"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Hukuman


__ADS_3

Dengan melihatnya sekilas. Orang pasti tau jika Aster bukanlah wanita lemah lembut dan pasrah ketika ditindas.


Aster adalah wanita bar-bar yang tidak akan membiarkan orang lain menindas apalagi meremehkan dirinya. Aster tidak akan membiarkan siapapun merendahkan dirinya.


Tak jarang dia mengeluarkan kata-kata kasar yang menurut orang lain itu sangat tidak sopan. Tentu saja bukan kesemua dan kesembarang orang. Hanya pada mereka yang dianggapnya menyebalkan dan tidak layak untuk dihormati.


"Aster~" Langkah kakinya terhenti setelah seseorang memanggilnya. Wanita itu memicingkan matanya melihat sosok tampan yang kini berjalan menghampirinya.


"Kau... Siapa? Apa kita pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya?" Tanya Aster penasaran.


Pemuda itu terkekeh gemas. "Kau tidak mengenali dan mengingatku? Ini aku, Thomas. Si gendut yang dulu kau juluki si Raja makan!!"


"Gendut si Raja makan?" Aster mencoba mengingat-ingat. Sepertinya tidak asing dan begitu familiar. Kemudian kedua matanya membelalak sempurna. "Ya, aku mengingatmu!! Jadi kau si dekil dan si gendut itu?" Tebaknya bersemangat.


Pria bernama Thomas itu mengangguk membenarkan. "Bingo, tepat sekali!! Rupanya kau masih mengingatku."


Aster mengamati pemuda dihadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memutar tubuhnya, memiringkan ke kanan dan ke kiri. Guna memastikan jika yang dilihatnya itu tidaklah salah.


"Ya Tuhan, kemana semua lemak menggemaskanmu itu? Kenapa bisa hilang semua?" Tanya Aster kebingungan.


"Bukan hilang, tapi aku memang menghilangkannya. Bagaimana penampilanku sekarang? Bukankah aku sekarang sangat tampan dan berkharisma?"


Aster mendecih. "Tetap saja tidak berubah. Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dan bukannya tampan, tapi kau sangat jelek. Kau tidak lagi semenggemaskan dulu!!"


"Dasar iblis betina dan tidak punya hati. Bagaimana bisa kau malah mengataiku jelek dan tidak menggemaskan lagi. Jelas-jelas butuh waktu 1 tahun untuk menghilangkan semua lemak-lemak menyebalkan ini!!"


Aster terkekeh geli. "Baiklah-baiklah, kau sangat tampan dan berkharisma. Untuk itu sekarang kau harus mentraktirku makan siang, aku lapar."


"Tidak masalah. Ayo, kau ingin makan di mana?"


"Restoran Eropa!!"


"Baiklah!!"


.

__ADS_1


.


.


Glukk...


Aster menelan salivanya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam restoran itu ketika matanya bersirobok dengan sepasang mata coklat yang dingin dan tajam. Nathan ada di restoran itu bersama beberapa pria asing yang Aster yakini sebagai koleganya.


Thomas yang kebingungan segera menoleh ketika tidak mendapati Aster berjalan disampingnya, dan menatap wanita itu penasaran.


"Ada apa? Kenapa tidak jadi masuk? Kau bilang ingin makan siang di sini?"


Aster mendorong Thomas dan menyentak tangan pria itu dari bahunya. "Jangan sembarangan merangkulku apalagi dekat-dekat denganku!!" Pinta Aster.


Thomas memicingkan matanya. "Kenapa?"


Aster segera menunjuk ke arah Nathan menggunakan dagunya. "Dia bisa menggantungku hidup-hidup." Jawabnya.


Thomas mengikuti arah tunjuk Aster. Matanya kembali memicing dan dahinya mengernyit bingung. "Memangnya dia siapa? Kenapa kau sampai setakut itu padanya?" Tanya Thomas penasaran.


"Dia ayah angkatku, dan juga...suamiku!!"


"Thomas, maaf. Tapi makan siang kita batal. Aku pergi dulu!!!"


