
Amy menatap penasaran sahabatnya ini. Aster terus saja menguap sepanjang mereka menikmati makan malamnya. Amy berpikir apakah Aster tidak tidur dan istirahat siang tadi. Bukankah dia tadi mengatakan akan langsung istirahat.
Kemudian pandangan Amy bergulir pada Nathan. Sebuah senyum tercetak di bibir merahnya. Kini Amy tau alasan Aster mengantuk, dia melihat bercak merah pada leher Nathan yang sedikit menyembul dari kerah kemejanya.
Amy berani bersumpah, jika pasangan itu pasti baru bercocok tanam, pasalnya bercak merah itu tidak ada ketika mereka berangkat tadi. Dan Amy paham, kenapa Aster sangat lelah sekarang.
"Kak Xiao, sepertinya Aster kurang istirahat. Lihatlah dia terus saja menguap." Ucap Amy sambil menahan tawa.
Lalu pandangan Nathan bergulir pada Aster. Dan benar apa yang Amy katakan, Aster terus saja menguap, dan beberapa kali hampir saja tertidur.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar. Aku akan meminta pelayan mengantarkan makanan malammu ke kamar saja." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster. Aster benar-benar mengantuk dan tidak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka.
Setelah berpamitan pada Amy dan suaminya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan restoran dan kembali ke kamar. Di tengah langkahnya, Aster tidak sengaja bertabrakan dengan Elisa yang baru saja menginjakkan kakinya di restoran.
Hampir saja terjadi perang mulut antara keduanya. Jika saja Nathan tidak menghentikannya dan membawa Aster pergi dari sana. Dan lagipula Elisa langsung kehilangan kata-katanya setelah berhadapan dengan Nathan.
Dia masih ingat kata-kata Nathan. Bahkan asisten Elisa sampai ketakutan saat berhadapan dengan pria itu. Auranya begitu suran dan tatapannya sangat mengerikan.
"Oppa, kenapa tidak mengijinkan memberi pelajaran pada wanita tak tau malu itu?! Harusnya biarkan saja aku menghajarnya dan mempermalukannya di depan umum!!"
"Jika kau ingin mempermalukannya, sebaiknya lakukan nanti saat di kompetisi. Buktikan padanya jika kau lebih baik dari wanita itu. Bungkam kesombongannya dengan prestasimu, itulah baru pertarungan yang sebenarnya." Ujar Nathan.
Aster berpikir dan memang benar apa yang Nathan katakan. Tidak seharusnya dia bersikap bar-bar dan kekanakan. Sejak menjadi seorang ayah, Nathan memang menjadi lebih bijak dan lebih dewasa. Dia selalu tenang dalam menghadapi masalah.
"Oppa, benar. Baiklah, akan aku buktikan pada wanita itu jika aku memang lebih mampu dari pada dia!!"
Nathan mengusap kepala Aster. "Nah, ini baru Aster Xiao. Ya sudah, ayo kembali ke kamar." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster. Setelah ini dia akan langsung pergi tidur.
Rasanya dia ingin mengutuk Nathan karena sudah membuatnya gagal untuk tidur siang. Tapi bukan sepenuhnya salah Nathan juga, karena dia juga menginginkannya.
__ADS_1
-
"HANTU GILA!! BERHENTI MENGINTIP SAAT AKU SEDANG MANDI!!"
Suara Gavin menggema memenuhi seisi kamar mandi karena ulah Suketi. Hantu gaul itu sedang duduk di atas tembok sambil melihat Gavin yang sedang mandi. Dia sedang bulat tanpa sehelai benang pun.
"Ayang Gavin, jangan pelit-pelit Napa. Lagipula mana mungkin Suketi melewatkan hal luar biasa seperti ini."
"Dasar hantu gila, mesum!! Kau pikir dirimu ini badut yang bisa di tonton dan dilihat seenak jidatmu apa?!" Bentak Gavin kesal. Suketi memang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan saat dirinya atau Rio sedang mandi.
"Pergi enggak? Atau kau ingin aku lempar pakai gayung ini?!" Ancam Gavin sambil sambil mengambil ancang-ancang hendak melemparkan gayung itu pada Suketi.
Alih-alih pergi seperti yang Gavin minta. Suketi malah menyeringai. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Hantu gaul itu. Tiba-tiba Suketi meloncat turun dan...
