"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Mimpi Yang Begitu Nyata.


__ADS_3

"ASTER!!!"


Nathan terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal-segal. Dia baru saja mengalami mimpi yang sangat buruk. Dimana seseorang menusuk Aster hingga membuatnya terluka parah.


Sementara itu... Aster yang sedari tadi ada di samping Nathan hanya bisa menyernyit bingung. Dan dia berani bersumpah jika Nathan sedang bermimpi buruk.


"Paman, ada apa, aku di sini." Ucap Aster sambil menangkup wajah Nathan dan mengunci manik matanya.


"Aster!!" Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya dan memeluk wanita itu dengan sangat erat. "Aku pikir aku akan kehilanganmu." Pria itu menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Aster mendesah berat. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan.


"Pasti Paman bermimpi buruk ya? Tenanglah, Paman. Aku baik-baik saja, itu hanya bunga tidur, jadi tidak perlu dianggap serius, oke."


Nathan kembali menutup matanya, dan semakin mengeratkan pelukannya lagi pada tubuh Aster, saking eratnya pelukan itu sampai-sampai membuat Aster sulit untuk bergerak. Namun Aster tidak melayangkan protesnya sedikit pun.


Aster tau jika Nathan sedang ketakutan, Aster merasakan tubuh Nathan yang sedikit gemetar. Dan keringat dingin juga tampak pada keningnya. Aster tidak tau seberapa buruk mimpi yang telah Nathan alami.


"Meskipun yang aku alami hanyalah mimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata. Dan aku sangat takut jika mimpi itu akan menjadi kenyataan." Ujar Nathan dengan suara gemetar.


Aster menyadarkan kepalanya pada bahu lebar Nathan."Tenanglah, Paman. Semua akan baik-baik saja, Paman tidak perlu mencemaskan apapun."


"Bagaimana jika mimpi itu menjadi kenyataan? Bagaimana jika akhirnya kau meninggalkanku? Tidak, Aster!!"


"Paman, jangan terlalu menganggap serius mimpimu itu, lagipula bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu. Sedangkan aku sendiri tidak bisa hidup tanpamu!! Jadi Paman jangan pernah berpikir jika aku akan meninggalkan Paman, oke."


"Kau harus berjanji jika kau tidak akan meninggalkanmu!!"


Aster mengangguk. "Ya, aku berjanji. Dan sekarang aku sangat lapar, bisakah kita pergi untuk makan?"


Nathan melepaskan pelukannya. "Lalu bagaimana dengan belanjamu? Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau butuhkan?" Tanya Nathan.


Aster mengangguk. Kemudian dia menunjuk semua barang belanjaannya yang ada di jok belakang. "Aku sudah mendapatkan semuanya, dan aku juga membelikan beberapa helai kemeja serta sleeveless untuk Paman."


Nathan memicingkan matanya Sleeveless lagi? Bukankah sudah banyak Sleeveless yang kau belikan bulan lalu?" ujarnya.


Aster mempoutkan bibirnya. "Memangnya kenapa kalau aku membelikan 1, 2 Sleeveless untuk Paman? Tidak ada ruginya bukan? Lagipula aku lebih suka melihat Paman memakai pakaian lengan terbuka dari pada harus kemeja berlengan seperti ini." Wanita itu menggerutu.


Nathan mendengus geli. Dia tidak merasa heran dan aneh lagi dengan hal-hal konyol yang di sukai oleh istri kecilnya ini.


Bukan lagi rahasia, jika di dunia ini ada triliyunan hal berbeda yang membuat kehidupan berwarna. Dalam setiap fungsi kehidupan, pasti selalu ada hal yang bertolakbelakang atau berlawanan satu sama lain.


Contohnya saja Nathan dan Aster. Meskipun mereka sudah hidup bersama di bawah satu atap yang sama, selama lebih dari 10 tahun. Namun pemikiran mereka tidak pernah satu arah. Apa yang mereka pikirkan selalu bertolak belakang.


Nathan Xiao. Adalah pria yang berasal keluarga sederhana, kedua orang tau kandungnya telah meninggal ketika dia masih remaja. Kemudian Nathan diangkat anak oleh seorang ketua sebuah organisasi besar yang telah melebarkan kekuasaannya sampai di lima benua.


Nathan dianugerahi wajah tampan bak pangeran dan otak yang cerdas. Sejak pertama kali bergabung dengan organisasi yang dipimpin langsung oleh ayah angkatnya, Nathan sudah langsung menunjukkan kemampuannya.


Sampai akhirnya dia diangkat menjadi ketua 'Black Phoenix' oleh Xiao Murten. Sebagai kelompok bayangan yang bekerja secara langsung di bawah kekuasaannya.


