
Bruggg...
Tubuh pria itu tersungkur di lantai dan menubruk sepasang sepatu hitam mengkilap milik seorang pria, yang sedang menatapnya dengan tajam.
Susah payah pria itu menelan saliva nya, melihat tatapan tajam penuh intimidasi tersebut. Dan jika boleh memilih, dia lebih memilih bertemu dengan hantu dari pada pria di depannya ini.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu?!" Tanya orang itu dingin.
"Tu..Tuan Mir, di..dia yang menyuruh saya untuk menghabisi keluarga Anda."
"Oh, jadi bajingan itu yang menyuruhmu?!" Ucap pria itu yang pastinya adalah Nathan.
Leon dan Tao menemukan pria itu saat dia berusaha untuk menyusup masuk melalui tembok belakang Mansion.
Pria itu menggunakan seutas tali untuk memanjat tembok. Karena menurutnya itulah satu-satunya jalan paling aman untuk bisa sampai ke dalam. Tapi dugaannya salah, karena mansion itu di jaga dengan ketat.
"Tu..Tuan.. Xiao, tolong ampuni saya. Sa..saya hanya disuruh." Ucap pria itu memohon.
"Membiarkanmu hidup tidak ada gunanya juga membiarkanmu tetap hidup!!" Ucap Nathan.
Pria itu memberi kode pada Leon untuk melanjutkan tugasnya. Nathan beranjak dari sana dan kembali ke dalam. Kedatangan pria itu sudah menyita waktu istirahatnya, itulah salah satu alasan yang membuat Nathan marah.
.
"Paman, ada apa? Memangnya kau dari mana?" Tegur Aster melihat Nathan yang baru saja kembali dari luar. Wanita itu setengah mengantuk. Suara decitan pintu yang di buka dari luar lah yang membuatnya terbangun.
"Hanya mencari angin segar. Kenapa bangun?" Tanya Nathan seraya menghampiri Aster.
"Aku terbangun. Oya, aku juga mendengar suara berisik dari luar, memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Aster memastikan.
Nathan menggeleng. "Tidak ada apa-apa, mungkin itu hanya perasaanmu saja." Jawabnya meyakinkan. "Ini masih malam, sebaiknya kita tidur lagi." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
Aster kembali berbaring di ikuti Nathan yang kemudian berbaring di sampingnya. Alih-alih tidur, Aster malah memperhatikan Nathan dan menatap suaminya itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Ada apa, hm?" Ucap Nathan.
__ADS_1
Aster menggeleng. "Kenapa semakin hari kau semakin tampan dan cantik saja? Aku sangat yakin, saat dewasa nanti baby Rey mirip denganmu."
"Asal jangan menurun sifat ku saja."
"Memangnya kenapa? Bukankah buah selalu jatuh tak jauh dari pohonnya?" Ucap Aster tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Tidak selalu seperti itu juga. Terkadang ada buah yang jatuh lumayan jauh dari pohonnya." Tutur Nathan. "Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur." Aster mengangguk.
Dia memang harus tidur lebih awal. Karena jika Baby Rey sudah bangun dan kambuh rewelnya, dia bisa tidak tidur sampai pagi datang. Endingnya Aster harus merasakan pusing yang luar biasa.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti cukup jauh dari sebuah sekolah dasar ternama di kota Seoul. Seorang gadis kecil nan cantik terlihat turun dari mobil tersebut.
"Princess, jadi setiap hari kau selalu turun di sini?" Ucap Gavin yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent.
"Kenapa?" Kini giliran Rio yang bertanya. Dia sama penasarannya dengan Gavin.
"Tidak apa-apa. Aku cuma tidak ingin memamerkan kekayaan Daddy pada mereka. Aku lebih suka terlihat sederhana dari pada terlihat kaya, tapi yang aku banggakan adalah harta milik Daddy dan Mamiku." Tuturnya.
"Ah, jadi begitu. Paman mengerti. Kau memang hebat dan luar biasa Princess. Kau bisa terlambat, pergi sana gih. Nanti Paman akan menjemput di sini." Ucap Rio yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent.
