"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Piano


__ADS_3

Jari-jari kecil berkulit putih itu menekan tut piano dalam bimbingan genggaman tangan lainnya yang mengarahkan. Penggalan nada mulai terdengar, diiringi nyanyian yang coba disamakan dengan melodinya.


Saat itu langit terlihat cerah. Burung-burung gereja bertengger pada dahan pohon di balik jendela yang terbuka, mereka seperti ingin ikut berbaur bersama keharmonisan keluarga kecil itu.


Sosok cantik yang memiliki mata indah berkilau seperti ibunya, berhidung mancung yang menurun dari sang ayah dan bibirnya yang memiliki perpaduan pas dari keduanya, tersenyum senang kala lagu yang dia nyanyikan selesai di bait terakhir.


Sang ayah ikut tersenyum pada putri kecilnya itu, lalu mencium ujung hidung mancung si gadis kecil yang menggemaskan ini.


"Daddy, tidak disangka ternyata Daddy sangat jago bermain piano."


"Dulu saat masih sekolah, Mami-mu juga suka bermain piano." Pria itu, Nathan, memulai bercerita dan mengangkat putri kecilnya untuk duduk di pangkuannya.


"Benarkah? Tapi kenapa Mami tidak pernah menunjukkannya padaku?" Gadis keci berusia 5 tahun itu menatap penuh penasaran kepada ayahnya.


"Hemmmm.. Saat masa sekolah dulu Mamimu sangat pintar bermain piano dan dia memiliki suara yang sangat merdu. Tapi Mami-mu tidak pernah menyentuh piano kesayangannya lagi sejak masuk ke perguruan tinggi ."


"Benarkah? Sepertinya Mami sangat hebat dan berbakat. Dad, saat besar nanti apakah Laurent bisa seperti Mami? Laurent ingin sekali bisa bernyanyi dan bermain alat musik terutama piano?"


Nathan mengangguk. "Kau akan menjadi seseorang yang lebih hebat dari Mamimu, karena kau adalah putrinya."


"Benarkah itu?" Laurent menatap sang ayah dengan mata berbinar-binar. Nathan sekali lagi mengangguk.


"Apa ada yang membicarakan Mami?" Sosok Aster yang menggunakan dress putih sepanjang lututnya muncul, membawa nampan berisikan teh dan cokkies hangat yang baru keluar dari oven.


Sejak memiliki Laurent di dalam rahimnya. Aster mulai hidup dengan mandiri. Dia mempelajari banyak hal, termasuk memasak.


Nathan tersenyum dan mengedipkan mata kirinya sebagai jawaban dari pertanyaan Aster. Sementara Laurent yang masih berada dipangkuan sang ayah terlihat begitu tidak sabar ingin menyantap cokkies buatan Maminya yang bertabur butiran coklat atau kacang almon di atasnya.


"Pelan-pelan, Sayang. Kau bisa tersedak." Ucap Aster memberi nasehat.


"Oya, Mi. Daddy bilang Mami sangat pandai menyanyi dan bermain piano."


Sembari memakan cokkies pertamanya, Laurent mulai berceloteh tentang apa yang ayahnya katakan, membuat Aster tersenyum kecil sebelum ikut duduk di samping Nathan.


"Daddy-mu hanya menebih-lebihkan saja. Karena Mami tidaklah sehebat itu."


"Laurent ingin melihat dan mendengar Mami bernyanyi sambil memainkan piano, bisakan? Sekali saja, ayolah Mami, ya." Pinta Laurent memohon.


"Memangnya harus ya?"


Laurent mengangguk cepat dan memperbaiki posisi duduknya di atas paha Nathan agar bisa melihat dengan baik bagaimana permainan piano sang ibu yang menurut ayahnya sangat sempurna itu.


Aster mendesah berat. Laurent mulai memaksanya, dan dia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakannya. Aster mengangguk dan setuju untuk bernyanyi satu lagu.


Denting suara piano menggema di dalam ruangan tersebut. Menyelimuti semua permukaan dingin ruangan dengan alunan melodi dan nada-nada yang indah. Suara indah Aster mulai mengalun dengan merdu.

__ADS_1


Can you tell me


How can one miss what she's never had


How could I reminisce when there is no past


How could I have memories of being happy with you boy


Could someone tell me how can this be


How could my mind pull up incidents


Recall dates and times that never happened


How could we celebrate a love that's to late


And how could I really mean the words I'm bout to say


I missed the times that we almost shared


I miss the love that was almost there


I miss the times that we use to kiss


At least in my dreams


Just let me take my time and reminisce


I miss the times that we never had


What happened to us we were almost there


Never almost had you


I cannot believe I let you go


Or what I should say I should've grabbed you up and never let you go


I should've went out with you


I should've made you my boo boy


Yes that's one time I should've broke the rules


I should've went on a date

__ADS_1


Should've found a way to escape


Should've turned a almost into


If it happened now its to late


How could I celebrate a love that wasn't real


And if it didn't happen why does my heart feel


I missed the times that we almost shared


I miss the love that was almost there


I miss the times that we use to kiss


At least in my dreams


Just let me take my time and reminisce


I miss the times that we never had


What happened to us we were almost there


Never almost had you


Satu lagu berhasil Aster selesaikan dengan sempurna. Melihat kehebatan sang ibu dalam bernyanyi dan bermain piano membuat Laurent langsung bersorak heboh. Apalagi ketika Aster berhasil mencapai high note dengan sempurna.


"Huaaa, Itu tadi sangat luar biasa. Mami, kenapa Mami tidak pernah memberitahuku jika Mami sangat pandai bernyanyi dan bermain Piano?"


Aster mencubit hidung mancung Laurent dengan gemas."Itu karena Laurent tidak pernah bertanya," Asterbmenangkup pipi Laurent lalu mencium pipinya sekilas, disertai cubitan gemas di pipinya yang penuh.


Ada begitu besar cinta yang Nathan lihat di mata Aster untuk Laurent, dan itu tidak bisa tertutupi oleh apapun, bahkan cintanya sekalipun. Diam-diam Nathan menarik sudut bibirnya. Hatinya menghangat melihat dua sosok bidadari nya. Dan Nathan hanya dia menyaksikan...


Keluarga kecilnya..


Mata kirinya mulai tergenang oleh airmata tanpa Nathan tau penyebabnya. Di depannya bukanlah sebuah pemandangan menyedihkan yang harus dia tangisi, namun sebuah pemandangan mengharukan yang membuat perasaannya menghangat.


Aster yang menyadari air mata dipipi Nathan hanya mengurai senyum tipis. Dia memberi kode pada Nathan supaya dia menghapus air matanya. Nathan buru-buru menghapus air mata itu dari pipinya.


"Sudah waktunya makan malam. Ayo, semua orang mungkin sudah menunggu kita." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster dan Laurent.


Aster bangkit dari duduknya. Sedangkan Laurent berada dalam gendongan sang ayah. Keduanya berjalan meninggalkan kamar dan berjalan menuju meja makan.


-

__ADS_1


Bersambung.


Buat riders yang penasaran dengan lagunya. Lagu itu judulnya Almost. Lagu yang pernah di nyanyikan sama Jessica Jung exs SNSD Visual Aster di salah satu konser Girls Generation.


__ADS_2