang mengarah padanya.
Dan akhirnya, dua belati komando milik Nathan berhasil mendarat di bahu dan dada kanan dua pria yang coba menyerangnya.
Tubuh kedua orang itu terjajar mundur sejauh beberapa meter. Pada bagian dada dan bahunya tampak belati menancap yang mengalirkan darah segar.
Bukan berarti Nathan lepas dari serangan lawan. Lengan kanan atas dan tulang pipinya berhasil terkena sabetan senjata tajam milik lawannya.
Nathan masih sempat memiringkan tubuhnya sehingga serangan lawan tidak terlalu telak mengenai tubuhnya.
Melihat kesempatan yang ada. Membuat Nathan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi tubuh lawannya terhuyung, pria itu mengirimkan sebuah tendangan ke dada dua lawan yang ada didepannya.
Dan...
Tubuh kedua pria itu terlempar keras ke belakang karena tendangan Nathan.
Nathan menghampiri kedua pria itu yang terlihat tak berdaya oleh serangannya. Meteka berlutut sambil memegangi luka-lukanya. Baru saja Nathan hendak mengakhiri kedua pria itu, namun serangan lain datang dari empat titik yang berbeda.
Nathan melompat kebelakang sambil meliukkan tubuhnya. Dia menangkis dan menghindari semua serangan yang mengarah padanya dengan merendahkan tubuhnya. Sehingga empat senjata lawan saling berbenturan satu sama lain.
Nathan mengarahkan belati komandonya pada kaki dua diantara empat orang itu. Tubuh itu pun tumbang seketika setelah belati Nathan menusuk kaki mereka.
Dorr! Dorr!
Nathan juga melepaskan dua tembakan pada dua lawan yang tersisa. Serangan lain datang dari arah belakang. Nathan pun bergerak cepat, ia mendekati lawannya. Nathan melayangkan pukulannya ke perut dua orang yang mencoba menyerangnya dari belakang.
__ADS_1
Dengan sigap Nathan menahan sambil memutar tubuhnya. Ia melayangkan tendangannya ke pelipis lawannya. Tubuh satu orang kembali tumbang.
"Aku sudah muak bermain-main dengan kecoa-kecoa seperti kalian!!" sinis Nathan.
Beberapa tembakkan dan pisau komando Nathan lepaskan pada orang-orang itu dengan brutal, satu persatu mulai tumbang setelah tembakkan dan pisau yang Nathan lemparkan bersarang pada otak dan jantungnya.
Sementara itu...
Aster yang bersembunyi di dalam mobil masih tidak berani membuka matanya. Dia menuruti perintah Nathan untuk tetap menutup matanya.
Sebenarnya bisa saja Aster turun dan membantu Nathan. Tapi dia sedang kedatangan tamu dan mengalami nyeri datang bulan, itulah yang membuatnya malas untuk banyak melakukan gerakan yang menguras tenaganya.
"Kenapa suara tembakkannya sangat mengerikan? Paman Nathan!! Mungkinkah dia baik-baik saja?" Gumam Aster entah pada siapa.
"Eh?" Aster terkejut saat merasakan mobil Nathan mulai bergerak. Gadis itu membuka matanya dan terkejut mendapati Nathan sudah duduk di balik kemudi, dan mengemudikan mobilnya. "Paman!! Kapan kau masuknya?!" Pekik Aster dengan nada meninggi.
"Hn."
Aster menoleh kebelaka dan ia melihat orang-orang yang menghentikan perjalanan mereka telah terkapar di jalanan. Sayangnya Aster tidak tau bagaimana keadaan mereka, apakah mereka masih hidup atau sudah mati, karena keadaan yang sangat gelap.
"Hn."
Melihat respon dari Nathan, membuat Aster berani bersumpah jika pria itu memang membunuh mereka semua. Aster menggeleng.
Dia tidak yakin, karena sepanjang mengenal Nathan. Tak sekalipun Aster melihat Nathan membunuh orang.