Dan jika berbicara tentang Nathan, tentu ada seseorang yang pasti ikut dikaitkan dengannya. Dan orang itu yak lain dan tak bukan adalah Aster Xiao. Wanita cantuk yang memiliki fitur fisik yang bisa dibilang nyaris sempurna. Wajah cantik dan didukung bentuk tubuh yang bagus.


Jika mereka tak terikat benang takdir, mungkin tak akan pernah ada interaksi dan kontak di antara mereka berdua. Sebab dalam semua komposisi yang mereka miliki, keduanya benar-benar bertolak belakang. Dan jika boleh diibaratkan, Aster adalah musim semi, sedangkan Nathan adalah musim dingin.


Memangnya siapa yang tidak mengenal sosok kejam, angkuh dan berharga diri tinggi ini. Jika ada seseorang atau apapun yang menentangnya, mata tak segan-segan Nathan memberikan makhluk malang itu pelajaran. Baik secara fisik ataupun mental.

__ADS_1


Dan harga diri yang harus mereka bayar adalah dengan kematian. Nathan tidak akan segan-segan menghabisi siapa pun yang berani mengusik kehidupannya.


Sedangkan Aster. Aster itu unik, sangat unik malah. Dan hal itulah yang membuat Nathan selalu memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Menurutnya, Aster itu bar-bar tapi perhatian.


Ada kalanya ia menjadi luar biasa manja, cengeng ataupun pemalas―yang merupakan sisi lainnya. Dan semua itu terlihat unik di mata Nathan.


Tiba-tiba Nathan melepaskan kemeja lengan panjangnya dan menyisahkan singlet putih yang masih melekat di tubuhnya.


Dalam hatinya Aster terus bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Nathan melepas kemejanya, apa karena Nathan ingin supaya mereka melakukannya? Tapi ia masih datang bulan, dan rasanya itu tidak mungkin.


"Ambilkan Sleeveless yang kau beli tadi, Paman ingin memakainya."


Sontak saja kedua mata Aster langsung berbinar mendengarnya. "Sungguh?" Nathan mengangguk mengiyakan. Aster melompat ke belakang dan mengambil Sleeveless(rompi yang panjangnya melebihi pantat) lalu menyerahkan pada Nathan.


Sleeveless berlebel Gucci itu tampak sempurna di tubuh Nathan. Tanpa banyak berkata apa-apa, Aster melompat kepangkuan Nathan dan mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.


"Lihatlah betapa tampannya Paman saat ini, apalagi jika Paman mau memakai benda bertali ini lagi. Pasti Paman akan lebih cool dan semakin tampan. Boleh aku memakaikan benda ini pada mata kanan Paman?"


Nathan mendesah berat. Dengan terpaksa dia menganggukkan kepala. Karena ditolak pun, tidak ada gunanya. Aster pasti akan tetap memaksa sambil merengek dan memohon sampai dia mengijinkannya. Aster adalah tipe wanita keras kepala dan suka memaksa.


Sebuah benda bertali kini sudah terpasang pada mata kanan Nathan. Aster tersenyum lebar. Dan menandang Nathan dengan pandangan berbinar. Seperti apa yang dia katakan, Nathan memang sangat tampan, lebih tampan malah.


"Bagaimana, sekarang kau sudah merasa puas?" Aster mengangguk.


"Tentu, sangat puas malah." Jawabnya dengan sebuah senyum lebar di bibirnya.


"Dasar anak nakal." Nathan menadaratkan sebuah jitakan pada kepala Aster, kemudian diraihnya tengkuk Aster dan sebuah ciuman ia daratkan pada bibirnya.


Nathan mel*mat bibir Aster dengan sangat keras. Atas dan bawah bergantian, sedangkan Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.


Ciuman mereka bukanlah ciuman lembut yang penuh panas yang penuh dengan na*su. Dan jika saja Aster tidak dalam keadaan bertamu. Pasti Nathan sudah melahapnya sampai habis detik ini juga. Tapi dia harus menahannya sampai beberapa hari ke depan.


"Nanti saja kita lanjutkan lagi. Ada hal penting yang harus Paman urus."


"Apakah hal itu lebih penting dariku?"


"Sangat, karena hal ini juga menyangkut keselamatanmu!!"


Aster memiringkan kepalanya. "Maksud Paman apa, aku sungguh tidak mengerti?" Ucapnya.


Nathan menyentuh sisi wajah Aster dan pergi begitu saja. "Tunggu sebentar, Paman akan segera kembali." Nathan melepaskan genggaman tangan Aster dan melanjutkan langkahnya. Dan Aster hanya bisa menatap kepergian Nathan dengan pandangan gamang.


-


"Sial!! Dimana aku menjatuhkan benda itu,"


Sebuah umpatan keluar dari bibir Amanda. Wanita itu menjatuhkan sesuatu dari dalam tasnya secara tidak sengaja, ketika dia menarik keluar bedak dari dalam tasnya.