Aster segera berlari menjauh dari restoran itu. Dia tidak ingin jika Nathan sampai menelannya hidup-hidup ketika dia sampai di rumah nanti. Sekarang saja tatapannya sudah sangat mengerikan. Apalagi nanti.


~


Mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman rumah membuat Aster panik bukan main. Dia tau itu adalah suara mobil Nathan. Kepanikan Aster semakin menjadi ketika melihat pria itu sudah berjalan ke dalam. Yang artinya kurang dari 3 menit pria itu akan tiba di kamar.


Cklekk..


Aster terlonjak dalam duduknya setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Nathan dengan wajah suramnya terlihat memasuki kamar. Dan sebisa mungkin Aster bersikap untuk tenang.


"Paman,kau sudah pulang? Tumben sekali tidak lembur malam ini?"

__ADS_1


"Siapa pria yang bersamamu tadi siang? Dan kenapa kau langsung kabur begitu melihatku? Kau selingkuh?"


Aster menggeleng. "Tentu saja tidak!! Mana mungkin aku selingkuh dari Paman. Bukankah Paman tau sendiri jika aku sangat mencintai Paman. Jadi tidak mungkin jika aku selingkuh dari Paman." Jawabnya memaparkan.


Nathan menarik pinggang Aster hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. "Kau mencoba bermain apa denganku, eh? Kau perlu di hukum, Nona Muda." Ucap Nathan dan kemudian mengecup singkat bibir Aster.


Aster mengangkat kedua tangannya kemudian mengalungkannya pada leher Nathan. "Memangnya dengan cara apa, Paman akan menghukum ku? Apa dengan cara bercocok tanam?" Aster menyeringai.


"Kau mengerti yang aku pikirkan? Malam ini aku akan membuatmu menyesal karena sudah membuatku cemburu, Sayang." Ucapnya dan kemudian membawa bibir Aster dalam sebuah ciuman panjang dan menuntut.


Posisi mereka tidak lagi berdiri. Nathan duduk dengan Aster berada di pangkuannya. Mereka berciuman dengan begitu panas dan penuh gairah.


Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang ramping Aster, sedangkan tangan satu lagi Nathan gunakan untuk menekan bagian tengkuknya agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.


Jari-jari lentik Aster dengan lincah membuka kemeja yang melekat pada tubuh Nathan dan membuangnya begitu saja. Menyusahkan sebuah singlet putih yang melekat pas di tubuh kekarnya.


Gerakan jari Aster pada lengannya membuat Nathan melengkuh panjang. Aster terus menggerakkan jari-jari lentiknya di lengan berhiaskan tribal tatto di lengan kanan Nathan. Menikmati setiap teksture lengan berototnya itu.


Nathan memiliki lengan yang terbentuk. Memang tidak terlalu besar seperti lengan para binaragawan, namun terasa kuat ketika di sentuh.


"Paman, aahhhh." Aster mendesah ketika Nathan menurunkan ciumannya menuju dadanya.


Dengan sigap Nathan membuka pengaman yang menutupi sepasang bukit kembar milik Aster lalu meng*lum salah satu put*ngnya. Aster menjerit ketika Nathan menggigit ujung punt*ngnya. Sakit namun juga nikmat.


"Ingin di lanjutkan atau berhenti?" Nathan yang sudah dikuasai kabut nafsu menatap Aster dengan tatapan penuh cinta.


"Jangan membuatku kecewa dengan menggantungnya, Paman. Tentu saja di lanjutkan." Jawabnya bersemangat.


Nathan kembali pada bibir Aster, dan ciuman kali lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya. Nathan tersenyum hangat penuh kelembutan.


"Kalau begitu ayo kita lanjutkan." Sekali lagi Nathan mencium bibir Aster seraya merebahkan tubuhnya secara perlahan pada tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.


Jari-jari Nathan dengan lincah menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh Istrinya. Tatapan Nathan semakin liar ketika melihat tak ada sehelai benang pun yang melekat pada Aster.


Dan selanjutnya bukan lagi bibir mereka yang menyatu. Namun juga jiwa dan raga, membuat malam yang terasa dingin ini menjadi panas bagi keduanya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2