
Nathan tersenyum melihat Aster yang sibuk mengganti pakaian yang sedari tadi melekat di tubuhnya dengan baju tidur yang super mini hingga memperlihatkan kaki jenjangnya serta lekuk tubuhnya. Di bagian dadanya sedikit terbuka hingga memberikan kesan sexy bagi siapa pun yang melihatnya, dan Nathan salah satunya.
Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang di biarkan jatuh terurai di atas punggungnya.
Cantik dan mempesona....
Dua hal itu sudah tidak perlu di ragukam lagi. Tidak salah jika semasa kuliah dulu, Aster menjadi primadona di kampusnya, tak sedikit laki-laki yang berlomba-lomba untuk memenangkan hatinya
Dan diantara semua pria yang pernah mengejarnya, tentu Nathan-lah yang paling beruntung. Tidak hanya mendapatkan hatinya, namun semua yang ada dalam diri Aster. Dan kini mereka telah dianugerahi seorang putri cantik yang di beri nama Laurent Hanna Xiao.
"Kenapa kau begitu cantik, Sayang?" Bisik Nathan yang kini berdiri tepat di belakang Aster.
Sepasang tangan kekarnya memeluk tubuh Aster dari belakang. Membuat wanita itu berkesiap karena terkejut, seulas senyum tipis tersungging di wajah cantiknya. Sontak Ia membalikkan tubuhnya dan menghadap Nathan.
"Kau juga sangat tampan, Paman." Balas Aster memberikan pujian.
Bukan hanya sekedar pujian. Nathan memang terlihat begitu luar biasa dengan style yang dia pakai saat ini, meskipun terlihat urakan. Namun justru membuat Nathan terlihat semakin mempesona, di tambah rambut coklat terangnya yang di biarkan sedikit berantakan.
Tak salah bila Putri kecil mereka begitu menyukai Nathan yang berpenampilan seperti ini.
Tubuh Aster tertarik ke depan saat Nathan menarik pinggangnya dengan tiba-tiba. Membuat tubuhnya menempel sempurna pada tubuh Nathan.
Bukannya merasa terancam dengan sikap suaminya, wanita itu justru memancing Nathan dengan mengalungkan kedua tangannya pada lehernya.
Dan pelukam Aster pada leher Nathan memulai skinship di antara keduanya. Aster menyeringai melihat bibir kissable Nathan.
Nathan semakin mempersempit jarak diantara mereka, hingga tubuh mereka menempel sempurna.
Terlihat Nathan yang mengangkat salah satu tangannya untuk membelai wajah cantik Aster, yang kemudian mendaratkan satu ciumam pada bibir tipis namun mengairahkan itu.
Selama beberapa detik Nathan membiarkan bibirnya menempel pada bibir Aster, sebelum akhirnya mel*mat bibir bawah dan atasnya secara bergantian.
__ADS_1
"Eeehhhmmm." Des*han yang keluar dari sela-sela bibir Aster seakan memberi isyarat pada Nathan untuk semakin memperdalam ciumannya.
Nathan mulai melibatkan lidahnya dalam ciuman tersebut. Aster sedikit membuka rongga mulutnya memberikan akses bagi Nathan untuk melakukan lebih.
Tangan mereka pun tidak mau kalah, Aster menggerakkan tangannya pada punggung Nathan. Sementara Nathan meremas payud*ra Aster yang tertutup kain tipis dan pelindungnya.
Seakan tidak puas, Nathan segera menanggalkan kain itu dari tubuh Aster. Menyisahkan bra dan kain tipis yang menutupi bagian bawahnya.
Nathan terpaku melihat tubuh Aster yang nyaris polos seluruhnya, meskipun ini bukan pertama kalinya Ia melihatnya. Namun entah kenapa Nathan selalu merasa terpesona setiap kali melihatnya.
"Oppa, kenapa kau menatapku seperti itu." tanya Aster dengan wajah yang telah memerah. Dia memang selalu merona ketika Nathan menatapnya sedalam itu.
"Apa kau ingin menambah anak lagi, Sayang? Kalau Ia malam ini aku akan memberikannya." Bisik Nathan nakal lalu mencium leher Aster.