"Kau mencari benda ini?" Sahut sebuah suara dari arah belakang.


Sontak saja wanita itu menoleh, kedua matanya membelalak melihat siapa yang berdiri di ambang pintu sambil memainkan benda yang dia jatuhkan tadi.


"Nathan!!" Pekik Amanda kaget.


Nathan menyeringai. "Kau mencari benda ini bukan? Dan aku melihat ada nama Aster di gagang belati ini. Apa kau berniat menghabisi dia dengan pisau ini?"

__ADS_1


"Jangan asal menyimpulkan. Itu adalah nama seseorang yang aku kenal. Dan dia yang membelikan belati itu padaku sebagai hadiah."


"Benarkah?" Nathan menyeringai tajam. "Kau pikir aku akan mempercayai ucapan-mu yang tidak masuk akal itu? Aku bukanlah orang bodoh yang mudah untuk kau bodohi. Ada baiknya jika aku menyingkirkanmu sebelum kau membahayakan nyawa Aster."


"Ma-mau apa kau?" Amanda mundur beberapa langkah melihat Nathan berjalan mendekati. Nathan mengangkat belati ditangannya dan.... "AAAHHH!!" Amanda menjerit sambil menutup matanya.


Melihat ketakutan Amanda membuat Nathan tertawa tergelak. Pria itu menarik pisaunya yang tertancap di dinding samping kanan Amanda. Dan pisau itu hanya berjarak dua inci saja dari kepala Amanda.


"Leon, urus wanita ini. Terserah mau kau apakan dia." Nathan melemparkan belati di tangannya pada Leon dan pergi begitu saja.


Seperti mendapatkan durian runtuh. Leon untung berkali-kali lipat. Lumayan mendapatkan kucing liar gratis. Begitulah yang dia pikirkan.


Nathan membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil mewah itu. Di dalam, Aster tengah asik mendengarkan musik sambil menutup mata, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangannya.


Nathan mendengus geli. Melihat berbagai ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu.


Nathan menarik handset yang menempel pada telinga Aster dan membuat wanita itu nyaris memekik marah, jika saja dia tidak melihat siapa yang ada disampingnya.


"Paman!! Kau mengejutkanku!!"


Nathan menjitak gemas kepala coklat Aster saking gemasnya. "Kenapa kau malah marah-marah pada Paman?! Salahkan dirimu sendiri yang terlalu asik dengan duniamu itu."


Aster menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu kemudian berhambur ke dalam pelukan Nathan. "Paman, sebenarnya kau dari mana saja? Kenapa kau pergi begitu lama?"


"Bukankah Paman sudah memberitahumu jika Paman memiliki urusan yang harus di selesaikan."


"Iya, tapi urusan apa?"


"Tentu saja urusan yang sangat penting. Kenapa kau semakin bawel saja, hm." Nathan menarik ujung hidung Aster saking gemasnya."Kau ingin kemana lagi setelah ini?"


"Pulang, aku lelah dan ingin segera beristirahat. Rasanya kakiku pegal semua setelah berkeliling mall dan naik turun eskalator."


"Siapa suruh kau terlalu maruk jadi orang?!" Cibir Nathan dan membuat memekik kencang.


"PAMAN!!" Aster mempoutkan bibirnya dan membuang muka kearah lain. Nathan benar-benar membuatnya kesal setengah mati."Dasar menyebalkan!!"


"Hn, aku tau. Kau sudah berkali-kali mengatakannya."


Nathan menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik, mobil itu melesat jauh meninggalkan pusat perbelanjaan.


Diam-diam Aster menarik sudut bibirnya. Wanita itu menyandarkan punggungnya pada jok mobil.


Kedua matanya tertutup rapat. Semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi lama-lama membuat Aster mengantuk, dan tidak sampai dua menit, wanita itu sudah terlelap dalam tidur-nya.


Ponsel milik Nathan tiba-tiba saja berdering. Pria itu menepikan mobilnya dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa kau menghubungiku?"


"Boss, bolehkah aku menikmati Amanda seperti aku menikmati kucing-kucing liarku?"


Nathan mendengus berat. "Jadi kau menghubungiku hanya untuk hal tidak berguna seperti itu? Dasar merepotkan!!" Ujarnya.


Nathan memutuskan sambungan telfon Leon begitu saja. Rasanya dia ingin menggantung hidup-hidup pria yang selama ini menjadi tangan kanan tersebut.


Nathan menghidupkan kembali mesin mobilnya, dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena ulah Leon.


Sebenarnya bukan hanya Aster yang merasa lelah, namun Nathan juga. Bukan hanya sekujur tubuhnya, tapi otak dan hatinya juga.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2