
Nathan yang sedang sibuk dengan dokumennya di kejutkan dengan kedatangan Aster yang begitu tiba-tiba. Wanita itu datang membawakan makan siang untuknya.
"Kelas keduaku selesai lebih awal, dan kelas ketiga baru dimulai sekitar pukul 2 siang." Ujar Aster menjawab kebingungan Nathan karena kedatangannya yang tiba-tiba.
"Begitu?" Aster mengangguk.
"Paman, kemaril-ah dan ayo kita makan dulu." Nathan menutup dokumennya dan kemudian menghampiri Aster.
"Kelihatannya lezat, kau membelinya di luar?"
"Hum," Aster mengangguk. "Aku membelinya di restoran yang biasa kita datangi. Dan semua menu yang aku pesan adalah makanan kesukaan Paman."
Nathan tersenyum tipis, dengan lembut dia mengacak surai coklat Aster yang terurai. Gadis itu mengangkat sumpitnya dan berseru kencang. "Selamat makan." Dengan wajah berseri-seri.
Degg..!!
Nathan mengurungkan niatnya untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap gamang pada Aster yang sedang menyantap makan siangnya dengan tenang.
Merasa di perhatikan, Aster pun mengangkat wajahnya, Aster meletakkan sendoknya saat melihat sorot mata Nathan yang menyiratkan kecemasan dan ketakutan yang sangat besar.
"Ada apa, Paman?"
"Aster, apakah setelah ini kau akan kembali ke kampusmu? Bisakah kau tidak pergi kemana pun setelah ini? Perasaanku tiba-tiba tidak enak, aku memiliki firasat buruk, aku takut sesuatu terjadi padamu."
Aster mendesah berat. Wanita itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Nathan. Aster duduk berhadapan dengan ayah angkat yang merangkap sebagai suaminya itu.
Aster menakup wajah Nathan sambil mengunci manik matanya. "Dengarkan aku, Paman. Tidak akan terjadi apa pun padaku, percayalah jika Tuhan ada bersamaku dan selalu melindungiku."
"Kau tidak perlu mencemaskan apa pun, sebaiknya segera habiskan makan siangmu dan setelah ini antarkan aku kembali ke kampus. Kau mau kan."
Nathan mengangguk. "Baiklah. Tapi berjanjiah padaku untuk selalu menjaga diri, dan jika ada apa-apa kau harus langsung menghubungiku."
"Tentu."
Nathan menarik nafas panjang dan menghelanya. 'Semoga ini hanya perasaanku saja. Tuhan, lindungilah selalu wanita ini.' Gumamnya membatin.
.
.
.
Setelah mengantarkan Aster ke kampusnya. Nathan pergi menemui Leon dan Theo. Dan hampir saja dia terkena serangan jantung dadakan karena wujud mereka saat ini yang begitu mengerikan.
Leon dan Theo sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh Gavin dan Rio setelah kalah bermain kartu dari mereka berdua. Endingnya mereka harus menjadi wanita dalam waktu satu Minggu. Dan masih ada 3 hari lagi.
"Ada apa, Bosa? Kau terlihat buruk hari ini, apa sesuatu sedang terjadi?" Tanya Theo memastikan.
"Ahhh! Atau jangan-jangan Boss sedang bertengkar dengan Aster?" Tebak Leon asal. Nathan mendengus dan menggeleng. "Lalu?" Mereka bertiga bertanya kompak.
Nathan berdecak lidah dan menatap kedua pria itu bergantian. Ia tidak tau kenapa mereka begitu ingin tau urusannya. Dan dari sekian anak buahnya, hanya mereka berdua yang tidak memiliki sopan santun.
Nathan mengabaikan mereka berdua lalu mengambil satu batang rokok dan menyulutnya. Nathan mencoba menghilangkan perasaan dan firasat buruknya, namun tetap tidak bisa. Ia hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal buruk menimpa istri kecilnya.
__ADS_1
-
Aster hanya bisa meringis ngilu ketika seorang pemuda tiba-tiba saja menghampirinya dan memberinya sebuah buket bunga dan coklat.
Pemuda itu sedang menyatakan cintanya pada Aster, tapi sayangnya ditolak mentah-mentah olehnya.
Dan alasan Aster sudah jelas, jika dia sudah memiliki tambatan hati. Akibatnya pemuda bertubuh kekar itu berlari sambil menangis sesenggukan.
"Kau membuat anak orang patah hati lagi, Nona Xiao." Ucap Tiffany sambil merangkul bahu Aster.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak menyukainya, dan Paman Nathan bisa menggantung-ku hidup-hidup jika sampai berkencan dengan pria lain."
"Kenapa?" Benno dan Benny memicingkan matanya.
"Karena-"
"Karena Aster harus fokus kuliah dulu." Jawab Tiffany menyahuti. Gadis itu mengerlingkan sebelah mata pada Aster. Dan Aster harus berterimakasih pada sahabatnya ini.
"Sudah tidak ada kelas lagi, bagaimana kalau kalian aku traktir makan ice cream di kedai Bibi Minna?"
"Bukan ide buruk." Ketiganya menjawab dengan kompak.
Tak lama setelah kepergian mereka berempat. Segerombol pria misterius mendatangi kampus sambil membawa senjata.
Mereka semua memakai masker sehingga wajah mereka tidak bisa di kenali. Tanpa banyak basa-basi, orang-orang itu langsung menembaki setiap orang yang ada di sana tanpa terkecuali.
DORR!!
DORR!!
"Kkkkyyyyyyaaaaaa!"
Dan sedikitnya sudah ada 100 orang yang terkapar memenuhi di beberapa titik di rumah sakit itu. Tidak tau apa alasannya sehingga orang-orang misterius itu melakukan pembantaian besar-besaran di S.N.U.
