
Hari ini adalah akhir pekan. Aster berencana untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya. Dia ingin memberitahu mereka perihal kehamilannya. Aster tidak hanya sendiri, ada Tao yang pergi bersamanya.
Aster menyapukan pandangannya. Wanita itu tersenyum lebar melihat keberadaan Tiffany, Benny dan Benno. Aster melambaikan tangan pada mereka bertiga.
"Noona, tiba-tiba aku kebelet pipis. Kau duluan saja ya. Aku akan menyusul nanti."
Aster berdecak sebal. "Sudah sana, dasar beser." Cibir Aster. Tao mengangkat jarinya membentuk huruf V. Sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Buru-buru Tao pergi ke toilet. Dia tidak ingin sampai terkencing di celana.
Baru saja akan melangkahkan kakinya menghampiri Tiffany dan si kembar. Tiba-tiba seseorang membekap Aster dari belakang. Wanita itu pun langsung jatuh tak sadarkan diri karena bius. Membuat kedua mata mereka bertiga membelalak.
"Yakk!! Mau kalian bawa kemana dia?!" Teriak Tiffany dan segera mengejar mereka. "Benno, kau ikut aku. Benny, tetap di sini dan tunggu sampai pria bermata panda itu keluar dari toilet. Laporkan apa yang terjadi pada Aster."
Dan keduanya pun mengangguk. "Baik,"
Dari kejauhan Tiffany melihat tubuh Aster dimasukkan ke dalam mobil oleh dua pria. Dia juga melihat siluet seorang wanita di dalam mobil tersebut. Tapi sayangnya Tiffany tidak tau dan tidak begitu jelas wajahnya karena terlau jauh.
Dan sementara itu... Tao yang baru saja kembali dari toilet kebingungan melihat wajah panik Benny. Lalu dia juga merasa heran karena tidak melihat batang hidung Aster dan juga dua orang lainnya.
"Kenapa kau hanya sendirian? Di mana yang lain?"
"Kita harus bergegas. Seseorang menculik Aster, dan saat ini Tiffany serta kakak kembar ku berusaha mengejar mereka." Ujarnya memberi penjelasan.
Sontak kedua mata Tao membelalak saking kagetnya."APA?! NONA-KU DI CULIK?!" Benny mengangguk. "Mati aku!! Boss, bisa menggantungku hidup-hidup. Ayo, kita harus bergegas. Kita harus segera mengejar mereka."
Keduanya berlari menuju parkiran. Di mana mobil milik Tao diparkirkan. Tak lupa Tao memberi tau Aster perihal apa yang terjadi pada Aster.
Tentang bagaimana Nathan akan memarahinya, itu bisa di pikir belakangan. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan wanita itu.
-
"APA?!"
Nathan memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar kabar dari Tao tentang penculikan yang dialami oleh Aster.
Tanpa peduli dengan rapat yang masih berjalan. Nathan segera meninggalkan ruangan itu diikuti Leon yang berjalan mengekor di belakangnya.
Mereka meninggalkan kantor dengan langkah terburu-buru. Leon segera pergi ke parkiran sementara Nathan menunggunya di depan kantor.
Kedua tangan Nathan terkepal kuat dan matanya berkilat tajam. Dia tidak tau siapa yang sudah berani mencari gara-gara dengannya. Dan Nathan pasti akan memberikan imbalan yang setimpal pada orang itu.
__ADS_1
Nathan mencoba menghubungi Tao untuk menanyakan posisinya saat ini. Nathan benar-benar tidak bisa merasa tenang. Dia takut jika hal buruk sampai menimpa Aster, juga janin di dalam perutnya.
Nathan bersumpah akan menghabisi orang itu, dan membuat dia menyesal karena sudah dilahirkan ke dunia ini. "Aster, Paman mohon bertahanlah, dan tunggu sampai Paman datang menyelamatkan kalian berdua."
-
Aster membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati tubuhnya telah terikat di atas papan, sedang di bawahnya terdapat akuarium yang ukurannya cukup besar.
Wanita itu mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah namun tidak mendapati siapa pun ada di sana, ruangan itu kosong dan sedikit gelap.
Sampai Ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang bergerak kearahnya.
KRIEEETT .. !!! ...
