"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Sosis Berurat


__ADS_3

Ketakutan jelas di rasakan oleh Jung Hilman. Bagaimana tidak. Kini seluruh anak buahnya yang dia kirim untuk membebaskan Janu berada di tangan Nathan.


Hilman sendiri tidak tau bagaimana nasib mereka sekarang, masih hidup atau justru sudah mati.


Hilman sangat mengenal karakter Nathan. Dia adalah pria paling menyeramkan yang pernah Hilman temui dalam hidupnya. Murten memang menyeramkan, tapi Nathan jauh lebih menyeramkan dan dia sangat berbahaya.


"Tuan,"


"Bagaimana perkembangannya? Apakah sudah ada kabar tentang mereka?"


"Belum, Tuan. Kami tidak bisa melacak apalagi menemukan keberadaan mereka."


"Kalau begitu terus cari dan temukan mereka dalam keadaan hidup ataupun mati. Aku ingin mereka kembali padaku bagaimana pun keadaannya,"


"Baik, Tuan!!"


Hilman hanya bisa berharap pada sebuah keajaiban, karena hanya keajaiban yang bisa membawa mereka kembali. Namun jika keajaiban itu tidak datang. Itu artinya dia harus rela kehilangan orang-orang terbaiknya.


-


Nathan hanya menatap datar kelima pria yang terkapar di lantai dalam keadaan babak belur dan bersimbah darah. Dua dari mereka telah meregang nyawa sejak beberapa saat yang lalu.


"Boss, kami harus apakan mereka? Apa perlu kami menghabisi mereka bertiga juga?"


"Mutilasi tubuh mereka dan kirim kembali pada Jung Hilman, berikan surat peringatan padanya. Aku ingin membuat tua Bangka itu sadar dengan siapa dia berhadapan!!"


Ketiga pria itu yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah. Jangankan untuk melawan, untuk bergerak pun mereka sudah tidak mampu. Ingin bicara mereka sudah tidak memiliki tenaga.


Nathan menatap ketiganya bergantian. Pria itu berbalik dan melenggang pergi. Masih banyak hal yang perlu dia urus, dari pada harus melihat orang-orang itu mati secara mengenaskan.


.


.


.


Nathan tiba di kamarnya dan mendapati ruangan bernuansa putih-gold itu kosong. Sosok Aster sudah tidak ada di tempat tidur lagi.


Kemudian Nathan menoleh setelah mendengar suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi. Dan Nathan sekarang tau, dimana Aster berada.


Cklekk..


Pintu kamar mandi dibuka, dan sosok Aster keluar hanya dengan balutan handuk yang membalut setengah tubuhnya. Wanita itu sedikit terkejut melihat keberadaan Nathan di sana.


"Paman, kau dari mana saja? Kenapa pagi-pagi sekali sudah menghilang? Oya, semalam aku mendengar suara orang berteriak di halaman. Apakah itu suara penyusup lagi?"


Nathan menggeleng. "Bukan. Tapi orang-orang yang sengaja mencari masalah denganku."

__ADS_1


"Aahh..." Aster memekik saat Nathan tiba-tiba mengangkat tubuhnya bridal style lalu membaringkan ya diatas tempat tidur."Paman?" Seru Aster yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba Nathan.


"Aku belum mendapatkan makanan pembuka ku. Dan aku akan mengambilnya sekarang." Ucap Nathan dan kemudian mencium singkat bibir Aster.


Tidak puas dengan ciuman Nathan yang teramat singkat. Kemudian Aster mengambil alih ciuman tersebut. Ciuman dikuasi sepenuhnya oleh Aster.


"Kau sangat berinisiatif sekali, Sayang. Aku akan memberikan yang lebih padamu."


"Aku menerimanya dengan senang hati, Paman. Karena memang ini yang aku harapkan."


"Mulailah dulu." Pinta Nathan yang kini sedang bebaring terlentang di tempat tidurnya. Bahkan pria itu sudah menanggalkan seluruh kain dari tubuhnya.


Aster menyeringai, dengan cepat dia meraih sosis berurat milik Nathan ke dalam genggamannya, kemudian memaju mundurkan genggamannya pada batang sosis berurat milik Nathan.


Nathan mengerang. Ini memang bukan kali pertama dia menggenggam sosis berurat milik Nathan. Dan rasanya selalu sama, terasa luar biasa. Aster sangat menyukai texturenya, kencang, tegak, dan benar-benar sempurna.


Aster membelai ujung sosis berurat itu yang telah mengeluarkan cairan pr*cum. Nathan memejamkan matanya, dia begitu menikmatinya. Aster mendekatkan wajahnya kearah sang jantan dan menj*lat ujungnya.


"Sial!! Aster, kau tidak harus melakukan itu!"


Nathan mencoba bangkit dari tidurnya namun kemudian Ia kembali menjatuhkan kepalanya kebelakang dan menggeram saat Aster memasukan sosis beruratnya ke dalam mulutnya.