"Paman, jangan hanya 'Hn, Hn' saja!! Jawab dengan bahasa yang aku mengerti!!" Rengek Aster sambil mengguncang lengan Nathan.
Nathan menyentil kening Aster. "Kenapa semakin hari kau semakin banyak bicara saja?"
Aster mendecih, jari-jarinya mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Nathan. Aster membuang muka kearah lain. Gadis itu memfokuskan pandangannya pada pemandangan kota.
"PAMAN, STOP!!!" Teriak Aster tiba-tiba. Membuat Nathan mengerem mendadak.
Nathan menoleh. "Ada apa?"
"Ada permen kapas. Paman ayo turun, cepat belikan satu saja untukku." Rengek Aster sambil menatap Nathan dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Aster membuat Nathan geli sendiri. Pria itu turun di ikuti oleh Aster yang kemudian berjalan disampingnya. Aster memeluk lengan Nathan, dan keduanya berjalan beriringan menuju Paman penjual permen kapas.
Melihat ekspresi bahagia Aster membuat Nathan tersenyum. Hatinya menghangat melihat senyum ceria di bibir gadis kecilnya ini.
"Nathan Xiao!" Panggil seseorang dari arah belakang.
Sontak keduanya menoleh. Meskipun hanya sekilas, namun keterkejutan terlihat jelas pada raut wajah Nathan. Sedangkan Aster hanya mampu terpaku melihat sosok itu.
"Bibi Riyana?" Ucapnya bergumam.
"Aster, kembalilah ke mobil. Tunggu Paman disana, ada hal penting yang harus bicarakan dengan Bibi itu." Ujar Nathan sambil menatap Aster dengan serius.
Melihat tatapan Nathan membuat Aster mengangguk pasrah. "ASTER, TUNGGU!!" Seru Riyana dan menghentikan langkah Aster detik itu juga. Riyana menghampiri Aster lalu memeluknya.
"Apa kau tidak merindukan, Bibi-mu ini? Setelah sekian lama kita tidak bertemu?" Ucap Riyana sambil mengusap rambut panjang Aster dengan gerakan naik-turun. Wanita itu menyeringai sinis pada Nathan.
Riyana melepaskan pelukannya pada Aster, bibirnya mengurai senyum lebar. "Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Sayang-ku. Kau benar-benar sangat mirip ibumu."
Aster menyentak tangan Riyana dari kepalanya lalu menatapnya tajam. "Apa Bibi tidak pernah diajarkan sopan santun sebelumnya?"
"Asal Bibi tau saja, aku paling benci jika ada orang yang menyentuh kepalaku selain Paman Nathan!! Jadi jangan sembarangan menyentuh kepalaku lagi tanpa ijin. Karena aku tidak suka!!"
"Apa-apaan ini?! Aster, kenapa kau bicara sepedas itu pada, Bibi-mu sendiri? Apa sikap kurang ajar-mu ini adalah hasil dari dirikan Ayah angkat-mu ini?!"
"JANGAN BERKATA SEMBARANGAN MENGENAI, PAMAN NATHAN!!" Bentak Aster menyela ucapan Riyana.
"Aku tidak suka jika ada orang lain yang menghina, apalagi menjelek-jelekkan Paman Nathan!! Dia lebih baik dari siapa pun, dia adalah orang yang paling banyak berjasa dalam hidupku!!"
"Aku tidak peduli siapa pun orang itu, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya, jika seseorang berani menghinanya!! Bahkan itu, Bibi!! Paman, ayo kita pergi." Aster meraih tangan Nathan dan membawanya pergi dari sana.
Nathan menoleh. Seringai penuh kenangan terlihat jelas pada raut wajahnya ketika dia menatap Riyana. Sedangkan wanita itu hanya bisa menggepal-kan tangannya menahan amarah.
"Nathan Xiao!! Lihat dan tunggu saja bagaimana aku akan merebut Aster dari tanganmu, karena dia adalah milikku. Aku adalah Bibi kandungnya, jadi aku yang lebih berhak atas hak asuhnya, termasuk semua harta kekayaannya!!"
-
Bersambung.
__ADS_1