Tiga gadis kecil menghampiri Laurent dan menghentikan langkahnya. Mereka bertiga menatap gadis kecil itu dengan sinis, mereka selalu memandang rendah Laurent karena dia selalu datang dengan berjalan kaki.
"Wow, lihatlah siapa yang datang. Si nona miskin ternyata. Aku heran kenapa sekolah sebagus dan elit seperti ini bisa menerima murid miskin sepertimu?!"
"Memang kaya miskin seseorang harus diukur dengan kendaraan pribadi ya? Aku miskin atau pun kaya, itu tidak ada hubungannya dengan kalian."
"Lagipula untuk apa aku memamerkan harta yang jelas bukan milikku, seperti kalian bertiga. Yang kalian banggakan adalah harta orang tua kalian. Bukankah itu sangat memalukan?!"
"Kau~"
"Sudahlah, aku malas berdebat dengan kalian. Minggir, kalian menghalangi jalanku!!" Laurent mendorong mereka bertiga dan membuka jalan untuk dirinya sendiri.
Gen Aster dan Nathan ada pada dirinya. Tentu saja hal itu membuat Laurent tidak mudah ditindas. Lagipula mana mau dia dihina dan direndahkan oleh orang lain. Laurent tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada mereka.
Seorang wanita cantik nan anggun terlihat meliukkan tubuhnya memasuki sebuah gedung perkantoran. Beberapa orang yang berpapasan dengannya tampak membungkuk padanya. Dan wanita itu membalasnya dengan senyum lembut.
__ADS_1
Ditangannya menenteng sebuah kotak yang dibungkus kain putih bermotif mawar merah. Rencananya dia akan makan siang bersama suaminya di kantor.
"Baby Rey," wanita itu yang pastinya adalah Aster terlonjak kaget karena ulah Leon yang tiba-tiba saja berteriak memanggil Rey.
"Yakk!! Tiang gila, kau ingin membuatku tuli hah?!" Bentak Aster kesal.
"Hehehe, maaf Nyonya Bos. Habisnya aku gemas sama Rey yang begitu bahenol. Lihat saja pantat dan pipinya, Uhh.. aku ingin mencubitnya." Tutur Leon.
Aster mendecih sebal. Tanpa menghiraukan Leon. Aster masuk ke dalam ruangan Nathan. Rey yang berada di gendongan Aster langsung kegirangan saat melihat keberadaan sang ayah.
"Daddy, kami datang." Seru Aster memecah keheningan.
"Daddy... Daddy.. Gendong."
Nathan meninggalkan meja kerjanya saat melihat kedatangan istri dan anaknya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Baby Rey yang sedang berjalan tertatih-tatih menghampirinya.
Nathan membuka lebar-lebar kedua tangannya. Rey tampak kegirangan. Bayi berusia satu tahun itu tertawa cekikikan saking girangnya.
"Daddy..."
"Uhh, jagoan Daddy semakin montok saja ya." Ucap Nathan sambil membawa Rey ke dalam gendongannya.
"Kan setiap hari Baby Rey minum Asi, Mami." Sahut Aster menjawab.
Nathan mencium kening Aster dan Rey bergantian. Pria itu kemudian membawa putra bungsunya itu untuk duduk di sofa. "Aku membawakan banyak makanan kesukaanmu." Ucap Aster sambil mengangkat bingkisan ditangannya.
"Kebetulan sekali aku memang ingin sekali makan siang masakan mu. Kau datang di saat yang tepat Sayang."
"Bukankah sekarang aku selalu bisa diandalkan?" Aster tersenyum lebar.
"Ya, kau memang yang terbaik." Nathan mengusap kepala coklat Aster dengan penuh sayang. Sedangkan Rey tertawa cekikikan melihat interaksi kedua orang tuanya tersebut.
Baby Rey memang semakin aktif sekarang. Dia tidak kau diam dan terus saja ingin jalan sendiri. Terkadang Aster sampai capek, tapi disisi lain dia sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu.
-
__ADS_1
Bersambung.