"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Aku Siapa, Aku Dimana?


__ADS_3

'Rubah Kecil Yang Licik' julukan itu memang sangat tepat untuk Aster. Menghadapi seorang Aster Xiao tentu saja bukan sesuatu yang mudah.


Selain berotak cerdas, dia juga memiliki 1001 cara untuk menindas mereka yang berani membuat masalah dengannya. Bahkan tak segan-segan Aster menempatkan mereka dalam sebuah masalah besar.


Hari ini contohnya. Entah apa yang sebenarnya di rencanakan oleh gadis itu, sampai-sampai dia hanya pasrah ketika Amanda, Ella dan Maya menindas dirinya.


"Gadis sialan!! Kenapa kau hanya diam saja seperti siput? Di mana Aster yang bar-bar dan selalu melawan ketika kami mencoba menindas mu?" bentak Maya penuh emosi.


"Ahhh, atau mungkin kau sudah sadar jika sebenarnya kau tidak akan pernah menang ketika melawan kami?!" Amanda menyeringai.


"Makanya jangan banyak bertingkah!! Kau hanyalah benalu, dan kau bukan siapa-siapa jika bukan karena Nathan!! Dan setan kecil sepertimu sudah selayaknya disingkirkan dari dunia ini untuk selama-lamanya."


Aster mengangkat wajahnya dan menatap mereka bertiga dengan seringai yang tak mampu mereka artikan. "Kita lihat saja, kalian atau aku yang akan segera tersingkirkan dari dunia ini."


Deru suara mobil yang memasuki halaman membuat seringai di bibir Aster semakin lebar. Gadis itu mengangkat wajahnya dan mengangguk pada Gavin serta Rio yang ada di lantai dua.


Tiba-tiba Rio melompat melewati pagar pembatas lantai dua. Tubuhnya yang terikat tali tergantung di atas ketinggian 10 meter.


"RIO!!" teriak Aster dan Gavin nyaris bersamaan.


"Huaaa... Kenapa kalian bertiga tega sekali padaku? Apa salahku? Huaaa ... Kenapa kalian ingin membunuhku?"


Kedua mata ketiga wanita itu lantas membelalak saking kagetnya. "Apa maksudmu, bocah?! Bahkan menyentuhmu saja tidak!!" Teriak Maya penuh emosi.


Sepertinya mereka masih belum sadar jika sebenarnya mereka tengah di jebak. Aster, Gavin dan Rio bekerja sama untuk menjebak mereka bertiga.


"Masalah kalian denganku, jadi jangan libatkan mereka berdua." Teriak Aster memohon. Pura-pura memohon lebih tepatnya.


"Yakk!! Apa yang kau bicarakan? Bahkan menyentuh mereka saja tidak." Teriak Maya penuh emosi.


"Huaaa ... Tolong aku, aku tidak mau mati. Aku masih muda, aku masih perjaka dan belum merasakan malah pertama. Huaaa ... Jangan bunuh aku, aku mohon."


"Rio, bertahanlah. Aku akan mencari bantuan. Kau harus kuat, setelah aku membebaskanmu, sama-sama kita beri pelajaran pada ketiga rubah betina itu." Tutur Gavin.


"Jangan hanya bicara saja. Cepat lakukan, huaaa ... Aku sangat takut." Tuturnya.


Diam-diam Aster menyeringai tajam. Tidak disangka jika kedua bocah tengik itu begitu bisa diandalkan, bahkan mereka berdua lebih cerdik dan licik dari apa yang dia bayangkan.


Aster mengeluarkan sebuah senjata api dari balik pakaiannya. Pistol itu memang telah dia persiapkan sejak tadi. Aster menarik tangan Amanda hingga wanita itu nyaris terjungkal.

__ADS_1


Tangan Amanda menegang gagang pistol tersebut yang ujungnya kini menempel pada kening Aster. "Amanda Lim, tamat riwayatmu!!" Ucap Aster dengan seringai yang sama. Sedangkan Amanda hanya bisa menatap Aster penuh kebingungan.


"AMANDA LIM!!"


Di saat bersamaan tiba-tiba Nathan muncul dan berteriak menyeruhkan nama Amanda. Semua terkejut melihat kedatangannya, Nathan menghampiri Amanda dan merebut pistol ditangannya.


Mata Amanda membelalak kaget. Dia terkejut melihat sebuah pistol berada di tangannya, padahal seingatnya dia tidak memegang senjata apapun tadi. Lalu pandangannya bergulir pada Aster yang tengah menyeringai tajam.


Dan Amanda baru saja menyadari jika sebenarnya ia, Maya dan Ella tengah dijebak oleh gadis ini. "Nathan!! Aku mohon percayalah padaku kali ini saja. Aku tidak bersalah, aku dijebak oleh gadis kurang ajar ini. Aku----"


PLAKK...


Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi kanan Amanda. Saking kerasnya tamparan itu sampai membuat wajah Amanda menoleh kesamping, sudut bibirnya terkelupas dan berdarah.


Dan apa yang Nathan lakukan membuat Ella dan Maya terkejut bukan main. "Nathan, apa-apaan kau ini? Kenapa datang-datang langsung menampar Amanda? Memangnya apa salahnya?" Teriak Ella marah.