Sementara itu....
Di lokasi dan tempat berbeda, Leon yang baru saja kembali daei membeli minuman di kagetkan dengan berita hari ini mengenai insiden berdarah yang terjadi di salah satu Universitas terbesar itu.
Yang mengejutkan lagi, itu adalah Universitas tempat Aster kuliah. Leon pun segera kembali dan memberi tau mengenai insiden berdarah itu pada Nathan.
Brakkk!!!
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan semua orang di dalam ruangan itu. Suho datang dengan nafas terenggah-enggah
"Leon, apa-apaan kau ini eo? Apa kau ingin membuat kita semua mati karna serangan jantung dadakan?" Omel Theo yang kesal karna ulah pimpinan timnya itu.
"Boss gawat, ini menyangkut keselamatan Nona muda. Terjadi pembantaian besar-besaran di S.N.U. Dan menurut berita yang saya dengar. Sudah ada 100 orang yang menjadi korban.
Degg!!
Bagaikan tersambar petir mendengar ucapan Leon. Nathan yang semula menutup matanya segera berdiri dan menatap Leon dengan pandangan menuntut. "Apa kau bilang? Katakan sekali lagi," pintanya
"Terjadi pembantaian besar-besaran di kampus tempat Nona muda kuliah, dan 100 orang telah menjadi korban."
Tanpa menghiraukan Leon dan Theo, Nathan berlari meninggalkan ruangan itu menuju parkiran. Nathan segera masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas.
__ADS_1
Mobil Sport hitam mengkilap itu melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli dengan lampu merah atau pelanggaran lalu lintas lainnya.
Nathan tidak peduli meskipun nantinya ia akan di kenakan sangsi besar karena tindakannya itu. Yang ada di fikirannya saat ini hanyala Aster dan Aster, dan Nathan berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
Lima belas menit kemudian mobil Nathan berhenti di area kampus yang sudah penuh dengan polisi dan warga yang ingin menyaksikan peristiwa berdarah itu secara langsung.
Nathan pun segera turun dari mobilnya, tubuhnya seakan kehilangan semua tulang-tulangnya saat melihat bangunan itu telah hancur dan rata menjadi tanah. Ia melihat polisi berlalu lalang untuk mengangkut para korban yang telah meninggal. Sedikitnya ada 100 lebih mayat yang berjajar di hadapan Nathan.
"ASTER!!"
Nathan menyeka kasar air matanya dan berlari menuju retuntuhan itu untuk mencari keberadaan putri angkatnya, karena dia tidak mendapati Aster di antara mayat-mayat tersebut. Hati dan batinnya bergejolak hebat, Ia hanya berharap ada miracle untuk wanita itu
"ASTER!"
.....
"ASTER!"
....
"ASTER!"
Nathan terus berteriak seperti orang gila menyeruhkan nama wanita itu, namun tidak ada sahutan dari sang empunya nama. Nathan mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah, bangunan itu benar-benar telah hancur total setelah di bom oleh pelaku. Dan S.N.U adalah Universitas ke tiga yang menjadi korban serangan teror**
"Aster." Berkali-kali Nathan menghentikan para relawan dan polisi yang melintas di depannya hanya untuk memastikan jika mayat yang mereka bawah itu Aster atau bukan.
Nathan berlari dan terus mencari namun tidak juga menemukan putri angkatnya, sampai matanya melihat sosok perempuan bersurai coklat panjang yang tubuhnya terhimpit di antara reruntuhan.
Dengan langkah sedikit diseret. Nathan menghampiri perempuan itu "A-Aster?" Gumamnya terbatah.
Nathan segera memindahkan bongkahan-bongkahan itu dan tubuhnya lemas seketika saat melihat wajah mayat yang ada di hadapannya. Air matanya mengalir semakin deras, beberapa orang berdatangan dan mengangkut mayat wanita itu.
Nathan menundukkan wajahnya, salah satu tangannya mencengkram dadanya yang terasa sesak seperti di himpit bongkahan batu besar. Nathan memejamkan matanya, nafasnya naik turun tidak beraturan.
Ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan, Ia belum siap jika harus kehilangan wanita itu. Nathan tidak siap, dan tidak akan pernah siap jika harus kehilangan Aster untuk selama-lamanya.
"AARRRKKKHHHHHHH!!!"
Dengan hati hancur Nathan berjalan meninggalkan reruntuhan, dan menuju para mayat-mayat itu berjajar. Dan saat itu pula mata coklatnya tanpa sengaja melihat siluet wanita berparas barbie yang tampak tertegun melihat hal mengerikan yang ada di depan matanya.
Nathan pun kini bisa menghela nafas lega, melihat sosok itu baik-baik saja. Nathan berlari menghampiri sosok itu dan langsung memeluknya.
"Aku lega melihatmu baik-baik saja."
"Paman," bisik-nya.
Tubuh wanita itu sedikit terhuyung kebelakang karena pelukan Nathan yang sangat tiba-tiba. "Aku fikir aku sudah kehilanganmu, Aster Xiao." Bisik Nathan sambil mencium Aster berkali-kali.
Aster yang awalnya kebingungan, kini menarik sudut bibirnya dan membalas pelukan Nathan. "Aku tidak akan pergi kemana pun, Paman. Lagipula bagaimana bisa aku meninggalkanmu sedangkan aku sangat mencintaimu."
Dalam hatinya, Aster bersyukur karena pada saat kejadian Ia dan ketiga sahabatnya tidak berada di tempat. Namun ia juga merasa sedih melihat banyak yang tidak selamat dalam insiden berdarah itu. Dan kampus tempatnya kuliah kini telah rata menjadi tanah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.