Tangan kanannya terjulur meremas rambut panjang Aster yang terurai. Aster sangat menyukai kegiatan seperti ini, di mana Nathan menikmati segala macam sentuhannya. 


Aster terus memaju mundurkan sosis berurat milik Nathan, dengan jemarinya yang terus memijat bagian batang dan bolanya.


"Aaahhhh...!! Sial, Aster hentikan. Jangan lakukan itu lagi. Uhhh, kau tidak harus melakukannya. Aster, hentikan!!'


Aster menggelengkan kepala tanda tidak setuju, dia terus menghisapnya hingga sekali lagi terdengar geraman liar saat Ia memuntahkan cairannya di dalam mulut wanitanya itu.


Aster sedikit terkejut saat cairan asing hangat memenuhi mulutnya, namun ia sangat menikmatinya. Aster membawa semua cairan milik Nathan ke dalam mulutnya sebelum ia melepas sosis berurat itu. Lalu membaginya pada Nathan melalui ciuman. Aster ingin agar Nathan merasakan miliknya sendiri.


Aster menyeringai puas, saat Nathan memberikan tatapan tidak percayanya. Ia menjulurkan lengannya lalu membanting tubuh Aster ke atas tempat tidur. Kini posisi mereka berubah.


Tidak dapat Aster pungkiri. Bercocok tanam di pagi hari rasanya memang sangat luar biasa. Terlebih lagi di tengah cuaca yang tidak bersahabat seperti ini. Udara yang dingin justru terasa panas ketika kulit dan kulit bertemu.


.


.


.


"Uhhh..."


Aster meringis ngilu ketika merasakan perih pada bagian Miss-nya. Nathan menusuknya terlalu dalam dan keras. Itu membuatnya kesakitan, namun juga merasakan kenikmatan yang tiada tanding.


"Nunna, apa yang terjadi padamu? Kenapa jalanmu aneh begitu? Ah, pasti kau dan Paman Nathan baru selesai main kuda-kudaan ya?" Tebak Gavin 100% benar.

__ADS_1


Brugg...


Sebuah bantal sofa mendarat mulus pada mukanya. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan Aster. "Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bertanya. Uhhh, apa kau tidak melihat jika aku sedang kesakitan seperti ini!!"


"Jadi benar kalian baru saja bercocok tanam? Asik dong, itu artinya si Utun akan segera kembali padamu." Ucap Rio berbinar-binar.


"Ck, dasar otak m*sum!! Pergi sana, mengganggu pemandangan saja!!"


Perhatian ketiganya teralihkan oleh kedatangan Nathan. Pria itu telah rapi dengan setelan jas hitamnya. Nathan terlihat tampan meskipun perban belum mau beranjak dari pelipis dan tulang pipinya.


"Paman, kau mau pergi? Tapi aku masih sakit?" Aster bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nathan.


"Aku harus bertemu seseorang. Lagipula ada Leon yang pergi denganku. Kau tidak usah cemas." Nathan memegang sisi wajah Aster dan pergi begitu saja.


Nathan tidak ada di rumah. Ia pasti akan mati kebosanan. Mungkin pergi bersenang-senang dengan Tiffany dan si kembar tidak buruk juga.


-


Zain Heng merasa terhormat karena Nathan mau bertamu kerumahnya. Dia tidak tau ada angin apa sampai-sampai pria itu mau datang berkunjung. Dan tentu saja Zain Heng menyambut kedatangannya dengan sangat baik.


"Tuan Xiao, silahkan masuk dan silahkan duduk." Pinta Zian Heng mempersilahkan.


"Memangnya ada angin apa sampai-sampai Tuan Xiao mau datang ke pondok kami."


"Leon, berikan berkasnya." Leon memberikan berkas yang Nathan minta. Yang kemudian Nathan berikan pada pria setengah baya dihadapannya.


"Apa ini, Tuan?"


"Surat pembatalan kerjasama perusahaan kita. Aku tidak ingin bekerjasama lagi dengan perusahaanmu lagi!!"


"A-Apa? Ta-tapi kenapa, Tuan Xiao? Bukankah selama ini kita baik-baik saja?" Zian Heng menatap Nathan dengan pandangan bertanya.


"Kau lihat luka-luka ini?" Nathan menunjuk perban yang membalut pelipis dan tulang pipinya.


Zian Heng mengangguk. "Ini adalah perbuatan putramu. Dia bersekongkol dengan bajingan tua dari keluarga Jung untuk menghabisi ku. Aku akan mempertimbangkannya lagi jika putramu mau menemui ku, meminta maaf sambil mencium kakiku!! Urusanku di sini sudah selesai. Leon, kita pergi."


"Baik, Boss."


Zian Heng menggelapkan tangannya. Matanya berkilat penuh amarah. Dia benar-benar diliputi emosi dan amarah. Zian Heng kemudian berteriak keras.


"ANAK KURANG AJAR, AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!!"


-


Bersambung.


__ADS_1


Bonus 🥰🥰🥰😍😍🤗🤗🤗


__ADS_2