Tak lama berselang, terdengar decitan pintu terbuka yang beberapa saat kemudian derap langkah kaki itu kembali terdengar memenuhi seluruh ruangan, namun sayangnya Aster tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang, mengingat bila keadaan di dalam ruangan itu yang sangat minim dengan penerangan.
Namun satu pasti yang Aster ketahui, yakni orang itu adalah seorang wanita.
Samar-samar wajahnya mulai terlihat, dan kedua mata Aster membulat sempurna setelah melihat siapa orang tersebut.
"Maya!!" Dan memekik terkejut.
"Katakan, apa maumu dan kenapa kau membawaku ketempat ini?"
Maya menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan Aster, namun lebih tepatnya seringai meremehkan.
"Uhh, kau galak sekali, Aster Xiao?! Apa kau tidak bisa bersikap lebih manis, hm?"
Aster memutar bola matanya jengah mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir Maya, Ia sangat benci dengan orang yang bertele-tele dan kebanyakan berbosa-basi.
"Jangan bertele-tele, katakan apa maksudmu membawaku ketempat ini dan menyekapku di ruangan ini?" Tanya Aster untuk yang kedua kalinya.
Maya menarik kursi yang ada di hadapannya kemudian duduk nyaman di sana, gadis itu menatap Aster dengan senyum meremehkan. Ia merasa prihatin melihat keadaan putri angkat dari pamannya itu.
Tubuhnya terikat dan berdiri di atas sebuah papan, sementara di bawahnya sebuah aquarium berukuran besar siap menenggelamkannya kapan saja.
Namun rasa prihatin itu tergantian dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Dan Maya melakukan hal itu pada Aster karena ingin membalas dendam pada Nathan.
Karena Nathan ia dan ibunya kini menjadi gelandangan. Sejak Nathan mengusir mereka keluar dari rumah, mereka berdua hidup terlunta-lunta.
__ADS_1
Ia merasa dendam pada Nathan, namun sayangnya Maya tidak bisa membalas langsung padanya karena itu sama saja menggali kuburnya sendiri.
Maya ingin membuat Nathan menangis darah ketika melihat putri angkat kesayangannya mati di tangannya.
"Membalas perbuatan ayah angkat mu, juga perbuatanmu pada kami berdua. Dulu kau selalu semena-mena karena Paman Nathan selalu ada di belakangmu!!" Tuturnya.
Tampak Maya beranjak dari duduknya kemudian Ia berjalan mendekati akuarium besar yang hanya berjarak sekitar 6 meter saja dari tempatnya berada.
"Jadi karena itu kau menculikku dan membawaku ketempat ini?" Tanya Aster meremehkan. "Pengecut, jika kau memang berani. Lepaskan ikatanku dan hadapi aku secara sehat." Lanjut Aster memberi tantangannya.
"Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk melakukannya."
Jelas saja Maya menolak tantangan Aster karena Ia tau Ia tidak mungkin menang bila beradu fisik mengingat bila Aster bisa beladiri sedangkan Ia tidak. Karena melepaskan Aster sama artinya dengan menggali kuburnya sendiri.
"Pengecut, katakan saja bila kau takut." Ucap Aster meremehkan.
Maya mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Aster. Ia tidak terima di sebut pengecut oleh Aster.
Sedangkan Aster tampak menyeringai tajam melihat ekspresi wajah Maya.
"Kau akan mati di dalam akuarium ini Aster Xiao!!" Teriak Maya penuh amarah.
Dengan emosi yang berapi-api, Maya menarik tali yang mengikat tubuh Aster dan...
BYURRRR ... !!! ...
Tubuh Aster jatuh ke dalam akuarium raksasa tersebut tangan dan kakinya terikat, tak ada yang bisa Aster lakukan sekarang selain pasrah dan berharap seseorang akan datang untuk menyelamatkannya, meskipun mustahil namun Ia yakin bila keajaiban itu benar-benar ada dan berharap keajaiban itu akan datang padanya.
Dan di saat Ia tak berdaya seperti saat ini, hanya ada satu nama yang melintas di dalam benak Aster.
"Paman, selamatkan aku." Batin Aster memohon.
Perlahan-lahan Aster memejamkan matanya dan mulai kehilangan kesadarannya.
Namun dalam hatinya Ia terus berharap bila Nathan akan segera datang untuk menyelamatkan dirinya juga janin di dalam rahimnya.
~
Bersambung.
__ADS_1