Aster menatap Nathan. "Memang sudah saatnya Laurent memiliki adik, apakah Oppa akan memuaskanku lagi malam ini?" Tanya Aster manja dengan kedua tangan terkalung pada leher Leher Nathan.
Nathan mengangguk. "Jika kau memang menginginkannya, maka aku akan melakukannya." Balas Nathan sebelum akhirnya kembali menyergap bibir Aster dan mel*matnya seperti tadi.
Namun permainan mereka tentu tidak bisa panjang apalagi sampai beberapa ronde. Karena bisa saja Laurent kembali saat mereka masih asik bercocok tanam.
-
"Nona, kau memiliki ayah yang sangat tampan. Saat dewasa nanti aku ingin memiliki wajah tampan seperti Tuan."
"Aku juga ingin memiliki wajah Mami. Bagaimana kalau saat dewasa nanti kita operasi plastik supaya wajah kita seperti mereka berdua?" Usul Laurent dengan polosnya.
"Boleh juga, tapi aku tidak memiliki uang." Sammy mendesah sedih.
"Kakak tampan tenang saja, aku akan memberikan uang yang banyak untuk kakak tampan. Nanti kita operasi plastik sama-sama, oke." Laurent menggerlingkan sebelah matanya dan jarinya membentuk huruf O.
Sedangkan Bibi dan Paman Nam hanya bisa terkekeh melihat tingkah lucu Nona kecil dan putra mereka. Melihat sifat Laurent membuat mereka gemas sendiri.
__ADS_1
"Nona kecil, ini sudah malam. Sebaiknya Nona kecil masuk dan segera tidur ya." Bujuk bibi Nam sambil berlutut di depan Laurent.
"Tapi aku masih ingin bermain dengan Kakak tampan." Gadis kecil itu kemudian merengek.
"Besok kita bisa bermain lagi dan aku akan membawa Nona untuk memetik bunga di bukit."
"Benarkah?" Sammy mengangguk. "Baiklah, aku akan segera tidur."
Bukan rahasia lagi jika Sammy memang sangat mengagumi Nathan. Saat pertama melihatnya, Sammy langsung bisa menebak jika Nathan adalah orang yang baik meskipun dia selalu berekspresi dingin.
-
Suasana pemandangan pagi hari di Kota Busan begitu menyejukkan mata. Matahari mulai menampakkan cahayanya untuk menyinari Bumi.
Beberapa bunga sakura mulai bermekaran di pohonnya. Tak hanya bunga sakura, bunga-bunga lain juga turut serta mengeluarkan kuncup bunganya. Burung-burung pipit mulai menyanyi, menyambut datangnya pagi.
Disebuah Villa yang terletak jauh dari kebisingan kota. Terlihat seorang wanita cantik berdiri di sebuah balkon untuk menikmati udara pagi yang masih terasa sejuk dan alami.
Wanita itu 'Aster' lalu menghirup udara pagi yang menyegarkan. Dadanya menggembung, bagaikan terisi udara segar. Kemudian dia menghembuskannya melalui mulutnya.
"Ah! Pagi yang indah..." gumam Aster. Dia mendongak ke atas. Matanya memandang awan-awan yang melintasi langit pagi itu. Sungguh indah.
Aster menyatukan kedua tangannya dan merentangkannya ke atas. Seperti yang biasa dia lakukan di pagi hari, yaitu melakukan perenggangan terlebih dahulu.
"Mami," perhatiannya sedikit teralihkan oleh kemunculan gadis kecil berusia 5 tahun yang pastinya adalah Laurent. "Laurent, ngompol lagi." Gadis kecil itu memasang ekspresi sedih sekaligus menggemaskan.
Aster mendengus. Dengan gemas Aster mencubit pipi gembilnya. "Baiklah, kalau begitu kita mandi sekarang setelah ini kita sarapan, bukankah Laurent ada janji untuk memetik bunga dengan kakak tampan?" Mendengar ucapan Ibunya membuat Laurent semangat.
"Mami benar. Bagaimana aku bisa lupa. Kalau begitu ayo cepat." Aster hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri kecilnya.
"Dasar gadis ini!!"
__ADS_1
-
Bersambung.