
Semilir angin menghembuskan dedaunan kering yang telah gugur dari dahannya. Udara sore hari yang begitu menyejukan.
Matahari mulai kembali keperaduannya. Perlahan tenggelam sebelum akhirnya menghilang di balik bukit.
Tampak seorang wanita muda yang sedang duduk disebuah kursi sembari menikmati udara sore hari. Sebuah tempat yang begitu indah dan bisa menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Tampak dari paras ayu wanita itu, sepertinya ia memiliki kesedihan yang begitu mendalam. Sambil memeluk sebuah kalung pemberian dari seseorang, air matanya mengalir semakin deras.
Angin sepoi-sepoi berhembus dan menabrak tubuh wanita muda itu, membuat rambut indah berwarna coklat terang miliknya melambai-lambai oleh hembusan angin nakal.
"Hiks~Ayah, Ibu, kenapa kalian begitu cepat menghilang dari hidupku? Ya Tuhan.. kenapa kau sungguh tidak adil, kenapa kau harus mengambil orang yang paling aku sayangi! Orang yang sangat berharga dalam hidupku!" Lirihnya parau.
Beruntung ditempat itu sudah tidak ada orang lagi sehingga Aster dapat meluapkan semua perasaannya dan bisa membuang semua kesedihannya. Apa daya kesediahan itu terlalu besar baginya, dan kepergian mereka membuatnya harus menjadi seorang yatim piatu.
Angin sepoi-sepoi kembali berhembus membuat rambut indah milik wanita cantik itu bergerak mengikuti arah angin.
"Sayang…"
Deg!
Seseorang memanggil Aster, sebuah suara yang terlintas di telinganya yang di ikuti oleh angin yang berhembus.
Sontak saja Aster menoleh Di carinya sumber suara itu tapi nihil, Aster tidak bisa menemukan siapa pun di tempat itu. Hanya dia seorang yang sedang berdiri dengan di temani oleh angin yang berhembus.
"Ibu!!" Panggil Aster yang entah sejak kapan sudah berdiri dari duduknya.
Suara itu.. sepertinya ia sangat mengenalnya tapi itu tidak mungkin. Itu mungkin hanya imajinasinya saja. Dia tidak mungkin ada disini. Aster terus mencari suara itu dan berharap dia bisa menemukan sebuah keajaiban. Mentari sedikit demi-sedikit mulai tenggelam.
"Aster, Sayang…"
Deg!
Suara itu membuat Aster kembali terkejut bukan main. Itu adalah suara ibunya. Dia tidak mungkin salah dengar. Meskipun 11 tahun telah berlalu, namun Aster masih mengingat betul suara wanita yang telah melahirkannya itu.
Tampak air mata mengalir dari pelupuk matanya, yang perlahan turun dan membasahi wajah cantiknya. Aster pun menolehkan kepalanya tapi tidak ada seorang pun yang bisa ia temui di sana.
"Lagi-lagi suara itu. Apa aku benar-benar sudah gila? Atau mungkin karena aku terlalu merindukan ayah dan ibu? Suaranya selalu terdengar oleh ku, mustahil kalau mereka benar-benar ada di sini." Desis Aster frustasi.
Sepertinya Aster sudah tidak nyaman lagi. Dia pun menundukan kepalanya, di pegang erat-erat kalung yang ada di tangannya. Lagi-lagi angin berhembus tapi ini begitu berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang memegang tangan Aster. Aster kembali terkejut. Di angkatnya kepalanya, di perhatikan baik-baik wajah orang itu. Mata Aster terbelalak melihat siapa yang ada di depannya.
"I-Ibu?" Ucap Aster terbata-bata.
"Ibu merindukanmu putriku?"
"Bu-Bukannya Ibu sudah tiada? Ke-kenapa kamu bi…" Tak sempat Aster melanjutkan kata-katanya, orang yang dipanggilnya ibu ibu terlebih dahulu memeluknya.
Tubuh Aster gemetar, terpaku dan tak bisa bergerak, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin seakan orang yang sedang ketakutan. Tapi batinnya merasakan kehangatan.
'Ini pasti hanya mimpi! Tidak mungkin Ibu ada di sini.. Ini pasti mimpi!" Tegas Aster dalam hatinya. Tak ia duga sebelumnya, orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa hidup lagi.
"Ibu sangar merindukanmu, putriku…" Bisik wanita itu di telinga Aster. Di lepasnya pelukan itu, di tatapnya wajah Aster yang kini sedang menangis.
"Ibu… Apa ini nyata? Ini pasti mimpi kan?" Tanya Aster pada sang ibu yang kini menatapnya dengan raut wajah yang sedih.
"Tidak… ini nyata Sayang, ini…. ibu. Ibu ingin menemuimu sekali lagi dan yang terakhir kali. Ibu ingin menghabiskan malam ini bersama mu agar nanti Ibu semakin tenang di sana"
Wanita itu pun duduk di samping Aeter. Di genggamnya tangan Aster erat-erat sembari melihat matahari yang terbenam hingga akhirnya malam pun tiba.