"DIAM KAU!! SUDAH HABIS KESABARANKU UNTUK KALIAN!!" bentak Nathan penuh emosi.


"Paman, sungguh kami tidak bersalah. Dia sendiri yang menyusun drama ini. Kau tidak tau betapa liciknya dia, rubah itu ingin membuat nama baik kami jelek dimatamu!!"


"Siapa yang mengijinkanmu bicara?! Paman Kim, kemasi barang-barang mereka dan usir mereka berdua dari rumah ini. Jangan pernah biarkan mereka menginjakkan kaki lagi di rumah ini!!"


"Baik Tuan,"


Gadis itu mengeluarkan suara tangisan tersedu-sedu. Bukan tangis sungguhan, hanya tangisan palsu yang Aster ciptakan.


Aster mengangkat wajahnya pada Gavin dan Rio. Ia mengerlingkan mata pada keduanya. Sedangkan mereka mengacungkan jempol padanya.


"Paman, bisakah kau menggendong istri kecilmu ini ke kamar. Mereka melukai lutut ku dan aku tidak bisa berjalan sendiri. Ini buktinya." Aster menyingkap bagian bawah dressnya dan menunjukkan sebuah luka di lututnya.


Gavin dan Rio nyaris tidak percaya. Ternyata Aster telah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Tidak salah jika dia dijuluki sebagai rubah kecil yang licik. Dan julukan itu memang sangat tepat untuknya.


Nathan menoleh pada ketiga wanita itu."Jangan langsung diusir dulu. Berikan pukulan sebanyak 10 kali pada lututnya."


"Baik, Tuan."


"NATHAN XIAO!! KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!! KAU PASTI AKAN MENYESAL KARENA TELAH MEMPERCAYAI RUBAH LICIK ITU!!"


"Sebaiknya kau berhenti bicara. Karena dibandingkan dirimu, aku jauh mengenalnya. Dan apa yang Aster lakukan tentu bukan tanpa alasan." Nathan mengangkat tubuh Aster dan membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


.


.


.


"Bagaimana bisa kau bertindak sampai sejauh ini hanya untuk membuat mereka pergi dari rumah ini? Jika kau mau, kau hanya bilang padaku dan aku akan langsung mengusir mereka untukmu."


Nathan berlutut di depan Aster dan mulai membersihkan darah di lututnya. Pria itu mengangkat wajahnya dan mengunci sepasang hazel milik Aster.


Dan keterkejutan terlihat jelas dari perubahan ekspresi mata Aster. "Jadi Paman tau jika itu tadi hanya sandiwara saja? Bagaimana Paman bisa mengetahuinya?"


"Karena Paman mengenalmu dengan sangat baik. Sangat aneh rasanya jika gadis bar-bar dan pembuat masalah sepertimu tiba-tiba mudah ditindas seperti itu." Tuturnya.


Aster terkekeh. Dia tidak menduga jika Nathan akan mengetahui tentang trik dan permainannya. Memang hanya Nathan satu-satunya orang yang mengenali Aster dengan baik.


"Lalu kenapa Paman tidak marah dan mengomeli-ku?"


"Jika Paman sampai melakukannya, bisa-bisa kau mengancam akan mogok makan. Itu bisa berpengaruh pada lambung mu, dan Paman tidak ingin jika kau sampai masuk rumah sakit lagi karena penyakit lambung mu kambuh." Tuturnya.


Aster mengalungkan kedua tangannya pada Nathan. Iris hazelnya mengunci mata kiri milik ayah angkat yang merangkap sebagai suaminya tersebut.


"Mana penghargaan untukku?" Bukankah aku sudah sangat hebat? Bahkan Paman merasa bangga, jadi berikan penghargaannya."


Nathan menarik tengkuk Aster dan mendaratkan sebuah ciuman pada bibir ranumnya. Gadis itu mulai menutup matanya ketika Nathan mulai memperdalam ciumannya.


Kedua tangan Nathan memeluk pinggang Aster dan membunuh jarak diantara mereka. Ciuman yang awalnya begitu lembut berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.


Alih-alih melayangkan protesnya. Aster justru menikmatinya. Posisi mereka tidak lagi duduk, melainkan berbaring dengan Nathan di atas tubuh gadis itu. Tangan mereka saling menggenggam dan meremas.


Dan sementara itu... Leon yang tiba-tiba saja muncul langsung membelalakkan matanya melihat apa yang tengah mereka berdua lakukan di dalam sana.


Cairan merah segar tampak keluar dari lubang hidungnya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Leon melihat secara langsung orang yang tengah berciuman di depan matanya.


"Aku siapa? Aku dimana? Oh, Tuhan, cobaan macam apa ini. Kenapa engkau harus membuat hamba mu yang jomblo ngenes ini melihat seseorang yang sedang berciuman? Oh astaga,"


Leon menyesali kedatangannya di saat yang tidak tepat. Padahal dia datang untuk memberikan laporan dan informasi penting pada Nathan.


Tapi hal tersebut harus dia urungkan, setidaknya sampai mereka berdua mengakhiri ciuman panasnya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2