"Yakkk!! Jangan sembarangan memegang sosis ku!!" Teriak Gavin histeris. Alih-alih merasa bersalah. Suketi malah cekikikan sebelum akhirnya menghilang.
Ini bukan pertama kalinya Suketi melihat Gavin tanpa sehelai pun benang. Hampir setiap hari dia melihat Rio dan Gavin yang sedang mandi. Dan inilah salah satu enaknya menjadi hantu gentayangan, bisa dengan bebas melihat barang bagus milik pria.
"KAU TIDAK USAH DATANG LAGI!!!"
-
Aster dan Nathan memutuskan untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota Paris dimalam hari. Rasa kantuk dan lelah yang Aster rasakan sudah hilang entah kemana. Dan keberadaannya di Paris kali ini tentu tidak akan dia sia-siakan begitu saja.
Nathan menghentikan sebuah taksi yang akan membawa mereka ke menara Eiffel. Tempat yang menjadi salah satu ikonik kota Paris.
Aster merengek ingin pergi ke sana, padahal bukan menara Eiffel sebenarnya yang ingin Nathan kunjungi. Tapi dia memutuskan untuk mengabulkan kemauan istri tercintanya ini. Atau dia akan merajuk dan mendiaminya sampai berhari-hari.
.
__ADS_1
"Huaa.. Akhirnya sampai di sini juga." Seru Aster setelah ia dan Nathan telah sampai di puncak menara.
Saat ini keduanya sudah berada di puncak menara Eiffel, puncak yang menunjukkan betapa luasnya kota Paris dan betapa romantisnya kota ini dimalam hari. Dan inilah salah satu alasan Aster ngotot mengajak Nathan datang ke tempat ini.
"Paman, kemarilah. Lihatlah keindahan kota Paris dari atas sini. Bukankah itu terlihat seperti sebuah keajaiban?"
Nathan berpindah ke belakang Aster kemudian memeluknya dari belakang. Dagu Nathan bertumpu pada bahu kanan wanita itu. Dia mengangguk. "Ya, tidak salah jika banyak sekali pasangan pengantin baru yang memilih kota ini sebagai tempat honeymoon mereka."
Aster mengangguk. "Dan bisakah kita di sini sampai tengah malam nanti? Aku masih ingin menikmati kota ini sampai puas. Disini benar-benar indah, dan keindahan yang sedang kita saksikan terlihat seperti sebuah keajaiban."
Siiinnggg duaaarrr….
Sebuah kembang api cantik lepas dari tempatnya menuju ke langit malam kota Paris, saat di langit kembang itu membentuk pola seperti bunga. Membuat suasana malam ini semakin terasa manis dan romantis.
Aster terpaku dan tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Sangat luar biasa, dan Nathan baru menyadari, jika pilihan Aster untuk mengajaknya ke tempat ini adalah sebuah pilihan yang sangat tepat.
"Aku mencintaimu, Aster Xiao…" bisik Nathan di telinga Aster, suara pria itu terdengar jelas di telinga sang wanita, dan berhasil membuat Aster menyemburkan rona merah di wajah cantiknya,
"Nadio, Paman. Aku juga mencintaimu…." jawab Aster sambil berbisik juga di telinga suaminya.
Sedetik kemudian Nathan mencium kening Aster, terasa sekali hidung mereka yang sama-sama mancung itu bersentuhan, dengan lembut pria itu memegang pipi Aster, wanita itu menikmati sentuhan lembut suaminya ini.
Perlahan tapi pasti, Aster memejamkan matanya dan menginginkan sentuhan yang lebih dari Nathan, benar sekali, Nathan tau arti semua gerakan yang dilakukan oleh istrinya, dia pun perlahan mendaratkan bibirnya ke bibir Aster dan mengecup lembut bibir ranum itu.
Ciuman ini terasa sangat lama untuk mereka berdua, meskipun ini bukan ciuman pertama mereka, tapi ciuman itu selalu terasa berkesan bagi Aster maupun Nathan.
Kemudian Natha melepas ciumannya dan mengecup lembut kening Aster sekali lagi. Mereka pun saling bertatapan lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya, dan memeluknya dengan erat.
-
__ADS_1
Bersambung.