Aster meletakkan kepalanya di pundak wanita itu yang pastinya adalah ibunya. Sang ibu pun mengelus-elus kepala Aster dengan lembutnya, dan tangan kirinya menggenggam tangan Aster dengan sangat erat.
Tiba-tiba wanita itu melepaskan genggamannya pada tangan Aster. Membuat Aster seketika mengangkat kepalanya dari bahu sang ibu. "Ada apa Ibu?"
"I-Ibu mau kemana? I-Ibu jangan pergi."
"Selamat tinggal putriku. Ibu sangat menyayangimu."
"Tidak!!" Aster menggeleng. "Ibu jangan pergi." Lirihnya memohon.
"Kembalilah pada cahaya, Nak. Di sini sangat gelap. Selamat tinggal, Sayangku...."
"IBU!!"
Aster baru saja terbangun dari tidurnya sambil terengah-engah. Keringat seketika membanjiri turunnya.
Dia baru saja mengalami mimpi, entah itu bisa disebut sebagai mimpi buruk atau tidak. Jam menunjukkan pukul 11 malam
Dan wanita itu sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, kamarnya sedikit gelap dan hanya sinar rembulan yang masuk melalui ventilasi udaranya saja yang menerangi.
__ADS_1
"Aster!!"
Pintu kamar di buka lebar. Penerangan di dalam ruangan itu dinyalahkan. Sosok Nathan terlihat menghampiri Aster. Dan pelukan Aster langsung menyambutnya. Nathan merasakan tubuh Aster berkeringat dan gemetaran. Membuatnya semakin yakin jika wanita itu baru saja bermimpi buruk.
Saat Aster sudah mulai tenang. Nathan melepaskan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata dipipi Aster. "Kau bermimpi buruk?" Wanita itu mengangguk.
"Aku memimpikan Ibu. Dia datang menemuiku dan kemudian pergi lagi."
Nathan menarik bahu Aster dan kembali memeluk wanita itu. Sebelah tangannya mengusap punggung Aster dengan gerakan naik turun. "Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi saja. Sebaiknya sekarang kau tidur lagi. Paman akan menemanimu di sini."
Nathan membawa Aster untuk berbaring. Posisi mereka saling berhadapan. Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang Aster dengan erat. Meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja. Dan tidak sampai 10 menit. Aster sudah kembali terlelap.
-
Bulan telah meninggalkan peraduannya. Sang fajar mulai menampakkan wujudnya di ufuk timur. Yang perlahan naik dan merangkak menuju singgasananya.
Di sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Kesibukan sudah mulai terlihat, para penghuninya telah sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan mereka masing-masing. Termasuk dua pemuda ini...
Gavin dan Rio tengah mengerjai Leon yang sedang mandi. Karena kran kamar mandi di kamarnya masih diperbaiki. Leon pun memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang ada di lantai satu.
Gavin dan Rio mengambil semua pakaian Leon tanpa menyisahkan satu pun. Dan tentu saja hal itu menimbulkan sebuah kehebohan. Leon yang menyadari pakaiannya telah menghilang pun segera berteriak, menyeruhkan dua nama tersangka utamanya.
"Gavin...!!! Rio...!!! Cepat kembalikan pakaianku!!" Namun tidak ada sahutan.
Saat ini keduanya tengah tertawa cekikikan membayangkan bagaimana ekspresi Leon yang sedang panik sekarang. "Bocah setan, kalian kenakan pakaianku?! Cepat kembalikan atau kalian akan aku gantung hidup-hidup?!"
Keduanya terkekeh. "Pakaian apa, Paman? Sebaiknya kau jangan asal tuduh, mana mungkin kami mengambil pakaianmu!! Kekeke!!" Teriak keduanya dengan kompak.
"Bocah setan, kau pikir aku bisa dengan mudah kalian bodohi. Siapa lagi biang kerok di sini jika bukan kalian berdua?"
"Bisa saja si Suketi, kan dia sangat tergila-gila padamu!!"
Sontak kedua mata Leon membelalak saking kagetnya. Mendengar nama Suketi seketika membuat bulu kuduknya berdiri. Leon memperhatikan sekelilingnya. Pria itu menelan ludah sambil menggelengkan kepala.
Leon membayangkan jika Suketi tiba-tiba saja muncul dan membuat dirinya jantungan. Leon menggeleng dan segera berlari meninggalkan kamar mandi tersebut. Parahnya lagi dia keluar dari dalam sana dengan keadaan bulat.
Kedua mata Aster lantas membelalak melihat sebuah pemandangan yang nyaris membuatnya terkena serangan dadakan. Hal serupa juga ditunjukkan oleh Leon.
"KKKYYYAAA!!! BURUNG PAMAN LEON MENYERAMKAN!!"
__ADS_1
-
Bersambung.